BAB II LANDASAN TEORI
A. Hasil Belajar
5. Manfaat Hasil Belajar
Hasil belajar siswa pada dasarnya sangat penting untuk diketahui, karena melalui hasil belajar siswa, guru dapat menentukan sejauh mana daya serap siswa mengenai materi yang disampaikan. Salah satu bentuk hasil belajar adalah hasil nilai ujian. Hasil nilai ujian tidak hanya bermanfaat bagi guru, secara terperinci dijelaskan manfaat hasil belajar antara lain:
a. Bagi murid
1) Untuk mengetahui apakah ia sudah menguasai bahan yang disajikan oleh guru.
2) Untuk mengetahui bagian mana yang belum dikuasai, sehingga dapat diusahakan suatu upaya perbaikan.
3) Menjadi penguatan bagi murid yang sudah memperoleh nilai tinggi.
4) Sebagai diagnosa bagi murid yang mengalami kesulitan belajar.
b. Bagi guru
a. Untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai baahan pelajaran yang telah disajikan.
b. Untuk memilah bagian mana saja dari bahan pelajaran yang belum dapat dikuasai siswa.
18 Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 177
xxx
c. Untuk memberikan gambaran dalam memperkirakan pencapaian keberhasilan terhadap seluruh program yang dilaksanakannya.
c. Bagi orangtua
a. Membantu dan memotivasi anaknya untuk lebih giat belajar b. Membantu sekolah meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Bagi sekolah
1) Untuk mengetahi keberhasilan siswa dan menentukan kenaikan atau kelulusan siswa.
2) Untuk mengetahui kemajuan maupun kemunduran yang dicapai murid.19
6. Tingkat Keberhasilan Hasil Belajar
Seorang guru yang melakukan proses belajar mengajar harus mampu mengatahui sampai ditingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah tercapai oleh siswanya. Dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Istimewa / maksimal : apabila seluruh seluruh bahan pelajaran yang telah diajarkan itu dapat dikuasai oleh sisiwa.
b. Baik sekali / optimal : apabila sebagian besar (76 % sd 99 %) bahan pelajaran yang telah diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
c. Baik minimal : apabila bahan pelajaranyang telah diajarkan hanya 60% sd 75% saja dikuasai oleh siswa.
d. Kurang : apabila bahan pelajaran yang telah diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.20
Kriteria data di atas yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan presentase keberhasilan siswa dapatlah kita ketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru.
19 Mulyadi, Evaluasi Pendidikan, (Malang : UIN Maliki Press, 2010), h. 168-171
20 Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010), h.107
xxxi
7. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) a. Pengertian Pendidikan IPS
Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial”, disingkat IPS, merupakan nama mata pelajaran ditingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identic dengan istilah “social studies” dalam kurikulum persekolahan di Negara lain, khususnya di Negara-negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat.21
Pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.22
Menurut versi FPIPS dan Jurusan Pendidikan IPS, “Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisirkan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.23
IPS sebagaimana dirumuskan oleh The National Council for the Social Studies (NCSS) sebagai suatu kajian terintegrasi dari ilmu-ilmu social dan ilmu-ilmu kemanusiaan untuk meningkatkan kemampuan kewarganegaraan (civic competenence). IPS menyediakan kajian terkoordinasi dan sistematis dengan mengambil dari disiplin-disiplin antropologi, arkeologi, ekonomi, geograsi, sejarah, hokum, filsafat,
21 Sapriya, Pendidikan IPS, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h.19
22 Tusriyanto, Ilmu Pengetahuan Sosial 1, (Metro: Anugrah Utama Raharja, 2013), h. 1
23 Ibid.
xxxii
ilmu politik, psikologi, agama, dan sosiologi, serta ilmu-ilmu kemanusiaan, matematika dan ilmu alam.24
b. Tujuan IPS
Tujuan IPS SD/MI adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar siswa-siswi untuk mengembangkan diri sesuai bakat, minat dan kemampuan dan lingkungannya dalam bidang pembelajaran IPS SD/MI. Tujuan yang lebih spesifik lagi adalah sebagai berikut:
a) Mengembangkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis dan psikologis.
b) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan sosial.
c) Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai social dan kemanusiaan.
d) Meningkatkan kemampuan bekerjasama dan kompetensi dalam masyarakat yang majemuk, baik secra nasional maupun global.25 B. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Kata “motif”, diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata
“motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang
24 Tusriyanto, Pembelajaran IPS SD/MI, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro Lampung, 2014), h.27-28
25 Ibid., h.30-31
xxxiii
telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.26
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.27
2. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling memengaruhi.
Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara practice yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.28
Firman Allah dalam Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11:
artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-mlaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.29
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Jahm dari Ibrahim, ia berkata, “Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi dari para nabi Bani Israil, yang isinya, “Katakan kepada
26 Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 73
27 Oemar Hamalik, Proses Belajar, h. 158
28 Hamzah B, Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h.23
29 Q.S Ar-Ra’du (13): 11
xxxiv
kaummu, “Sesungguhnya tidak ada penduduk suatu kampung dan penghuni suatu rumah yang sebelumnya berada di atas ketaatan kepada Allah, lalu beralih kepada maksiat, melainkan akan berubah keadaan yang sebelumnya mereka senangi kepada keadaan yang mereka benci.”
Ia berkata, Hal ini dibenarkan dalam kitabullah yang berbunyi,
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri“.30
Kesimpulan ayat di atas adalah sebuah motivasi untuk mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, terutama dengan ilmu.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
( .ٍر َمُن ُن اَو َةَب َششش يِبَأَ ُن ِر َب وششُبَأَ اَنَثَّدَح ) ۡۡۡرٍ.ي ۡرٍ.ب ۡرٍ.ي ۡرٍ.ب ۡرٍ.ك ٢٦٦٤
ِن َةشششَعيِبَر َع ،َسيِر ِإِ ُن ِهشششللا ُد َعاَنَثَّدَح : َلَااشششَق ۡرٍ.ب ۡرٍ.ن ۡرٍ.د ۡرٍ.ب ۡرٍ.ب
، ِجَر ۡرٍ.ع ۡرٍ.ل َأَا ِنَع ،َناَّبَح ِن ٰىَي َي ِن شِدَّمَحُم َع ،َناَم ُع ۡرٍ.ب ۡرٍ.ح ۡرٍ.ب ۡرٍ.ن ۡرٍ.ث
ُنِم ُم ا( :ﷺ ِهللا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ،َةَر َرُه يِب ۡرٍ.ؤ ۡرٍ.ل ۡرٍ.ي َأَ َع ۡرٍ.ن
، ِفيِع َّششضلا ِنِم ُم ا َنِم ِهششللا ىَلِإِ ُّبَح ۡرٍ.ؤ ۡرٍ.ل َأََو ٌر َخ ُّيِوَق ا ۡرٍ.ي ۡرٍ.ل
،ِهللاِب ِعَت اَو َكُعَف َي اَم ٰىَلَع ِر ا .ٌر َخ ٍّلُك يِفَو ۡرٍ.ن ۡرٍ.س ۡرٍ.ن ۡرٍ.ص ۡرٍ.ح ۡرٍ.ي
ُت َعَف يِّن ۡرٍ.ل َأَ َل : ُقَت َلَاَف ٌء َششش َكَباَصَأَ ِإَِو ، َج َت َلَاَو ۡرٍ.و ۡرٍ.ل ۡرٍ.ي ۡرٍ.ن ۡرٍ.ز ۡرٍ.ع .َلَعَف َءا َش اَمَو .ِهللا ُرَدَق : ُق ِكَٰلَو .اَذَكَو اَذَك َناَك ۡرٍ.ل ۡرٍ.ن .)ِناَطَّشلا َلَمَع ُحَت َت َل َّنِإَِف ۡرٍ.ي ۡرٍ.ف ۡرٍ.و
Artinya: (2664). Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami. Keduanya mengatakan: ‘Abdullah bin Idris menceritakan kepada kami, dari Rabi’ah bin ‘Utsman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, pada masing-masingnya ada kebaikan.
Bersemangatlah kepada apa saja yang bermanfaat untukmu, minta
30 http://wawasankeislaman.blogspot.co.id, diunduh pada 28 Mei 2018
xxxv
tolonglah kepada Allah, dan janganlah lemah. Apabila ada suatu hal yang menimpamu, janganlah engkau ucapkan: Andai saja aku melakukan ini, niscaya akan begini dan begini. Akan tetapi ucapkanlah: Qadarullah (Ini takdir Allah). Dan apa saja yang Allah kehendaki, Dia pasti melakukannya. Karena sesungguhnya ungkapan pengandaian membuka amalan setan.”
Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan”.
Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas:
1. Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.
2. Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.
3. Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.31
Motivasi dari Hadits di atas adalah sebagai seorang manusia kita tidak boleh patah semangat untuk meraih tujuan yang ingin kita raih,
31 https://rumaysho.com, diunduh pada 27 Mei 2018
xxxvi
selalu semangat dalam meraih ilmu yang bermanfaat dan tidak bermalas- malasan.
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil.
b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan.
d. Adanya penghargaan dalam belajar.
e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
f. Adanya lingkungan yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.32
Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non- intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.33
3. Ciri-Ciri Motivasi Belajar Siswa
Menentukan ada tidaknya motivasi belajar dalam diri seseorang, harus lebih dahulu diketahui ciri-ciri motivasi belajar yang ada di dalam diri seseorang. Ciri-ciri motivasi belajar siswa:
32 Hamzah B, Uno. Teori Motivasi, h. 23
33 Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi, h. 75
xxxvii
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya).
c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah “untuk orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, amoral, dan sebagainya.
d. Lebih senang bekerja mandiri.
e. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin (hal-hal yng bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
f. Dapat mempertahankan pendapatnya.
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.34
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka seseorang mempunyai motivasi yang cukup tinggi. Ciri-ciri tersebut sangatlah penting dalam proses kegiatan belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasih baik apabila seorang siswa belajar dengan tekun dan ulet dalam memecahkan berbagai masalah.
4. Fungsi Motivasi Belajar
Proses kegiatan belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan optimal apabila ada motivasi dalam diri siswa itu sendiri.
Sehubungan pentingnya motivasi dalam hidup seseorang untuk mencapai tujuan, tiga fungsi motivasi sebagai berikut:
a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menentukan arah perbuatan, yakni kea rah tujuan yang hendak dicapai. dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan
34 Ibid., h. 83
xxxviii
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.35
5. Macam-Macam Motivasi Belajar
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-motif yang sangat bervariasi.
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya 1) Motivasi bawaan
Yang dimaksud dengan motivasi bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari.
2) Motivasi yang dipelajari
Maksdunya motivasi timbul karena dipelajari.
Di samping itu menurut Frandsen jenis-jenis motif berikut ini:
a. Cognitive motivies
Motif ini merujuk pada gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan individual.
b. Self-expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia.
Untuk itu diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self-enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan seseorang.
b. Jenis motivasi:
1) Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya; kebutuhan untuk minum, makan, bernapas, seksual, berbuat dan kebutuhan beristirahat.
2) Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu.
3) Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat.
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
35 , Ibid., h. 85
xxxix
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah.
Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti reflex, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
1) Momen timbulnya alasan.
2) Momen pilih.
3) Momen putusan.
4) Momen terbentuknya kemauan.
d. Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik
1) Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. contohnya minat, bakat, kesehatan, disipli dan intelegensi.
2) Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya dari luar. contohnya dorongan dari keluarga, sahabat dekat, guru, lingkungan sekitar, dan sekolah.36
Macam atau jenis motivasi yaitu:
1) Motivasi Intrinsik
yang dimaksud dengan motivasi intinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.
motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.37
C. Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi belajar sangat penting peranannya bagi
36 Ibid., h.86- 91
37 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 149
xl
peserta didik dalam usaha mencapai hasil belajar yang tinggi. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi biasanya lebih bersungguh- sungguh dalam belajar dan lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas maupun luar kelas.
Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung lebih tekun, bersemangat, lebih tahan/tidak mudah bosan, dan memiliki ambisi yang lebih tinggi dalam pencapaian hasil belajar yang lebih tinggi dalam pencapaian hasil belajar yang lebih baik, dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung tidak bergairah dalam mengikuti proses pembelajaran, dan tidak berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Kondisi peserta didik yang motivasi belajarnya rendah sudah tentu tidak mampu mencapai hasil belajar yang tinggi.
D. Kerangka Berpikir dan Paradigma 1. Kerangka Berpikir
Kerangka berfikir merupakan konseptualisasi tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting.
xli
Adapun kerangka berfikir yang dapat penulis sajikan dalam penelitian ini adalah: hubungan antara motivasi dan hasil belajar Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) siswa SD N 21 Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran.
2. Paradigma
Paradigma adalah pola hubungan antara variabel yang akan diteliti.
