• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBERIKAN OBAT SECARA TOPIKAL A. PENGERTIAN

Dalam dokumen memasang kateter (Halaman 33-41)

Memberikan obat secara local pada kulit atau pada membrane mukosa pada area mata, hidung, lubang telinga, vagina dan rektum

B. TUJUAN

Untuk mendapatkan reaksi local dari obat tersebut C. MACAM-MACAM PEMBERIAN OBAT TOPIKAL

1. MEMBERIKAN OBAT TOPIKAL PADA KULIT a. Pengertian

Memberikan obat secara lokal pada kulit b. Tujuan

Memperoleh reaksi lokal pada kulit c. Persiapan Alat

1) Obat topical sesuai kebutuhan (krim, lotion, aerosol, bubuk, sray) 2) Buku obat

3) Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)

4) Sarung tangan sekali pakai atau steril (bila perlu) 5) Lidi kapas atau tong spatel

6) Baskom dengan air hangat, waslap, handuk, dan sabun basah 7) Kassa balutan, penutup plastic, dan plester ( sesuai kebutuhan) d. Prosedur Pelaksanaan

1) Tahap Pra interaksi

a) Mengecek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja, dan tempat pemberian

b) Mencuci tangan.

c) Mengidentifikasi pasien dengan benar.

d) Menyiapkan alat.

e) Mendekatka alat kedekat pasien 2) Tahap Orientasi

a) Mengucapkan salam, menyapa nama pasien dan memperkenalkan diri.

b) Menyampaikan kontrak waktu, tempat dan topik c) Menjelaskan tujuan/prosedur.

d) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

3) Tahap kerja

1) Menjaga privacy.

2) Mengajak pasien membaca basmalah dan berdoa pada Allah.

3) Memberikan posisi pada klien yang nyaman dan tepat, pastikan hanya membuka area yang akan diberi obat.

4) Menginspeksi kondisi kulit. Mencuci area yang sakit, melepaskan semua debris dan kerak pada kulit (gunakan sabun basah ringan bila perlu).

5) Mengeringkan dengan kassa steril atau biarkan area kering oleh udara.

6) Bila kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agen topical saat masih basah.

7) Menggunakan sarung tangan bila ada indikasi.

8) Mengoleskan agen topical pada area yang ditentukan.

a). Krim, salep, lotion yang mengandung minyak

(1) Letakkan satu sampai dua sendok teh obat di telapak tangan, kemudian lunakkan dengan menggosok lembut di antara kedua tangan.

(2) Usapkan merata di atas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah pertumbuhan bulu.

(3) Jelaskan pada pasien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian.

b). Lotion mengandung suspensi

(1) Kocok wadah dengan kuat agar suspensi dapat tercampur dengan baik.

(2) Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan kecil dan oleskan pada kulit dengan menekan merata searah pertumbuhan bulu.

(3) Jelaskan pada pasien bahwa area yang diberi lotion akan terasa dingin dan kering.

c). Bubuk

(1)Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh

(2)Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit seperti di antara ibu jari atau bagian bawah lengan

(3)Bubuhkan secara tipis pada area tersebut (pemberian secara tipis membuat bubuk lebih mudah diserap)

d). Sprai aerosol

(1) Kocok wadah dengan keras untuk mencampurkan isi agar distribusi sprai halus

(2) Baca label mengenai jarak yang dianjurkan untuk memegang sprai menjauhi area (biasanya 15-30 cm)

(3) Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta pasien untuk memalingkan wajah dari arah sprai untuk menghindari inhalasi sprai oleh pasien (4) Semprotkan obat dengan merata pada bagian

yang sakit (pada beberapa kasus penyemprotan ditentukan waktunya sampai beberapa detik).

9) Menutup area kulit dengan balutan untuk mencegah obat terlepas dari kulit (bila ada advis dokter).

10) Membantu pasien pada posisi yang nyaman, mengenakan kembali pakaian dan tutup dengan linen tempat tidur sesuai keinginan.

4) Terminasi

a) Mengevaluasi tindakan yang dilakukan.

b) Menyampaikan rencana tindak lanjut c) Merapikan pasien dan lingkungan.

d) Mengajak pasien membaca Hamdalah dan berdoa pada Allah.

e) Berpamitan kepada pasien dan menyampaikan kontrak yang akan datang

f) Membereskan alat dan mengembalikan alat ketempat semula.

g) Mencuci tangan.

h) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

2. MEMBERIKAN OBAT MATA a. Pengertian

Memberikan obat pada mata dalam bentuk cair atau ointment (salep) b. Tujuan

1) Mengobati gangguan mata

2) Mendilatasikan pupil pada pemeriksaan struktur internal mata 3) Mencegah kekeringan pada mata

c. Persiapan Alat

1) Botol obat dengan penetes steril atau salep dengan tube (tergantung jenis sediaan obat)

