• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Edukasi Pictogram

Dalam dokumen PDF MONOGRAF - dspace.hangtuah.ac.id (Halaman 58-63)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Media Edukasi Pictogram

Berdasarkan ISPAD guideline pengertian dari edukasi diabetes adalah proses dalam menyediakan pengetahuan dan keterampilan kepada pasien yang memerlukan supaya dapat melakukan diabetes selfcare, mengelola krisis, dan untuk mengubah life-style sehingga pengelolaan penyakit diabetes dapat berhasil. DCCT (Diabetes Control and Complication Trial) memberikan bukti tegas bahwa intensifikasi manajemen dapat mengurangi komplikasi mikrovaskular dan diabetes selfcare sangat efektif.

Pada diabetes selfcare efektif membutuhkan masukan pendidikan dan dukungan yang berkelanjutan. Terkait dengan bukti ini, bahwa perawatan oleh profesional kesehatan yang bergerak di bidang pendidikan dirasakan oleh orang-orang muda sebagai motivasi yang dapat mendorong kepatuhan yang lebih besar untuk terapi. Ada empat kriteria utama program pendidikan

terstruktur: (1) Memiliki struktur, diinginkan pasien, kurikulum tertulis; (2) Menggunakan edukator terlatih; (3) Kualitas terjamin; (4) Dievaluasi.

Keberhasilan dalam mencapai perubahan perilaku, membutuhkan edukasi, dan motivasi yang berkenaan dengan:

1. Makan makanan sehat

2. Kegiatan jasmani secara teratur

3. Menggunakan obat diabetes secara aman dan teratur

4. Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan informasi

5. Melakukan perawatan kaki secara berkala 6. Mengelola diabetes dengan tepat

7. Mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan ketrampilan 8. Dapat mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.

Edukasi membantu pasien diabetes melakukan self-management secara efektif, memberi gambaran terkait manajemen diabetes, membantu pasien untuk mencapai kontrol metabolik, mencegah dan memanajemen komplikasi, serta memaksimalkan kualitas hidup pasien secara cost-effective.

Ada dua penyebab umum yang dapat mengakibatkan ketidakpatuhan minum obat pada pasien. (SIGN, 2010)

1. Unintentional non-adherence, seringkali terkait ketidakmampuan pasien untuk mengikuti arahan yang diberikan dokter karena pemahaman yang buruk, polifarmasi pengobatan dan mengalami permasalahan fisik dari pasien.

2. Intentional (intelligent) non-adherence, seringkali terjadi pada saat pasien memutuskan untuk tidak mengikuti anjuran pengobatan yang diberikan oleh dokter karena pengalaman efek samping yang pernah terjadi, persepsi mengenai risiko dan manfaat, keyakinan berkaitan

kesehatan, pangalaman dan sikap yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien penyakit kronis.

Cara menyampaikan informasi tentang sesuatu kepada orang lain sampai benar-benar memahami adalah suatu proses komunikasi antar pribadi (interpersonal), dan semakin banyak indera dilibatkan dalam proses komunikasi, makin tinggi tingkat efektivitas penyampaian pesannya. Peran media audio-video sebagai alat penyampaian informasi sangat besar karena selain telinga mendengar informasi dalam bentuk suara, dan juga mata terlibat untuk melihat gambar ilustrasi yang bergerak, hal ini dapat memperkuat penyampaian informasi. (Siregar CJP 2006)

Komunikasi antarpribadi biasanya dipengaruhi berbagai gangguan atau rintangan yang mempengaruhi akurasi pertukaran pesan, antara lain.

(Woolfolk AE,1998)

1. Gangguan lingkungan yang bersifat fisik. Ruangan yang ribut, penerangan buruk, pintu sering diketuk dan sebagainya merupakan faktor penghambat dalam memberikan informasi kepada pasien 2. Masalah semantik. Hal ini terjadi kalau salah satu pelaku komunikasi

menggunakan istilah, atau bahasa yang kurang dipahami.

3. Rintangan pribadi. Kurangnya percaya diri atau rendah diri dalam komunikasi pribadi dapat mempengaruhi keberhasilan komunikasi.

Individu pemalu cenderung menghindari komunikasi antarpribadi dalam banyak situasi.

4. Perbedaan budaya. Faktor ini mempengaruhi komunikasi antarpribadi dengan budaya yang berbeda.

Tidak ada umpan balik. Komunikasi dua arah dapat membantu pengirim maupun penerima pesan untuk mengukur tingkat pemahaman masing-masing. Dalam komunikasi dua arah, mereka dapat menyingkap

kesalahpahaman dan memperbaikinya sehingga mutu penerimaan pesan dapat lebih baik.

