• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Motivasi Belajar

4. Manfaat motivasi

Menurut Sardiman A.M, (2003: 86) Para pelajar mengurung dirinya dalam kamar untuk belajar, karena untuk menghadapi ujian pada pagi harinya. Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing pihak itu sebenarnya di latar belakangi oleh sesuatu atau secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan kegiatan pekerjaan.

Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi, sebab hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi, makin tepat motivasi yang diberikan akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan

senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para peserta didik, dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.

Di samping itu, motivasi itu dapat berfungsi sebagai usaha karena adanya motivasi, adanya motivasi baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Seperti kata lain bahwa dengan adanya usahayang tekun dan terutama di dasarkan motivasi maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan motivasi yang baik

Melihat fungsi-fungsi motivasi tersebut diatas, maka guru sebagai motivator harus memberikan motivasi kepada anak dalam rangka meningkatkan cara belajarnya. Oleh karena itu, guru diharapkan menjaga agar anak tetap memiliki motivasi yang tinggi sehingga anak akan mengejar ilmu meskipun sudah meninggalkan kelas. Tugas guru haruslah mampu meningkatkan motivasi belajar anak didik untuk terus menerus belajar. Guru di harapkan menciptakan motivasi di dalam kelas serta berupaya menemukan berbagai cara untuk dapat memotivasi anak.

Guru hendaknya menyadari pentingnya motivasi di dalam membimbing belajar murid. Berbagai macam tehnik misalnya penghargaan piagam-piagam prestasi, pujian dan celaan di pergunakan untuk mendorong murid agar mau giat belajar. Hal ini di lakukan tidak lain adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang manajer bahwa tujuan motivasiu

adalah untuk menggerakkan pegawai atau menekan dalam perusahaan itu agar dapat meningkatkan motivasi kerjanya , sehingga tercapai tujuan organisasi yang dipimpinnya sedangkan guru tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan dan memacu peserta didik agar timbul keinginan dan kemauan untuk meningkatkan motivasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

Demikian bahwa setiap tindakan mempunyai tujuan. Makin jelas tujuan yang ingin dicapai, semakin jelas pula tindakan motivasi yang di lakukan. Tindakan motivasi akan berhasil jika tujuannya jelas dan disadari oleh orang yang memotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang di motivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahanmi benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan dan kepribadian orang yang akan di motivasi. Mengenal dan memahami latar belakang kehidupan kebutuhan dan kepribadian seseorang, maka berarti ia sudah dapat memahami fungsi-fungsi motivasi.Oemar Hamalik (2011:20) menyebutkan bahwa ada tiga fungsi motivasi yaitu,

1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap langkah kegiatan yang ingin dikerjakan.

2. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dari kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan- perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat dari tujuan tersebut.

Berdasarkan dengan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa adalah pendorong dan pengarah serta sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan dengan indikator.

C.Profesionalisme Guru

1.PengertianProfesionalisme Guru

Abd. Rahman Gatteng (2009.h29) Gurumerupakan komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang sangat berperan dalam mengantarkan siswa-siswinya pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

Gurulah yang memikul tanggungjawab atas keberhasilan dan kegagalannya program pengajaran. Oleh karena itu mengajar merupakan pekerjaan profesional, karena itu menggunakan teknik dan prosedur yang berpijak pada landasan intelektual yang harus dipelajari secara sengaja, terencana dan kemudian dipergunakan demi kemaslahatan orang lain.

Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung jawab. Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya.Sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetepi memerlukan suatu persiapan melelui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk itu.Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah:

sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.

2. Ciri-ciri Profesionalisme Guru

MenurutEnco Mulyasa (2004 :135) ciri-ciri profesionalisme guru yaitu :

a. mengidentifikasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalah dialamidirinya.

b. menetapkan program peningkatan kemampuan guru dalam mengatasi kekurangan, kelemahan, kesulitanya.

c. merumuskan tujuan program pembelajaran,

d. menetapkan serta merancang materi dan media pembelajaran, e. menetapkan bentuk dan mengebangkan instrumen penilaian, f. menyusun dan mengalokasikan program pembelajaran, g. melakukan penilaian,

h. malaksanakan tindak lanjut terhadap siswa.

