E. Metodologi Penelitian
4. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pengumpulan data secara langsung di lapangan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta melalui beberapa cara.
Pertama, eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah, yang bertujuan untuk mengajari warga binaan tentang penyelenggaraan jenazah dengan mengikut sertakan mereka sebagai partisipan pelatihan secara aktif. Praktek ini mengikut sertakan Tim Peneliti dan peserta dari kalangan warga binaan di ketiga lembaga pemasyarakatan yang dilaksanakan oleh peneliti pada 10 April 2021 di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, dan Tanggal 18 November di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, dan Tanggal 19 November 2021 Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Partisipan dari kalangan warga binaan terdiri dari 80 orang narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, 32 narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 45 orang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Sebelum mengikuti pelatihan partisipan dari dua lembaga 80 orang narapidana laki-laki di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta, 32 narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta.
Peserta mengerjakan pre-test seputar tema pelatihan selama 20 menit, dengan rincian soal pilihan ganda sebanyak 20 soal. Karakteristik pre-test ini adalah untuk
mengidentifikasi pengetahuan umum keagamaan narapidana dari dua lembaga pemasyarakatan seputar tema penelitian yaitu tajhiz jana>zah secara garis besar umum terstruktur (Kahan, 2001: 129-146). Kemudian setelah mengikuti pelatihan, narapidana akan kembali mengerjakan post-test dengan karakteristik soal yang sama (Zientek, dkk., 2016: 638-659) Metode ini secara umum tampak sederhana namun efektif untuk mengumpulkan data kualitatif yang pada dasarnya melibatkan warga binaan dalam perspektif Hukum Islam dan maqāṣid al-syarī’ah. Eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah ini dilaksanakan dalam kelompok warga binaan yang interaktif untuk memberikan informasi yang mendalam dan memungkinkan Tim Peneliti mengetahui perkembangan pengetahuan peserta seputar pembinaan spiritual di lembaga pemasyarakatan. Kemudian informasi yang berhasil didokumentasikan ini dikonfirmasikan kembali kepada petugas lembaga pemasyarakatan masing-masing warga binaan dari kalangan. Hal ini dilakukan untuk menyimpan beberapa informasi yang sepenuhnya harus dirahasiakan dari publik atas dasar kode etik pembinaan warga binaan.
Kedua, wawancara individu semi terstruktur.
Metode ini merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk menghasilkan data dalam ilmu- ilmu social (Holstein, 2002: 4). Tim Peneliti memilih wawancara individu semi terstruktur ini agar dapat memperoleh pengalaman subjektif dari masing-masing partisipan baik dari kalangan narapidana dan petugas lembaga pemasyarakatan. Tim Peneliti memilih metode semi terstruktur agar wawancara dapat dilaksanakan secara in-dept interview dengan tujuan menemukan
permasalahan yang dihadapi informan secara terbuka.
Informan yang berpartisipasi di dalam wawancara ini diajak membagikan ide dan dimintai pendapat mereka seputar pembinaan spiritual di masing-masing lembaga pemasyarakatan. Sebagai catatan, peneliti tidak mengenal semua partisipan dan tidak memiliki hubungan dalam bentuk apapun sebelumnya. Tim Peneliti sudah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan- pertanyaan tertulis yang akan diajukan dalam wawancara semi-terstruktur. Tim Peneliti juga lebih fleksibel untuk mengajukan pertanyaan terbuka kepada partisipan dan berkesempatan untuk melakukan pertanyaan dengan berbagai variasi dan mengajukan pertanyaan yang lebih spontan seiring berkembangnya tanya jawab.
Meskipun wawancara semi-terstruktur digunakan, informasi latar belakang dan berita terkini dan perubahan peraturan maupun program Panduan Modul Pembinaan di Rumah Tahanan atau Lembaga Pemasyarakatan yang diakses melalui http://sdp.ditjen pas.go.id/manual/3.6.1/PanduanModulPembinaan.html telah di observasi dan didokumentasikan oleh peneliti sebelum melaksanakan wawancara dengan masing- masing informan. Persiapan ini diperlukan karena wawancara semi terstruktur bertujuan agar peneliti dapat mengejar masalah dan siap berimprovisasi di saat proses wawancara berlangsung (Wengraf, 2001: 2). Dalam wawancara semi terstruktur, informasi mengenai judul penelitian, tujuan penelitian, prosedur penelitian, masalah kerahasiaan informan, tanggung jawab peneliti, dan penjelasan seputar hak informan dari kalangan warga binaan dan petugas lembaga pemasyarakatan disampaikan oleh peneliti pada bagian pendahuluan.
Seluruh informan memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan risiko anonimitas mereka dan masalah lain yang dapat terangkat sebelum mengonfirmasi persetujuan mereka secara tertulis.
Informan penelitian terdiri dari 3 sipir lembaga pemasyarakatan. Rinciannya yaitu 1 orang sipir yang berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, 1 orang sipir yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 1 orang sipir dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Adapun informan dari kalangan warga binaan atau narapidana berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 orang narapidana kasus terorisme yang berasal dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, 1 orang narapidana kasus penipuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, dan 1 orang narapidana penyalahgunaan narkotika dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta.
Wawancara individual semi terstruktur bersama 6 orang informan berlangung kurang lebih 3 jam. Di mana masing-masing peserta, menjalani proses wawancara bersama Tim Peneliti selama 30 menit yang berlokasi di masing-masing lembaga pemasyarakatan asal. Pada sesi ini Tim Peneliti mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan dan pertanyaan yang berkembang sesuai dengan jalannya tanya jawab bersama informan.
Sebagian besar pertanyaan yang berasal dari perkembangan wawancara secara spontan banyak membahas kasus yang sering muncul, langka, tidak terduga, serta bagaimana indikator pendukung pembinaan, dan berbagai kritik, dan saran yang
diharapkan oleh masing-masing informan untuk diadakan agar dapat meningkatkan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta. Hasil wawancara ini sangat membantu Tim Penelitimelalui proses analisis dokumen aturan dan kebijakan pembinaan spiritual di dalam ketiga lembaga.
Ketiga, dokumentasi pelaksanaan pengumpulan data penelitian ini dimulai pada pertengahan Maret 2021 dengan pengajuan surat yang dikirimkan ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, kemudian dilanjutkan pada pelaksanaan eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah pada Sabtu, 10 April 2021.
Pengajuan surat izin penelitian kepada Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Jakarta, Dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Salemba Jakarta berlangsung pada pertengahan akhir Oktober 2021, dan pelasanaan eksperimen pelatihan tajhiz jana>zah pada Sabtu, 18 dan 19 November 2021. Peneliti secara pribadi melakukan transkrip/ringkasan dan notulensi kegiatan sesuai dengan persetujuan etik dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta.