• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

3. Perkerasan komposit (Composite Pavement)

2.4. Aspal Beton

2.4.2. Material Penyusun Aspal Beton

Campuran Aspal Beton adalah kombinasi material bitumen dengan agregat yang merupakan permukaan perkerasan yang biasa digunakan akhir-akhir ini. Adapun material penyusun aspal beton diantaranya :

II-16 1. Aspal

Aspal merupakan senyawa hidrokarbon berwarna coklat gelap atau hitam pekat yang dibentuk dari unsur-unsur asphathenes, resins, dan oils.

Aspal pada lapis perkerasan berfungsi sebagai bahan pengikat antara agregat untuk membentuk suatu campuran yang kompak, sehingga akan memberikan kekuatan masing-masing agregat.

Berdasarkan tempat diperolehnya, aspal dibedakan atas aspal alam dan aspal minyak. Aspal alam yaitu aspal yang didapat di suatu tempat di alam, dan dapat digunakan sebagaimana diperolehnya atau dengan sedikit pengolahan. Aspal minyak adalah aspal yang merupakan residu pengilangan minyak bumi.

2. Agregat

Agregat adalah sekumpulan batu-batu pecah, kerikil, pasir atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun hasil buatan. Agregat merupakan komponen utama dari lapisan perkersan jalan yaitu mengandung 90-95 % agregat. Agregat mempunyai peranan yang sangat penting dalam prasarana transportasi, khususnya pada konstruksi perkerasan jalan. Daya dukung perkerasan jalan ditentukan sebagian besar olek karakteristik agregat yang digunakan. Dengan pemilihan agregat yang tepat dapat memenuhi syarat, akan sangat menentukan keberhasian pembangunan jalan.

Menurut Silvia Sukirman (2003), agregat merupakan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun

II-17

buatan yang berbentuk mineral padat berupa ukuran besar maupun kecil atau fragmen-fragmen.

Agregat merupakan komponen utama penyusun struktur perkerasan jalan. Kualitas dari suatu perkerasan jalan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas agregat dan campuran dengan material yang lain. Pemilihan agregat yang tepat dan memenuhi persyaratan akan sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan atau pemeliharaan jalan. (Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas, Buku 1 : Petunjuk Umum)

Agregat yang umum dipakai pada campuran aspal panas secara umum berasal dari batuan. Berdasarkan proses terjadinya batuan ini dibedakan atas batuan beku (igneous rock), batuan sedimen / endapan (sedimentary rock) dan batuan matamorf / malihan (metamorphic rock).

a. Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan magma yang berasal dari bawah permukaan bumi dan membeku di permukaan atau dekat permukaan bumi, contohnya : granit, basalt, gabro dan lain-lain. Sifat-sifat teknis batuan beku pada umumnya, adalah :

 Mempunyai karakteristik material yang baik, keras, padat dan berkualitas baik, bila digunakan sebagai material bangunan.

 Kapasitas dukung tinggi sehingga sangat baik untuk mendukung fondasi bangunan.

b. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses pengendapan, proses kimia dan proses biologi. Umumnya terbentuk dari pecahan-pecahan batuan yang lebih tua, fragmen-fragmen

II-18

dipisahkan oleh air atau angin, contohnya : serpih, batupasir, batugamping dan lain-lain. Sifat-sifat teknis batuan sedimen pada umumnya, adalah :

 Serpih sering menjadi lunak bila terendam air dalam beberapa hari.

 Jarak kekar umumnya agak besar untuk batu pasir.

 Kekuatan batugamping bervariasi dari lunak sampai keras.

c. Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari batuan yang sudah ada sebelumnya. Batuan metamorf terbentuk akibat metamorfosa dari batuan beku dan sedimen. Perubahan ini terjadi akibat proses panas dan tekanan tinggi yang terjadi di kerak bumi.

Batuan metamorf mempunyai banyak variasi diantaranya schist, gneiss, slate, phyllite dan marble. Sifat-sifat teknis batuan metamorf pada umumnya, adalah :

 Mempunyai karakteristik material yang keras dan kuat dan hamper tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca.

 Kuat geser tergantung dari sambungan-sambungan, lapisan- lapisan dan patahan dalam batuannya.

 Mengandung lapisan-lapisan lemah di antara lapisan-lapisan yang keras.

