• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

3. Perkerasan komposit (Composite Pavement)

2.4. Aspal Beton

2.4.6. Persyaratan Bahan Pembentuk Aspal Beton

II-29 3. Komposisi Umum Campuran

Campuran untuk lapis aspal beton pada dasarnya terdiri dari agregat kasar, agregat halus dan aspal. Masing-masing fraksi agregat terlebih dahulu harus diperiksa gradasinya dan selanjutnya digabungkan menurut perbandingan yang akan menghasilkan agregat campuran yang memenuhi spesifikasi gradasi.

Tabel 2.7 Toleransi Komposisi Campuran

Agregat Gabungan Toleransi Komposisi Campuran

≥2,36 mm ± 5 % berat total agregat Lolos Ayakan 2,36 mm sampai

No. 50 ± 3 % berat total agregat Lolos Ayakan No. 100 dan

Tertahan No. 200 ± 2 % berat total agregat Lolos Ayakan No. 200 ± 1 % berat total agregat

Kadar Aspal Toleransi

Kadar Aspal ± 0,3 % berat total campuran

Temperatur Campuran Toleransi

Bahan meninggalkan AMP dan dikirim ke tempat penghamparan

100C dari temperatur campuran beraspal di truk saat keluar dari

AMP

Sumber:Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2018

II-30

Tabel 2.8 Metode Pengujian Agregat

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,2018 2. Aspal

Metode yang digunakan pada pemeriksaan aspal dapat dilihat pada tabel 2.6 Metode Pengujiam Aspal.

3. Bahan Pengisi (Filler)

Metode pengujian yang dilakukan terhadap pengujian filler dapat dilihat pada tabel 2.9 di bawah ini.

Tabel 2.9 Metode Pengujian Filler

Jenis Pemeriksaan Metode Pemeriksaan

Berat Jenis SNI ASTM C117:2012

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,2018 2.4.7. Benda Uji Aspal Beton

Dalam pembuatan benda uji bahan yang akan digunakan dalam campuran beton aspal harus melalui pengujian dan memenuhi spesifikasi, kemudian menetukan komposisi campuran menggunakan metode gradasi ideal, berat agregat dan aspal serta filler sebesar 1200 gram.

Jenis Pengujan Metode Pengujian Agregat Kasar (Batu Pecah)

Analisa Saringan SNI ASTM C136:2012 Berat Jenis Curah (Bulk) SNI 1969-2008

(AIV) SNI 03-4426-1997

Penyerapan air SNI 1969-2008

Keausan Agregat (Abration) SNI 2417:2008 Agregat Halus (Pasir)

Analisa Saringan SNI ASTM C136:2012 Berat Jenis Curah (Bulk) SNI 1970-2008

Penyerapan Air SNI 1970-2008

Kadar Lumpur SNI 03-4428-1997

II-31

Adapun ketentuan sifat-sifat campuran aspal beton untuk Laston (AC) dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Adapun ketentuan sifat-sifat campuran beton aspal dapat dilihat pada Tabel 2.10.

Tabel 2.10 Ketentuan Sifat-sifat Campuran Beton Aspal

Sifat-sifat Campuran

Laston

Lapis Aus Lapis Antara Pondasi

Jumlah tumbukan per bidang Maks 75 112 (3)

Rasio Partikel lolos ayakan 0,075mm dengan kadar aspal

efektif

Min. 0,6

Maks

1,2 Rongga dalam campuran (%) (4) Min. 3,0

Maks 5,0

Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Min. 15 14 13

Rongga Terisi Aspal (%) Min. 65 65 65

Stabilitas Marshall (kg) Min. 800 1800(3)

Pelelehan (mm) Min. 2 3

Maks 4 6 (3)

Stabilitas Marshall Sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam, 60 ºC

(5)

Min.

90 Rongga dalam campuran (%)

pada Kepadatan membal (refusal)(6)

Min.

2

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,2018 Karakteristik yang harus dimiliki oleh campuran aspal beton adalah : 1. Stabilitas

Kemampuan suatu jalan menerima beban lalu lintas tanpa adanya perubahan terhadap bentuk seperti gelombang, alur maupun bleeding (pengumpulan aspal di permukaan perkerasan) disebut Stabilitas.

Stabilitas yang rendah dan sangat tergantung dari mutu aspal sebagai bahan pengikat agregat, sehingga diperlukan aspal mutu tinggi.

Volume antara agregat yang kurang dapat mengakibatkan kadar aspal yang dibutuhkan juga jauh kebih rendah, oleh karena itu kestabilan harus

II-32

dijaga agar tetap normal karena Kestabilan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lapisan menjadi kaku dan cepat mengalami retak.

Sedangkan durabilitas yang rendah dapat mengakibatkan ikatan aspal mudah terlepas sehingga Stabilitas yang tinggi dapat diperoleh dengan mengusahakan penggunaan :

1) Agregat dengan gradasi rapat;

2) Agregat dengan permukaan kasar;

3) Agregat berbentuk kubus;

4) Aspal dengan penetrasi rendah;

5) Aspal dalam jumlah mencukupi untuk ikatan antar butir 2. Durabilitas (Keawetan/Daya Tahan)

Durabilitas (ketahanan) adalah ketahanan beton/aspal menghadapi segala kondisi dimana dia direncanakan, tanpa mengalami kerusakan (deteriorate) selama jangka waktu layannya (service ability). Beton/aspal yang demikian disebut mempunyai ketahanan yang tinggi (durable).

