BAB V PRINSIP PEMBERIAN OBAT
A. Persiapan dan Perawatan Pre Operasi
2) Gelas ukuran
3) Ember ataw baskom berisi air secukupnya b. Pelaksanaan
1) Membuat larutan savlon 0,5 % : 5 cc savlon dicampurkan kedalam 1 liter air
2) Membuat larutan savlon 1% : 10 cc savlon dicampurkan kedalam satu liter air.
c. Penggunaan
1) Savlon 0,5% : untuk mencuci tangan
2) Savlon 1% : untuk merendam peralatan perawatan atau kedokteran.
digunakan dalam pelayanan kesehatan. Jika tidak terdapat listrik, maka alat-alat dapat disterilkan dengan autoklaf dengan kompor minyak tanah sebagai pemanasnya metode sterilisasi yang efektif, tetapi juga sulit untuk dilakukan secara benar (gruendemann dan mangnum 2001)
Sterilisasi panas kering sangat baik untuk daerah yang beriklim lembab, tapi membutuhkan aliran listrik yang konstan, sehingga tidak praktis untuk daerah pedesaan. Selain itu sterilisasi panas kering hanya dapat di gunakan pada objek gelas atau logam, obyek lainnya akan mencair atau terbakar (jarum dan instrument yang bertepi tajam sebaiknya diproses dengan cara sterilisasi panas kering pada temperature tidak lebih dari 162,80C atau bagian yang tajam tersebut akan rusak).
Kondisi standar untuk sterilisasi panas :
a) Streilisasi Uap : 1210C (2500F) tekanan harus berada pada 106 Kpa (15 lbs/in2) selama 20 menit untuk bahan/alat tidak terbungkus, 30 menit untuk alat terbungkus. Atau pada suhu yang lebih tinggi pada 1230C (2700F) tekanan harus berada pada 30 lbs/in2, 15 menit untuk alat terbungkus.
b) Sterilisasi panas kering : 1700C (3400C) selama 1 jam (waktu siklus total atau tempat instrument dalam oven, panaskan hingga 1700C, catat waktu untuk 1 jam kemudian dinginkan kira- kira 2-2,5 jam) atau 1600C (3600C) selama 2 jam (waktu siklus total adalah 3-3,5 jam)
b. Sterilisasi kimia
Sebagai salah satu alternative dari sterilisasi panas kering dan penguapan adalah sterilisasi kimia (sering disebut juga sebagai sterilisasi dingin) yaitu dengan merendam 8-10 jam di dalam larutan glutaraldehid atau paling sedikit merendam selama 24 jam dalam larutan formaldehid. Formaldehid dan glutaraldehid membutuhkan penanganan khasus kerena meninggalkan endapan pada alat-alat yang disterilkan sehingga setelah penggunaannya harus cuci kembali dengan cairan steril.
2) Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
Sterilisasi adalah cara yang teraman dan efektif dalam memproses peralatan yang akan digunakan dan berhubungan langsung dengan aliran darah, jaringan bahwa kulit atau jaringan- jaringan lainnya yang pada keadaan normal steril. Jika peralatan sterilisasi tidak ada atau tidak memadai maka DTT_lah satu-stunya alternative yang dapat dipilih.
DTT menghancurkan seluruh mikroorganisme termasuk virus- virus penyebab hepatitis B dan HIV-AIDS, namun tidak dapat membunuh endospora bakteri. Sebagai contoh pada fasilitas- fasilitas pelayanan kesehatan baik sterilisasi maupun DTT dapat digunakan untuk memproses peralatan dan sarung tangan yang digunakan untuk pemeriksaan dalam, pemasangan dan pencabutan AKDR karena sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya masalah yang ditimbulkan oleh endospora pada pemasangan AKDR.
DTT dapat dicapai dengan merebus atau merendam alat-alat pada cairan di infeksi seperti glutaraldehid atau folmaldehid 8%.
Karena merebus hanya membutuhkan peralatan yang tidak mahal dan biasanya sudah ada, maka metode ini sebaliknya dipilih pada klinik-klinik kecil atau di daerah terpencil. Walaupun sebagai metode yang dipilih namun DTT hanya efektif jika digunakan setelah perelatan atau sarung tangan di dekontaminasi dengan membersihkan dan mencucinya sebelum di desinfeksi. Seluruh proses harus di monitor secara teratur.
a. DTT dengan Merebus
Untuk melakukan DTT dengan merebus maka peralatan harus sedikitnya 20 menit direbus (mendidih). Perhitungan waktu dimulai saat air mendidih, seluruh peralatan harus terendam dan tidak boleh ada penambahan apapun kedalam tempat rebusan.
