Mawar I.R. Napitupulu
VIII. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN
14. MANAJEMEN RISIKO
Perseroan telah mengimplementasikan prosedur manajemen risiko sesuai dengan Peraturan BI tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi bank umum No. 5/8/PBI/2003 sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 11/25/PBI/2009 dan Surat Edaran BI No. 5/21/DPNP tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi bank umum. Menurut surat edaran tersebut, penerapan manajemen risiko harus dilakukan tidak hanya pada risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas maupun risiko operasional, namun juga untuk risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik dan risiko kepatuhan.
Adapun penilaian sendiri (self assessment) profil risiko Perseroan adalah sebagai berikut:
Tingkat Risiko 30 Juni 2011 31 Desember
2010 31 Desember
2009 31 Desember
2008 31 Desember
2007 31 Desember 2006 Tingkat Risiko Tingkat Risiko Tingkat Risiko Tingkat
Risiko Tingkat
Risiko Tingkat Risiko Risiko Kredit Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah Rendah Rendah
Risiko Operasional Moderat Moderat Moderat Rendah Rendah Rendah
Risiko Likuiditas Moderat – Rendah Moderat – Rendah Rendah - Moderat Moderat Rendah Rendah
Risiko Pasar Rendah Rendah Rendah Moderat Rendah Rendah
Risiko Reputasi Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah Rendah Rendah
Risiko Strategik Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah
Risiko Hukum Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah – Moderat Moderat Rendah Rendah
Risiko Kepatuhan Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah
Peringkat Risiko Bank
Secara Keseluruhan Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah – Moderat Rendah Rendah Rendah
Risiko Kredit
Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan atau pihak lain dalam memenuhi kewajibannya kepada Perseroan. Tingkat kredit bermasalah yang tidak terkendali dapat sangat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan.
Sesuai dengan usaha yang dijalankan Perseroan, terdapat potensi munculnya risiko kredit dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan, penempatan, investasi, serta pembiayaan perdagangan. Risiko kredit yang utama adalah munculnya kredit bermasalah. Walaupun telah dilakukan berbagai upaya untuk terus memperbaiki kualitas kredit yang diberikan maupun aset produktif lainnya, namun tidak terdapat jaminan bahwa upaya tersebut dapat memperbaiki kualitas dari debitur bermasalah, dan juga tidak terdapat jaminan bahwa tidak ada debitur lain yang menjadi bermasalah.
Penyaluran kredit Perseroan dapat dikelompokkan kepada penyaluran kredit kepada individual, grup usaha dan juga sektor usaha. Kesulitan yang dihadapi oleh individual, grup usaha dan sektor usaha dimana terdapat konsentrasi penyaluran kredit oleh Perseroan dapat mengakibatkan meningkatnya kredit tidak lancar dari nasabah yang pada akhirnya dapat berpengaruh secara negatif terhadap kegiatan usaha dan kinerja keuangan Perseroan di masa mendatang. Peningkatan kredit bermasalah merupakan hal yang berusaha diminimalkan oleh Perseroan.
Sekitar 81,00% penyaluran kredit Perseroan terkonsentrasi pada sektor-sektor manufaktur, jasa-jasa dunia usaha, perdagangan, restoran dan hotel, kepemilikan rumah, dan kredit konsumsi lainnya.
Beberapa hal yang dilakukan untuk memitigasi risiko kredit diantaranya dengan memperkuat unit Asset Restructring and Recovery (ARR) dan juga penerapan Four-eyes Principle yang menjadi dasar prosedur pengkajian risiko kredit yang efektif untuk setiap aplikasi kredit di segmen Corporate, Business, Syariah maupun Retail. Hal ini untuk memastikan adanya evaluasi kredit yang independen dan transparan, juga meningkatkan kualitas pemantauan kepatuhan atas aspek agunan, dokumentasi dan administrasi kredit.
Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang mungkin terjadi sebagai akibat sistem operasional dan prosedur pengawan yang tidak memenuhi kebutuhan perkembangan perbankan.
Apabila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan operasional Perseroan tidak dikelola dengan baik, maka dapat mengganggu kelangsungan usaha Perseroan dan pada akhirnya dapat menurunkan kinerja usaha Perseroan.
Kelangsungan usaha Perseroan juga bergantung pada kemampuan Perseroan dalam menyikapi kemajuan teknologi dan perkembangan standar industri perbankan yang dilakukan dengan biaya rendah dan secara tepat waktu. Tidak terdapat jaminan bahwa Perseroan tidak akan mengalami permasalahan dalam penerapan teknologi maupun standar industri baru.