3. Komponen- Komponen Profesionalisme Guru

Kinerja keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut:

a. Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan baik yang dicapai secara nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran.

b. Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai bidang studi secara mendalam.

c. Kemampuan dalam menggunakan metodologi dan strategi pembelajaran

31 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, sebagaimana yang di kemukakan Sugiono (2013:38) Metode kuantitatif adalah pendekatan ilmiah yang memandang suatu realitas itu dapat di klasifikasikan kongrit, teramai, dan terukur hubungan variabelnya bersifat sebab akibat dimana data penelitianya berupa angka- angka dan analisinya menggunakan statistik.

Secara operasional penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan kualitas yang ada diantara variabel-variabel penelitian. Hubungan tersebut dapat merupakan hubungan yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

Untuk lebih jelasnya, hal-hal yang akan digali dalam penelitian ini dapat diuraikan sebgai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh keterampilan mengajar guru Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng ?

2. Apakah terdapat pengaruh motivasi belajar di Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng?

3. Apakah terdapat pengaruh keterampilan guru Pendidikan Agama Islam dengan motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng ?

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada Sekolah di Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng, penelitian ini dapat diselesaikan dalam tempo 2 bulan. Dengan rincian, satu bulan untuk pelaksanaan pra survey, satu bulan untuk pengumpulan teori, satu bulan untuk penyusunan instrument, dan penyusunan laporan akhir penelitian.

C. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah paradigma sederhana dengan satu variabel independen dan satu variabel dependen sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:

Keterangan:

X : Keterampilan mengajar guru Y : Motivasi belajar siswa

: pengaruh variabel X terhadap variabel Y

D. Variabel Penelitian

Menurut Sugiono (2013:39). Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Kerlinger menyatakan bahwa variabel adalah konstruk (construct) atau sifat yang akan dipelajari.

Berdasarkan judul penelitian yang diajukan oleh peneliti yaitu, maka variabel dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

a. Variabel independen (bebas)

Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel independen (variabel X) dalam penelitian ini yaitu Keterampilan mengajar guru.

b. Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen sering disebut variabel terikat. Variabel terikat yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

Variabel depende (variabel Y) dalam penelitian ini yaitu Motivasi belajar siswa.

E. Populasi dan Sampel a. Populasi

Istilah populasi digunakan untuk menyatakan pengertian kelompok yang menjadi asal dari mana sebuah sampel dipilih. Dengan demikian, populasi diartikan sebagai himpunan semua objek atau individu yang akan dipelajari berdasarkan sampel. Menurut Sugiyono (2013:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 1 (satu) Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan jumlah siswa kelas 1 (satu) Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.

Tabel 1.

Jumlah siswa kelas 1 (Satu) di Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng

No Kelas Jumlah Sampel

1 Kelas A 22

2 Kelas B 25

3 Kelas C 23

Jumlah 70

Sumber: Dokumen Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.Tahun 2016

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, Sampel penelitian ini adalah 60% siswa kelas X Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang tahun ajaran 2015- 2016 yang terdiri dari tiga kelas, yaitu terdiri atas 42 siswa. Dengan teknik sampling incidental dimana teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa yang menjadi sampel dari penelitian ini adalah 42 siswa kelas X Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang yang juga sebagai populasi dari penelitian ini, sehingga sampel penelitian ini termasuk dalam Sampling Jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi penelitian juga sebagai sampel penelitian.

F. Teknik Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:

1. Tahap Persiapan

Tahap ini penulis terlebih dahulu melengkapi hal-hal yang dibutuhkan di lapangan yaitu:

a. Menyusun kisi-kisi angket sesuai indikator yang ingin dicapai.

b. Menyusun instrumen penelitian yaitu item-item pernyataan angket.

2. Tahap Pelaksanaan

Pengumpulan data hasil penelitian ini dilakukan melalui pembagian angket dan pengamatan langsung observasi adalah pemeriksaan validitas item kusiner yang akan dibandingkan kepada siswa kelas 1 (satu) Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.

