• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODELOGI PENELITIAN

Dalam dokumen BONTOMANAI KOTA MAKASSAR (Halaman 49-54)

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian pada dasarnya merupakan suatu upaya pencarian dan bukannya sekedar mengamati dengan teliti terhadap suatu objek yang mudah terpegang di tangan. Penelitian ini menggunakan jenis metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa masa sekarang (Nazir, 2005).

B. Fokus Penelitian

Untuk mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka penelitian ini di fokuskan pada proses penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian yang dijadikan obyek penelitian SD Inpres Bontomanai Kota Makassar, Jl. Sultan Alauddin II No. 37 makassar Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Adapun waktu penelitian dilakukan yaitu selama 2 bulan lamanya, mulai dari bulan Oktober sampai bulan September 2020.

D. Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis dan sumber data sebagai berikut:

1. Jenis data

a. Data kualitatif yaitu, data yang seperti, laporan pertanggungjawaban dan jurnal.

b. Data Kuanlitatif yaitu, data yang diperoleh dalam bentuk tulisan yang berupa gambaran umum sekolah maupun informasi langsung yang menyangkut kebijakan sekolah.

2. Sumber Data

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sekolah melalui wawancara langsung dengan kepala sekolah dan dibagian bendahara sekolah sebagai objek penelitian.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen sekolah dan pencatatan yang erat kaitannya dengan masalah yang akan dibahas dengan kepala sekolah dan bagian bendahara sekolah.

3. Informan Penelitian

Informan pada penelitian ini yaitu kepala sekolah dan bagian bendahara sekolah.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh segala data dan informasi sehubungan dengan penelitian ini, maka penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut.

1. Studi kepustakaan (library research) adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku literature dimana didalamnya terdapat teori-teori yang berkaitan dengan penelitian.

2. Studi lapangan (filed research), dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data yang diperlukan dengan cara melakukan

pengamatan langsung pada sekolah yang bersangkutan, baik melalui observasi, dan wawancara.

Penelitian lapangan dilakukan dengan cara:

a. Wawancara adalah metode untuk mendapatkan data dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak yang bersangkutan, guna mendapatkan data dan keterangan yang menunjang analisis dalam penelitian.

b. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai masalah yang dihadapi.

c. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu.

Digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan tangan dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian.

Sebelum melakukan penelitian lapangan, peneliti melakukan telaah terhadap beberapa buku, arsip ataupun dokumen yang akan dijadikan sebagai panduan.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang mengukur dan membantu peneliti dalam mengumpulkan data dilapangan. Adapun alat- alat yang dibutuhkan dalam penelitian lapangan ini diantaranya handphone, dan alat tulis menulis berupa buku catatan dan pulpen.

G. Teknik Analisis Data

Menurut sugiyono (2013) analisiss data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,

catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat di informasikan kepada orang lain.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti model analisis interaktif sebagaimana di ungkapkan oleh Miles dan Huberman (1984) dengan empat tahap yaitu:

1. Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dicatat dalam catatan lapangan yang terbagi menjadi dua bagian yaitu deskriptif dan reflektif. Catatan deskriptif adalah catatan alami atau catatan yang dilihat, didengar, disaksikan dan dialami sendiri oleh peneliti. Catatan reflektif adalah catatan yang berisi kesan, komentar, pendapat, dan tapsiran peneliti tentang temuan yang dijumpai.

2. Reduksi Data

Reduksi data dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data serta mencari data tambahan apabila diperlukan. Serta menyusun data yang diperoleh secara sistematis dan menjabarkan hal-hal penting yang ditemukan terkait dengan hasil temuan dan membuang data yang tidak berkaitan dengan masalah penelitian.

3. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan agar data hasil reduksi dapat terorganisasikan dengan baik dan tersusun dalam pola hubungan sehingga memudahkan bagi para pembaca untuk memahami data penelitian. Dan pada Tahap ini peneliti berusaha menyusun data yang

relevan untuk menghasilkan informasi yang disimpulkan dan memiliki makna tertentu. prosesnya dapat dilakukan dengan cara menampilkan dan membuat hubungan antar fenomena untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang perlu di tindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan keimpulan dilakukan selama proses penelitian berlangsung, setelah data terkumpul cukup memaknai maka selanjutnya di ambil kesimpulan sementara, dan setelah data benar- benar lengkap maka dimabil kesimpulan terakhir.

