• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Pendidikan Karakter

Dalam dokumen manajemen pendidikan karakter santri (Halaman 64-80)

ءامّسلا

H. Definisi Operasional

1. Manajemen Pendidikan Karakter

10. Ahmad Sulhan.

“Manajemen Pendidikan

Karakter Berbasis Budaya Santri dalam

Mewujudkan Mutu Lulusan.”

(2018).

a. Penelitian terdahulu fokus kepda konsep mutu pendidikan yang berkarakter berbasis budaya santri.

Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berfokus pada rencana, program manajemen pendidikan karakter.

a. Pendidikan Karakter

terdapat banyak pendapat mengenai pengertian manajemen salah satuhnya menurut George. R Terry manajemen yaitu suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerkan, dan pengendalian dalam menentukan serta dalam mencapai tujuan melalui pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya lainnya.18 Kemudian menurut Hanny L. Sisk, mengartikan management is the coordination of all resources throughthe processes of planning, organizing, directing and controlling in order to attain sted objectivies maksudny adalah manajemen merupakan pengkoordinasian, kepemimpinan, dan pengawasan di dalam keterlibatan sumber-sumber melalui suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan serta pengawasan di dalam keterlibatan dalam tujuan.

Sedangakan untuk kata pembelajaran yaitu

“instruction” maknanya adalah “pengajaran” hakekatnya pembelajaran yaitu merupakan suatu proses interaksi diantara anak dengan anak, anak dengan sumber

18 Athoillah, Dasar-Dasar Manajemen (Badung: Pusataka Setia, 2010), 16.

belajaranya, dan anak dengan pendidikannya.19 Kemudian pendidikan karakter memiliki pengertian secara bahasa yaitu sifat-sifat yang berupa kejiwaan,budi pekerti atau akhlak yang membedakan seseorang dari yang lain, watak atau tabiat kata karakter diambil dari bahasa asing, yaitu bahasa inggris character, yang memiliki arti watak, peran, sifat, dan hurup. Sedangkan charecteritic yaitu ciri dari sifat yang khas.20 Sedangkan menurut dari pusat kurikulum kemendiknas karakter merupakan watak akhlak, tabiat atau suatu hal yang mengenai kepribadian seseorang yang terbentuk memlalui hasil internaisasi yang melalui berbagai macam kebijakan (virtues) yang sudah diakini dan digunakan sebagai alat landasan untuk cara pandang, bersikap, berfikir dan melakukan sesuatu (bertindak).

Kemudian para ahli berpendapat bahwa karakter itu merupakan suatu kumpulan dari nilai yang tertuju pada sistem, yang berlandaskan pada pemikiran, tingkah laku, sikap yang di tunjukan, menurut pendapat, mengartikan kepribadian gambaran dari karakter, dan itu sendiri

19 Mansur, KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan (Bumi AKsara, 2007), 11-63.

merupakan ciri, gaya, bisa juga sipat khas yang ada pada diri seseorang, yang didapatkan dan terbentuk dari lingkunga, contohnya bawan dari masa kecil, keluarga masa kecil. Ryan dan Bohlin mengutip didalam buku Abdul Madjid bahwa karakter itu mengandung tiga (3) unsur pokok: Yang pertama adalah tau akan (knowing the good) artinya kebaikan yang keduan (loving the good) yaitu mencintai, yang ketiga (doing the good) yaitu menjalankan hal baik. Hal baik dalam karakter disebut dengan kata sifat baik.21

Kemudian Thomas Lickon. Mengartikan karakter yaitu pendidikan budi pekerti, membentuk seseorang agar memiliki moral. Yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggungjawab, memiliki rasa empati, kerja dengan keras, dan menghormati hak orang lain.22 Ada beberpa nilai dari budaya yang dijakan karakter antaranya:

kepedulian terhadap orang sekitar, kebersamaan, kekuatan diri, percaya diri, keadilan, ketaqwaan kepada Allah SWT, kemandirian dari sendiri, kreativitas, ketekunan, kerja

21 Majid Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 11.

22 Abdullah Munir, Pendidikan Karakter (Yogyakarta: Pedagogia, 2010), 4.

keras, dan kedisiplinan, nilai budaya hal ini pada setiap diri individu sudah ada, tujuannya untuk menjadikan berprilaku bermoral, agar apa yang bangsa inginkan sesuai.