Alat-alat yang telah di DTT dibiarkan kering oleh udara dengan menempatkannya di area/ruang yang bersih. Pakailah instru- ment atau alat-alat tersebut sesegera mungkin atau tempatkan di wadah tertutup dan kering yang telah diproses DTT terlebih dahulu. Simpanlah hingga 1 minggu
b. DTT dengan bahan kimia
Sejumlah disinfektan kimia yang telah digunakan diseluruh dunia : etil atau isopropyl alcohol, klorin, formaldehid (forma- lin), glutaralehid, hidroksi peroksida, yodium dan iodofor.
Walaupun alcohol, yodium dan iodofor murah dan mudah di dapat, namun larutan ini tidak termasuk DTT. Alcohol tidak membunuh beberapa virus dan spesies pseudomonas dan salah satu kelompok bakteri gram negative diketahui dapat berkembang biak dalam yodium. Larutan ini hanya digunakan sebagai disinfektan, jika DTT tidak tersedia.
G. Penanganan Sampah
7. Manfaat pengelolaan sampah
a. Untuk mencegah terjadinya penyakit b. Konservasi sumber daya alam c. Mencegah gangguan estetika d. Memberi instensif atau daur ulang 8. Macam-macam pengelolaan sampah
a. Pengomplosan
b. Pembakaran untuk sampah kering (refuse) 9. Cara membuang sampah yang baik
a. Pada lubang galian sampah (tanah digali) b. Dibakar
c. Di kotak sampah d. Di drum/tong sampah e. Dikerangjang sampah f. Di bak sampah
10.Tujuan membuang sampah klinik dengan tepat
a. Mencegah penyebaran infeksi ke petugas klinik yang menanganinya pada masyarakat setempat
b. Melindungi petugas yang menangani sampah dari kecelakaan yang tidak disengaja
c. Memberikan lingkungan yang estetika 11. Cara penanganan sampah
a. Sampah Tajam (Jarum, silet, dan mata pisau) 1) Gunakan sarung tebal
2) Buang seluruh benda-benda yang tajam pada tempat sampah yang tahan pecah. Tempat sampah yang tahan tusukan dapat dengan mudah dibuat menggunakan karton tebal, ember tertutup atau botol plastik yang tebal. Botol gelas bekas cairan infuse juga dapat digunakan untuk sampah- sampah yang tajam, tetapi ada resiko pecah.
3) Catatan : letakan tempat sampah tersebut dekat daerah yang memerlukan sehingga sampah-sampah tajam tersebut tidak perlu dibawa terlalu jauh sebelum dibuang
4) Catatan : cegah kecelakaan yang diakibatkan oleh jarum suntik, jangan menekuk atau mematahkan jarum sebelum dibuang. Jarum t idak secara rutin ditutup, tetapi jika dibutuhkan dapat diusahakan dengan metoda satu tangan :
a. Letakan tutup pada permukaan yang datar dan keras kemudian pindahkan tangan
b. Kemudian dengan satu tangan, pengang alat suntik dan gunakan jarumnya untuk meyodok tutup tersebut.
c. Jika tutup sudah menutupi jarum suntik, gunakan tangan yang lain untuk merapatkan tutup tersebut.
5) Jika wadah untuk benda-benda tajam sudah ¾ penuh tutup, sumbat atau ikat dengan kuat.
6) Buang wadah yang sudah ¾ penuh tersebut dengan cara menguburnya. Jarum dan benda-benda tajam lainnya tidak dapat dihancurkan dengan membakarnya dan kemudian hari dapat memnyebabkan luka dan meng-akibatkan infeksi yang serius. Pembakaran atau memba-karnya dalam suatu wadah, dapat mengurangi kemungkinan sampah tersebut dikorek-korek dalam tempat sampah.
