Hukuman yang dalam bahasa arab disebut dengan istilah ‘uqubah berarti balasan, celaan, pemberian sepadan, ganjaran dan sesuatu yang menimpa, seperti dalam ayat:
هب متبقوع ام لثمب اوبقاعف متبقاع ن او ,
dan jugaterambil dari kata ‘aqib yaitu bagian belakang tumit, sehingga ‘uqubah tidak pernah ada kecuali setelah terjadinya kejahatan (ibn Ibad al-Thaliqani, 1994: 25), dengan demikian suatu uqubah / hukuman tidak mungkin terjadi sebelum terjadinya perbuatan terlarang. Adapun secara secara istilah, ‘uqubah (hukuman) adalah balasan yang sesuai atas tindakan perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban.
Dalam syariat Islam, berdasarkan bentuk kejahatan yang dilakukan, hukuman dibagi menjadi tiga yaitu hukuman Qisas, Hudud dan Ta’zir. Secara bahasa Qisas berarti sesuatu yang sepadan, dan dominan digunakan untuk hukuman bunuh bagi pembunuh, adapun secara istilah Qisas berarti hukuman sepadan terhadap pelaku kejahatan pembunuhan, atau pemotongan dan melukai anggota badan yang dilakukan dengan secara sengaja (az-Zarqa, 1990: 263). Adapun Hudud adalah hukuman yang sudah ditentukan oleh syari’ (Allah swt) dan merupakan hak Allah swt, (Maududi, Abdullah bin Muhammad bin, 1990:83).
seperti zina, Qazaf, minum khamer, mencuri dan merampok. Sementara Ta’zir adalah hukuman yang tidak ditentukan oleh syari’, namun diserahkan kepada penguasa sesuai dengan kemaslahatan, dan berlaku untuk banyak jenis kejahatan sesuai dengan kejahatan yang buat oleh manusia (Abu Zuhrah, 1990: 133).
Adapun makna maqa>s}id syari>’ah sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa ia adalah tujuan dari diturunkannya syari>’ah dan penerapannya, yaitu untuk menciptakan kemaslahatan manusia, dan ukuran kemaslahatan tersebut kembali kepada memelihara lima hal pokok, yaitu memelihara jiwa, agama, akal, harta dan keturunan, termasuk di dalam pelaksanaan uqubah atau hukuman juga ada maqa>s}id syari>’ahnya. Dengan demikian, secara umum maqa>s}id dalam hukuman tidak lepas dari tujuan umum syariat yaitu untuk memelihara dan menciptakan kemaslahatan manusia dan menjaga manusia dari hal-hal yang dapat merusak kehidupan mereka, karena pada dasarnya Islam memberikan petunjuk dan pelajaran kepada manusia.
Adapun maqa>s}id syari>’ah secara khusus dalam hukuman baik itu Qisas, Hudud, ataupun ta’zir, adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama;
a. Untuk Menjaga system kehidupan dan kemaslahat masyarakat luas; dan hal ini akan terlaksana dengan cara menerapkan hukuman khusus untuk tujuan menjaga lima hal pokok (D}aru>riyyat al- khams), dan hal ini merupakan poros kehidupan, karena tanpanya kehidupan tidak pernah akan lurus, dan lima hal pokok ini bisa dikatakan sebagai maqa>s}id kubra yang merupakan kesepakatan semua agama tanpa memandang
perbedaan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut.
Dan hukuman yang disyariatkan secara khusus sebagai sarana untuk menjaga masyarakat, akan tercapai dengan cara menutup pintu-pintu kejahatan, kerusakan, ancaman, dengan membuat aturan hukum yang kuat dan membuat jera pelaku kejahatan serta wajib diterapkan, tentu tidak dimaksudkan dari hal itu sebagai penganiayaan, karena hukum syariat sejatinya berada seputar memperbaiki kondisi umat di segala aspeknya (Audah, 1992: 384).