Berdasarkan para penjelasan diatas dapat kesmpulan bahwa sesungguhnya pendidikan akan karakter merupakan sebuah proses didalam menjalankan pendidikan, baik formal ataupun non foemal. Sementara pengertian pendidikan karakter menurut Kemendiknas adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, pendidikan karakter tidak akan efektif, dari pengertian dan pendapat para ahli diatas maka dapat diambil kesimpulan mengenai pengertian dari manajemen pendidikan karakter, adalah suatu usaha yang direncanakan dengan

tujuan menjadikan anak didik mengigat, tau, dan dan peduli, serta menginternalisasikan nilai pendidikan karakter dan anak didik dapat menumbukan sifat khas berupa perencanaan, organisasi, pelaksanaan, serta pengontrolan.

b. Pengertian Kebijakan Pendidikan

Kebijakan (policy) pengertiap ssecara etimologi asal katanya diturunkan dari bahasa Yunani. Yaitu polis yang artinya kota (city), dan kebijakan ini mengacu pada semua cara atau bagian pemerintahan yang mengarah pada pengeloan kegiatan, dan kebijakan juga berkenaan dengan suatu gagasan pengaturan dalam organisasi dan merupakan hal yang menjadi pola formal yang sama-sama diterima pemerintah ataupun lembaga sehingga dengan hal tersebut dapat terus berusaha untuk mengejar tujuannya, dan pengertian mengenai kebijakan banyak dan beragam, hal tersebut bergantung pada para ahli yang mengemukakannya, untuk pendekatan ataupun model yang digunakannya, dan ruang lingkup tempat kebijakan tersebut hendak digunakan, dan istilah kebijakan (policy term) sebagaimana yang telah dikatakan Jones dan

digunakan dalam praktik sehari-hari dalam menggantikan kegiatan ataupun keputusan yang amat berbeda.23

c. Tujuan Manajemen Pendidikan

Secara umum pendidikan karakter memiliki tujuan yang sama dengan pendidikan lainnya yang berdasarkan pada dasar hakekat-nya adalah suatau alat yang digunakan dalam mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Secara nasional tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik, agar siswa tersebut menjadi insan yang bertakwa, beriman kepada sangpencipta, berbudi pekerti yang baik, cerdas, berilmu, kreatif, sehat jasmani dan rohaninya, mandiri yang disertai memiliki rasa tanggungjawab yang besar, kemudian menjadikan siswa tersebut warga negara demokratis, secara tujuan pokok dari belajar manajemen pendidikan ini untuk mendapatkan cara tehnik dan metode yang baik, agar proses pendidikan dapat tercapai dengan efektif, efisien sesuai dengan tujuannya. Tujuannya yaitu didasarkan pada pengkajian akan situasi organisasi,

23 Umar Sidiq dan Wiwin Widyawati, Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia (Ponorogo: CV. Nata Karya, 2019), 1.

umpamanya kekuatan kelemahan, peluang dan ancaman.

Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:

1. Untuk mewujudkan suasana belajar, proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovarif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

2. Lahir atau terciptanya peserta didik yang aktif dalam mengembangkan potensi diri-nya untuk mempunyai kekuatan spiritual dalam hal keagamaan, kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak yang mulia, serta ketrampilan yang diperlukan oleh diri-nya, masyarakat, serta bangsa.

3. Untuk mencapaikan suatu tujuan secara efisien serta efektif.

d. Fungsi Manajemen Pendidikan

Didalam suatu manajemen akan ada ketelibatan dengan fungsi pokok yang akan diperlihatkan oleh seorang manajer (pemimpin) yang mana hal tersebut berkaitan dengan suatu planning (perencanaan), diteruskan dengan organizing (pergorganisasian), actuanting (yaitu berkaitan dengan seorang pemimpin), dan kemudian dilanjutkan dengan controlling

(pengawasan),24 sedangkan makna manajemen dari sudut pandang fungsinya yaitu sebuah proses dalam kegiatan yang berkaita dengan perihal perencanaan, organisasian, arahan, dan pelaksanaan, kemudian dilanjutkan dengan pengendalian dari sumber daya sebuah organisasi dengan landasan mencapaikan tujuan yang efektif, efisien,25 Selain dari hal diatas atau pendapat-pendapat diatas maka fungsi-fungsi dari manajemen adalah sebagai berikut.