Pictogram dapat digunakan sebagai media informasi kepada pasien untuk menjelaskan tentang pengobatan yang sedang dilakukan oleh pasien.

Pictogram diharapkan mampu memberikan penjelasan yang lebih dapat dipahami oleh pasien terutama yang mempunyai tingkat pengetahuan yang rensah tentang kesehatan atau bahkan pasien dengan tingkat pendididkan rendah yang tidak dapat membaca dan menulis. Pictogram merupakan informasi dalam bentuk gambar yang disesuaikan isinya berdasarkan kebutuhan informasi yang ingin disampaikan kepada pasien. (Dowse R and Ehlers MS, 2003)

Bernardini dan rekan-rekannya (2000) mewawancarai 1004 pasien di apotek dan melaporkan bahwa pengunjung biasanya membaca leaflet informasi pasien namun mereka tidak memahaminya dengan mudah dan juga tidak menemukan informasi yang dibutuhkan dengan mudah. Namun sebagian besar pengunjung apotek (74,3%) menganggap penggunaan simbol membantu dalam menemukan informasi yang dibutuhkan. Peneliti menganalisis sejauh mana lima simbol dapat digunakan untuk masing- masing lima topik, dan menemukan respon yang konsisten untuk efek samping, penggunaan anak, penggunaan dalam kehamilan dan dosis; namun tidak untuk indikasi terapeutik dan kontraindikasi. Hal ini sesuai dengan teori Bloom yang mengklasifikasikan sasaran atau tujuan edukasi menjadi tiga domain (ranah kawasan), yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Bloom membagi ranah kognitif ke dalam enam tingkatan atau kategori, yaitu:

pengetahuan (knowlegde), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).

Pictogram merupakan salah satu media edukasi yang digunakan dan didefinisikan sebagai citra penanda visual yang diciptakan oleh manusia untuk tujuan mempercepat dan mengklarifikasi komunikasi tanpa teks atau kata-kata (Clara dan Swasty, 2017). Federasi Farmasi Internasional (FIP) telah memperkuat pentingnya pictogram sebagai cara komunikasi untuk memberikan informasi mendasar mengenai penggunaan obat-obatan (Barros, 2013). FIP merupakan federasi global asosiasi apoteker dan ilmuwan farmasi nasional dan berada dalam hubungan resmi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pictogram digunakan untuk pemahaman dan penarikan informasi yang lebih baik dan harus digunakan disertai bimbingan verbal yang diberikan oleh profesional kesehatan. Penggunaan pictogram telah mendapat perhatian yang progresif dalam beberapa tahun terakhir, mungkin karena kesadaran tenaga profesional kesehatan tentang perlunya memberikan informasi yang memadai kepada pasien dengan kesulitan pemahaman tentang pengobatan mereka, misalnya lansia, anak-anak dan orang-orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah (Barros, 2013)

Pictogram dapat digunakan baik sebagai kehadiran pictogram sangat penting dalam meningkatkan kepatuhan dan meningkatkan pemahaman pasien akan instruksi. Piktogram juga penting bagi apoteker, karena mereka terlibat langsung dalam memberikan informasi kepada pasien saat mengeluarkan obat (Sharief et al, 2014). Pictogram telah terbukti meningkatkan ingatan jangka pendek dan jangka panjang (4 minggu) pada pasien, terutama bila disajikan dalam bentuk informasi cetak bersama dengan informasi lisan (Doucette, 2014).

Sesuai dengan teori dual coding Paivio dalam Doucette, sistem verbal dan sistem nonverbal bekerjasama, dan pengaktifan satu sistem

memicu aktivasi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa gambar memiliki kemampuan untuk lebih mengaktifkan pemahaman tentang informasi verbal, oleh karena itu perlu mengoptimalkan interpretasi informasi dan pesan yang akan disampaikan. Keunggulan daripada pictogram ialah lebih akurat dan lebih cepat daripada kata-kata, pengingat pesan yang instan dan sumber informasi yang sangat baik (Manshukani, 2015)

Mengkombinasikan gambar dengan penjelasan tertulis atau lisan sangat mempengaruhi komunikasi kesehatan. Menurut Gupta L., 2011, terdapat empat aspek komunikasi kesehatan yang dipengaruhi oleh pictogram antara lain:

1. Menggambarkan perhatian mengenai bahan atau pesan 2. Membantu pasien memahami informasi yang disampaikan 3. Meningkatkan daya ingat mengenai pesan yang disampaikan

4. Meningkatkan kemungkinan untuk pasien bisa patuh terhadap pesan/informasi (meningkatkan adherence)

Dalam dokumen PDF MONOGRAF - dspace.hangtuah.ac.id (Halaman 58-63)

Dokumen terkait