• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Penelitian

Dalam dokumen PDF MONOGRAF - dspace.hangtuah.ac.id (Halaman 70-81)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Metode Penelitian

2. Pelaksanaan Penelitian

Tahap awal penelitian dengan mempersiapkan materi yang akan digunakan untuk dijadikan sebagai media edukasi yaitu dengan metode pictogram dengan pencarian dari guideline Diabetes Melitus.

2) Tahap Pelaksanaan

Setelah mendapat materi yang akan dituangkan dalam bentuk media edukasi, maka tahap selanjutnya dengan merancang gambar sesuai dengan kebutuhan pasien Diabetes Melitus tipe 2 dan proses pembuatan media edukasi pictogram.

3) Tahap Akhir

Media edukasi yang telah dibuat, maka akan dilakukan validasi ahli yang terkait dengan Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2. Setelah itu baru kemudian dilakukan validasi pasien, dimana pasien akan mendapatkan pictogram yang telah dikembangkan dan dibuat kemudian dilakukan feedback untuk pemahaman pasien terkait media edukasi pictogram tersebut dengan menggunakan kuesioner pengembangan peneliti terkait pemahaman pasien terhadap media edukasi pictogram.

4) Tahap Implementasi media edukasi pictogram

Pengumpulan data dilakukan setelah mendapat persetujuan dari responden pasien DM Tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi dengan mengisi informed consent yang telah diberikan. Data yang dibutuhkan antara lain data gula darah puasa (GDP) dan gula darah 2 jam post-prandial (GD2JPP).

Pengambilan data dari tes gula darah menggunakan alat ukur gula darah (Accucheck) dengan seri alat GU 05573001 yang diambil oleh peneliti.

Pengambilan data diawali data pre-test berupa kadar gula darah puasa dan gula darah 2 jam post-prandial di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya. Kemudian pemberian intervensi berupa edukasi mengenai penggunaan obat dengan benar dan tepat menggunakan media edukasi pictogram. Setelah 2 minggu dilakukan pengambilan data post-test berupa kadar gula darah puasa dan gula darah 2 jam post-prandial selama 12 minggu kedepan.

3. Analisis data

Analisis data penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif untuk mengetahui pemahaman pasien Diabetes Melitus Tipe 2 terkait pengembangan media edukasi pictogram. Sedangkan analisis pengaruh pemberian intervensi berupa informasi pengobatan dengan menggunakan pictogram terhadap peningkatan kepatuhan penggunaan obat sehingga mempengaruhi kontrol glikemik. Data yang terkumpul kemudian diolah untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan program IBM SPSS Statistic 23. Perbedaan dianggap bermakna apabila nilai p<0,05.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Penelitian ini diawali dengan melakukan pengumpulan data mulai awal bulan Januari sampai akhir bulan April 2018 di lingkungan sekitar kampus Universitas Hang Tuah Surabaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus dalam cara minum obatnya yang ada di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya dengan melihat cara minum obat pasien.

Pengembangan media pictogram yang dilakukan pada penelitian ini sebagai wujud untuk bisa memberikan edukasi kepada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Dari hal tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya.

Kuesioner yang dibuat sendiri berdasarkan data kebutuhan pasien DM Tipe 2 untuk mengetahui respon pasien terhadap rancangan media pictogram pada tahap uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan sebagai alat ukur untuk validasi pasien.

Partisipan penelitian merupakan total populasi pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Lingkungan Universitas Hang Tuah. Partisipan yang bersedia sukarela mengikuti penelitian ini sebanyak 74 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Pelaksanaan penelitian meliputi tahapan kualitatif berupa observasi.