Gambar 1.1

Fungsi Manajemen Pendidikan

24 Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.

Bukul, Konsep dan elaksanaan (Jakarta: Balitbang, Depdiknas, 2001), 4.

25 Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 8.

2. Organizing

(pengorganisasian) 1. Planning

(perencanaan)

3. Actuanting (kegiatan) 4. Controlling

(pengawasan)

1. Planning (Perencanaan)

Didalam manajemen dan disetiap kegiatan adanya suatu planning atau suatu perencanaan yang harus dipersiapkan hal tersebut haruslah jelas, karena perencaan ini yaitu bentuk awal dari penentuan akan tujuan dalam manajemen yang hendak dicapai, perencanaan ini memegang hal penting dari setiap peran strategis, tampa adanya suatu perencanaan maka fungsi yang lain dari manajemen tidak akan bisa berjalan dengan baik, arti dari planning “keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang dari pada hal-hal yang akan dikerjakan di masa akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan”.26 Memilih merupakan suatu perencanaan dengan menghubungkan hal yang nyata, sudah dibayangkan, kemudian merumuskan suatu tindakan yang perlu dalam pencapaian hasil yang di maui, jadi maksudnya pendidikan merupakan perencanaan merupakan keputusan yang diambil untuk melaksanakan tindakan dalam waktu tertentu dengan tujuan sistem pendidikan agar lebih baik

26 Winardi, Asas-Asas Manajemen (Bandung: Alumni, 1983), 108.

lagi, dan menghasilkan output (keluaran) yang bermutu (berkualitas), sesuai dengan apa yang pembangunan butuhkan. Hal ini menjadikan perencanaan sebagai penentu akan peningkatan mutu dari pendidikan lembaga.

Perencanaan mempunyai dua (2) faktor yang perlu diperhatikan, yang pertama terkait dengan tujuan dan yang kedua ysitu sarana, baik yang secara sara material ataupun personal. Selain adanya faktor maka ada juga langkah akan perencanaan dianataranya : merumuskan akan tjuan dan menemukan hal yang mau direncanakan, mengamati akan pekerjaan yang ingin dilakukan apabila ada masalah, perlu adanya pengumpulan informasi dan data yang dianggap perlu, membuat tahapan, yang berupa rangkaia dari tindakan, memcari solusi akan pemecahan masalah agar hal tersebut bisa diselesaikan.27 Dari indikator-indikator perencanaan akan program dalam kegiatan, maka akan bisa identifikasi kekurangan, kelebihan, dari kegiatan yang direncanakan, hal tersebut sangalah penting

27 M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), 15.

untuk diperhatikan untuk menyusun perencanaan, sebab hal tersebut akan menjadi penentu keberhasilan dalam kegiatan yang sudah ada.

2. Organizing (Pengorganisasian)

Organizing yaitu pengelompokan secara menyeluruh mulai dari orang, alat, bahan, tugas, tanggungjawab, fasilitas dan wewenang agar organisasi dapat dicapai, digerakan dalam suatu kesatuan dengan mencapai tujuan yang sudah ditetapkan, tentunya melalui struktur, dan organisasi yang baik, pengorganisasin merupakan suatu proses orang untuk lekakukan kerja sama secara terstruktur untuk mencapai tujuan atau sasaran yang spesifik, sasaran yang dimaksud yaitu mengalokasikan pekerjaan, potensi anggota organisasi, dan kebijakan, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai atau terwujudkan.28

3. Actuanting (Kegiatan)

Adalah semua aktivitas berdasarkan pada masing-masing tugas pelaksanaan merupakan

28 Muhammad Sholikin, “Manajemen Pembelajaran Tahfizul Qur’an Di MTsN 3 Ponorogo Era Pandemi Covid-19” Excelencia: Journal of Islamic Education & Management Volume: 02, Nomor; 02, Tahun (2022): 192.