Pengaruh cuaca, air dan prubahan suhu maupun keausan akibat gesekan kendaraan perlu diperhatikan dalam perencanaan oleh karena itu durabilitas sangat diperlukan pada lapis permukaaan sehingga mampu menahan keausan. Faktor-faktor yang mempengaruhi durabilitas lapisan aspal beton adalah :

a. Film atau selimut aspal. Selimut aspal yang tebal dapat menghasilkan lapis aspal beton yang berdurabilitas tinggi, tetapi kemungkinan terjadi bleeding yang tinggi.

II-33

b. VIM kecil sehingga hasil kedap air dan udara tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal menjadi rapuk.

c. VMA besar sehingga selimut aspal dapat dibuat tebal. Jika VMA dan VIM kecil serta kadar aspal tinggi kemungkinan terjadinya bleeding (pengumpulan aspal dipermukaan perkerasan) besar. Yang dimaksud dengan VIM (Void In Mix) adalah pori dalam campuran yang telah dipadatkan atau banyaknya rongga udara yang ada dalam campuran aspal beton. Sedangkan VMA (Void In Mix Aggregate) adalah ruang diantara partikel agregat pada suatu perkerasan beraspal, termasuk rongga udara dalam volume aspal efektif (tidak termasuk volume aspal yang cukup diserap agregat).

3. Fleksibilitas (Kelenturan)

Fleksibilitas dari suatu campuran perkerasan menunjukkan kemampuan untuk menahan lendutan / tekukan misalnya dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan kecil dari lapisan bawahnya terutama lapisan tanah dasar (subgrade), tanpa mengalami keretakan.

Untuk meningkatkan kelenturan, pemakai agregat dengan gradasi terbuka sangat sesuai, tetapi dengan pemakaian tersebut akan dihasilkan Stabilitas tidak sebaik apabila menggunakan gradasi rapat. Sifat aspal terutama daktilitasnya sangat menentukan kelenturan perkerasan. Aspal yang mempunyai daktilitas rendah, maka dalam campuran perkerasan

II-34

akan menghasilkan suatu perkerasan yang fleksibilitasnya rendah. (The Asphalt Institute,1983 ). Fleksibilitas yang tinggi dapat di peroleh dengan : 1) Penggunaan agregat bergradasi senjang sehingga diperoleh VMA

yang besar.

2) Penggunaan aspal lunak (aspal dengan penetrasi tinggi)

3) Penggunaan aspal yang cukup banyak sehingga di peroleh VIM yang kecil.

4. Tahan Geser/Kekesatan (Skid Resistance)

Tahan geser adalah kekerasan yang diberikan oleh perkerasan sehingga tidak mengalami tergelincir, baik di waktu hujan atau basah maupun di waktu kering, kekerasan dinyatakan dengan koefisien gesek antar permukaan jalan dengan ban kendaraan. Yang dimaksudkan disini adalah kemampuan dari permukaan perkerasan untuk memperkecil terjadinya roda kendaraan tergelincir terutama pada waktu permukaan jalan dalam keadaan basah. Permukaan jalan yang kasar mempunyai kekesatan yang lebih baik daripada permukaan jalan yang halus.

Permukaan jalan yang terlalu kasar menyebabkan gangguan kenyamanan akibat bunyi yang timbul pada gesek antara ban dengan permukaan jalan, serta ban menjadi mudah aus. Permukaan perkerasan yang mengalami bleeding, kekasatannnya menjadi rendah. Oleh karena itu kadar aspal yang cukup masih tersedia rongga udaranya (3%-5%) untuk pemuaian aspal, akan membantu terjadinya nilai kekesatan yang optimum (The Asphalt Institute, 1983). Tahan geser akan tinggi, jika :

II-35

a. Penggunaan kadar aspal yang tepat sehingga tidak terjadi bleeding b. Penggunaan agregat berbentuk kubus

c. Penggunaan agregat kasar yang cukup d. Ketahanan Terhadap Kelelehan

Ketahanan terhadap kelelehan adalah (flow) merupakan kemampuan laston menerima lendutan berulang akibat repetisi beban, tanpa terjadi kelelehan berupa alur dan retak. Faktor yang mempengaruhi ketahanan adalah:

a. VIM yang tinggi dan kadar aspal yang rendah akan mengakibatkan kelelehan yang lebih cepat;

b. VMA yang tinggi dan kadar aspal yang tinggi dapat mengakibatkan lapis perkerasan menjadi fleksibel.

c. Kemudahan Pekerjaan (Workability)

Yang dimaksud dengan (Workability) adalah Mudahnya suatu campuran untuk dicampur,dihampar dan dipadatkan sehingga hasil yang didapatkan memenuhi kepadatan yang diinginkan dan sesuai dengan standar. Faktor yang mempengaruhi dalam kemudahan pekerjaan adalah:

a.) Agregat bergradasi baik lebih mudah dilaksanakan dari pada agregat bergradasi jelek;

b.) Temperatur campuran ikut mempengaruhi kekerasan bahan pengikat yang bersifat termoplastis;

c.) Kandungan bahan pengisi (filler) yang tinggi menyebabkan pelaksanaan yang lebih sulit.

II-36

Dalam pengujian karakteristik beton aspal dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat-sifat dari campuran beton aspal tersebut.

Diantaranya:

1) Uji Stabilitas dengan alat uji Marshall;

2) Uji perendaman Marshall untuk indeks perendaman.

Agar diperoleh karakteristik campuran yang maksimal, maka harus dilakukan pengujian pada kondisi dimana persentase aspal dari campuran adalah optimum.

2.5. Karakteristik Marshall Campuran Beraspal

Dokumen terkait