Jadi paradigma penelitian dalam hal ini diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunkan untuk merumuskan hipotesis, jenis, dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.38
Maka paradigma dalam penelitian ini adalah:
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.39
38 Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R
& D), (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 96
39 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian Aplikasi Praktis, (Metro: Ramayana Pers, 2008), h.
59
xlii
Baik Baik
Hasil belajar Motivasi
belajar
Hipotesis Cukup
Cukup
Kurang Kurang
Rumusan hipotesis penelitian merupakan suatu pernyataan yang diajukan setelah peneliti mengemukakan landasan teoritik dan kerangka berfikir. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho = Tidak ada hubungan antara motivasi dengan hasil belajar IPS Siswa SDN 21 Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018.
Ha = Ada Hubungan antara Motivasi dengan Hasil Belajar IPS Siswa SDN 21 Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018.
xliii
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dalam penelitian ini setelah data yang diperlukan terkumpul, data tersebut dianalisis menggunakan analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik.
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.40
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuntitatif yang bersifat korelasi. Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hubungan antara variabel (X) motivasi belajar dan variabel (Y) hasil belajar IPS.
B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional merupakan petunjuk bagaimana caranya mengukur suatu varibel.
Definisi operasional adalah “Definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati (diobservasi) serta dapat diukur.
Konsep dapat diamati atau diobservasi ini penting, karena hal yang dapat
40 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2016), cetakan ke-24, h.8
xliv
diamati itu membuka kemungkinan bagi orang lain selain peneliti untuk melakukan hal yang serupa, sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk dikaji oleh orang lain.41
Adapun definisi dari penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas (X) yaitu motivasi belajar.
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).42 Berdasarkan kutipan tersebut bahwa yang dimaksud variabel bebas adalah sesuatu yang dapat mempengaruhi variasi atau nilai variabel lainnya (variabel terikat), yang efeknya dapat diamati dan di ukur. Dengan demikian variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi belajar.
Motivasi belajar merupakan dorongan bagi siswa untuk belajar yang timbul dari dalam diri maupun luar diri siswa untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indicator atau unsur yang mendukung. Indikator dari motivasi belajar dapat diklasifikasikan menjadi:
1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil.
2) Adanya dorongan dan kebutuhan belajar.
3) Adanya harapan atau cita-cita masa depan.
4) Adanya penghargaan dalam belajar.
5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
6) Adanya lingkungan belajar yang kondusif.
41 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian Aplikasi Praktis, (Metro: Ramayana Pers, 2008), h. 75
42 Sugiyono, Metode Penelitian., h. 39
xlv
2. Variabel terikat (Y) yaitu hasil belajar IPS.
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.43
Hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara normatif hasil belajar IPS meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Data hasil belajar IPS siswa dalam penelitian ini diperoleh dari nilai ujian akhir semester ganjil.
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yng ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.44 Jadi, yang dimaksud populasi adalah individu yang memiliki sifat yang sama walaupun prosentase kesamaan itu sedikit, atau dengan kata lain seluruh individu yang akan dijadikan sebagai objek penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri 21 Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon Tahun Pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 120 siswa.
43 Ibid.
44 Ibid., h. 80
xlvi
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.45 Menurut pendapat lain, sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.46
Dari pendapat di atas, maka penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang dijadikan objek penelitian.
Sampel diambil dari populasi penelitian yang mencerminkan dari segala sesuatu populasi dan diharapkan dapat mewakili seluruh anggotanya. Kemudian untuk menentukan berapa sampel yang akan diteliti, maka penulis mengikuti pedoman sebagaimana yang dijelaskan oleh Suharsimi arikunto yaitu “Apabila populasi dianggap cukup homogen dan jumlahnya kurang dari 100 maka diambil semua, namun apabila populasi berjumlah lebih dari 100, maka sampelnya dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih”.47
Berdasarkan pendapat tersebut, karena jumlah populasi dalam penelitian ini lebih dari 100, maka yang akan dijadikan sebagai sampel adalah 25% dari jumlah populasi yaitu 30 siswa. Jadi, jumlah sampel yang ada di dalam penelitian ini adalah 30 siswa yang terdapat di kelas V SD Negeri 21 Negeri Katon Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran.
45 Sugiyono, Metode Penelitian., h. 81
46 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian, h. 80
47 Ibid., h. 81-82
xlvii