BAB II LANDASAN TEORI
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan. Nilai adalah bagian dari potensi manusiawi seseorang, yang berada dalam dunia rohaniah (batiniah, spiritual), tidak berwujud, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, dan sebagainya. Namun sangat kuat pengaruhnya serta penting peranannya dalam setiap perbuatan dan penampilan seseorang. Nilai adalah suatu pola normatif, yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi sekitar bagian- bagiannya.1
Nilai tersebut lebih mengutamakan berfungsinya pemeliharaan pola dari dua definisi tersebut dapat kita ketahui dan dirumuskan bahwasanya nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup system kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang tidak pantas atau yang pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercayai. Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Suatu nilai ini menjadi pegangan bagi seseorang yang dalam hal ini adalah siswa atau
1 KBBI Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada hlm 57
peserta didik, nilai ini nantinya akan diinternalisasikan, dipelihara dalam proses belajar mengajar serta menjadi pegangan hidupnya.
Memilih nilai secara bebas berarti bebas dari tekanan apapun.
Nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini bukanlah suatu nilai yang penuh bagi seseorang. Situasi tempat, lingkungan, hukum dan peraturan dalam sekolah, bisa memaksakan suatu nilai yang tertanam pada diri manusia yang pada hakikatnya tidak disukainya-pada taraf ini semuanya itu bukan merupakan nilai orang tersebut. Sehingga nilai dalam arti sepenuhnya adalah nilai yang kita pilih secara bebas. Yang dalam hal ini adalah pengaktualisasian nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran yang nantinya disajikan beberapa nilai-nilai yang akan diterapkan dan dilaksanakan secara langsung dalam proses belajar mengajar oleh guru.
Sehingga dari situlah realisasi dari pada nilai itu terlaksana dengan baik.
Nilai adalah sutu prangkat kenyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan maupun prilaku.2
Nilai adalah merupakan inti dari setiap kebudayaan. Dalam hal ini mencakup nilai moral yang mengatur aturan-aturan dalam kehidupan bersama. Moral itu sendiri mengalami perkembangan yang diawali sejak dini. Perkembangan moral seseorang merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian sosial dan pedidikan, untuk itu pendidikan
2 Zakiyah Drajat. Metode Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.
1995
moral sedikit banyak akan berpengaruh pada sikap atau perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.3
Para ahli mengartikan nilai sebagai “harga” yang melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum dan bentuk organisasi sosial yang dikembangkan manusia. Lain lagi dengan seorang ekonom yang melihat nilai sebagai “harga” suatu produk dan pelayanan yang dapat diandalkan untuk kesejahteraan manusia.4
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan nilai kebangsaan teridentifikasi sejumlah nilai sebagai berikut :
a. Religius diartikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Jujur diartikan sebagai Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c. Toleransi diartikan sebagai Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku etnis, sikap, pandapat, dan tindakan orang lain yang berbeda darinya.
d. Disiplin diartikan sebagai Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
3aditono. S.R. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. (Gadjah Mada University Press. Yogyakarta: 2002). hal. 168.
4 Badri Yatim Bung Karno,Islam dan Nasionalisme, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1999), hlm. 58.
e. Mandiri diartikan sebagai sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas.
f. Demokrasi diartikan sebagai cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai samahak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
g. Semangat kebangsaan diartikan sebagai cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun individu.
h. Cinta tanah air diartikan sebagai cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
i. Menghargai prestasi diartikan sebagai sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
j. Peduli lingkungan diartikan sebagai sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakana alam yang sudah terjadi.
k. Peduli sosial diartikan sebagai sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
l. Tanggung jawab diartikan sebagai sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya) , Negara dan Tuhan Yang Maha Esa
Pada kenyataannya masih banyak siswa sekolah menengah pertama (SMP/MTs) yang belum memliki jiwa nasionalisme dan patriotisme.
Mengakibatkan masalah-masalah timbul di kelas maupun di sekolah yaitu:
Berkembangnya rasa tidak hormat kepada guru, orang tua, dan pemimpin, serta kurangnya sopan santun dikalangan siswa karena berawal dari tidaknya menghargai jasa para Pahlawan, meremehkan lagu kebangsaan
“Indonesia Raya”, acuh tak acuh pada Negara Indonesia dan memandang rendah Sang Saka bendera “Merah Putih”. Berkembangnya pula sikap siswa yang tidak beretika baik, berkarakter tidak sehat sering kali melakukan hal-hal yang negative meliputi: Nakal, Tidak teratur, Provokator, Penguasa Pembangkang. Yang tidak mencerminkan karakter Bangsa Indonesia yang bercermin dari kegagalan dalam penanaman nilai- nilai kebangsaan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penanaman nilai-nialai kebangsaan pada dasarnya adalah usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan serta perbaikan sifat/watak seseorang yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan. penanaman nilai–nialai kebangsaan menekankan pada pendekatan praktis, pengembangan sikap,bertanggung jawab terhadap kemampuan dan kecakapan pembiasaan tingkah laku yang baik yang tertanam dalam jiwa, dan sebuah proses penanamkan nilai-nilai Islam, serta menumbuhkan personalitas sehingga terbentuk pribadi yang luhur dan berperilaku mulia.