1. Data Demografi Dan Karakteristik Partisipan DM Tipe 2

Data demografi dan karakteristik partisipan pasien DM Tipe 2 dapat dilihat pada kolom dibawah ini:

Tabel 5 Data Demografi Partisipan DM Tipe 2 Data demografi partisipan (n=74)

Jenis Kelamin Jumlah

(∑) Persentase (%)

Laki-laki 12 16,22

Perempuan 62 83,78

Umur

20-30 tahun 7 9,46

31-40 tahun 21 28,38

41-50 tahun 22 29,73

51-60 tahun 19 25,68

61-70 tahun 4 5,41

71-80 tahun 1 1,34

Jenis obat DM

Tunggal 25 33,78

Kombinasi 49 66,22

2. Analisis Data

Analisis data pada penelitian berikut terdiri dari analisis validasi ahli dan analisis validasi instrumen penelitian yaitu kuesioner dan juga uji normalitas data penelitian serta uji statistik hasil penelitian (Sugiarto, Supramono. 1993).

Uji Validitas Ahli

Pengembangan media edukasi pictogram melalui tahapan ADD (Analysis, Design, Development) yang divalidasi oleh ahli dibidang edukasi dan juga terkait pictogram ataupun praktisi yang terkait dengan Diabetes Melitus dari 3 institusi yang berbeda. Validasi ahli melakukan evaluasi mulai dari fase awal ide pembuatan sampai media edukasi pictogram telah dianggap

valid serta dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pasien Diabetes Melitus.

Hasil validasi ahli dari dua kali proses validasi mendapatkan kata kunci perbaikan yang terdiri dari tulisan/kalimat, design pictogram, gambar, isi/konten dari pictogram, dan edukasi yang terdapat pada pictogram. Data lengkapnya dapat dilihat pada lampiran validasi ahli. Sedangkan konten media pictogram yang divalidasi/direvisi oleh ketiga ahli pada validasi pertama adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Hasil Validasi Ahli pictogram pertama No Kata Kunci

(coding)

Validator I Validator II Validator III

1 Penulisan √ √ √

2 Design - √ √

3 Gambar - √ -

4 Konten/Isi √ √ √

5 Tema Edukasi √ - √

Konten media pictogram yang divalidasi/direvisi oleh ketiga ahli pada validasi kedua setelah dilakukan perbaikan sesuai dengan masukan validator hasil validasi pertama adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Validasi Ahli pictogram kedua No Kata Kunci

(coding)

Validator I Validator II Validator III

1 Penulisan - - -

2 Design - - -

3 Gambar - - -

4 Konten/Isi - - -

5 Tema Edukasi - - -

Hasil dari validasi diatas yang dimaksud dengan penulisan adalah tulisan yang tertera pada media edukasi pictogram yang menjelaskan tentang

cara minum obat OAD dikurangi atau dihapus karena tujuan penggunaan pictogram untuk menggantikan label obat tertulis (konvensional) untuk memudahkan pemahaman pasien maka ditambahkan konseling secara lisan dengan jelas. Untuk design adalah kriteria penunjukan waktu tepatnya pasien dalam meminum obatnya yang ditandai dengan sebuah jam untuk mengetahui waktu pagi,siang ataupun malam. Sedangkan untuk gambar pada proses validasi diatas adalah gambar pasien saat minum OAD dan juga gambaran penggunaan OAD terkait cara minum obat akan lebih jelas lagi kalau warnanya lebih kontras sehingga terlihat jelas. Isi/konten yang dimaksud adalah tentang cara minum OAD sudah memenuhi kategori untuk edukasi pasien DM.

Uji Validasi Instrumen pasien 1) Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas, kuesioner penelitian dapat dikatakan valid dan layak untuk dapat digunakan sebagai alat ukur pada penelitian jika didapatkan nilai r hitung > 0,19 (r tabel) (Sugiyono, 2001). Apabila kuesioner yang diberikan kepada sampel penelitian dinyatakan valid, maka instrumen pictogram dapat dikatakan valid untuk bisa digunakan sebagai alat/media edukasi meningkatkan kepatuhan kepada pasien DM Tipe 2. Dikarenakan pertanyaan pada kuesioner mewakili kebutuhan pasien DM Tipe 2 terhadap pictogram dan untuk mengetahui respon pasien terhadap rancangan media pictogram pada tahap uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan.