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Profil Sekolah

SD Inpres Bontomanai Kota Makassar didirikan pada tanggal 07- 11-1976 dan merupakan sekolah yang penulis pilih untuk tempat penelitian, yang beralamat di Jl. Sultan Alauddin II No. 37 makassar Kecamatan Tamalate Kota Makassar dengan jumlah siswa sebanyak 358 orang dengan perincian laki-laki sebanyak 180 orang dan perempuan sebanyak 178 orang, Kondisi geografis SD Inpres Bontomanai Kota Makassar saat ini yaitu -5,1795 lintang 119, 4369 bujur kontruksi gedung premanen, jumlah ruangan belajar 6 ruangan, ruangan WC 4 Tiga untuk perempean satu untuk laki-laki.

Kepala sekolah SD Inpres Bontomanai Kota Makassar saat ini adalah bapak Alimuddin, S. pd. SD Inpres Bontomanai Kota Makassar menerima jenjang akreditasi A sejak tahun 2019, untuk seluruh kompetensi keahlian yang dipilih melalui proses pembelajaran dikelas serta dibekali dengan kegiatan luar kelas yaitu ekstrakulikuler.

Kegiatan ekstrakulikuler dimaksudkan untuk mengembangkan bakat, minat, serta kreatifitas siswa agar siswa dapat mengoptimalkan kemampuan mereka.

2. Visi dan Misi a. Visi

Membina ahlaq, etika, disiplin berbudi pekerti dan cerdas dilandasi dengan nilai budaya luhur sesuai dengan ajaran islam.

b. Misi

1) Menanamkan keyakinan aqidah melalui pengalaman ajaran islam

2) Menanamkan etika disiplin budi pekerti melalui pembinaan 3) Mengembangkan pengetahuan dibidang iptek, bahasa,

olahraga, dan seni budaya sesuai bakat minat dan potensi siswa

4) Meningkatkan atau memaksimalkan proses pembelajaran dan bimbingan dikelas

5) Menjalin kerja sama yang harmonis antara warga sekolah dan lingkungan

40 PEMBINA

Hj. WINDA NADIRA, S.pd

KEPALA SEKOLAH ALIMUDDIN, S.pd

KOMITE SEKOLAH Hj. KARTINI, S.pd

GURU KELAS I GURU KELAS II GURU KELAS III GURU KELAS IV GURU KELAS V GURU KELAS VI

GURU KELAS Ia NURHAYATI, S.Pd

GURU KELAS Ib HASNIAH, S.Pd

GURU KELAS IIa

Hj. IRIANI K, S.Pd,M.Pd

GURU KELAS IIb RAHMAWATI, S.Pd

GURU KELAS IIIa NURAENI, S.Pd

GURU KELAS IIIb

SITTI ZAENAB, S.Pd

GURU KELAS IVa SURIATI, S.Pd

GURU KELAS IVb IRAWATI, S.Pd

GURU KELAS Va Hj. FARIDAH,

S.Pd GURU KELAS Vb

Dra. NURNIATI

GURU KELAS VIa ZULKIFLI, S.Pd

GURU KELAS VIb

Lucia Dos Reis D.Q, S.Pd

PENDAIS

HUZAIMAN, S.Pd

HIJRAH, S.Pd

PJOK

ISDAR, S.Pd ZULKIFLI, S.Pd

B. INGGRIS

SUSWANTI, S.Pd

OPERATOR / ADM

HASNIAH, S.Pd

RIFAN

PUSTAKAWA N

ZULKIFLI, S.Pd ISDAR, S.Pd

IRAWATI, S.Pd

BUJANG

ROSDIANA

SATPAM

ISMAIL

PESERTA DIDIK

41 4. Job Description

a. Kepala sekolah

Kepala sekolah mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Memimpin dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi sekolah.

2) Merumuskan rencana jangka menengah dan rencana operasional sekolah untuk ditetapkan oleh komite sekolah.

