PENDAHULUAN
Permasalahan
Berdasarkan data WHO dan RISKESDAS pada tahun 2018, terjadi peningkatan penderita diabetes melitus hingga 8,5%, hal ini disebabkan meningkatnya risiko terjadinya komplikasi pada pasien diabetes melitus akibat kurangnya penatalaksanaan pengobatan diabetes melitus baik dari segi pengetahuan maupun dari segi pengetahuan. rendahnya tingkat kepatuhan pada pasien diabetes melitus, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 dengan mengembangkan media ajar piktogram sebagai alat komunikasi kesehatan untuk mempengaruhi kepatuhan pasien diabetes melitus.
Tujuan
Manfaat
TINJAUAN PUSTAKA
Media Edukasi Pictogram
Berdasarkan pedoman ISPAD, pengertian pendidikan diabetes adalah proses pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada pasien yang memerlukan agar dapat melakukan perawatan diabetes mandiri, mengelola krisis dan mengubah gaya hidup sehingga pengobatan diabetes dapat berhasil. Peranan media audio-video sebagai alat penyampai informasi sangat besar karena selain telinga mendengar informasi berupa suara, mata juga berperan dalam melihat gambar ilustratif bergerak juga dapat memperlancar penyampaian informasi. Ruangan yang bising, penerangan yang buruk, seringnya mengetuk pintu, dan lain-lain merupakan faktor penghambat dalam memberikan informasi kepada pasien 2.
Piktogram dapat digunakan sebagai media informasi kepada pasien untuk menjelaskan pengobatan yang dijalani pasien. Piktogram merupakan informasi dalam bentuk gambar yang isinya disesuaikan dengan informasi yang ingin disampaikan kepada pasien. Bernardini dan rekannya (2000) mewawancarai 1004 pasien di apotek dan melaporkan bahwa pasien biasanya membaca brosur informasi pasien tetapi tidak mudah memahaminya dan juga tidak mudah menemukan informasi yang dibutuhkan.
Hal ini sesuai dengan teori Bloom yang mengelompokkan tujuan atau sasaran pendidikan ke dalam tiga ranah (domain regional), yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Piktogram digunakan untuk pemahaman dan pengambilan informasi yang lebih baik dan harus digunakan disertai dengan panduan lisan dari profesional kesehatan. Penggunaan piktogram telah mendapat perhatian bertahap dalam beberapa tahun terakhir, mungkin karena kesadaran profesional kesehatan akan perlunya memberikan informasi yang memadai kepada pasien yang kesulitan memahami pengobatannya, misalnya orang lanjut usia, anak-anak, dan orang dengan tingkat pendidikan rendah. (Barros, 2013).
Piktogram juga penting bagi apoteker, karena mereka terlibat langsung dalam memberikan informasi kepada pasien ketika meresepkan obat (Sharief et al, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa gambar mempunyai kemampuan untuk lebih mengaktifkan pemahaman informasi verbal, oleh karena itu perlu dilakukan optimalisasi interpretasi terhadap informasi dan pesan yang ingin disampaikan. Keuntungan dari piktogram adalah lebih akurat dan cepat dibandingkan kata-kata, pengingat pesan instan dan sumber informasi yang sangat baik (Manshukani, 2015).
Kepatuhan
Lebih lanjut, kepatuhan pengobatan dapat diartikan sebagai proses dimana pasien meminum obat sesuai resep dan terdiri dari tiga bagian, yaitu inisiasi (meminum obat dan meminum dosis pertama), pelaksanaan (meminum setiap dosis yang ditentukan tepat waktu) dan terminasi. (penghentian pengobatan) (Vrijen B, et.al., 2012). Hal ini penting agar pengobatan pasien menjadi efektif dan juga untuk mencapai manfaat klinis dari terapi pengobatan yang diberikan (Ruppar TM, et.al., 2015). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam laporannya pada tahun 2003, menyatakan bahwa ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan masalah kesehatan utama yang muncul di masyarakat saat ini, terutama di kalangan pasien dengan penyakit kronis dan kronis (Sabate E, 2003), dengan sekitar setengah dari populasi pasien dianggap tidak patuh (Dubar-Jacob J, et.al., 2000; Ruppar TM, et.al., 2015).