Pada validitas pertama terdapat 52 partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian dengan hasil validitas kuesioner r > 0,3 hanya 3 pertanyaan yang valid (nomor 5,9, dan 10) dari total pertanyaan kuesioner sejumlah 10 pertanyaan. Kemudian dilakukan revisi terhadap pertanyaan kuesioner yang

belum valid tersebut dengan mengubah kalimatnya. Pada validitas kedua menggunakan 22 partisipan yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan hasil validitas kuesioner r > 0,3 didapatkan 10 pertanyaan pada kuesioner valid.

2) Uji Reliabilitas

Pada penelitian ini dilakukan studi pendahuluan untuk memperoleh kuesioner yang valid dan layak digunakan sebagai alat ukur penelitian.

Berdasarkan uji reliabilitas, didapatkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,681 dengan jumlah sampel (n) sebesar 52, maka kuesioner ini layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Tetapi pada analisis tiap pertanyaan masih ada yang belum valid. Pada kuesioner hanya terdapat 3 pertanyaan yang valid, sehingga dilakukan revisi ulang dengan menyederhanakan kata pada pertanyaan kuesioner.

Setelah itu dilakukan validasi ulang, didapatkan hasil uji reliabilitas.

Berdasarkan hasil uji reliabilitas, didapatkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,692 yang artinya kuesioner ini layak digunakan sebagai instrumen penelitian dengan jumlah sampel sebesar 22..

3) Uji Normalitas Data

Pada penelitian ini perlu dilakukan uji normalitas untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel dalam penelitian ini kecil (<100). Sebuah data dikatakan memiliki distribusi normal jika hasil uji Shapiro-Wilk didapatkan p-value > 0,05

Tabel 8. Uji Normalitas Partisipan

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

data .270 52 .000 .780 22 .000

Berdasarkan uji normalitas data pada kolom Shapiro-Wilk menunjukkan nilai 0,780 dan nilai probabilitasnya adalah p=0,000, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi tidak normal (p<0,05).

Uji Statistik Gula Darah Puasa (GDP) Implementasi Pictogram

Analisis uji statistik GDP dilakukan untuk menghitung korelasi antara perubahan perilaku minum obat pasien DM tipe 2 pre edukasi pictogram dan post edukasi pictogram pada metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji paired t-test karena distribusi data normal. Hasil analisis uji statistik paired t-test dari data pasien DM tipe 2 berdasarkan pengukuran nilai gula darah puasa (GDP) dapat dilihat pada dibawah ini.

Tabel 9. Uji Statistik Paired Samples Test Kadar GDP Rata-

rata

Standar

Deviasi Df Sig. (2-tailed) Pair 1 pretest -

posttest 10.700 2.436 30 0.000

Uji statistik yang menggunakan paired t-test dapat dilihat bahwa nilai signifikansi = 0,00 dibandingkan dengan nilai 𝛼 = 0,05. Karena nilai probabilitas atau sig < 𝛼 (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi secara statistik berdasarkan data pengukuran nilai gula darah puasa (GDP). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa pemberian intervensi edukasi yang berupa media pictogram pada pasien DM tipe 2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku dalam cara minum obat.

Gambar 3. Diagram Kadar Gula Darah Puasa (GDP) Pre Test-Post Test

Uji Statistik Gula Darah 2 Jam Post-Prandial (GD2JPP) Implementasi Pictogram

Perhitungan korelasi terhadap perubahan perilaku minum obat pada pasien DM tipe 2 berdasarkan pengukuran gula darah 2 jam post-prandial (GD2JPP) dilakukan menggunakan uji paired t-test. Hasil analisis uji statistik paired t-test dari data pasien DM tipe 2 berdasarkan pengukuran gula darah 2 jam post-prandial (GD2JPP) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 10. Uji Statistik Paired Samples Test Kadar GD2JPP Rata-

rata

Standar

Deviasi Df Sig. (2-tailed) Pair 1 pretest -

posttest 14.300 2.706 30 0.000

Uji statistik yang menggunakan paired t-test dapat dilihat bahwa nilai signifikansi = 0,00 dibandingkan dengan nilai 𝛼 = 0,05. Karena nilai probabilitas atau sig < 𝛼 (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi secara statistik