2) Buku obat

3) Bola kapas kering steril (stuppers) 4) Bola kapas basah (normal saline) steril 5) Baskom cuci dengan air hangat 6) Penutup mata (bila perlu) 7) Sarung tangan steril d. Prosedur Pelaksanaan

1) Tahap Pra interaksi

a) Mengecek advis dokter untuk memastikan nama obat, dosis, waktu pemberian dan rute.

b) Mencuci tangan

c) Mengidentifikasi pasien cengan benar.

d) Menyiapkan alat.

e) Mendekatkan alat kedekat pasien 2) Tahap Orientasi

a) Mengucapkan salam, menyapa nama pasien dan memperkenalkan diri.

b) Menyampaikan kontrak waktu, tempat dan topik c) Menjelaskan tujuan/prosedur.

d) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

3) Tahap kerja

a) Menjaga privacy (bila perlu)

b) Mengajak pasien membaca basmalah dan berdoa pada Allah

c) Mengatur pasien pada posisi terlentang atau duduk dengan hiperekstensi leher untuk mempermudah akses ke mata dan meminimalkan drainase obat melalui duktus air mata.

d) Memakai sarung tangan steril

e) Dengan kapas basah steril, membersihkan kelopak mata dari dalam ke luar

f) Meminta pasien melihat ke langit-langit untuk mengurangi rangsangan reflek berkedip

g) Memberikan obat mata

(1) Meneteskan obat tetes mata :

(a) Dengan tangan kanan di dahi pasien, Pegang penetes mata yang berisi obat kurang lebih satu sampai dua cm di atas sacus konjungtiva, sementara tangan kiri menarik kelopak mata ke bawah

(b) Teteskan sejumlah obat yang diresepkan ke dalam sacus konjungtiva untuk memberikan penyebaran obat yang merata ke seluruh mata. Sacus konjungtiva normalnya menahan 1-2 tetes

(c) Bila pasien berkedip atau menutup mata atau bila tetesan jatuh ke pinggiran luar kelopak mata, ulangi prosedur

(d) Setelah meneteskan obat, minta pasien untuk menutup mata dengan perlahan

(e) Berikan tekanan yang lembut pada duktus nasolakrimal selama 30 – 60 detik

(2) Memasukkan salep mata :

(a) Pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata, Pencet tube sehingga memberikan aliran tipis sepanjang tepi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.

(b) Minta pasien melihat ke bawah (c) Buka kelopak mata atas

(d) Berikan aliran tipis sepanjang kelopak mata atas pada konjungtiva bagian dalam. Biarkan pasien memejamkan mata dan menggosok kelopak mata secara perlahan dengan gerakan sirkuler menggunakan bola kapas

(e) Bila terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, dengan perlahan usap dari bagian dalam ke luar kantus

h) Bila pasien mempunyai penutup mata, pasang penutup mata yang bersih diatas pada mata yang sakit sehingga seluruh mata terlindungi. Plester dengan aman tanpa memberikan penekanan pada mata.

i) Melepas sarung tangan 4) Terminasi

a) Mengevaluasi tindakan yang dilakukan.

b) Menyampaikan rencana tindak lanjut c) Merapikan pasien dan lingkungan.

d) Mengajak pasien membaca Hamdalah dan berdoa pada Allah.

e) Berpamitan kepada pasien dan kontrak waktu yang akan datang

f) Membereskan alat dan mengembalikan alat ketempat semula.

g) Mencuci tangan.

h) Catat obat, konsentrasi, jumlah tetesan, waktu pemberian, dan mata (kiri, kanan atau keduanya) yang menerima obat.

3. MEMBERIKAN OBAT TETES TELINGA a. Pengertian

Memberikan obat pada telinga melalui kanal eksternal,dalam bentuk cair

b. Tujuan

1) Memberikan efek terapi lokal (mengurangi peradangan, membunuh organisme penyebab infeksi pada kanal telinga eksternal)

2) Menghilangkan nyeri

3) Melunakkan serumen agar mudah di ambil c. Persiapan Alat

1) Botol obat dengan penetes steril 2) Buku obat

3) Cotton bud 4) Normal saline

5) Sarung tangan (bila perlu) d. Prosedur Pelaksanaan

1) Tahap Pra interaksi

a) Mengecek kembali pengobatan mengenai jenis obat, waktu, jumlah, dosis dan pada telinga bagian mana obat harus diberikan

b) Sediakan asisten bila diperlukan, untuk mencegah cidera pada bayi atau anak kecil

c) Mencuci tangan.

d) Menyiapkan alat.