Kepatuhan yang kurang optimal terhadap rejimen pengobatan yang diresepkan terjadi di semua pengaturan klinis dan di semua populasi, sehingga menghasilkan hasil pengobatan yang tidak optimal (DiMatteo MR, et.al., 2002), peningkatan dosis yang tidak perlu atau tidak tepat (Blaschke TF, et.al., 2012), peningkatan risiko komplikasi, kesalahan diagnosis dan memerlukan layanan kesehatan yang lebih tinggi, seringnya masuk rumah sakit dan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi (Blaschke TF, et.al., 2012; Sokol MC, et.al., 2005; Ruppar TM, et.al., 2015). Tingginya prevalensi kejadian dan dampak merugikan yang dapat terjadi terhadap outcome klinis pasien, serta tingginya biaya, menyebabkan diperlukannya pedoman penilaian terapi obat serta strategi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan penelitian Smet 1994 yang menunjukkan bahwa beberapa strategi dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan, yaitu.
Upaya peningkatan kepatuhan yang dapat dilakukan oleh penderita DM saat menjalani terapi diet, olahraga dan pengobatan adalah : Penderita DM hendaknya meningkatkan cara pengendalian diri dengan meningkatkan kepatuhan dalam berobat, karena pengendalian diri yang baik pada penderita DM akan meningkatkan kepatuhan pasien selama menjalani pengobatan. perlakuan. Pengendalian diri yang dapat dilakukan oleh penderita DM antara lain pengendalian berat badan, pengendalian makan dan emosi.
Penderita diabetes harus mencari informasi yang dapat dipercaya untuk memahami penyakit yang dideritanya. Pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar atau keluarga penderita diabetes untuk meningkatkan kepatuhan berobat yaitu. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien antara lain: (Rustiana, 2006).
METODE PENELITIAN
- Populasi dan Sampel Penelitian
- Teknik dan Pengambilan Sampel
- Alat dan Bahan Penelitian
- Metode Penelitian
- Jenis dan Rancangan Penelitian
- Pelaksanaan Penelitian
- Analisa Data
Kajian pengembangan piktogram sebagai media edukasi pasien diabetes melitus tentang kepatuhan berobat pada pasien diabetes melitus tipe 2 merupakan penelitian observasional kualitatif dengan kurun waktu 4 bulan. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif untuk mengetahui pemahaman pasien diabetes melitus tipe 2 terhadap pengembangan media edukasi ikon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien Diabetes Mellitus dalam meminum obatnya di Universitas Hang Tuah Surabaya dengan cara mengamati cara pasien meminum obatnya.
Pengembangan media piktogram yang dilakukan pada penelitian ini merupakan salah satu bentuk pemberian edukasi kepada pasien diabetes tipe 2. Berdasarkan hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien diabetes tipe 2 di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya. Pengembangan media edukasi piktografik pada penelitian ini dilakukan untuk membantu pasien diabetes yang memiliki tingkat pemahaman pasien yang sangat rendah terhadap penyakitnya atau cara minum obatnya sehingga mengakibatkan ketidakpatuhan pasien.
Hasil penelitian pengembangan media piktograf edukasi yang dijadikan sampel validasi pasien sebanyak 74 pasien. Pada penelitian pengembangan perangkat media pendidikan bergambar piktogram dengan menggunakan model perancangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation), dilakukan 2 tahap validasi. Setelah para ahli menyatakan bahwa media edukasi piktogram tersebut valid, maka dilanjutkan dengan proses validasi empiris atau validasi pasien yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi pasien yang menjadi sasaran pengembangan alat media edukasi piktogram tersebut, khususnya untuk pasien Diabetes Melitus di Hang. Universitas Tuah wilayah Surabaya.