110 120 130 140 150

A C E G I K M O Q S U W Y AA CC

GDP

PRETEST POSTTEST

berdasarkan data pengukuran nilai gula darah 2 jam post prandial (GD2JPP).

Sehingga hal ini menunjukkan bahwa pemberian intervensi edukasi yang berupa media pictogram pada pasien DM tipe 2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku dalam cara minum obat.

Gambar 4. Diagram Kadar Gula Darah 2 Jam Post-Prandial (GD2JPP) Pre Test-Post Test

B. Pembahasan

Pengembangan media edukasi pictogram pada penelitian ini dilakukan untuk membantu pasien Diabetes Melitus yang mempunyai tingkat pemahaman pasien terkait penyakitnya ataupun cara minum obatnya yang menyebabkan pasien yang sangat rendah sehingga pasien menjadi tidak patuh. Hal tersebut banyak terjadi di masyarakat sehingga pasien DM cepat mengalami komplikasi yang mengurangi kualitas hidup pasien. Pada beberapa penelitian menyatakan bahwa pasien yang mempunyai tingkat pemahaman yang rendah terhadap pengobatannya dikarenakan pengetahuan yang rendah menyebabkan tingkat kepatuhan rendah juga. Salah satunya adalah mengatakan 54,75% dari total populasi pesien yang mempunyai tingkat kepatuhan terhadap pengobatan rendah disebabkan oleh lupa, perasaan sudah lebih baik ataupun justru tidak mengurangi rasa sakit,

180 200 220 240

A C E G I K M O Q S U W Y AA CC

GD2JPP

PRETEST POSTTEST

perasaan tidak nyaman/.kerepotan. hal tersebut disebabkan oleh tingkat pemahaman pasien yang rendah terhadap penyakit ataupun pengobatannya sehingga menyebabkan progresifitas komplikasi dapat muncul dengan cepat (Basker J et al, 2016).

Hasil penelitian pengembangan media edukasi pictogram yang dijadikan sebagai sampel untuk dilakukan validasi pasien sebanyak 74 pasien. Karakteristik pasien yang bersedia sebagai sampel penelitian ini diklasifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis OAD yang digunakan apakah obat tunggal atau obat kombinasi lebih dari 1 macam obat.

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien laki-laki sebanyak 12 orang (16,22%), sedangkan jumlah pasien perempuannya 62 orang (83,78%). Hasil data tersebut menunjukkan bahwa pasien DM di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya yang berpartisipasi dalam penelitian ini, mayoritas berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut juga ditemukan pada penelitian cohort di Australia yang mengatakan bahwa perempuan memiliki tingkat kepatuhan terhadap pengobatan yang rendah sehingga resiko terjadi komplikasi tinggi (Hertz et al, 2005).

Berdasarkan usia pasien dalam penelitian ini bersedia mengisi inform consent berada dalam rentang usia 20-80 tahun. Kelompok usia yang paling banyak adalah rentang usia 41-50 tahun terdapat 22 orang (29,73 %).

Kelompok usia yang paling sedikit pada penelitian yaitu rentang usia 71-80 tahun ada 1 orang (1,34 %). Kelompok pasien dengan rentang usia aktif memiliki kecenderungan rendah tingkat kepatuhan minum obatnya dikarenakan beberapa alasan seperti kesibukan, lupa, perasaan yang sudah membaik sehingga tidak perlu minum obat lagi atau justru dikarenakan tidak ada perbaikan kondisi dengan minum obat sehingga pasien tidak teratur dalam minum obat (Basker J et al, 2016).