3. Tahap Akhir

a. Melakukan observasi siswa kelas 1 (satu) Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Kelurahan Lamalaka Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.

b. Memberikan angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan tindakan.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk kemudian menjawabnya.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini hanya angket. Pada variable Keterampilan mengajar guru, angket dalam penelitian ini memiliki 3 aspek yang dikembangkan dalam 16 pertanyaan.

Instrumen ini menggunakan skala likert yang terdiri atas empat pilihan jawaban yaitu (a) Sangat sesuai, (b) Sesuai, (d) Tidak sesuai, dan (e) sangat tidak sesuai.

Koesioner ini terdiri dari dua macam pertanyaan yang pertanyaan diasumsikan kategori positif dan pertanyaan yang diasumsikan negatif.

Pertanyaan positif pemberian skor dilakukan dengan memberikan skor sebagai berikut:

1. Respon yang menjawab sangat sesuai diberi skor empat (4) 2. Respon yang menjawab sesuai diberi skor tiga (3)

3. Respon yang menjawab tidak sesuai diberi skor dua (2)

4. Respon yang menjawab sangat tidak sesuai diberi skor satu (1)

Sedangkan pernyataan negatif diberi skor sebaliknya. Jumlah skor keseluruhan item untuk setiap responden menyatakan skor yang dicapai oleh responden tersebut.

Variabel motivasi belajar, angket dalam penelitian ini memiliki 2 aspek yang dikembangkan dalam 28 pertanyaan.

Instrumen ini menggunakan skala likert yang terdiri atas empat pilihan jawaban yaitu (a) Sangat setuju, (b) Setuju, (d) Tidak setuju, dan (e) sangat tidak setuju.

Koesioner ini terdiri dari dua macam pertanyaan yang pertanyaan diasumsikan kategori positif dan pertanyaan yang diasumsikan negatif.

Pertanyaan positif pemberian skor dilakukan dengan memberikan skor sebagai berikut:

1. Respon yang menjawab sangat setuju diberi skor empat (4) 2. Respon yang menjawab setuju diberi skor tiga (3)

3. Respon yang menjawab tidak setuju diberi skor dua (2)

4. Respon yang menjawab sangat tidak setuju diberi skor satu (1)

Sedangkan pernyataan negatif diberi skor sebaliknya. Jumlah skor keseluruhan item untuk setiap responden menyatakan skor yang dicapai oleh responden tersebut

H. Teknik analisis data

Setelah data terkumpul maka hal yang dilakukan peneliti selanjutnya adalah menganalisis data. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendriskipsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

Data yang diperoleh dalam penelitian terlebih dahulu melalui proses analisis statistik deskriptif. Pada analisis statisitik deskriptif ini, disajikan tabel distribusi frekuensi melalui penjelasan sebagai berikut.

Tabulasi frekuensi dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. rentang (RT) adalah nilai terbesar (NT) dikurangi nilai terkecil (NK)

Perlu diperhatikan bahwa jika ada data exterm walaupun hanya satu, nilai rentang sebaiknya tidak digunakan karena dapat mengelirukan.

b. banyak kelas interval

banyak kelas interval = ( ) c. panjang kelas interval

d. menghitung rata-rata (mean) dengan menggunakan rumus:

̅

Dengan :

̅ = Rata-rata variabel

= Frekuensi untuk variabel =Tanda kelas interval variabel

e. menghitung simpangan baku (standar deviasi) dengan menggunakan rumus:

√∑ ( ̅) Dengan :

= Standar Deviasi

=Frekuensi untuk variabel =Tanda kelas interval variabel ̅ =Rata-rata

n =Jumlah populasi

f. menghitung persentase rata-rata, dengan rumus:

Dengan:

P = Angka presentase

f = Frekuensi yang dicari presentasenya N = Banyaknya Sampel

g. membuat tabel kategori skor

Data tentang kontrol emosi guru dan minat belajar siswa dikategorisasikan menggunakan kategorisasi jenjang yang dibagi kedalam tiga kategorisasi yaitu rendah, sedang dan tinggi. Adapun kriteria kategorisasi sebagai berikut:

X ( ) Rendah ( ) X ( ) Sedang ( ) X Tinggi Keterangan:

Xmin = banyak pernyataan x nilai minimum Xmax = banyak pernyataan x nilai maksimum

