BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Temuan Khusus
3. Hambatan pembelajaran dalam penanaman
Dari hasil wawancara dan hasil observasi yang peneliti lakukan di MTs Al Mubarok Uman Agung Bandar Mataram menjadi kendala dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan pada peserta didik ada yang berasal dari dalam sekolah (internal) dan ada juga yang berasal dari luar sekolah (eksternal) yang jabarannya sebagai berikut:
a. Perbedaan latar belakang peserta didik
Perbedaan latar belakang kehidupan peserta didik memberikan dampak yang sangat besar dalam kegiatan penanaman nilai-nilai kebangsaan peserta didik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Peserta didik tidak hanya berasal dari satu latar belakang
kehidupan, namun sangat beragam, ada yang berasal dari keluarga petani, tukang, pegawai negeri sipil dan TKI. Tentunya lain latar belakang lain pula pendidikan yang diterima oleh peserta didik di keluarga dan lingkungannya, maka guru Pendidikan Agama Islam memiliki pengetahuan untuk mendidikan peserta didik berdasarkan kebutuhan.
Keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak di sekolah.
b. Kurangnya Dukungan Orang Tua
Dukungan orang tua tentu tidak bisa dilepaskan dalam kegiatan penanaman nilai-nilai kebangsaan peserta didik, karena sebagaimana diketahui bahwa anak menghabiskan waktunya lebih banyak bersama orang tua dibandiingkan denga gurunya di lingkungan sekolah. Hambatan yang dialami dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di MTs Al Mubarok Uman Agung Bandar Mataram adalah kurangnya dukungan orang tua karena sebagaimana diketahui bahwa anak menghabiskan waktunya lebih banyak bersama orang tua dibandiingkan dengan gurunya di lingkungan sekolah.
Berdasarkan pengamatan peneliti, faktor penghambat kegiatan pembelalajaran di MTs Al Mubarok Uman Agung Bandar Mataram dalam penanman nilai-nilai kebangsaan adalah faktor keluarga seperti yang
ungkapkan oleh Ahmad Sobari, S.Pd. selaku guru mata pelajaran sejarah pendidikan agam islam dalam wawancara sebagai berikut :
“Jika dukungan dari pihak orang tua kurang, maka akan menjadi tugas yang berat bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanman nilai- nilai kebangsaan peserta didik di sekolah karena selain orang tua guru juga sebagai salah satu penentu siswa mengamalkan nilai kebangsaanya” (Wawancara. 3. 17 -Januari - 2018)“
Sama halnya yang di sampaikan oleh Bapak Dedi Mustofa selaku guru mata pelajaran akidah aklhak MTs Al Mubarok Uman Agung Bandar Mataram sebagai berikut:
“Orang tua adalah pokok dari segala pembelajaran, jika orang tua sudah mengabaikan maka anak yang akan menjadi beban Negara, leh sebab itu peran seorang pendidik adalah sebagai pengganti orang tua dalam memberikan kasih sayang baik berupa ilmu pengetahuan maupun aklhak. (Wawancara. 6. 20 - Januari - 2018)“
c. Kurangnya Kerjasama dengan Guru Lain
Beban pembelajaran dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan terhadap peserta didik tidak hanya berada pada guru Pendidikan Agama Islam semata, namun harus ada keterlibatan guru lainnya di lingkungan
sekolah. Kerjasama antara guru Pendidikan Agama Islam dengan guru- guru yang lain kurang baik.
Dalam wawancara kepda salah satu guru pendidikan agam islam, Bapak Sunardi,S.Pd.I mengtakan bahwa sebagai berikut:
“Guru-guru lain kurang perhatian terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah.Kurang terlibatnya guru ini diakibatkan guru masih beranggapan bahwa yang memiliki tugas dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik adalah guru Pendidikan Agama Islam dan guru Bimbingan Konseling saja, sehingga terkadang ada timpang tindih dalam proses pembinaan akhlak peserta didik”.
(Wawancara .9. 3-februari-2018)“
d. Kurangnya Minat dan Kesadaran Peserta Didik
Dari hasil observasi dan wawancara tentang pembelajaran pendidikan agam islam dalam penanaman nilai-nialai kebangsaan adalahKurangnya minat dan kesadaran peserta didik terhadap kegiatan- kegiatan sekolah terutama kegiatan agama. Yang paling penting dan menentukan hasil dalam proses penanaman nialai-nilai kebangsaan peserta didik di lingkungan sekolah adalah kesadaran yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri, namun hal ini justru yang dianggap masih sangat kurang oleh guru. Maka masih diperlukan usaha yang lebih keras lagi dalam membina akhlak peserta didik di sekolah. Perlu strategi
dan metode yang tepat agar mampu menarik dan merubah pola pikir peserta didik tentang agama.
e. Perkembangan IPTEK
Perkembangan ilmu pengatahuan dan tekhnologi yang semakin pesat dan tidak dimanfaatkan secara layak atau benar oleh peserta didik justru akan membawa peserta didik pada tindakan dan perilaku di luar aturan dan norma yang berlaku sehingga dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam menyerap ilmu yang berkaitan nilai- nialai kebangsaan.
Seperti halnya dalam wawancara kepada ibu Aini Nur Ma‟rifah selaku gruru mata pelajaran bahasa Arab di MTs Al Mubarok Uman Agung Bandar Mataram terkait faktor kurangnya dukungan terhadap penanaman nilai-nilai kebangsaan pendidikan agama islam sebagai berikut:
“Dengan adanya perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mencari ilmu pengetahuan yang lebih luas bukan untuk disalah gunakan kehal-hal yang negatif yang dapat merusak akhlak seseorang. (Wawancara .5. 11 – Februari - 2017)“
f. Fasilitas yang Kurang Memadai
Fasilitas adalah sesuatu alat atau barang yang mendukung berjalannya suatu kegiatan pendidikan. Untuk melakukan shalat
berjamaah atau shalat dhuha peserta didik mengalami kendala yaitu alat shalat yang kurang memadai untuk jumlah siswa yang ada. Dan mushola yang ada di sekolah sangat sempit tidak bisa menampung banyak peserta didik,meja belajar yang masih kuran,dan lain sebagainya.
Dari hasil wawancara kepada salah satu guru fikih bapak Abdurahman,S.Pd.I selaku yang mengendalikan sararna dan prasarana terkait masalah fasilitas adalah sebagai berikut:
“memang sarana dan prasarana suadah lumayak cukup tetepi masih sangat banyak kekuranganya seperti, buku,fasilitas belajar, mushola, itu semua masih dalam tugas kami bersama untukmengatasinya. (Wawancara .7. 16 – Februari - 2017)“
Selanjutnya bagai mana cara mengatasi masalah di atas:
“Solusi yang baik untuk mengatasi hambatan diatas adalah harus adanya kerjasama yang baik antara guru pendidikan agama Islam dengan guru mata pelajaran yang lainya dan juga kerjasama dengan orang tuapeserta didik karena yang bisa membantu peserta didik dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan peserta didik di sekolah adalah seorang guru dan yang dapat membantu peserta didik membentuk akhlak mulia di rumah adalah orang tua. Dengan demikian hambatan-hambatan yang lain bukan lagi menjadi masalah dan akan terselesaikan dengan baik jika adanya kerjasama antara pihak sekolah dan pihak orang tua di rumah. (Wawancara .7. 16 – Februari - 2017)“