Sedangkan jenis obat yang diminum oleh pasien atau banyaknya jumlah obatnya pasien juga mempengaruhi kontrol gula darah pada pasien Diabetes Melitus. Kriteria pada penelitian ini dibagi atas terapi OAD tunggal sebanyak 25 pasien (33,78 %) dan terapi OAD kombinasi sebanyak 49 pasien (66,22 %). Pada penelitian lain mengatakan semakin banyak jumla obat yang dikonsumsi pasien dapat menyebabkan tingakat kepatuhan rendah dikarenakan perasaan tidak nyaman atau kerepotan dalam minum obat dengan jenis lebih dari satu (Basker J et al, 2016).

Pada penelitian pengembangan instrumen media edukasi pictogram model desain ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) ini dilakukan 2 tahapan validasi. Validasi ahli/pakar dan validasi pasien. Validasi ahli/pakar dilakukan dengan tiga orang yang berasal dari tiga bidang kepakaran yang berbeda yaitu sesuai dengan bidang penyakit endokrin atau Diabetes Melitus, kemudian bidang pengembangan instrumen pictogram, serta bidang edukasi. Proses tahapan analisis awal dilakukan validator dalam hal menganalisa serta mengevaluasi tulisan, design, gambar, isi/konten serta tema edukasi. Proses validasi berlangsung selama dua kali karena adanya perbaikan dari proses validasi ahli yang pertama. Akan tetapi setelah direvisi, instrumen pictogram dapat dikatakan valid oleh ahli/pakar sesuai dengan persyaratan pengembangan media edukasi pictogram yang terdapat pada teori pengembangan instrumen edukasi(Suryabrata, Sumadi.

2000).

Setelah media edukasi pictogram dikatakan valid oleh pakarnya, maka dilanjutkan proses validasi empiris atau validasi pasien yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi pasien yang menjadi sasaran dari pengembangan instrumen media edukasi pictogram yaitu terutama pada pasien Diabetes Melitus di lingkungan Universitas Hang Tuah Surabaya.

Proses validasi empiris menggunakan media kuesioner secara data kuantitatif untuk mengetahui tingkat pemahaman pasien terhadap pengembangan instrumen pictogram, selain itu untuk mengetahui validitas pictogram dapat digunakan sebagai instrumen media edukasi pada pasien Diabetes Melitus terkait cara minum obatnya.

Hasil data kuesioner yang digunakan sebagai alat ukur validitas media edukasi pictogram adalah r > 0,3 didapatkan dari 10 pertanyaan pada kuesioner valid setelah proses validasi yang kedua. Berdasarkan hasil uji reliabilitas, didapatkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,692 yang artinya kuesioner ini layak digunakan sebagai instrumen penelitian setelah tahapan validasi kedua (Sugiyono. 2001).

Berdasarkan hasil validasi instrumen media edukasi pictogram, maka dilakukan penelitian lanjutan dengan mengimplementasikan kepada pasien DM Tipe 2 dengan hasil analisis statistik paired t-test pengaruh edukasi dengan media pictogram terhadap perubahan nilai GDP sebelum dan sesudah diedukasi didapatkan nilai rata-rata pre-post sebesar 10.700±2.436 dengan nilai signifikansi p=0,00. Sedangkan hasil analisis statistik paired t- test pada pengaruh intervensi edukasi berupa pictogram terhadap perubahan nilai GD2JPP sebelum dan sesudah diedukasi didapatkan nilai rata-rata pre- post sebesar 14.300±2.706 dengan nilai signifikansi p=0,00. Nilai signifikansi dari data GDP dan GD2JPP menunjukkan nilai p<0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi edukasi yang berupa media pictogram pada pasien DM tipe 2 memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku dalam cara minum obat oral antidiabetik (OAD) yang akan meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi.