Luas jarak sebaran = Xmax – Xmin =

= banyak pernyataan x banyak kategori Tabel 2

Kategori Keterampilan Mengajar Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa

Interval Kategori

X 37,5 37,5 X 52,5

52,5 X

Rendah Sedang Tinggi

2. Analisis Statistik Inferensial

Statistik inferensial adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeralisasikan (diiferensikan) untuk populasi di mana sampel diambil. Untuk keperluan pengujian hipotesis, maka digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data dimaksudkan apakah data-data yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. untuk pengujian tersebut digunakan rumus Chi-kuadrat yang dirumuskan sebagai berikut:

∑( )

Keterangan:

= Nilai Chi-kuadrat hitung

= Frekuensi hasil pengamatan

= Frekuansi harapan

Kriteria pengujian normal bila lebih kecil dari dimana

diperoleh dari daftar dengan dk = (k-1) pada taraf signifikan = 0,05.

b. Koefisien Korelasi

Untuk menguji hubungan kedua variabel dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

  

) )(

( x2 y2

xy

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi

∑xy = jumlah hasil kali skor x dengan skor y yang berpasangan

∑x2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x

∑y2 = jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y c. Uji Linearitas

Uji linearitas adalah uji yang akan memastikan apakah data yang kita miliki sesuai dengan garis linear atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linear antara dua variabel yang

diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada.

Rumus uji linearitas adalah sebagai berikut:

( ) ( )

dengan taraf signifikan 0,05 dan derajat kebebasan pembilang n-1 serta derajat kebebasan penyebut n-1, maka jika diperoleh Fhitung<Ftabel berarti data linaer.

Setelah uji prasyarat dipenuhi, maka dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan analisis yang telah diajukan.

Adapun langkah – langkah dalam pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah.

1. Menghitung koefisien korelasi pearson

Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang akan menghasilkan suatu keputusan, yaitu keputusan menerima atau menolak hipotesis itu. Pengukuran kekuatan hubungan antara 2 variabel dilihat dari seberapa besar koefisien korelasi yang diberikan dari hasil perhitungan yang akan dilakukan. Untuk pengujian hipotesis menggunakan rumus koefisien korelasi pearson yaitu:

. x2 .

 

x 2(

 

)(. y2)

 

y 2

y x xy

N N

rxy N

 

Keterangan: r = koefisien korelasi

x = variabel bebas y = variabel terikat n = jumlah sampel

Dari hasil perhitungan tersebut akan memperlihatkan tiga kemungkinan yaitu:

a. Koefisien korelasi yang diperoleh sama dengan nilai nol (r = 0), berarti hubungan kedua variabel yang diuji tidak ada.

b. Koefisien korelasi yang diperoleh positif (r = +) artinya kenaikan nilai variabel yang satu diikuti nilai variabel yang lain dan kedua variabel memiliki hubungan positif.

c. Koefisien korelasi yang diperoleh negative (r = -) artinya kedua variabel negative dan menunjukkan meningkatnya variabel yang satu diikuti menurunnya variabel yang lain.

Untuk mengetahui adanya hubungan yang tinggi, sedang atau rendah antara kedua variabel berdasarkan nilai r (koefisien korelasi) digunakan penafsiran atau interpretasi angka sebagai berikut:

Tabel 3

Pedoman Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Antara X Dan Y Besarnya nilai “r” Interpretasi

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang Sedang 0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Dari nilai r yang diperoleh maka dapat diketahui apakah nilai r yang diperoleh berarti atau tidak dan bagaimana tingkat hubungannya melalui table korelasi. Tabel korelasi menentukan batas-batas r yang signifikan.

2. Menghitung Koefisien Penentu (KP) atau Koefisien Determinasi (R) Analisis korelasi dapat dilanjutkan dengan menghitung koefisien determinasi, dengan cara mengkuadratkan koefisien yang ditemukan. Teknik ini di gunakan untuk mengetahui seberapa persen besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Perhitungan dilakukan dengan mengkuadratkan nilai koefisien korelasi product moment r dan dikalikan 100%.