b. Mencegah dan menghalangi dari menyebarnya kejahatan dan kerusakan; selain tujuan menjaga system kehidupan masyarakat, juga untuk mencegah jiwa pelaku kejahatan dari mengulangi kejahatannya Kembali, dan merupah perilakunya dari penyelewengan hawa nafsu, serta mencegah orang lain dari berfikir untuk melakukan kejahatan, sehingga di sana ada pencegahan umum dan khusus. Tujuan ini bisa difahami dari ayat yang mensyaratkan kehadiran kelompok untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman, seperti dalam ayat:
نينمؤملا نم ةفئاط امهباذع دهشيلو
(QS. An-Nur:2).c. Keadilan dan kasih saying; syari’at Islam adalah keadilan dan kasih saying, dan kejahatan adalah permusuhan dan kezaliman terhadap keadilan dan kasih saying yang tujuan syari’at islam, maka tidak ada balasan kepada pelaku kejahatan kecuali sesuai dengan kejahatannya, dan keadilan – kasih saying bukan berarti meremehkan atau lemah terhadap pelaku kejahatan, namun ia adalah tidak batas dari hukuman serta tidak berlaku zalim. Dan
tujuan dari hukuman bukan pula sebagai balas dendam, akan tetapi mengingatkan mereka tentang kejahatannya dan hukuman yang sesuai.
d. Menjalankan perintah Allah; tujuan dari pelaksanaan hukuman sejatinya adalah sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah dan sebagai bentuk ketaatan dan ketundukan. Dan perintah Allah adalah segala yang telah ditetapkan dikehendaki, oleh karenanya segala upaya pelanggaran merupakan penentangan terhadap Allah. Dengan demikian pelaksaan hukuman memiliki magasid secara lebih jauh dari sekedar urusan antar manusia. Dan diantara hukuman yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan adalah seperti Qisas, Hudud. Dan hendaknya penguasa atau pihak-pihak yang memiliki otoritas memahami hal ini.
e. Melindungi masyarakat dari bencana/hukuman Tuhan; di antara sunatullah yang berlaku bagi pelaku kezaliman adalah dengan didatangkannya kepada mereka bencana, dan azab dari Allah swt, hal itu sebagai bukti kuasa Allah swt. Beberapa teks syari’at menunjukkan dan mengisyaratkan hal tersebut, seperti dalam hadis yang artinya: “Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal jika kalian diuji karenanya, dan aku berlindung agar kalian tidak mendapatinya, .. dan beliu menyebut salah satunya dan orang-orang yang pemimpinnya tidak berhukum dengan kitab Allah melainkan Allah akan menjadikan azab di antara mereka”. Dan dalam hadis lain disebutkan: “Sesungguhnya manusia yang melihat kemungkaran kemudian
mereka tidak merubahkan, maka hamper-hampir Allah menimpakan azab dari sisiNya”, dan dalam ayat:
ق نم نيذلا ةبقاع ناك فيك اورظناف ضر لا يف اوريس لق ناك لب
نيكرشم مهرثك أ
(QS. Ar-Rum: 42), oleh karenanya hal ini menjadi bagian dari maqa>s}id dari pelaksanaan hukuman dalam syariat.
f. Hukuman akan menghapus dosa dan kesalahan;
dalam pelaksanaan hukuman tidak hanya membebaskan pelaku kejahatan dari hukuman dunia, namun juga hal itu bisa menghapus dosa dan menjadi sarana mendapatkan ampunan, serta dibebaskannya dari azab akherat. Hal ini sebagaimana difahami oleh para ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanibal dan Zahiriyah, (al-Nafrawy, 1955: 266). Hal ini didasari dengan hadis Nabi saw Ketika berkata kepada para sahabatnya:
“berbaitlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, dan janganlah mencuri, jangan berzina, jangan membunuh anak-anakmu, dan jangan melakukan dusta yang disebarkan di antara kalian, dan jangan menentangku dalam hal kebaikan, maka barangsiapa yang memenuhi hal itu pahalanya ada pada Allah, dan barang siapa yang terjerumus -melanggar- sesuatu dari hal itu kemudian dilakasanakan hukuman di dunia maka hal itu menjadi penghapus baginya, dan siapa yang melanggar kemudian Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah, jika Allah berkehendak mengazabnya atau mengampuninya, maka
kemudian kami berbaiat”. Hadis riwayat Bukhari, Jilid 5, halaman 55, nomor hadis 3892, pada bab.
Al-hudud kaffarah. Dan ada perbedaan di kalangan ulama’ fiqh apakah hukuman dunia menghapus dosa dan azab akherat.
g. Menghilangkan kebiasaan balas dendam dan kesewangan dalam pembunuhan; terdapat tradisi balas dendam dan melampai batas dalam kasus pembunuhan di masyarakat Arab sebelum Islam.