Menurut Nugraheni dkk (2015) menyebutkan bahwa pemberian konseling dengan alat bantu meningkatkan kepatuhan dan meningkatkan

tercapainya target terapi luaran klinik (GDP dan GDPP) dengan nilai rerata penurunan GDP dan GDPP kelompok intervensi sebesar 26,96±28,42 mg/dL dan 26,88±65,49 mg/dL (p<0,05). Penelitian yang hampir sama dilakukan dengan metode terkontrol secara acak (RCT) untuk menilai efektivitas intervensi pictogram di antara 100 pasien DM Tipe 2 yang dirujuk ke klinik diabetes di kota Kerman, menyebutkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan perawatan diri (p <0,0001) dan terjadi penurunan kadar gula darah puasa (GDP) dan HbA1c pada kedua kelompok, serta terjadi peningkatan pengetahuan pada kedua kelompok setelah intervensi.

Pemberian edukasi kepada pasien yang berupa pictogram dapat memberikan pengaruh perubahan pada perilaku pasien dalam minum obat oral antidiabetik (OAD) sehingga meningkatkan kepatuhan terapi pasien. Hal tersebut didasari dari perubahan perilaku sesuai dengan teori Bloom. Seorang psikologi pendidikan yang bernama Bloom membagi ranah kognitif ke dalam enam tingkatan atau kategori, yaitu: pengetahuan (knowlegde), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Berdasarkan teori Bloom tersebut, penelitian ini diperlukan pendekatan dan penyesuaian terhadap pasien dengan memberikan pengetahuan yang sama kepada pasien yang berguna untuk meningkatkan pemahaman pasien sehingga diharapkan terjadinya perubahan perilaku kesehatan. Perubahan perilaku yang ditunjukkan pasien akan meningkatkan kesadaran pasien dalam mengontrol glukosa darah pasien yang kemudian akan diterapkan sampai pada akhir penelitian ini ataupun setelah berakhirnya penelitian. Perubahan yang terjadi pada kontrol kadar gula darah pasien ini dapat mencegah terjadinya komplikasi akibat penyakit DM Tipe 2 yang diderita pasien dengan diberikannya media edukasi. Hal ini sesuai dengan pedoman PERKENI (2015) yang menyatakan bahwa dengan adanya

pengelolaan gaya hidup dapat menurunkan risiko komplikasi pada penyadang Diabetes Melitus Tipe 2.

Pada penelitian ini masih memiliki keterbatasan-keterbatasan yang masih dapat ditingkatkan kembali dengan melakukan penelitian lanjutan.

Proses pengembangan instrumen sebaiknya dilakukan dengan model design ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) (Suryabrata, Sumadi. 2000).

BAB V KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan media edukasi pictogram telah dapat dinyatakan valid melalui proses validasi ahli dan validasi pada pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sesuai. Oleh karena itu, pictogram dapat digunakan sebagai instrumen media edukasi untuk pasien Diabetes Melitus yang mempunyai tingkat pemahaman rendah dikarenakan pendidikan rendah terhadap cara minum obat diabetes oral di lingkungan Universitas Hang Tuah. Hasil implementasi media edukasi Pictogram menunjukkan p=0,00 (α<0,05;CI95%) bedasarkan nilai gula darah puasa dan gula darah dua jam post prandial pasien DM Tipe 2, sehingga membuktikan adanya pengaruh terhadap perubahan perilaku peningkatan kepatuhan minum obat.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat pengaruh penggunaan media edukasi pictogram pada pasien Diabetes Melitus terhadap kepatuhan pasien dalam hal terapinya atau cara minum obat pasien sehingga menentukan tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus dengan metode RCT dengan lama waktu penelitian lebih dari 1 tahun sehingga mendapatkan sampel penelitian lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

ADA (American Diabetes Association), 2020, Standards of Medical Care in Diabetes, Diabetes Care, 43(Suppl. 1):S1-S2. | https://doi.org/10.2337/dc20-SINT

ADA (American Diabetes Association), 2018, Standards of Medical Care in Diabetes, Diabetes Care, 41(Suppl. 1):S1-S2. | https://doi.org/10.2337/dc18-SINT01

ADA (American Diabetes Association), 2016, Standards of Medical Care in Diabetes, Diabetes Care, 39(Suppl. 1):S1-S2. DOI: 10.2337/dc16- S001

ADA (American Diabetes Association). 2014. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care

ADA (American Diabetes Association), 2011, Standards for Medical Care in Diabetes, Diabetes Care, 34(Suppl 1) : S11-S61.