Dalam menjalankan operasinya kadang kala Perseroan juga menghadapi problem eksternal yang tidak dapat dihindarkan seperti kejadian bencana alam. Hal tersebut diminimalkan dengan menyusun dan menerapkan Business Continuity Plan.
Untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan memitigasi potensi terjadinya risiko operasional, selain telah menyusun kebijakan dan prosedur operasional untuk setiap aktivitas operasionalnya, Perseroan juga menerapkan antara lain Loss Event Tracking; Risk and Control Self Assessment dan Key Operational Risk Control.
Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko yang mungkin timbul akbiat adanya ketidaksesuaian jangka waktu antara kewajiban dan tagihan yang dimiliki oleh Perseroan.
Dalam menjalankan fungsi intermediasinya, sebagian besar dana simpanan masyarakat yang diterima Perseroan disalurkan kembali dalam bentuk kredit.
Perseroan menghadapi risiko likuiditas mengingat sebagian besar dana masyarakat seperti giro, deposito dan tabungan bersifat jangka pendek, sedangkan kredit yang diberikan memiliki jangka waktu yang relatif lebih panjang. Apabila Perseroan tidak mampu mengelola dana masyarakat sehingga memiliki masa pengendapan yang lebih panjang, maka Perseroan dapat mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pengembalian dana dari masyarakat.
Upaya yang dilakukan Perseroan untuk meminimalkan risiko ini antara lain Perseroan menggunakan analisa gap likuiditas, analisa likuiditas saat stress, dan juga melakukan analisa rasio likuiditas. Perseroan juga menetapkan beberapa limit dari rasio-rasio likuiditas dan menetapkan parameter untuk menggolongkan tingkat risiko likuiditas. Perseroan juga telah memiliki contigency funding plan bila terjadi situasi likuiditas yang ketat.
Risiko Pasar
Risiko pasar merupakan risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari portofolio yang dimiliki oleh Perseroan yang dapat merugikan Perseroan (adverse movement).
Risiko pasar sangat terkait dengan gejolak pasar yang terjadi karena pergerakan nilai tukar dan suku bunga yang dapat merugikan posisi Perseroan. Penyesuaian terhadap tingkat suku bunga baik pada sisi aset maupun kewajiban tidak dapat selalu dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini mengakibatkan Perseroan rentan terhadap perubahan tingkat suku bunga pasar. Tidak terdapat jaminan bahwa perubahan suku bunga yang cepat di masa mendatang tidak akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan kredit, keuntungan, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.
Potensi kerugian transaksi nilai tukar dapat berasal dari transaksi forex, derivative trading serta kerugian valuta asing akibat posisi mismatched asset dan liability valuta asing (banking book). Pergerakan pasar yang signifikan dapat mengakibatkan Perseroan mengalami kerugian.
Dalam rangka upaya meminimalkan kerugian akibat fluktuasi nilai tukar dan suku bunga, Perseroan memiliki strategi maupun langkah-langkah untuk memitigasi risiko tersebut sehingga tidak berdampak negatif terhadap usaha Perseroan. Hal-hal yang dilakukan Perseroan antara lain analisis risiko dan limit untuk aktivitas trading, dilakukan proses mark to market untuk posisi trading, monitoring Posisi Devisa Neto, pemantauan Value at Risk (VaR), memperhatikan posisi gap aset dan kewajiban Perseroan yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga, melakukan stress test dengan beberapa skenario diantaranya skenario terburuk (worst case scenario), dan lain- lain.
Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha Perseroan.
Sebagai lembaga jasa keuangan, Perseroan membutuhkan citra dan publikasi yang baik mengenai kegiatan usaha dan kinerja Perseroan. Perseroan selalu menjaga reputasinya pada level yang terbaik untuk memberikan produk dan layanan kepada nasabahnya. Kegagalan Perseroan dalam menjaga reputasinya dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap Perseroan. Hal ini dapat menyebabkan terjadi hilangnya kepercayaan nasabah dan akan berdampak langsung terhadap penurunan jumlah nasabah yang akhirnya memberikan dampak pada penurunan pendapatan dan volume aktivitas Perseroan.
Dalam rangka menjaga layanan kepada para nasabahnya, Perseroan telah menerapkan Automated Complains Monitoring and Reporting System dan juga membuka jalur komunikasi kepada nasabah dengan membentuk Call Center Help Desk yang dipandu oleh standar prosedur operasional dalam menangani berbagai bentuk keluhan.
Risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang mungkin timbul karena adanya penetapan dan pelaksanaan strategik Perseroan yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsif.