3) Menetapkan prosedur dan standar pelayanan pendidikandan kinerja guru dan karyawan.

4) Membina kegiatan staf yang dibantu oleh wakil kepala sekolah serta melaksanakan koordinasi dengan komite dan instansi terkait lainnya.

5) Membuat pertanggungjawaban kinerja sekolah kepada pengawas sekolah, komite sekolah dan dinas pendidikan.

b. Wakil kepala sekolah

Wakil kepala sekolah mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kegiatan di bagian umum dan pembinaan staf dan guru

2) Menyelenggarakan kegiatan, perlengkapan perencanaan, membuat jadwal pelajaran, pelaporan, dan teknnologi informasi guna membantu kinerja kepala sekolah

3) Melaksanakan urusan staf dan guru serta Pembina SDM.

4) Menyelenggarakan kegiatan kepemimpinan dilingkungan sekolah apabila kepala sekolah sedang dinas di luar lingkungan sekolah.

5) Membuat pertanggungjawaban kinerja dibagian umum dan pembinaan SDM serta jabatan wakil kepala sekolah.

c. Staf urusan kurikulum

Staf urusan kurikulum memiliki tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kegiatan di bidang kurikulum.

2) Menyelenggarakan kegiatan kurikulum dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi guru mata pelajaran dan wali kelas.

3) Menetapka prosedur dan standar kurikulum.

4) Membina kegiatan guru mata pelajaran dan wali kelas dan menyusun jadwal rapat musyawarah guru mata pelajaran dan musyawarah kepala sekolah.

d. Staf urusan kesiswaan

Staf urusan kesiswaan memiliki tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kegiatan di bidang kesiswaan.

2) Menyeleggarakan kegiatan kesiswaan dan kegiatan ekstrakulikuler.

3) Merumuskan prosedur tetap tentang peraturan tata tertib siswa.

4) Membuat pertanggungjawaban kinerja dibidang kesiswaan pada wakil kepala sekolah dan kepala sekolah

e. Staf urusan sarana dan prasarana.

Staf urusan sarana dan prasarana memiliki tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana di bidang sarana dan prasarana.

2) Membuat daftar sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar dan berkoodinasi kepada semua staf dan tata usaha.

3) Menyelenggarakan kegiatan kerumahtanggaan yang meliputi antara lain pemeliharaan kebersihan, sanitasi, perawatan gedung dan keamanan.

4) Membuat pertanggungjawaban kinerja di bidang sarana dan prasarana kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan bendahara sekolah.

f. Staf urusan bendahara dan keuangan

Staf urusan bendahara dan keuangan memiliki tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kegiatan di bidang keuangan.

2) Menyelenggarakan kegiatan di bidang keuangan yang meliputi anggaran, pembendaharaan, verifikasi, dan akuntansi.

3) Membuat pertanggungjawaban kinerja di bidang keuangan kepada kepala sekolah, dinas pendidikan, dan Tim PKPS-BBM Kab/Kota.

g. Guru wali kelas

Guru wali kelas mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kegiatan kelas yang menjadi tanggungjawabnya.

2) Menyelenggarakan kepemimpinan kelas.

3) Menyelenggarakan pelayanan keluhan siswa dan wali murid dan berkoodinasi dengan staf humas dan BK.

4) Mengisi dan menyelenggarakan nilai raport kepada sekolah dan wakil kepada sekolah

h. Guru mata pelajaran.

Guru mata pelajaran mempunyai tugas:

1) Menyusun rencana kegiatan belajar mengajar.

2) Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajaryang meliputi pengajaran, evaluasi dan bimbingan kepala sekolah dan staf kurikulum.

B. Hasil Penelitian

1. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Pengelolaan dana BOS di SD Bontomanai Kota Makassar menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah, dimana dalam pengelolaan dana BOS terdapat aktivitas dari perencanaan pengelolaan dana BOS, pelaksanaan pengelolaan dana BOS, dan pengawasan pengelolaan dana BOS.

Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar melewati beberapa prosedur sebagai berikut:

a. Perencanaan Program Dana BOS

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan program kepala sekolah dalam mengelola dana BOS pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar dilakukan pada setiap awal tahun ajaran baru dengan membentuk tim keuangan sekolah,

yang melibatkan kepala sekolah sebagai penanggung jawab, bendahara sekolah, sebagian dewan guru, pengurus komite sekolah dan orang tua murid melalui rapat dan hasil kesepakatan tertulis dalam RAKS.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan menyatakan bahwa:

”SD Inpres Bontomanai Kota Makassar biasa melakukan perencanaan itu di setiap awal tahun ajaran baru, dengan komponen yang terlibat antara lain kepala sekolah sebagai penanggung jawab, bendahara sekolah, sebagian dewan guru, komite sekolah, dan orang tua murid”. (ZKL, 12 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

”perencanaan pengelolaan dana BOS pada sekolah SD Inpres Bontomanai Kota Makassar dilakukan setiap awal tahun ajaran baru dengan melibatkan kepala sekolah, bendahara sekolah, komite sekolah dan orang tua murid”.

(ALD, 24 November 2020).

Proses perencanaan diawali dengan menyusun RAKS oleh tim manajemen bos sekolah, guru, dan komite sekolah selanjutnya melibatkan beberapa stakeholder sekolah yakni pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah, dan mereka menjalankan perannya masing-masing yakni Tim Manajemen Bos, dewan guru, dan komite sekolah. RAKS disusun untuk merencanakan kerja tahunan sekolah dan untuk menetapkan anggaran pendapatan dan belanja sekolah selama satu tahun.

Langkah-langkah penyusunan RAKS diawali dengan mengumpulkan semua guru dan karyawan untuk melakukan pendataan kebutuhan/kegiatan sekolah dalam satu tahun dari

masing-masing bidang. Perubahan RAKS juga dilakukan karena terdapat kegiatan awal yang telah direncanakan tetapi tidak dapat terealisasi pada tahun berjalan anggaran tersebut, sehingga sekolah akan menggantikan dengan kegiatan lain dan disusun dalam draft RAKS perubahan. Selanjutnya akan dibuat perencanaan anggaran dan kemudian tim melakukan sosialisasi kepada kepala sekolah, dewan guru, dan komite sekolah, dan kemudian RAKS dipajang dipapan pengumuman sekolah sehingga semua warga sekolah bisa mengetahui anggarannya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Informan:

“proses perencanaannya itu diawali dengan menyusun RAKS oleh tim manajemen bos sekolah, guru, dan komite sekolah, selanjutnya melibatkan stakeholder sekolah yakni pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah.

Langkah-langkah penyusunan RAKS diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan sekolah dalam satu tahun, selanjutnya dibuat perencanaan anggaran, kemudian mensosialisasikan kepada kepala sekolah, dan kemudian dipajang dipapan pengumuman sehingga warga sekolah bisa mengetahui anggarannya”. (ZKL, 12 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

“tim manajemen sekolah melakukan perencanaan diawali dengan menyusun RAKS yang dapat mengidentifikasi kebutuhan sekolah dalam satu tahun. Perencanaan ini juga melibatkan stakeholder sekolah yakni pihak-pihak yang berkepentingan dalam sekolah. Adapun dalam penyusunan RAKS ini dibuat perencanaan anggaran kemudian mensosialisasikan kepada sekolah dan dipajang dipapan informasi sehingga staf sekolah bisa mengetahui anggarannya”. (ALD, 24 November 2020) Biaya pendidikan merupakan komponen masukan instrumental yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Biaya pendidikan memiliki peranan yang sangat

menentukan dalam setiap upaya pencapaian tujuan pendidikan baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Supriadi (2010) mengemukakan bahwa: “Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan (di sekolah).”