e) Mengidentifikasi pasien dengan benar f) Mendekatkan alat kedekat pasien

2) Tahap Orientasi

a) Mengucapkan salam, menyapa nama pasien dan memperkenalkan diri.

b) Menyampaikan kontrak waktu, tempat dan topik c) Menjelaskan tujuan/prosedur.

d) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

3) Tahap kerja

a) Menjaga privacy bila perlu

b) Mengajak pasien membaca basmalah dan berdoa pada Allah

c) Atur posisi pasien miring ke samping (side lying) dengan telinga yang akan diobati pada bagian atas

d) Bersihkan lubang telinga dan daun telinga

e) Gunakan sarung tangan bila dicurigai terdapat infeksi f) Dengan menggunakan cotton bud yang dibasahi cairan,

bersihkan daun telinga dan meatus auditory

g) Hangatkan obat dengan tangan atau rendam obat ke dalam air hangat dalam waktu yang singkat

h) Tarik daun telinga ke atas dan ke belakang (untuk dewasa dan anak-anak di atas 3 tahun), tarik daun telinga ke bawah dan ke belakang (untuk bayi)

i) Masukkan sejumlah tetes obat yang tepat sepanjang sisi kanal telinga

j) Berikan penekanan yang lembut beberapa kali pada tragus telinga

k) Minta pasien untuk tetap berada pada posisi miring selama 5 menit untuk mencegah obat mengalir keluar dari telinga l) Kaji respon pasien

m) Kaji karakter dan jumlah pengeluaran, adanya ketidaknyamanan dan sebagainya. Lakukan segera setelah obat dimasukkan dan ulangi lagi pada saat efek obat telah bekerja.

4) Terminasi

a) Mengevaluasi tindakan yang dilakukan.

b) Menyampaikan rencana tindak lanjut c) Merapikan pasien dan lingkungan.

d) Mengajak pasien membaca hamdalah dan berdoa pada Allah.

e) Berpamitan kepada pasien dan kontrak waktu yang akan datang

f) Membereskan alat dan mengembalikan alat ketempat semula.

g) Mencuci tangan.

h) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

4. MEMBERIKAN OBAT TETES HIDUNG a. Pengertian

Memberikan obat tetes malalui hidung b. Tujuan

1) Mengencerkan sekresi dan memfasilitasi drainase dari hidung 2) Mengobati infeksi pada rongga hidung dan sinus

c. Persiapan Alat

1) Botol obat dengan penetes steril 2) Buku obat

3) Sarung tangan (bila perlu) d. Prosedur pelaksanaan

1) Tahap Pra interaksi

a) Mengecek kembali order pengobatan mengenai jenis pengobatan, waktu, jumlah dan dosis dan pada hidung bagian mana obat harus diberikan

b) Sediakan asisten bila diperlukan untuk mencegah cidera pada bayi dan anak kecil

c) Mencuci tangan.

d) Menyiapkan alat.

2) Tahap Orientasi

a) Mengucapkan salam, menyapa nama pasien dan memperkenalkan diri.

b) Menyampaikan kontrak waktu, tempat dan topik c) Menjelaskan tujuan/prosedur.

d) Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

3) Tahap kerja

a) Menjaga privacy bila perlu

b) Mengajak pasien membaca basmalah dan berdoa pada Allah

c) Atur posisi pasien berbaring supinasi dengan kepala hiperekstensi di atas bantal (untuk pengobatan sinus Ethmoid dan Sphenoid) atau posisi supinasi dengan kepala hiperekstensi dan miring ke samping (untuk pengobatan sinus Maxilaris dan Frontal)

d) Bersihkan lubang hidung

e) Gunakan sarung tangan bila dicurigai terdapat infeksi f) Masukkan sejumlah tetes obat yang tepat pada bagian

tengah konka superior tulang etmoidalis.

g) Minta pasien untuk tetap pada posisi ini selama 1 menit untuk mencegah obat mengalir keluar dari rongga hidung h) Kaji respon pasien

i) Kaji karakter dan jumlah pengeluaran, adanya ketidaknyamanan dan sebagainya. Lakuka segera setelah obat dimasukkan dan ulangi lagi pada saat efek obat telah bekerja

4) Terminasi

a) Mengevaluasi tindakan yang dilakukan.

b) Menyampaikan rencana tindak lanjut c) Merapikan pasien dan lingkungan.

d) Mengajak pasien membaca hamdalah dan berdoa pada Allah.

e) Berpamitan kepada pasien dan kontrak waktu yabg akan datang.

f) Membereskan alat dan mengembalikan alat ketempat semula.

g) Mencuci tangan.

h) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

Dalam dokumen memasang kateter (Halaman 33-41)

Dokumen terkait