KP = R = (rxy)² x 100%

Keterangan:

KP = Koefisien Penentu R = Koefisien Determinant

rxy = Koefisien korelasi product moment antara x dan y 3. Uji asumsi

a. Menentukan formulasi hipotesis

H0 : (tidak ada hubungan antara X dan Y) H1: > 0 (ada hubungan yang positif)

b. Menentukan taraf nyata α beserta table, dengan db = n-2 c. Menentukan kriteria pengujian

Untuk H0 : dan H1: > 0 1) H0 diterima jika t0 ≤ tα

2) H0 ditolak jika t0 > tα

d. Menentukan Uji statistik

√ e. Kesimpulan

Menyimpulkan H0 diterima atau ditolak (sesuai kriteria pengujian).

47 A. Deskripsikan Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat Berdirinya Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif Lasepang adalah lembaga pendidikan tingkat menengah yang berada di jalang pendidikan kel.

Lamalaka Kab. Bantaeng Menurut catatan sejarah pendirian lembaga Ma’arif Lasepang pertama kalli berdiri pada tahun 1958, di kelolah langsung oleh organisasi Nahdatul Ulama (NU) Cabang Bantaeng yang di asuh oleh sesepuh dan ulama (NU) seperti K,H. Andi Mukhtar K,H Minhaj, K,H Abd. Jabbar, M,A. K,H Abd Hamid. Kemudian took took NU Kabupaten Bantaeng sepakat untuk lebih mengintensifkan pola pendidikan dengan jalang menjadi Madrasah Mual’limin setingkat dengan sekolah menengah Atas (SMA) pola pendidikan Mu’limin berlangsun terhitung 9 tahun terhitung sejak Tahun 1968-1967.

Kemudian 1967-1977 Pendidika Mu’allimin diganti dengan Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 Tahun.

Perkembangan paling akhir pola pendidikan PGA 6 Tahun di lebur menjadi Madrasah Aliyah pada tahun 1977a dan di resmihkan pada tahun 1981, dengan pola pendidikan sesuai dengan Kurikulum

yang berlaku di Madrasah Aliyah dibawah koordinisasi Depertemen Agama,

2. Data Nama Kepala Sekolah Madrasah Alaiyah Ma’arif lasepang Nama lengkap kepala sekolah: Abd Salam S.Pd.I

Jenis kelamin : laki laki Status kepegawaian : PNS

Nip :

Pendidikan terakhir : S1

No hp : 085397692327

Sumber data : Madrasah Aliyah Ma’Arif Lasepang 3. Visi, dan Misi Madrasah Alaiyah Ma’rif Lasepang Visi

“Mewujudkan insan berpendidikan, berkepribadian muslim, berwawasan keilmuan, mandiri dan bertanggung jawab berdasarkan iman dan takwa”

Misi

a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbinagan secara aktif.

b. Menumbuhkan semangat partisipasi dan kreatif sesuasi bakat dan kemanpuan sehingga dapat unggul dan berprestasi.

c. Meningkatkan penghayatan terhadap agama islam dan budaya bangsa yang menjadi sumber kreatif dalam bertindak.

4. Personal Sekolah

a. Pemimpin Sekolah dan Wakil

Secara administrasi Madrasah aliyah ma’arif lasepang sekarang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah dan dibantu oleh beberapa staf dengan struktur sebagai berikut:

1) Kepala Sekolah : Abd. Salam S. Pd.I 2) Wakasek Kurikulum : Anwar S.pd

3) Wakasek Urusan Kesiswaan : Darmawati, S.Pd 4) Wakasek Urusan Kemasyarakatan : Abd.Jaffar, S. Pd.I b. Pegawai Administrasi

Adapun jumlah pegawai administrasi di Madrasah Aliyah Ma’rif Lasepang sebanyak 5 orang, yang terdiri atas :

1) Kepala Tata Usaha : 1 orang 2) Pengelola Perpustakaan : 1 orang 3) Ketua Komite Sekolah : 1 orang

4) Bujang : 1 orang

5. Profil Sekolah a. Identitas Sekolah

1. Nama Sekolah : Madrasah Aliyah Ma’arif Lasepang 2. Nomor Induk Sekolah : 40320352

3. Nomor Statistik : 131273030017

Dokumen terkait