Perencanaan pembiayaan merupakan sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan tersebut secara menyeluruh. Siswanto (2012) mengemukakan bahwa tahapan-tahapan aktivitas perencanan meliputi: 1) perkiraan (forecasting), 2) penetapan tujuan (establishing objective), 3) pemograman (programming), 4) penjadwalan (scheduling), 5) penganggaran (budgetting), 6) pengembangan prosedur (developing procedure), 7) penetapan dan interpretasi kebijakan (establishing and interpretting policies).

b. Pelaksanaan Program Dana BOS

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program dalam menggunakan dana BOS pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar diawali dengan melakukan koordinasi dan sosialisasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam perencanaan penggunaan dana BOS. Pelaksanaan program penggunaan dana BOS berpedoman pada petunjuk teknis (Juknis) yang diedarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Makassar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Informan:

“Pelaksanaan program dana BOS di SD Inpres Bontomanai Kota Makassar sudah menggunakan petunjuk teknis 2020 yang sesuai dengan juknis yang diedarkan, dan pelaksanaannya diawali dengan melakukan koordinasi dan sosialisasi kepada pihak yang terlibat”. (ZKL, 13 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

”sekolah kami baru-baru ini pengelolaan dana BOS nya telah menggunakan petunjuk teknis yang diedarkan oleh dinas pendidikan kota Makassar, dan kami melakukan sosialisasi dan koordinasi pada pihak-pihak yang terlibat”.

(ALD, 24 november 2020)

Dalam pelaksanaan pengelolaan dana BOS harus didasarkan pada kesepakatan dan keputusan bersama antara tim manajemen BOS sekolah, dewan guru, dan komite sekolah yang harus didaftar sebagai salah satu sumber penerimaan dalam RAKS/RAPBS, di samping dana yang diperoleh dari pemda atau sumber lain yang sah. Hasil kesepakatan penggunaan dana BOS (dan dana lainnya tersebut) harus diluangkan secara tertulis dalam bentuk berita acara rapat yang dilampirkan tanda tangan seluruh peserta rapat yang hadir.

Sebagaimana dijelaskan oleh informan:

“pelaksanaannya itu harus dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dengan kepala sekolah, tim manajemen BOS sekolah dan lain sebagainya seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dan hasil kesepakatannya harus dituangkan secara tertulis dalam bentuk berita acara”. (ZKL, 14 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

“kami melaksanaan program dana BOS sesuai dengan kesepakatan bersama-sama dengan kepala sekolah, tim manajemen BOS, dewan guru dan orang tua murid

kemudian hasil kesepakatannya harus dibuatkan berita acara”. (ALD, 24 November 2020).

Efek dari anggaran sekolah pada hasil siswa adalah berbagai karakteristik sekolah mempengaruhi baik anggaran sekolah serta kinerja siswa, pengeluaran anggaran tidak dapat diperlakukan sebagai variable eksogen dalam pendidikan.

Pembiayaan sekolah dasar dan menengah merupakan proses yang kompleks dengan beberapa tujuan yaitu, sistem keuangan sekolah berusaha untuk menyediakan sumber daya yang cukup sehingga anak memiliki kesempatan untuk belajar tetapi pada saat yang sama sumber daya harus digunakan seefisien mungkin, pembuat kebijakan tidak selalu tahu cara terbaik untuk meningkatkan sistem keuangan sekolah mereka meskipun pembiayaan merupakan bagian penting dari sistem pendidikan, tanpa sumber daya sekolah tidak akan berfungsi.

Sebagaimana dijelaskan oleh informan:

“sistem keuangan sekolah berusaha menyediakan sumber daya yang cukup sehingga siswa memiliki kesempatan untuk belajar tetapi penggunaannya harus seefisien mungkin”. (ZKL, 15 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

“Kami disini berusaha untuk mengefisiensikan penggunaan dana dan menyediakan sumber daya yang cukup supaya siswa-siswa bisa belajar dengan baik

“.(ALD, 24 November 2020).

Penggunaan anggaran dalam pembiayaan pendidikan harus berpedoman pada konsep efisiensi dan efektivitas. Dalam pembiayaan pendidikan terdapat prinsip-prinsip pembiayaan

pendidikan sebagaiaman ditetapkan dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 48 Ayat (1) bahwa: “Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik”.

Semua kegiatan yang menghasilkan output yang berkualitas tidak terlepas dari ketersediaan biaya yang cukup.