Adikusuma E, Qiyaam N. 2017. Hubungan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antidiabetik Oral Terhadap Kadar Hemoglobin Terglikasi (HbA1c) Pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina 2(2),279-286.

Askandar Tjokroprawiro. (2002). Diabetes Mellitus Klasifikasi Diagnosis dan Terapi, Edisi ketiga PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Barros I, Alcantara T, Mesquita, Santos Anne, et al. 2013. The Use of Pictograms In The Health Care: A Literature Review. Research In Social and Administrative Pharmacy, pp 1-6.

Basker J, Mammen JA, Sreethu P, Thomas M, Mahesh NM, Williams F, Chandrashekara. 2016. Assessment Of Diabetic Knowledge and Medication Adherence in Type 2 Diabetes Patients. Indo American Journal of Pharmaceutical Research. Vol.6(02) p.4479

Bernardini, C., Ambrogi, V., Peroli, L.C., Tiraltri, M., & Fardella, G. (2000).

Comprehensibility of the package leaflets of all medicinal products for human use: a questionnaire survey about the use of symbols and pictograms. Pharmacological Research, 41, 6, 679-688.

Blaschke TF, Osterberg L, Vrijens B, Urquhart J. 2012. Adherence to medications: insights arising from studies on the unreliable link between prescribed and actual drug dosing histories. Annu Rev Pharmacol Toxicol.;52:275–301

Canadian Diabetes Association (CDA). 2013. Definition, classification and diagnosis of diabetes, prediabetes and metabolic syndrome. Canadian Journal of Diabetes, Vol. 37, pp: 8-11

Chakkera HA, Weil EJ, Castro J, et al. 2009. Hyperglycemia during the immediate period after kidney transplantation. Clin J Am Soc Nephrol;4:853–859

Craig ME, Hattersley A, Donaghue KC. ISPAD Clinical Practice Consensus Guideline: Compendium-Definition, Epidemiology and Classification of Diabetes in Children and Adolescents. Pediatric Diabetes. 2011 [cited June 29, 2013];10(12):3-12. Available from:

http://www.ispad.org/

Davis, Keith dan John W, Newsroom, 2006. Seri Ilmu dan Manajemen Bisnis. (terjemahan Sofyan Cikmat), Elex Media computindo, Jakarta.

Delamater, A.M., 2006, Improving Patient Adherence, Clinical Diabetes 24 (2):. p.71-72

Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Penyakit Diabetes Melitus. Jakarta : Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes Departemen Kesehatan RI. Hal 27-48.

DiMatteo MR, Giordani PJ, Lepper HS, Croghan TW. 2002. Patient adherence and medical treatment outcomes: a meta-analysis. Med Care.;40(9):794–811

DiPiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., & Posey, L. M. 2014. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach 9th edition. USA: The McGraw - Hill Companies, Inc. p. 1205–1242 Doucette D, Vaillancourt R, Berthenet M, et al. 2014. Validation of

Pictogram-Based Diabetes Education Tool In Counselling Patients with Type 2 Diabetes. CPJ/RPC, Vol 147, No 6

Dowse R & Ehlers MS. 2003. The influence of education on the interpretation of pharmaceutical pictograms for communicating medicine instruction. International Journal of Pharmacy Practice,11. 11-18

Dalam dokumen PDF MONOGRAF - dspace.hangtuah.ac.id (Halaman 70-81)

Dokumen terkait