D. METODE ESTIMASI RELIABILITAS TES
1. Metode Tes dan Tes Ulang (Test-retest)
60
Pendekatan tes dan tes ulang dilakukan dengan menyajikan tes dua kali pada satu kelompok subjek dengan tenggang waktu di antara kedua penyajian tersebut. Asumsi yang menjadi dasar dalam cara ini adalah bahwa suatu tes yang reliabel tentu akan menghasilkan skor-tampak yang relatif sama apabila dikenakan dua kali pada waktu yang berbeda. Makin besar perbedaan variasi skor subjek antara pengenaan itu berarti makin sulit untuk mempercayai bahwa tes itu memberikan hasil ukur yang konsisten.
Koefisien reliabilitas dengan cara ini diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subjek pada pemberian tes yang pertama dan distribusi skor subjek pada pemberian tes yang kedua. Koefisien korelasi yang memperlihatkan keeratan variasi skor antara kedua pemberian tes itu merupakan koefisien reliabilitas tes yang bersangkutan. Formula yang lazim dipergunakan untuk mencari koefisien reliabilitas tes dan tes ulang adalah teknik korelasi Pearson Product Moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
N X ∑ XY - (∑X) (∑Y)
r
XY =
√
{N (∑X2) –(∑X)2}{N (∑Y2) – (∑Y)2}Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan lengkap, berikut akan disajikan aplikasi penggunaan teknik korelasi Pearson Product Moment untuk menghitung besarnya koefisien reliabilitas dengan metode tes dan tes ulang.
Contoh: Hasil pelaksanaan tes dan tes ulang kemampuan melakukan tes lempar lembing dari 10 siswa.
Tabel 2: Hasil analisis koefisien korelasi metode tes dan tes ulang Subjek Skor Tes Pertama
(X1)
Skor Tes Kedua (X2)
1 20 22
2 19 20
3 22 22
4 17 18
5 24 24
6 17 16
7 20 21
8 15 17
9 24 23
10 19 19
Koefisien Korelasi (rx1x2 ) = 0,933
61
Dari ilustrasi data di atas, dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment diperoleh koefisien reliabilitas tes sebesar 0,933. Koefisien reliabilitas setinggi itu pada umumnya dianggap sebagai indikasi adanya tingkat kestabilan pengukuran dari tes lempar lembing tersebut.
Dalam menggunakan metode tes dan tes ulang ini harus diperhatikan pula kemungkinan adanya perubahan kondisi subjek sejalan dengan berbedanya waktu di antara kedua penyajian tes. Perubahan kondisi subjek yang terjadi tidak pada keseluruhan subjek dan tidak searah sedikit banyak akan ada pengaruhnya terhadap koefisien reliabilitas yang diperoleh. Sebagai contoh, apabila siswa tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tes, dalam keadaan lelah, atau memang tidak siap ketika dikenai tes pertama kali, lalu dia belajar kemudian siap atau ia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tes tersebut, skor siswa pada kedua pemberian tes akan banyak berbeda. Kalau hal itu terjadi pada sebagian siswa dan perubahan skor itu tidak searah bagi semua siswa, reliabilitas yang ditunjukkan oleh korelasi antara kedua pemberian tes tidak akan tinggi. Koefisien tersebut bukan merupakan estimasi yang benar terhadap reliabilitas tes, melainkan merupakan estimasi yang lebih rendah daripada semestinya (under estimate). Itulah salah satu contoh kasus terjadinya carry over effect (efek bawaan) yang sering kali menjadi problem serius dalam metode tes dan tes ulang.
Metode tes dan tes ulang dapat dipergunakan untuk menentukan reliabilitas tes khususnya dapat diaplikasikan dalam tes pendidikan jasmani/tes psikomotor. Jika metode tes dan tes ulang ini dipergunakan dalam tes psikomotor, hendaknya perlu diperhatikan beberapa faktor, di antaranya: faktor kelelahan siswa, urutan pelaksanaan tes terlebih jika tes yang diujikan merupakan rangkaian dari beberapa tes (batterry test), dan ketersediaan waktu.
Namun sebaliknya, metode ini kurang tepat dipergunakan untuk menentukan reliabilitas tes ranah kognitif, seperti: tes teori dalam pendidikan jasmani, karena siswa akan mengingat soal-soal pada pelaksanaan tes yang pertama (Phillips, 1979: 105).
Istilah koefisien reliabilitas tes dan tes ulang dapat pula disebut koefisien stabilitas.
Istilah stabilitas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa seseorang siswa dapat berubah dari waktu ke waktu. Hal itu bukan karena perubahan dalam tes, melainkan fluktuasi dalam beberapa aspek karakteristik yang diukur. Variasi yang terjadi di dalam individu itu sendiri dan variasi antarindividu yang diukur. Reliabilitas test-retest diperoleh dengan cara melaksanakan pengetesan dua kali terhadap sekelompok subjek dengan memakai tes yang sama.
Hal yang menjadi persoalan dalam pengujian reliabilitas test-retest ini adalah berapa lama selang waktu antara tes pertama dan kedua? Keberatan pendekatan tersebut adalah
62
subjek pada pengetesan kedua mungkin meningkat karena dia masih ingat atau hafal akan tugas-tugas atau soal-soal yang harus dikerjakan. Disamping itu, mungkin selang waktu antara tes pertama dan kedua, subjek yang bersangkutan melakukan latihan. Kirkendall dkk.
(1987: 59) mengemukakan selang waktu antara tes pertama dan tes ulangannya sebaiknya cukup lama agar subjek yang bersangkutan tidak mengulang kesalahan, atau jangan terlalu lama, sehingga yang bersangkutan ada kesempatan untuk berlatih selama rentang waktu antara tes pertama dan kedua, termasuk pula bagaimana cara melaksanakan atau menyelesaikan tes.
Faktor kematangan dan faktor bias merupakan salah satu kelemahan yang akan berpengaruh terhadap hasil tes ulangannya, jika terjadi interval yang panjang antara tes pertama dan tes kedua. Jika metode tes dan tes ulangan ini digunakan, laporkan interval waktu pelaksanaan antara tes pertama dan tes ulangannya. Interval waktu yang sangat pendek akan membawa carry over effect dalam ingatan testi, sedangkan interval waktu yang lama akan membawa pengaruh perubahan informasi. Ini merupakan kelemahan kedua penggunaan metode tes dan tes ulangan. Perbedaan interval waktu dapat berpengaruh terhadap perbedaan taksiran reliabilitas, kadang-kadang over-estimate dan kadang-kadang under-estimate terhadap reliabilitas sebenarnya. Kelemahan ketiga penggunaan metode ini adalah sukar mempertahankan kondisi yang selalu sama persis untuk pelaksanan tes pertama dan tes ulangannya karena banyak variable yang berpengaruh di dalamnya, seperti: kondisi siswa baik fisik maupun psikis pada saat pengujian, dan kondisi lingkungan sekitar pada saat tes dilaksanakan.