Perseroan harus merumuskan dan menetapkan langkah-langkah strategik baik jangka pendek maupun jangka panjang yang selalu disesuaikan dengan rencana-rencana Perseroan dengan melihat perubahan dan sasaran yang ada. Ketidakmampuan Perseroan atau kesalahan Perseroan dalam merumuskan strateginya dan melaksanakan strategi yang telah direncanakan dapat menyebabkan Perseroan mengalami penurunan kinerja.
Terdapat risiko dalam pelaksanaan penyertaan pada anak perusahaan, diantaranya risiko atas kewajiban yang tak terduga yang terkait dengan kegiatan usaha yang mungkin baru diketahui setelah melakukan penggabungan dan pengambilalihan usaha, risiko kewajiban penyediaan dana di masa depan termasuk pendanaan yang diharuskan oleh pemegang saham Perseroan untuk mempertahankan kecukupan modal Perseroan, risiko kegagalan koordinasi upaya pemasaran dan penjualan, risiko tidak fokus pada bisnis utama, dan risiko terjadinya penghapusbukuan investasi.
Perseroan dalam upayanya meminimalkan risiko strategik selalu memantau pencapaian tujuan-tujuan yang telah direncanakan dan melakukan penyesuaian atas langkah-langkah Strategik Perseroan, bila diperlukan, dengan memperhatikan tingkat persaingan di industri perbankan.
Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang mungkin timbul dari sifat kegiatan yang menyangkut kepentingan umum.
Kegagalan Perseroan dalam menjaga dan melindungi kepentingan Perseroan dapat menimbulkan potensi tuntutan hukum dan permasalahan hukum di kemudian hari, yang jika terjadi dalam jumlah yang signifikan akan menimbulkan biaya yang cukup besar dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi Perseroan.
Perseroan memiliki suatu Divisi hukum yang bertanggung jawab antara lain untuk menstandarisasi seluruh dokumen hukum untuk kepentingan usaha Perseroan.
Kebijakan Kredit
Dalam kegiatan perkreditan maupun penyaluran aset produktif lainnya, Perseroan memiliki Kebijakan dan Prosedur kredit sebagai landasan utama dalam aktivitas perkreditan. Kebijakan dan Prosedur kredit ini merupakan bagian dari manual kerja Perseroan yang berlaku di seluruh jajaran Perseroan. Manual ini pada dasarnya terbagi menjadi Kebijakan Umum, Kebijakan Khusus, Prosedur dan Instruksi Kerja per segmen bisnis.
Kebijakan dan Prosedur kredit ditetapkan sebagai pedoman bagi seluruh unit kerja yang terkait dan bertanggung jawab dalam penyaluran dan pemantauan kredit guna memastikan bahwa kredit yang disalurkan telah sesuai dengan prinsip kehati-hatian sehingga menghasilkan kredit yang sehat dan produktif.
Kebijakan kredit dan aset produktif lainnya merupakan kebijakan yang berisi credit doctrine dan ketentuan- ketentuan penyaluran kredit yang penyusunannya antara lain mengacu kepada ketetapan regulator; dimana materi dari kebijakan tersebut dibahas, ditetapkan dan disetujui oleh Credit Policy Committee (merupakan suatu komite eksekutif yang beranggotakan Direksi dan Senior Executive dari Perseroan). Sedangkan Prosedur kredit dan asset produktif lainnya ditetapkan oleh tingkatan komite yang lebih rendah.
Proses Penyaluran Kredit
Proses penyaluran kredit secara umum (normal credit process) adalah sebagai berikut:
Target Market Analysis Credit Initiation Origination
Process
Quantitative Analysis Qualitative Analysis Coll./Guarantee Analysis
Evaluation Process
Credit Proposal Credit Reviewer Credit Approval
Approval Process
Disburseme nt Process
Account Management Maintenanc
e Process
Extension The Facility Terminate The Facility Remedial
Offering Letter Legal Documentation Book & Settlement
Y/N
Origination Process :
Proses penyaluran kredit diawali dengan identifikasi target market, khususnya terhadap bidang usaha/industri yang potensial/atraktif dapat dibiayai oleh unit kerja bisnis. Penentuan target market ini sejalan dengan arah dan strategi usaha sesuai yang ditetapkan dalam business plan ataupun arahan dan kebijakan perkreditan lain yang telah ditetapkan Manajemen. Penentuan target market dilakukan melalui riset dan evaluasi bidang usaha mana yang atraktif, netral dan tidak atraktif untuk dibiayai dengan menetapkan batasan/limit portofolio dari suatu
industri. Berdasarkan target market tersebut kemudian ditindaklajuti dengan melakukan identifikasi terhadap (calon) debitur yang memenuhi sektor usaha sesuai target market yang telah ditentukan.
