BAB VI STRATEGI PENANAMAN NILAI KEAGAMAAN BAGI
A. Materi dalam Penanaman Nilai Keagamaan
Materi dalam penanaman nilai keagamaan yang diberikan kepada anak tunagrahita ada 3 yaitu akidah, ibadah dan akhlak.
Materi tentang Akidah berkaitan dengan konsep-konsep keyakinan kepada Allah. Materi Ibadah berisi tentang bermacam-macam ibadah yang terdapat pada ajaran agama Islam. Kemudian materi akhlak berisi tentang tata aturan perilaku berdasarkan ajaran agama Islam.
Hal tersebut disampaikan oleh Surti Sapawi:
Materi keagamaan yang diberikan ada 3 yaitu berkaitan dengan akidah, ibadah, dan akhlak. Materi akidah berkaitan dengan keyakinan akan Tuhan, ibadah berisi tentang berbagai ibadah dalam agama Islam, dan akhlak berisi tentang akhlak terpuji dan akhlak tercela.1
1 Wawancara dengan Surti Sapawi (guru agama di SLBN 3 Kota Bengkulu) tanggal 29 Mei 2021.
Siwi Wiandari menuturkan hal yang sama dengan Surti Sapawi yaitu:
Materi keagamaan yang diberikan kepada anak tunagrahita ada 3. Pertama akidah, yaitu tentang keyakinan kepada Allah, kedua tentang ibadah. Yang dipelajari ya ibadah- ibadah seperti shalat, puasa, dan lain-lain. Ketiga akhlak, yang dipelajari tentang akhlak terpuji dan tercela.2
Eti Julaiani menyampaikan:
Yang kita berikan dalam materi keagamaan untuk anak tuna- grahita mencakup tiga hal, yaitu akidah seperti rukun iman dan rukun Islam. Ibadah isinya tentang thaharah, shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lain. Yang ketiga akhlak, berisi tentang akhlak terpuji dan tercela.3
Materi dalam penanaman nilai keagaman anak yaitu seluruh bahan yang dapat digunakan dalam penanaman nilai keagamaan dalam hal ini Islam kepada seorang anak. Ketiga materi yang diberikan dalam penanaman nilai keagamaan anak tunagrahita tersebut selaras dengan materi yang ada pada bimbingan agama Islam yaitu seluruh kandungan yang terdapat dalam al-Quran yaitu: aqidah, akhlak, dan syariah.4
Aqidah atau kepercayaan merupakan hal yang mendasar untuk tiap muslim, dalam artian berperan sebagai tumpuan yang memberi warna dan petunjuk dalam seluruh aktivitas seorang muslim.5 Aqidah adalah keyakinan yang harus dipercaya kebenarannya oleh tiap-tiap muslim yang dikonsepkan dalam ajaran “enam rukun iman” yakni iman kepada Allah SWT. Iman kepada malaikat, iman kepada kitab-
2 Wawancara dengan Siwi Wiandari (Kepala Sekolah SLBN 4 Kota Bengkulu) tanggal 2 Juni 2021.
3 Wawancara dengan Eti Juliana (Guru Agama SLBN 1 Kota Bengkulu) tanggal 27 Mei 2021.
4 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007), h. 303.
5 M. Mashur Amin, Metode Dakwah Islamiyah, (Yogyakarta: Sumbangsih, 1980), h. 17.
kitab, iman kepada para Nabi dan Rasul-Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qodho dan qodhar.6
Imam Al-Ghozali menyampaikan pada kitab Ihya’Ulumuddin seperti dikutip Nasrudin, bahwa akhlak yaitu sifat yang terhujam di dalam jiwa dimana darinya muncul perubahan yang ringan tanpa membutuhkan pertimbangan pikiran.7 Akhlak juga bagian dari ajaran Islam yang berkaitan dengan tata tingkah laku manusia sebagai hamba Allah SWT., warga masyarakat, dan unsur dari alam sekitarnya.8
Ibadah adalah komponen ajaran Islam yang bertalian dengan aktivitas ritual yang bertujuan untuk pengabdian kepada Allah SWT.9 Ibadah dapat dimaknai sebagai aturan agama yang memformulasikan interaksi manusia dengan Tuhan, yang dituangkankan dalam “lima rukun Islam” yakni: syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah adalah perwujudan iman umat Islam yang berpatokan pada Al-Quran dan Hadits, serta sebagai penyampaian syukur manusia dengan karunia yang diperoleh dari Allah SWT.