7) Cuci tangan setelah mengelolah wadah sampah tajam tersebut kemudian dekontaminasi dan cuci tangan.
b. Sampah cair yang terkontaminasi (darah, feses, urine, dan cairan tubuh lainnya)
1) Gunakan sarung tangan tebal ketika menangani dan membawa sampah tersebut
2) Hati-hati pada waktu menuangkan sampah tersebut pada bak yang mengalir atau kedalam toilet bilas. Sampah cair dapat juga dibuang kedalam kakus. Hindari percikannya.
3) Cuci toilet dan bak secara hati-hati dan siram dengan air untuk membersihkan sisa-sisa sampah. Hindari percikannya.
4) Dekontaminasi wadah specimen dengan larutan klorin 0,5%
atau disinfeksi local lainnya yang adekuat dengan merendam selama 10 menit sebelum dicuci.
5) Cuci tangan sesudah menangani sampah cair dan lakukan dekontaminasi kemudian cuci sarun tangan.
c. Membuat dan menggunakan tempat penimbunan untuk pembuangan sampah
1) Kuburkan di lokasi khusus
2) Gali lubang dengan lebar 1 meter dan dalamnya 2 meter.
Dasar lubang sebaiknya 6 kaki dibawah permukaan air
3) Tutup dengan 15-30 cm tanah setiap hari (maksimal timbunan tanah 30 cm)
4) Pagari tempat untk mencegah binatang dan anak-anak mendekati tempat tersebut.
Catatan :
Gudukan sampah yang terbuka harus dihindari, karena : a. Resiko terpapar dan bahaya kebakaran
b. Menimbulkan bau yang tidak sedap c. Mengundang serangga
d. Pemandangan yang tidak diinginkan
SOAL LATIHAN Petunjuk
- Baca soal dengan teliti
- Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberi tanda silang (x) pada pilihan A,B,C,D,E.
1. Usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya adalah....
a. Sterilisasi b. Disinfeksi c. Antiseptik d. Dekontaminasi
e. Disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
2. Yang termasuk tindakan pada benda mati dengan menghilangkan sebagian besar (tidak semua) mikroorganisme penyebab penyakit adalah….
a. Sterilisasi b. Antiseptik c. Desinfeksi d. Dekontaminasi
e. Disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
3. Cara Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat melalui …..
a. Pernafasan b. lingkungan c. Kontak mata d. Kontak langsung e. Makanan dan Minuman
4. Pernyataan dibawah ini yang menunjukan tindakan pencegahan infeksi Sterilisasi adalah …
a. Tindakan pada benda mati dengan menghilangkan sebagian besar (tidak semua) mikroorganisme penyebab penyakit.
b. Tindakan yang dilakukan dengan merebus atau dengan meng- hilangkan semua mikroorganisme, kecuali beberapa bakteri endospora.
c. Tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh atau setiap benda asing seperti debu dan kotoran.
d. Tindakan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan parasit) termasuk bakteri endospora.
e. Upaya pencegahan infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit dan jaringan lainnya.
5. Dibawah ini yang termasuk larutan desinfeksi adalah … a. klorin
b. iodofor c. alcohol d. glutaralehid e. Lysol & Savlon
6. Dibawah ini bakteri yang membentuk endospora adalah … a. Tetanus
b. Ganggren c. Microbacteri d. Staphylococcus e. Spesies clostridium
7. Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistim pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lain adalah …
a. Infeksi Nasokomial b. Pencegahan infeksi c. Dekontaminasi d. Teknik cuci tangan
e. Disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
8. Efek langsung pengaruh sampah terhadap kesehatan yang termasuk dibawah ini adalah …
a. Keracunanan
b. Penyakit akibat kebakaran c. Pembusukan lingkungan sekitar d. Sampah mengandung kuman pathogen
e. Penyakit bawaan yang berkembang biak didalam sampah
9. Yang merupakan manfaat pengelolaan sampah dalam lingkungan sekitar di bawah ini adalah …
a. Memberi instensif
b. Mencegah penularan infeksi c. Konservasi sumber daya alam d. Mencegah terjadinya penyakit
e. Mencegah terjadinya penyakit, gangguan estetika, dan daur ulang 10. Dibawah ini yang termasuk cara membuang sampah yang baik adalah
…
a. Pengomplosan
b. Tanah digali sedalam 1 meter c. Pembakaran bakar sampah basah
d. Pembakaran untuk sampah kering (refuse) e. Tanah digali selebar 1 meter dan dalam 2 meter
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mempelajari BAB ini, anda diharapkan mampu melakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil dan bayi baru lahir.
Tujuan Instruksional Khusus (TIK) :
Setelah mempelajari BAB ini, anda diharapkan mampu :
- Memahami dan Menjelaskan Prinsip Dasar dan Tehnik Pemeriksaan Fisik.
- Memahami Pemeriksaan Umum dan Pengkajian Fisik.
- Mahir melakukan prosedur dalam pemeriksaan fisik pada ibu dan bayi
A. Prinsip Dasar dan Tehnik Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakansalah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien.
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengumpulkan data tentang kesehatan pasien, menambah informasi atau menyangkut data dari riwayat pasien, mengindetifikasi masalah pasien, menilai perubahan status pasien serta untuk mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan. Dalam melakukan pemeriksaaan fisik terdapat tehnik dasar yang perlu dipahami, diantaranya :
1. Inspeksi
Inspeksi merupakan proses pengamatan atau observasi untuk mendeteksi masalah kesehatan pasien. Cara efektif melakukan inspeksi adalah sebagai berikut :
a. Atur posisi sehingga bagian tubuh dapat diamati secara detail b. Berikan pencahayaan yang cukup
c. Lakukan inspeksi pada area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrisan, posisi, dan abnormalitasnya.
d. Bandingkan area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya.
e. Jangan melakukan inspeksi secara terburu-buru.
2. Palpasi
Palpasi merupakan pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba yaitu tangan, untuk menentukan ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur, dan mobilitas. Palpasi dibutuhkan kelembutan dan sensivitas, untuk itu hendaknya menggunakan permukaan palmar jari, yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tektur, konsistensi, bentuk masa dan pulsasi. Sedangkan untuk tempera- ture atau suhu hendaknya menggunakan bagian belakang tangan dan jari. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sen- sitive pada getaran.
3. Perkusi
Perkusi merupakan cara pemeriksaan dengan melakukan penge- tahuan pada bagian tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi, organ-organ tubuh, dan menetukan adanya cairan dalam rongga tubuh. Ada dua cara dalam perkusi yaitu cara langsung dan cara tidak langsung. Cara langsung dengan mengetuk secara langsung menggunakan satu atau dua jari den cara tidak langsung dengan menempatkan jari tengah tangan diatas permukaan tubuh dan jari tangan lain dan telapak tidak pada permukaan kulit, setelah kulit setelah mengetuk jari tangan ditarik kebelakang.
Jenis suara Karakteristik
Sonor Suara perkusi jaringan yang normal Redup Suara perkusi jaringan yang lebih
padat, misalnya didaerah paru-paru
Pekak
suara yang singkat mempunyai intensitas lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir. Perkusi dilakukan diatas hati, limfe atau kandung kemih yang mengalami distensi
Timpani Suara yang keras, nada tinggi dengan waktu agak lama, kualitas suara seperti drum.
Resonan Kualitas bergema. Perkusi dilakukan diatas paru normal
Hiperesonanan Suara yang lebih keras dari pada timpani, mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama.
Hasil perkusi secara umum terbagi menjadi tiga bagian yaitu
Berikut ini cara melakukan perkusi :
(a) (b)
4.1. Gambar
(a) Perkusi Tidak Langsung (b) Perkusi tidak langsung
Jenis suara Karakteristik Contoh
Relas (Rhonci basah)
Suara yg dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar)
Klien dengan pneumonia, TBC
Ronkhi (ronchi kering)
Nada rendah dengan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi. Cirri ronchi adalah akan hilang bila klien batuk
Klien dengan edema paru
Wheezing
Bunyi yang terdengar
“ngiii....k”. bias dijumpai pada fase inspirasi maupun ekspirasi
Klien dengan bronchitis akut, asma
Gesekan pleura (Pleural friction rub)
Bunyi yang terdengar
“kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu
Klien dengan peradangan pleura 4. Auskultasi
Auskultasi merupakan cara pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui alat stetoskop. Dalam melakukan auskultasi beberapa hal yang perlu didengarkan diantaranya :
a. Frekuensi atau siklus gelombang bunyi b. Kekerasan atau amplitude bunyi c. Kualitas bunyi dan lamanya bunyi.