Dimana tidak sedikit mereka dalam kasus terjadi pembunuhan, mereka membalas dengan dan terkadang membunuh orang yang tidak terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut, maka setelah datang Islam, hal tersebut dihentikan, dan mengharamkan segala bentuk pembunuhan tanpa kebenaran. Sebagaimana firman Allah:
مولظم لتق نمو ف فرسي لاف ناطلس هيلول انلعج دقف ا
لتقلا ي
(QS. Al Isra’: 33). Islam dengan kaidah hukumnya, memerangi segala bentuk kezaliman dan tradisi balas dendam, dan memberikan kepada keluarga kurban hak qisas, sebagaimana ayat:
بابل لا ىلو أ يا ةايح صاصقلا يف مكلو
نوقتت مكلعل
(QS. Al Baqarah: 179).
h. Terapi kemarahan; diantara maqa>s}id hukuman dalam syari’at adalah menjadikan sebagai terapi bagi keluarga korban kejahatan, dengan demikian syariat Islam memberikan perhatian pada sisi kejiwaan mereka, agar meraka tenang dan nyaman, sehingga mencegah mereka dari melakukan balas dendam, dan dalam kasus pembunuhan maka keluarga kurban diberikan hak
qisas, dan kemudian mereka boleh menentukan pilihan antara mengambil hak qisas atau memaafkan atau mengambil diyat.
Berdasarkan maqa>s}id syari>’ah khas dari hukuman, bisa dikatakan bahwa dalam pelaksanaan hukuman, paling tidak terdapat tiga aspek penerapan yaitu prepentif, represif dan rehabilitatif. Aspek prepentif dimaksudkan untuk mencegah agar orang tidak melakukan dan mengulangi kejahatan dan orang lain yang belum melakukan kejahatan agar tidak berbuat kejahatan. Aspek represif merupakan penindakan terhadap pelaku kejahatan, mengakkan supremasi hukum dan memberikan hukuman terhadap pelakunya sesuai dengan kejahatannya. Sedangkan rehabilitatif merupakan upaya pembinaan agar kejahatan yang sama tidak diulangi oleh penjahat bila ia masih hidup, atau membina orang yang belum berbuat kejahatan agar mereka tidak melakukan kejahatan. Ketiga aspek ini berlaku secara integral dalam setiap hukum, dimana setiap upaya prepentif selalu diiringi dengan upaya represif jika kejahatan terjadi, dan dilanjutkan dengan upaya rehabilitatif jika pelaku kejahatan masih hidup.
Misalnya dalam hukum Islam, upaya prepentif itu terlihat dalam setiap ketentuan hukum jarimah, seperti memberi pengertian tentang betapa berharganya jiwa manusia sehingga membunuh satu orang laksana membunuh banyak orang (QS. Al-Maidah: 32). Bila seseorang tetap melakukan pembunuhan maka hukuman yang diberikan kepadanya adalah dibunuh pula atau diberi denda yang sangat berat (diyat) bila mendapat maaf dari keluarga korban. Dengan hukuman yang
seberat ini maka orang tentu berfikir panjang untuk membunuh.
Demikian pula agar orang tidak berzina maka dianjurkan kawin bila telah mampu secara fisik dan ekonomi, Islam membolehkan kawin dengan budak, bahkan dibolehkan poligami bagi laki-laki dengan beberapa ketentuan tertentu. Bila masih berzina maka ia dihukum dengan hukuman cambuk atau rajam, bahkan diusir dari negerinya kesuatu tempat terpencil seperti penjara.
Terkait masalah ekonomi, Agar orang tidak mencuri karena alasan ekonomi, maka diwajibkan zakat, perintah untuk berinfak dan shadaqah sebagai wujud kesadaran dan kepedulian sosial, ditanamkan rasa persaudaraan sesama manusia menuju kesejahteraan bersama. Bila telah berlaku keadilan ekonomi maka niscaya tidak ada lagi orang yang mau mencuri, dan bila seseorang tetap saja mencuri, bahkan dijadikannya profesi, maka Islam menghukumnya dengan memberinya hukuman potong tangan (QS. Al-Maidah:38). Selain upaya prepentif dan represif, dalam hukum Islam juga terdapat upaya rehabilitasi, yaitu upaya membina agar setiap muslim dapat mentaati semua hukum Islam atas dasar iman. Makanya dalam sejarah Islam masa 13 tahun Nabi di Mekah difokuskan untuk membina akidah dan keimanan umat Islam agar mereka menjadi muslim yang taat.