Proses validasi empiris menggunakan media angket dengan data kuantitatif untuk mengetahui tingkat pemahaman pengembangan instrumen piktogram oleh pasien, selain itu untuk mengetahui validitas piktogram yang dapat digunakan sebagai instrumen media edukasi bagi pasien Diabetes Melitus. mengenai cara meminum obatnya. Oleh karena itu, piktogram dapat digunakan sebagai instrumen media edukasi bagi pasien Diabetes Mellitus yang memiliki tingkat pemahaman yang rendah akibat rendahnya pendidikan tentang cara minum obat diabetes oral di Universitas Hang Tuah. Hasil penerapan media edukasi Pictogram menunjukkan p=0,00 (α<0,05; CI95%) berdasarkan nilai gula darah puasa dan nilai gula darah dua jam postprandial pasien DM Tipe 2, membuktikan adanya pengaruh berdampak pada perubahan perilaku dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Beberapa penelitian menyatakan bahwa pasien yang memiliki tingkat pemahaman yang rendah terhadap pengobatannya disebabkan rendahnya pengetahuan juga menyebabkan rendahnya tingkat kepatuhan. Sementara itu, jenis obat yang diminum pasien atau jumlah obat yang diminum pasien juga mempengaruhi pengendalian gula darah pada penderita Diabetes Mellitus. Namun setelah dilakukan pengkajian, maka instrumen piktogram tersebut dapat dikatakan valid oleh para ahli sesuai dengan persyaratan pengembangan media pendidikan piktogram yang termasuk dalam teori pengembangan instrumen pendidikan (Suryabrata, Sumadi. 2000).
Hasil data angket yang digunakan sebagai alat untuk mengukur validitas media ajar piktogram diperoleh r > 0,3 yang diperoleh dari 10 pertanyaan pada angket yang valid setelah proses validasi kedua. Berdasarkan hasil validasi instrumen media edukasi piktogram, dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengimplementasikannya pada pasien DM tipe 2 dengan hasil analisis statistik uji t berpasangan pengaruh edukasi dengan media piktogram terhadap perubahan BNP nilai Sebelum dan sesudah pendidikan Ditemukan bahwa nilai rata-rata sebelum dan sesudah pendidikan sama dengan nilai signifikansi p=0,00. Edukasi pada pasien dalam bentuk piktogram dapat mempengaruhi perubahan perilaku pasien saat meminum obat antidiabetes oral (OAD) sehingga meningkatkan kepatuhan pasien.
Perubahan yang terjadi pada pengendalian kadar gula darah pasien dapat mencegah komplikasi akibat DM tipe 2 yang diderita pasien, dengan menawarkan media edukasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan media edukasi piktogram dapat dinyatakan valid melalui proses validasi ahli dan validasi pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pengaruh penggunaan media ajar piktogram pada pasien Diabetes Melitus terhadap kepatuhan pasien dalam kaitannya dengan terapi atau cara minum obat pasien, sehingga untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus menggunakan metode RCT dengan waktu penelitian yang lebih lama dari 1 tahun untuk mendapatkan sampel penelitian yang lebih banyak.
Hubungan tingkat kepatuhan minum obat antidiabetik oral dengan kadar hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada pasien diabetes melitus tipe 2. Klasifikasi, Diagnosis dan Terapi Diabetes Mellitus Edisi Ketiga PT Gramedia Pustaka Utama. Profil kepatuhan pasien diabetes melitus di Puskesmas Surabaya Timur dalam penggunaan pengobatan dengan metode pill counter. Pedoman Penatalaksanaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Dewasa di Indonesia, Pengurus Masyarakat Endokrinologi Indonesia.
KESIMPULAN
Saran
Blaschke TF, Osterberg L, Vrijens B, Urquhart J. Medication adherence: insights arising from studies on the unreliable association between prescribed and actual drug dosing histories. ISPAD Clinical Practice Consensus Guideline: Summary-Definition, Epidemiology and Classification of Diabetes in Children and Adolescents. Treatment-dependent new-onset diabetes mellitus and hyperlipidemia associated with atypical antipsychotic use in older adults without schizophrenia or bipolar disorder.
Boudreau et al, "Validation of a stepwise approach using glycated hemoglobin levels to reduce the number of oral glucose tolerance tests required to screen for cystic fibrosis-related diabetes in adults". Adherence to pharmacotherapy for type 2 diabetes: A retrospective cohort study of adults with employer-sponsored health insurance. Comparative effectiveness of telemedicine strategies in the management of type 2 diabetes: a systematic review and network meta-analysis.
2018 ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines: Definition, Epidemiology and Classification of Diabetes in Children and Adolescents. From triumvirate to sinister octet: a new paradigm for the treatment of type 2 diabetes.