Berdasarkan ukuran butiran untuk perkerasan jalan, agregat dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

II-19 a. Agregat Kasar

Agregat kasar adalah agregat yang tertahan di atas saringan 2,36 mm (No.8), menurut saringan ASTM.agregat kasar untuk keperluan pengujian harus terdiri atas batu pecah atau kerikil pecah dan harus disediakan dalam ukuran-ukuran normal. Agregat kasar yang mempunyai bentuk butiran (particle shape) yang bulat memudahkan proses pemadatan, tetapi rendah stabilitasnya, sedangkan yang berbentuk menyudut (angular) sulit dipadatkan tetapi mempunyai stabilitas yang tinggi. Agregat kasar harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1) Kekuatan dan Kekerasan

Agregat harus memiliki kekuatan dan kekerasan, untuk menghindari terjadinya kekurasakan akibat lalu lintas dan kehilangan kestabilan.

2) Bentuk butir

Bentuk butir yang menyudut akan saling mengunci sehingga menambah suatu kestabilan suatu campuran untuk menghasilkan Stabilitas yang tinggi, maka persentase agregat sedikitnya memiliki satu bidang pecah. Indeks kepipihan agregat harus dapat dipenuhi.

3) Porositas

Porositas suatu agregat sangat mempengaruhi nilai ekonomis suatu campuran, karena makin tinggi porositas, makin banyak aspal yang terserap sehingga `meningkatkan pemakaian aspal.

II-20 4) Susunan (Tekstur) Permukaan

Tekstur permukaan juga penting untuk pengikatan antar agregat dengan aspal. Permukaan agregat yang halus memungkinkan dilumuri aspal, tetapi tidak dapat mempertahankan aspal untuk dapat tetap melekat dengan baik.

5) Selaput Permukaan

Bahan-bahan yang melekat pada selaput permukaan terutama adalah lempung, lanau, dan kotoran lain akan mengganggu peletakan sehingga harus dibersihkan dengan pencucian kalau kadarnya terlalu banyak.

6) Berat Jenis

Berat jenis dari agregat sangat penting guna pori suatu campuran.

Adapun fungsi agregat kasar adalah sebagai berikut:

a) Memberikan Stabilitas campuran dari kondsi saling mengunci dari masing-masing agregat kasar dan dari tahanan gesek terhadap suatu aksi pindahan;

b) Stabilitas ditentukan oleh bentuk dan tekstur permukaan agregat kasar (kubus dan kasar).

b. Agregat Halus

Agregat halus adalah material yang pada prinsipnya lewat saringan 2.36 mm (No.8) dan tertahan pada saringan No.200. Agregat halus terdiri dari pasir alam, pasir buatan, pasir terak atau gabungan dari semuanya.

Agregat halus harus mempunyai syarat-syarat lain, yaitu harus memiliki permukaan yang kasar, tajam, bersih dan bebas dari lempung dan

II-21

material yang tidak diinginkan. Fungsi agregat halus adalah sebagai berikut :

1. Menambah Stabilitas campuran dengan memperkokoh sifat saling mengunci dari agregat kasar dan juga untuk mengurangi rongga udara agregat kasar;

2. Semakin kasar tekstur permukaan agregat halus akan menambah Stabilitas campuran dan menambah kekasaran permukaan.

c. Bahan Pengisi (Filler)

Bahan pengisi atau Filler adalah bahan yang berfungsi mengurangi rongga, mengurangi permeabilitas dan menambah kekuatan tarik pada campuran aspal beton Bahan filler dapat berupa soil cement, debu batu, kapur, portland cement, atau bahan lain (Spesifikasi Umum 2018).

Bahan pengisi (Filler) harus kering dan bebas dari gumpalan- gumpalan dan mempunyai sifat-sifat yaitu non plastis, lolos saringan No.200, dan berupa bahan non-organik. Fungsi filler dalam campuran adalah :

1. Untuk memodifikasi agregat halus sehingga berat jenis campuran meningkat dan jumlah aspal yang diperlukan untuk mengisi rongga akan berkurang.

2. Filler dan aspal secara bersamaan akan membentuk suatu pasta yang akan membalut dan mengikat agregat halus untuk membentuk mortar.

II-22

3. Mengisi ruang antara agregat halus dan agregat kasar serta meningkatkan kepadatan dan kestabilan.

2.4.3. Spesifikasi Agregat Untuk Aspal Beton

Dokumen terkait