Menurut Rohiat (2010) bahwa pengembangan manajemen sekolah yang sesuai dengan SNP sesuai dengan program sekolah dapat dikembangkan di antaranya dengan: “(1) peningkatan kerjasama dengan stakeholders, (2) implementasi prinsip kemandirian, transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan sustainabilitas program sekolah”. Optimalisasi fungsi-fungsi manajemen dapat diterapkan dalam setiap aspek pembiayaan untuk mendukung kegiatan. Hal ini dikarenakan biaya merupakan salah satu unsur yang sangat berpengaruh dalam suatu kegiatan di sekolah.

c. Pengawasan Dana BOS

pengawasan penggunaan dana BOS pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar dilakukan secara bersama-sama oleh guru, komite, kepala sekolah, tim BOS sekolah, BOS Kota dan tim BOS Propinsi serta inspektorat. Pengawasan dilakukan setiap tiga bulan sekali atau empat kali dalam setahun. Hasil pelaksanaan pengawasan dituliskan dalam

laporanpertanggungjawaban setiap triwulanan dan disampaikan kepada SKPD Pendidikan Kabupaten/Kota.

Pelaksanaan pengawasan sudah berjalan sangat baik berdasarkan proses pengawasan yang terdiri dari tahap menentukan standar, pengukuran hasil, melakukan perbandingan, dan pembetulan terhadap penyimpangan sudah dikatakan telah terlaksana dengan baik mengingat program dana BOS telah berjalan semenjak tahun 2006 dan sampai sekarang.

Pada tahap penentuan standar sudah sesuai dengan petunjuk teknis yang ditentukan oleh kemendikbud, yaitu permendikbud Nomor 8 Tahun 2020.

Sebagaimana dijelaskan oleh informan:

”pengawasannya sudah berjalan sesuai rencana oleh pihak pengawas dan dilakukan setiap 3 bulan sekali atau 4 kali dalam setahun, pengawasan terdiri dari tahap menentukan standar, pengukuran hasil, melakukan perbandingan dan pembetulan terhadap penyimpangan”.

(ZKL, 16 Oktober 2020).

Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan dari kepala sekolah sebagai berikut:

“kami melakukan pengawasan penggunaan dana BOS setiap 3 bulan sekali atau 4 kali dalam setahun dan pengawasannya sudah berjalan sesuai dengan rencana oleh pihak pengawas, pengawasan terdiri dari tahap menentukan standar, pengukuran hasil, melakukan perbandingan dan pembetulan terhadap penyimpanan”.

(ALD, 24 November 2020).

Pengawasan merupakan proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan pengawasan

yang baik dapat dilakukan dengan selalu berpedoman kepada pengawasan fungsional dan pengawasan masyarakat. Johnson (Nasution, 2010) mendefinikan bahwa: “Pengawasan merupakan fungsi sistem yang melakukan penyesuaian terhadap rencana, mengusahakan agar penyimpangan-penyimpangan tujuan sistem hanya dalam batas-batas yang dapat ditoleransi.

Informasi yang diperoleh melalui kegiatan pengawasan sangat diperlukan untuk melihat hasil yang telah dicapai. Terry dan Leslie (2013) mengatakan bahwa: “Pengawasan anggaran dilakukan untuk mengungkapkan tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan. Melalui ringkasan anggaran dapat dipastikan tanggung jawab untuk pelaksanaan dengan mudah.

Penyimpangan-penyimpangan dengan cepat dapat dilihat dan dan dimintakan penjelasan-penjelasan untuk perbedaan- perbedaan yang penting.

d. Hambatan-Hambatan Dalam Pengelolaan Dana BOS

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan-hambatan yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam pengelolaan dana BOS pada SD Inpres Bontomanai Kota Makassar adalah tidak semua akivitas dan pembangunan di sekolah dapat menggunakan dana BOS, terlambatnya pencairan dana BOS ke rekening sekolah, dana yang keluar tidak selalu sesuai dengan jumlah siswa, terbatasnya dana apabila dibandingkan dengan kebutuhan sekolah, hampir semua rekanan tidak menyiapkan documentasi barang yang dibeli, sebagian rekanan tidak bersedia membayar

Dalam dokumen BONTOMANAI KOTA MAKASSAR (Halaman 49-54)

Dokumen terkait