Berikut ini jenis-jenis suara yang diterdengar pada saat melakukan auskultasi :
Pemeriksaan pada ibu hamil dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan secara umum meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan kebidanan.
1. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum pada ibu hamil bertujuan untuk menilai keadaan umum ibu, status gizi, tingkat kesadaran, serta tidak adanya kelainan bentuk badan. Selain itu pemeriksaan umum juga meliputi pemeriksaan jantung dan paru, refleks, serta tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, suhu, dan pernapasan.
2. Pemeriksaan Head to toe
Pemeriksaan head to toe adalah pemeriksaan yang dilakukan secara sistematis mulai dari :
a. Kepala
b. Wajah : mata, hidung, telinga, dan mulut
Tinggi fundus Uteri : Usia Kehamilan 3,5 cm
c. Leher
d. Dada (payudara) e. Abdomen f. Genetalia g. Ekstermitas.
3. Pemeriksaan Kebidanan a. Inspeksi
Inspeksi, dilakukan untuk menilai keadaan dan tidaknya cloasma gravidarum pada muka/wajah, pucat atau tidakpada selaput mata, ada tidaknya edema.pemeriksaan selanjutnya adalah leher untuk menilai ada tidaknya pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar limfe. Pemeriksaan dada untuk menilai bentuk buah dada, pigmentasi putting susu. Pemeriksaan perut untuk menilai apakah perut membesar ke depan, atau samping, keadan pusat, pigmentasi linia alba, serta ada tidaknya striae gravidarum. Pemeriksaan pada vulva untuk menilai keadaan perineum, ada tidaknya tanda Chadwick, dan adanya flour. Dan pemeriksaan ekstermitas untuk menilai ada tidaknya varises.
b. Palpasi
Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim.
Pemeriksaan secara palpasi dilakukan dengan menggunakan metode Leopold.
a. Leopold I
Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksa berdiri sebelah kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu di bengkokkan pada lutut dan lipatan paha, lengkungan jari-jari kedua tangan untuk mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang ada dalam fun- dus. Bila kepala sifatnya keras, bundar dan melenting.
Sedangkan bokong akan lunak dan kurang bundar dan kurang melenting. Apabila ingin menentukan usia kehamilan rumusnya.
Menurut Mc. Donald
(a) (b)
Gambar 4.2.
(a) Cara Leopold I,
(b) Tinggi Fundus Uteri berdasarkan palpasi Leopold
b. Leopold II
Leopold II digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak. Caranya letakkan kedua tangan pada sisi uterus, dan trntukan dimanakah bagian terkecil bayi.
Gambar 4.3. Cara Leopold II
c. Leopold III
Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat dibagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah masuk atau belum kepintu atas panggul. Caranya tekan dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah pada salah satu tangan secara lembut dan masuk kedalam abdo-
men pasien diatas sympisis pubis dan peganglah bagian presentasi bayi, lalu bagian apakah yang menjadi presentasi tersebut
Gambar 4.4. Gambar Cara Leopold III
d. Leopold IV
Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah ter- sebut kedalam rongga panggul. Caranya : letakkan kedua tangan disisi bawah uterus, lalu tekan kedalam dan gerakkan jari-jari kearah rongga panggul, dimanakah tonjolan sefalik dan apakah bagian presentasi telah masuk kedalam rongga panggul. Pada pemeriksaan ini tidak dilakukan bila kepala dan pemeriksaan Leopold lengkap dapat dilakukan bila janin cukup besar kira-kira umur kehamilan 24 minggu keatas.
Gambar 1.5. Cara Leopold IV
c. Perkusi
Perkusi biasanya dilakukan untuk mengetahui fungsi refleks patella pada ibu hamil dengan menggunakan alat hammer.
d. Auskultasi
Auskultasi dilakukan umumnya dengan stetoskop monoaural untuk mendengarkan bunyi jantung janin, bising tali pusat, gerakan anak, bising rahim, bunyi aorta serta bising usus. Bunyi jantung janin dapat didengar jelas pada akhir bulan ke 5, walaupun dengan ultrasonografi dapat diketahui pada akhir bulan ketiga. Bunyi jantung janin dapat terdengar dikiri dan kanan dibawah pusat bila presentasi kepala bila terdengar setinggi pusat maka presentasi didaerah bokong.