Evaluation Process :
Merupakan proses menyeluruh mengenai evaluasi risiko kredit, baik dari sisi kuantitatip, kualitatip dan agunan (calon) debitur, termasuk evaluasi terhadap mitigasi risiko kreditnya. Atas seluruh penilaian tersebut selanjutnya dituangkan dalam proposal kredit.
Approval Process:
Proposal kredit yang telah disusun oleh Account Officer selanjutnya dimintakan rekomendasi kepada Credit Reviewer sebagai pihak yang independen dari Business Unit (merupakan pihak yang berada dibawah supervisi direktorat Credit). Setelah rekomendasi diperoleh, proposal tersebut selanjutnya dimintakan persetujuan kepada Credit Committee. Untuk pinjaman dengan jumlah dan kriteria tertentu; dimana evaluasi kredit dilakukan melalui scoring system, persetujuan dapat diberikan secara single approval (approval dari pihak independen-non Business Unit). Penetapan pihak yang dapat bertindak sebagai anggota Credit Committee dipilih berdasarkan kapasitas, kemampuan dan penilaian individu yang baik di bidang perkreditan.
Disbursement Process :
Proposal kredit yang telah memperoleh persetujuan sesuai ketentuan yang berlaku harus dituangkan dalam Offering Letter untuk memperoleh kesepakatan dengan (calon) debitur sebelum kesepakatan tersebut dituangkan dalam suatu Perjanjian Kredit antara Perseroan dan (calon) debitur. Perseroan harus meyakinkan bahwa seluruh persyaratan dan dokumen perkreditan yang dibutuhkan telah terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku sebelum pembukuan kredit dilakukan. Proses pembukuan pinjaman dikelola oleh Direktorat Operasi, yakni unit kerja Administrasi Kredit dan Pinjaman.
Maintenance Process:
Untuk menjaga kualitas kredit yang telah diberikan kepada debitur, Perseroan melakukan pemantauan kinerja debitur yang meliputi pemantauan pemenuhan kewajiban baik dalam bentuk kewajiban pembayaran maupun kewajiban lainnya seperti pemenuhan penyerahan berbagai dokumen dan laporan. Perseroan juga menyiapkan dokumen untuk memantau kinerja debitur dengan cara mengumpulkan beberapa indikator pemburukan kredit.
Proses pemantauan antara lain dilakukan melalui penerapan post mortem review maupun portfolio monitoring yang pengelolaannya dilakukan oleh Direktorat Credit.
Process Remedial:
Tantangan terbesar Perseroan adalah menghindarkan diri dari portofolio kredit bermasalah. Oleh karenanya, penanganan dan penyelesaian kredit bermasalah perlu dilakukan dengan cepat dan tepat. Perseroan memiliki unit kerja yang khusus menangani kredit bermasalah. Tanggung jawab unit kerja tersebut adalah melakukan pengelolaan kredit bermasalah dengan menyusun strategi penanganan penyelesaian kredit bermasalah tanpa mengabaikan prinsip kehati hatian sehingga dapat mengurangi risiko yang lebih jauh maupun meningkatkan hasil pengembalian yang lebih baik. Bentuk penanganan dan penyelesaian kredit bermasalah tersebut antara lain berupa restrukturisasi kredit dan penyelesaian kredit bermasalah melalui compromised, seperti namun tidak terbatas pada proses eksekusi dan penjualan agunan yang mampu memberikan kontribusi maksimal bagi kepentingan bank.
Penetapan Tingkat Bunga Kredit (Pricing)
Tingkat bunga kredit ditetapkan berdasarkan pada komponen-komponen berikut ini:
Biaya dana yang merupakan komponen utama yang berasal dari biaya bunga dana, kemudian ditambahkan komponen biaya regulasi (biaya giro wajib minimum dan uang kas, serta biaya premi LPS).
Biaya operasi (overhead cost) yang mencakup seluruh biaya operasi Perseroan seperti, tenaga kerja, administrasi, promosi.
Marjin keuntungan (profit spread)
Seluruh komponen di atas merupakan komponen pembentuk suku bunga dasar kredit (prime lending rate).
Agunan dan Jaminan Kredit
Mengingat Perseroan bergerak pada penyaluran kredit multi segmen seperti Corporate Banking, Business Banking serta Retail Banking, maka portofolio kredit Perseroan bervariasi diantara secured loan dan unsecured loan. Pada umumnya unsecured loan diberlakukan pada segmen Retail Banking seperti Credit Card dan Personal Loan berupa Kredit Tanpa Agunan. Sedangkan secured loan merupakan kredit dengan jaminan yang bervariasi dari properti, pabrik, kendaraan, mesin, dan lain sebagainya.