Pemberian materi keagamaan itu disesuaikan dengan kurikulum pendidikan agama yang ada di masing-masing tingkat pendidikan.
Misal untuk tingkat SD maka menggunakan kurikulum SD, yang mem bedakan adalah pada pencapaian kompetensi untuk tiap materi keagamaan tersebut oleh anak tunagrahita. Sehingga dalam pelak- sananya menyesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita. Berikut penuturan Vera Yunita:
Saya mengajar anak tunagrahita tingkat SMP dan SMA.
Materi keagamaan yang diberikan kepada anak tunagrahita menggunakan kurikulum untuk tingkat SMP dan SMA.
6 Nasrudin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam Sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2007), h. 39.
7 Nasrudin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam Sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2007), h. 39
8 Enjang AS dan Aliyudin, Dasar-dasar Ilmu Dakwah :Pendekatan Filosofis dan Praktis, (Bandung:
Widya Padjadjaran, 2009), h. 81.
9 Nasrudin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam Sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2007), h. 80.
Hanya saja pada pelaksanaannya menyesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita.10
Hal senada disampaikan oleh Wardani:
Materi yang diberikan sesuai dengan kurikulum sekolah.
Yang membedakan adalah pada pelaksanaannya yang menye suaikan dengan anak tunagrahita. Mereka terbatas pada kognitifnya sehingga tidak mungkin kita memaksakan semua materi kepada mereka.11
Materi keagamaan untuk anak tunagrahita sesuai dengan kurikulum sekolah. Hanya saja pemberian materi itu di- sesuaikan dengan kondisi anak tungrahita. Misalnya surat al-ikhlas. Dari 4 ayat itu paling banyak dua ayat mereka bisa menghafalnya. Karena untuk satu ayat saja butuh waktu yang lama dan berulang-ulang terus.12
Pemberian materi keagamaan oleh guru yang disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita itu memang satu hal yang tidak mungkin tidak dilakukan mengingat aktifitas belajar berhubungan langsung dengan kekuatan kecerdasan. Di dalam aktivitas tersebut minim- minimnyanya diperlukan daya ingat dan ketajaman untuk memahami, serta keefektifan untuk mencari kaitan sebab akibat. Kondisi seperti itu susah dipenuhi oleh anak tunagrahita sebab mereka memiliki kendala untuk bisa berfikir secara abstrak, belajar apapun mesti terhubung pada suatu objek yang bersifat nyata. keadaan seperti itu ada kaitannya dengan rendahnya kekuatan ingatan jangka pendek, kelemahan dalam bernalar, dan susah sekali dalam mengekplorasi ide.13
10 0Wawancara dengan Vera Yunita (guru agama di SLBN 1 Kota Bengkulu) tanggal 27 Mei 2021.
11 Wawancara dengan Wardani (Kepala Sekolah SLBN 2 Kota Bengkulu) tanggal 28 Mei 2021.
12 Wawancara dengan Hartati (guru agama di SLBN 5 Kota Bengkulu) tanggal 5 Juni 2021.
13 Nunung Apriyanto, Seluk-Beluk Tunagrahita dan Strategi Pembelajarannya, (Jogjakarta:
Javalitera, 2012), h. 49.
Menilik persoalan yang dihadapi oleh anak tunagrahita pada pe- mahaman dan penguasaan materi keagamaan tersebut, ada bermacam hal yang perlu dilihat dalam proses penyampaian materi keagamaan untuk mereka, yaitu:14
a. Materi yang disampaikan perlu dibagi-bagi menjadi unsur-unsur yang kecil dan diatur dengan sistematis
b. Pada tiap unsur dari materi ajar disampaikan bagian per bagian dan diberikan secara berkali-kali
c. Aktivitas belajar sebaiknya dilaksanakan dalam keadaan yang nyata
d. Memberikan semangat atau motivasi untuk mempraktikkan apa yang sedang dipelajari
e. Hadirkan situasi belajar yang menggembirakan dengan menjauhi aktivitas belajar yang sangat resmi
f. Pakai perlengkapan peraga untuk membuat konkrit materi yang disampaikan