Disamping pembinaan akidah dan iman dalam Islam juga diajarkan tobat bagi orang Islam yang terlanjur berbuat kejahatan. Menurut Ibnu Taimiyah,beberapa hukuman hudud dapat digugurkan bila pelakunya telah bertobat sebelum dibawa kehadapan
hakim. Ada beberapa ayat yang menyatakan bahwa taubat itu dapat menghapuskan hukuman had, seperti:
“Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan (nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, maha penyayang” (QS. Al-Baqarah: 160), dan dalam ayat lain: “Kecuali bagi orang-orang yang bertobat sebelum kamu dapat menguasai mereka, maka ketahuilah, bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah: 34).
Dari ayat-ayat tersebut diatas terlihat bahwa beberapa jenis hukuman had menjadi gugur bila pelaku jarimah telah bertobat. Diantara jarimah hudud yang digugurkan hukumannya menurut ayat diatas antara lain zina, hirabah dan pencurian. Namun pendapat ini tidak diterima oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi`i, menurut mereka tobat tidak menghalangi pelaksanaan hukuman had, karna beberapa contoh dari Rasulullah beliau tetap memotong tangan Maiz dan ghamidiyah yang telah mencuri dan menyerahkan diri kepada Rasul dan bertobat. Demikian juga Rasul memotong tangan Amar ibn Samurah karna mengaku mencuri (Sabiq, 1998: 277).
Selain dari tiga aspek penerapan hukuman tersebut, juga bisa difahami bahwa maqa>s}id dari hukuman dalam syariat Islam tidak sebatas penerapan hukuman di dunia, namun juga terdapat maqa>s}id di luar itu, yaitu terkait dengan kehidupan akherat. Hal ini yang tidak dijumpai dalam prinsip-prinsip hukum konvensional.
B. Konsep Pemenjaraan dan Pembinaan Narapidana Penjara untuk pertama kalinya hadir di tengah kehidupan masyarakat berfungsi sebagai tempat kurungan bagi pelanggar hukum, debitur, tawanan perang, pembangkang politik, bidat agama (atau yang dapat disebut sebagai penyangkal kebenaran-terwahyu yang diajarkan Gereja) dan lain-lain. Penjara muncul sejak ribuan tahun lalu sebelum era Kristen (atau sebelum lahirnya Isa). Robert (2006: 74-86) menyatakan bahwa sejak 3000 SM hingga 400 SM, Kekaisaran Babilonia mempertahankan eksisitas penjara bagi pelanggar kejahatan ringan dan debitur. Selain itu banyak sekali catatan tentang penjara kuno yang muncul baik di dalam buku Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama dari Alkitab umat Kristen. Misalnya, di dalam buku First Kings, Alkitab menyatakan bahwa orang-orang dapat dimasukkan ke dalam penjara karena berbagai pelanggaran (The Holy Bible, 1982;
First Kings 22: 27). Namun sistem pemenjaraan pada waktu itu, tidak mempertimbangkan aspek reformasi dan rehabilitasi bagi narapidana yang dipenjara. Sistem penjara di masa lalu tidak mempersiapkan narapidana untuk reintegrasi ke dalam masyarakat (Breadly, 1938: 131).
Berdasarkan literature sejarah, konsep penjara modern belum muncul sepenuhnya hingga abad ke delapan belas.
Sebelumnya konsep rehabilitasi dan reformasi modern pemenjaraan bahkan tidak dimaksudkan sebagai pembinaan bagi narapidana, Karen ayang ada hanya pengurungan untuk hukuman. Pelanggar dikirim ke penjara bukan sebagai hukuman itu sendiri, tetapi sarana untuk menjatuhkan hukuman. Pengurungan dan pengasingan dari masyarakat biasa tidak dilihat sebagai hukuman itu sendiri, tetapi dijadikan sejenis rekrutmen pekerja untuk pekerjaan kasar dan aktivitas penjara lainnya yang dilakukan para tahanan. Yang
kemudian hal ini dilihat sebagai hukuman. Penjara berfungsi sebagai pusat penahanan untuk menampung para pelanggar sampai negara memenuhi hukuman yang sebenarnya, baik berupa hukuman mati maupun hukuman badan. Namun, selama abad kedelapan belas, upaya reformasi pemenjaraan dan rehbailitasi mulai dilakukan terhadap pemenjaraan pemasyarakatan (DeLacy, 1986: 8-16).
Pada periode revolusioner di sekitar abad kedelapan belas amulai muncul pergeseran tujuan pemenjaraan dari pemberian hukuman menuju implementasi rehabilitasi bagi para pelanggar atau narapidana. Margaret DeLacy (1986) berpendapat bahwa sistem penjara di seluruh dunia bereksperimen dengan 'metodologi dan model yang bervariasi terus menerus untuk kemajuan narapidana.Frank Morn (1911:
1-5) juga berpendapat bahwa sistem penjara dalam perkembangannya bereksperimen dengan pendekatan yang berbeda untuk mewujudkan rehabilitasi atau pembinaan, seperti pendidikan dan perawatan klinis bagi seluruh narapidana. Morn juga menambahkan bahwa tujuan pemenjaraan bergeser dari pemidanaan ke rehabilitasi dan reformasi yang terpusat bagi narapidana. Pergeseran menuju rehabilitasi dilakukan untuk mempersiapkan narapidana siap dan layak kembali berintegrasi ke masyarakat setelah memenuhi tuntutan masa tahanan di penjara (Morn, 1980:
554).
Dari titik inilah pendidikan pemasyarakatan muncul di dunia Barat dnan dilaksanakan untuk merehabilitasi dan mereformasi narapidana. Messemer (2011: 91-100) menambahkan bahwa sejarah pendidikan pemasyarakatan dapat ditelusuri dari Amerika Serikat (AS) sejak 1789.
Menurut Messemer, program pendidikan penjara pada awal disebut sebagai 'Sekolah Sabat'. Tujuan Sekolah Sabat ini
adalah untuk mengajarkan para narapidana cara membaca sehingga mereka dapat membaca Alkitab. Alkitab akan memberikan kepada para narapidana 'pengetahuan, kesadaran diri dan proses kognitif yang memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih baik dalam hidup mereka setelah bebas dari masa tahanan dan kembali ke masyarakat. Pada abad kesembilan belas, filosofi di balik pemenjaraan berkembang lebih jauh. Penjara menjadi lebih dari sekadar alternatif hukuman fisik yang brutal. Karena dahulunya kekearasan fisik dipandang sebagai penebusan dan mampu mengubah individu- individu di dalamnya untuk menjadi orang yang lebih baik (Johnson, Robert, Ania Dobrzanska, and Seri Palla, 2005: 22- 42).
Pada 1700-an rehabilitasi narapidana berhasil dilaksanakan dengan baik di Amerika Serikat. Bennett (1968:
710) menyatakan bahwa di sebagian besar penjara, narapidana laki-laki dengan catatan baik biasanya akan meninggalkan sel mereka pada siang hari. Beberapa di anatara mereka akan bekerja di pabrik penjara atau melakukan tugas pemeliharaan seperti pekerjaan taman dan perbaikan peralatan. Sedangkan narapidana yang lainnya akan bekerja sebagai juru tulis dan juru ketik, atau menghadiri sekolah penjara atau beberapa jenis program pelatihan lainnya (Bennett, 1968: 711). Di dunia Barat, selama abad kesembilan belas dan kedua puluh penekanan pada pemenjaraan terus berkembang menuju reformasi dan rehabilitasi melalui pendidikan pemasyarakatan (Jeanne dan Michell, 2006: 10). Bazos Audrey dan Jessica (2004: 15-16) juga mengidentifikasi dua jenis sistem pendidikan pemasyarakatan yang berkembang yaitu pelatihan kejuruan atau yang sering disebut sebagai vokasional dan pengembangan literasi atau berhitung. Bazos berpendapat bahwa kursus pelatihan kejuruan berfokus pada perolehan
keterampilan yang langsung dapat ditransfer ke tempat kerja, seperti perbaikan alat. Kursus pengembangan literasi dan numerasi dipusatkan pada peningkatan keterampilan membaca dan matematika.Keterampilan ini diperlukan bagi mantan narapidana untuk bekerja dan reintegrasi mereka ke dalam masyarakat.
Bergeser ke Afrika, jejak penjara berasal dari 2000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Penggunaan penjara juga sudah meluas di beberapa masyarakat adat Afrika. Misalnya, di Mesir, selama era Kerajaan Tengah (sekitar 2000 SM), Firaun memenjarakan penjahat non-Mesir dengan pemberlakuan kerja paksa. Konsep rehabilitasi dan reformasi tidak dikenal saat itu. Konsep pemenjaraan modern muncul selama periode kolonial tetapi sebagaian besar sarjana mengatakan muncul lebih pada periode pasca-kolonial, ketika banyak upaya dilakukan untuk kesejahteraan narapidana dalam meningkatkan kemampuan mereka bertahan di kehidupan mereka setelah dipenjara. Di banyak penjara Afrika, pendidikan pemasyarakatan menjadi solusi menuju rehabilitasi dan reformasi narapidana (Bazos, Audrey, and Jessica Hausman, 2004:17). Sebagian besar narapidana di penjara adalah orang-orang yang memiliki latar belakang keuangan dan pendidikan yang buruk. Karena banyak sekali kejahatan yang dilakukan di masyarakat dimotivasi oleh kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya keterampilan dan pengetahuan untuk pekerjaan. Pendidikan penjara, oleh karena itu seharusnya, membekali narapidana dengan pengetahuan dan keterampilan yang membantu mereka untuk berintegrasi kembali ke dalam komunitas mereka masing-masing dan untuk mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan sendiri setelah menjalani hukuman penjara mereka.Dengan cara ini
kejahatan di masa depan dapat dicegah (Muntingh, 2016: 35- 44).