fungsi yang paling penting dalam manajemen, karena dalam hal ini seorang manajer berusaha bagaiman supaya semua anggota yang telah terorganisir dapat berusaha dan bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya masing masing, sehingga dapat mencapai tujuan yang semula telah ditetapkan bersama. Dalam pelaksanaannya, manajer berfungsi sebagai penggerak. Penggerakan (Motivating) dapat didefinisikan sebagai

“keseluruhan proses pemberian motivasi kerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis”.29 Keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya lebih banyak ditentukan oleh pimpinannya. Seorang pemimpin yang berhasil adalah mereka yang sadar akan kekuatannya yang paling relevan dengan prilakunya pada waktu tertentu. Dia benar-benar memahami dirinya sendiri sebagai individu, dan kelompok, serta lingkungan sosial dimana mereka berada. Kemampuan untuk

29 Sondang P. Siagian, Manajemen sumber daya manusia (Jakarta:

Bumi Aksara, 2007), 128.

memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan dan berkomunikasi dengan para bawahannya akan menetukan efektifitas. Ini berkenaan dengan cara bagaimana dapat memotivasi para bawahannya agar pelaksanaan kegiatan dan kepuasan kerja mereka meningkat. Bagian pengarahan dan pengembangan organisasi dimulai dengan motivasi.30

4. Controlling (pengawasan)

Pengendalian adalah fungsi dari manajemen yang dapat menjaminkan akan kegiatan, dimana kegiatan ini mampu memberikan hasil yang diinginkan, pengawasan ini dilakukan tujuannya menjalankan kegiatan yang sesuai dengan pengharapan, evaluasi (evaluating) adalah suatu proses untuk menyusun bahan-bahan pertimbangan sebagai dasar menyusun perencanaan. Proses ini meliputi: menetapkan tujuan-tujuan, mengumpulkan bukti-bukti ada atau tidak adanya pertumbuhan kearah tujuan, dan menyusun kesimpulan,31 dengan melakukan evaluasi, dapat

30 Soebagio Admodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia (Jakarta: Ardadlzya Jaya, 2000), 145.

31 Soewadji Lazaruth, Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabny (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000), 79.

mengidentifikasi masalah-masalah yang terjadi selama program di jalankan, sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun rencana kembali untuk pelaksanaan kegiatan pada waktu mendatang.

Evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis alam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang telah ditetapkan kemudian dibuat suatu kesimpulan dan penyusunan saran pada setiap tahap dari pelaksanaan program. Dalam evaluasi terdapat sebuah pengawasan (control) yang dapat diartikan perintah atau pengarahan dan sebenarnya, namun karena diterapkan dalam pengertian manajemen, control berarti memeriksa kemajuan pelaksanaan apakah sesuai tidak dengan rencana. Jika prestasinya memenuhi apa yang diperlukan untuk meraih sasaran, yang bersangkutan mesti mengoreksinya,32 pengawasan dilakukan untuk memastikan program yang di jalankan sesuai dengan rencana yang telah disepakati.

32 Ernest Dale, L.c. Michelon, Metode-metode Managemen Moderen ( Andalas Putra), 1.

e. Tujuan Pendidikan Karakter

Kemendilnas megatakan bahwa tujuan dari pendidikan karakter yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Untuk mengembangkan potensi urani, kalbu, dan afektif pada peserta didik, hal ini agar anak didik menjadi orang dan warga negara mempunyai harga dari kebudayaan, karakter dari bangsanya.

2. Untuk mengembangkan prilaku peserta didik agar terbiasa melakukan hal terpuji dan sejalain dengan nilai universal serta tradisi budaya bangsa yang sangat religius.

3. Menanamkan jiwa kepemimpinan, menanamkan rasa tanggung jawab peserta didik sebagai generasi dan penerus bangsa.

4. Mengembangkan kemampuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik agar menjadi manusia atau insan yang kreatif, berwawasan kebangsaan, dan mandiri.

5. Mengembangkan dalam lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan untuk belajar yang yaman, aman, penuh dengan kreativitas, jujur, dan menimbulkan rasa akan kebangsaan dan persahabatab yang baik.33

33 Kemendiknas, pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (jakarta: Puskur, 2010), 7.

f. Nilai-nilai Pendidikan Karakter

1. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Tuhan

Dalam dokumen manajemen pendidikan karakter santri (Halaman 64-80)