Dalam keadaan sehat denyut jantung janin antara 120-140 kali/
menit. Cara menghitung bunyi jantung janin dengan mendengarkan satu menit penuh. Bila kurang dari 120kali/
menit atau lebih dari 160 kali/menit dikhawatirkan janin dalam keadaan hipoksia.
i. Lampu sorot j. Buku catatan 2. Persiapan Tempat
Ruangan yang bersih, aman, nyaman dan pencahayaan baik.
3. Prosedur Penatalaksaan
a. Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan b. Menyiapkan alat/bahan dan tempat.
c. Mencuci tangan dibawah air yang mengalir dengan tehnik tujuh langkah dibawah air yang mengalir menggunkan sabun, lalu keringkan dengan handuk pribadi yang kering dan bersih.
d. Memakai handsquen
e. Meletakkan bayi diatas tempat periksa dan memastikan pencahayaan yang baik dengan lampu sorot serta bayi dalam keadaan hangat.
Nb : saat melakukan pemeriksan buka pakian bayi pada bagian yang diperiksa dan menutup kembali.
f. Melakukan Penilaian Apgar Score
g. Melakukan pemeriksaan anthopometri (timbang berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada,)
h. Melakukan pemeriksaan fisik mulai dari : 1) Kepala
Memeriksa kepala bayi, warna rambut, meraba sepanjang garis sutura dan fontanela, meliputi adanya moulase, caput succedaneum, cephalhematoma.
2) Wajah
- Menilai kesimetrisan wajah - Memeriksa rooting refleks
Nb : Perhatikan kelainan wajah yang khas seperti sindrom down.
3) Mata
- Menilai kondisi mata ada tidaknya strabismus, epikantus melebar atau tidak, kondisi pupil dan pengeluaran cairan.
- Memeriksa kondisi mata dengan menggoyangkan kepala secara perlahan
- Memeriksa ada tidaknya reflek corneal, Reflek Glabela
4) Hidung
- Memeriksa hidung bayi, meliputi bentuk dan lebar hidung.
- Memeriksa pola pernafasan, apakah melalui hidung atau mulut, apakah ada gerakan cuping hidung saat bernafas, apakah ada secret mukopurulent atau perdarahan.
5) Telinga
- Memeriksa tulang rawan telinga,
- Memastikan bentuk, posisi, dan lubang telinga.
- Menilai adanya gangguan pendengaran dengan mem- bunyikan bel atau suara, apakah ada reflex kejut.
6) Mulut
- Memeriksa kesimetris mulut,
- Memeriksa bagian dalam mulut apakah ada labioschisis, dan labiopalatoschisis. Memeriksa apakah ada bercak putih pada mukosa mulut, gusi, palatum dan frenulum..
- Memeriksa lidah, meliputi warna dan kemampuan reflex slowing
7) Leher
- Mengamati apakah bayi dapat menggerakkan kepala kanan dan kiri.
- Memeriksa adanya pembengkakan, pembentukan selaput kulit dan lipatan kulit yang berlebihan.
8) Dada/payudara
- Menilai kesimetrisan dada, putting susu, gerakan dada saat bernafas.
- Memeriksa frekuensi jantung.
9) Abdomen
- Menilai keadaan abdomen, gerakan abdomen saat bernafas dan tali pusat
10) Kulit
- Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir - Periksa adanya pembengkakan adanya vernik kaseosa - Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat
pada bayi kurang bulan.
11) Genetalia - Perempuan,
Apakah labia minora tertutup labio mayora. Rentangkan kedua labia mayora untuk memastikan adanya klitoris, orifisium uretra, dan vagina, adanya secret atau pengeluaran dari vagina.
- Laki-laki,
Panjang penis, lubang uretra dan skrotum 12) Ekstermitas
- Atas
Memeriksa kesimetrisan tangan, gerakan lengan, jumlah jari sindaktil dan polidaktil, dan kuku.
Memeriksa ada tidaknya Refleks tonic neck.
- Bawah
Mengkaji kesimetrisan, ukuran, bentuk dan posturnya, jumlah jari sindaktil dan polidaktil, dan kuku.
Memeriksa ada tidaknya Reflek Plantar , refleks moro i. Menganti pakaian bayi dan membereskan alat
j. Memberitahu ibu/keluarga tindakan telah selasai dilakukan.
k. Mendokumentasikan tidakan yang telah dilakukan.