Penjara dimaksudkan untuk rehabilitasi dan tindakan korektif penyakit sosial narapidana (warga binaan). Menurut Prinsip kelima Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Prinsip Dasar Perlakuan terhadap Narapidana menjelaskan bahwa
“Kecuali untuk pembatasan yang secara nyata diharuskan oleh fakta penahanan, semua narapidana harus mempertahankan hak asasi manusia dan kebebasan dasar yang ditetapkan dalam Deklarasi Universal tentang Hak Kemanusiaan”. Dengan demikian, narapidana berhak atas perlindungan dari kekerasan seperti penyerangan, pemerkosaan, dan penyiksaan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab otoritas negara untuk memastikan bahwa semua narapidana di penjara diurus dan tidak disiksa (Porpora, et al., 2010: 254-270).
Di samping itu aturan umum hukum Islam dalam hal ini adalah bahwa tidak seorang pun boleh diperlakukan buruk hingga sakit atau disiksa. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menyatakan, “Tidak seorang pun boleh menjadi sasaran penyiksaan dalam pikiran atau tubuhnya, atau direndahkan, atau diancam dengan cedera baik pada dirinya sendiri atau kepada siapa pun yang terkait atau dipegang erat olehnya, atau secara paksa dibuat untuk mengaku di bawah pengawasannya. kejahatan, atau dipaksa untuk menyetujui suatu tindakan yang merugikan kepentingannya” (Hathout, 2006). Dalam hukum Islam tanggung jawab negara adalah melindungi hak asasi manusia yang fundamental dari warganya sebagai bagian dari keseluruhan kewajibannya untuk memperlakukan warganya dengan adil (Hathout, 2006).
Sehingga dengan demikian setiap narapidana berhak atas pemenuhan pembinaan moral dan spiritual sesuai dengan agama yang dianutnya.
Bimbingan moral dan spiritual piritual merupakan aspek penting dari penjara yang harus dipertimbangkan. Setelah para warga binaan menyelesaikan waktunya di penjara, mereka akan kembali ke komunitas masing-masing. Jika skema rehabilitasi tidak ada, para narapidana yang telah dipenjara karena kejahatan akan terlibat kembali dalam kejahatan (Stewart, 2008). Lapas harus menyediakan fasilitas pembinaan dan pelatihan bagi warga binaan sebagai bentuk terapi pemulihan moral dan spiritual. Hal ini memungkinkan warga binaan untuk memperbaiki kondisi, akhlak moral, serta memperoleh Keterampilan yang dapat berguna untuk kehidupan masa depan mereka ketika dibebaskan. Terlepas dari tantangan dalam memberikan pembinaan bagi warga binaan, banyak pihak masyarakat dan elemen institusi pemerintahan lainnya telah memulai memberikan pelatihan bagi warga binaan (Hawley et al., 2013).
Pemenjaraan juga dapat dijatuhkan melalui sanksi ta’zir di dalam hukum pidana Islam. Karen sanksi ta’zir lebih berpeluang untuk dikembangkan. Namun sebenarnya hakim dapat lebih leluasa untuk menetapkan sanksi mengikuti perkembangan zaman, salah satunya menjatuhkan hukuman tahanan atau pemenjaraan bagi pelaku tindak pidana dan masa tahanannya adalah sesuai dengan berat atau ringannya tidak pidana yang ia lakukan. Hukuman penangguhan kemerdekaan dengan pemenjaraan bagi pelaku tindak pidana baru dikenal setelah dikenalnya hukuman penjara. Sebagai catatan, meski penjara terus eksis dalam setiap generasi fiqh, tetapi fiqh tidak merumuskan institusi penjara. Artinya eksistensi penjara merupakan upaya penyesuaian fiqh dengan konteks di mana fiqh berkembang (Jubair dan ibn Ibrahim, 1996).