• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Bisnis Sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

BAB II GAMBARAN UMUM

2. Model Bisnis Sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pembangunan pertanian memegang peran yang strategis dalam perekonomian nasional sesuai amanat dalam Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025, yang saat ini memasuki periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahap ke-2. Peran strategis Peran strategis sektor pertanian pada RPJMN digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui Pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa Negara dan sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usaha tani yang ramah lingkungan.

Isu-isu strategis pembangunan bidang ekonomi diantaranya meliputi bidang pertanian secara umum, tanaman pangan termasuk ketahanan pangan, kehutanan, perkebunan besar dan kecil dan infrastruktur10. Distribusi persentase sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.24 dan digambarkan pada Gambar 2.3 berikut.

10 Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat. 2013. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2013-2018. Pontianak.

2. Model Bisnis Sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura

Pembangunan pertanian memegang peran yang strategis dalam perekonomian nasional sesuai amanat dalam Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025, yang saat ini memasuki periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahap ke-2. Peran strategis Peran strategis sektor pertanian pada RPJMN digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui Pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa Negara dan sumber pendapatan, serta pelestarian lingkungan melalui praktek usaha tani yang ramah lingkungan.

Isu-isu strategis pembangunan bidang ekonomi diantaranya meliputi bidang pertanian secara umum, tanaman pangan termasuk ketahanan pangan, kehutanan, perkebunan besar dan kecil dan infrastruktur10. Distribusi persentase sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.24 dan digambarkan pada Gambar 2.3 berikut.

10 Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat. 2013. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2013-2018. Pontianak.

72

Tabel 2.24

Distribusi Persentase Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015

39 Tabel 2.24

Distribusi Persentase Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015 TAHUN PERTANIAN Kehutanan Tanaman

Pangan dan

Hortikultura Perkebunan

2008 26,12 2,99 9,16 8,78

2009 25,71 2,82 8,90 8,90

2010 25,05 2,62 8,63 8,76

2011 24,13 2,08 8,18 12,15

2012 23,24 1,99 8,17 11,40

2013 22,27 1,84 8,07 11,22

2014 21,60 1,56 7,84 10,57

2015 21,02 1,41 8,04 9,92

Sumber : Analisa Data, 2017

Gambar 2.3

Perbandingan Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015

Sumber : Analisa Data, 2017

Sementara ini dari hasil analisis data dalam RPJMD Kalbar 2013-2018 dan dalam BPS 2008- 2016 dicatat bahwa sektor pertanian menyumbangkan rata-rata 21 persen - 26,2 persen terhadap PDRB Propinsi Kalimantan Barat ini merupakan sumbangan yang terbesar dari 21 lapangan usaha yang ada di Kalimantan Barat, sebagaimana Tabel berikut 2.24. dan Gambar 2.3. diatas.

Namun kalau dilihat dari tahun 2008 sampai tahun 2015 persentase PDRB sektor pertanian tersebut cenderung menurun (Gambar 2.3). Padahal Kalimantan Barat mempunyai luas lahan sebesar 146.807 km2 atau 1,13 kali pulau Jawa dan dengan kepadatan penduduk yang hanya 33 jiwa per kilometer persegi11 adalah sangat prospektus untuk pembangunan ekonomi. Artinya tingginya PDRB di sektor pertanian ini belumlah linier dengan pendapatan per kepala keluarga (KK) per tahun terutama di wilayah perdesaan di Kalimantan Barat. Sebagai contoh dari hasil penelitian pendapatan

11 Badan Pusat Stastitik Kalimantan Barat. 2016. Kalimantan Barat Dalam Angka 2016. ISSN 2015-2509. Jembatan Kapuas, Pontianak.

0 5 10 15 20 25 30

1 2 3 4 5 6 7

PERTANIAN Kehutanan Tan Pangan Perkebunan

Gambar 2.3

Perbandingan Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015

39 Tabel 2.24

Distribusi Persentase Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015 TAHUN PERTANIAN Kehutanan Tanaman

Pangan dan

Hortikultura Perkebunan

2008 26,12 2,99 9,16 8,78

2009 25,71 2,82 8,90 8,90

2010 25,05 2,62 8,63 8,76

2011 24,13 2,08 8,18 12,15

2012 23,24 1,99 8,17 11,40

2013 22,27 1,84 8,07 11,22

2014 21,60 1,56 7,84 10,57

2015 21,02 1,41 8,04 9,92

Sumber : Analisa Data, 2017

Gambar 2.3

Perbandingan Sektor Pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku tahun 2008-2015

Sumber : Analisa Data, 2017

Sementara ini dari hasil analisis data dalam RPJMD Kalbar 2013-2018 dan dalam BPS 2008- 2016 dicatat bahwa sektor pertanian menyumbangkan rata-rata 21 persen - 26,2 persen terhadap PDRB Propinsi Kalimantan Barat ini merupakan sumbangan yang terbesar dari 21 lapangan usaha yang ada di Kalimantan Barat, sebagaimana Tabel berikut 2.24. dan Gambar 2.3. diatas.

Namun kalau dilihat dari tahun 2008 sampai tahun 2015 persentase PDRB sektor pertanian tersebut cenderung menurun (Gambar 2.3). Padahal Kalimantan Barat mempunyai luas lahan sebesar 146.807 km2 atau 1,13 kali pulau Jawa dan dengan kepadatan penduduk yang hanya 33 jiwa per kilometer persegi11 adalah sangat prospektus untuk pembangunan ekonomi. Artinya tingginya PDRB di sektor pertanian ini belumlah linier dengan pendapatan per kepala keluarga (KK) per tahun terutama di wilayah perdesaan di Kalimantan Barat. Sebagai contoh dari hasil penelitian pendapatan

11 Badan Pusat Stastitik Kalimantan Barat. 2016. Kalimantan Barat Dalam Angka 2016. ISSN 2015-2509. Jembatan Kapuas, Pontianak.

0 5 10 15 20 25 30

1 2 3 4 5 6 7

PERTANIAN Kehutanan Tan Pangan Perkebunan

Sementara ini dari hasil analisis data dalam RPJMD Kalbar 2013-2018 dan dalam BPS 2008-2016 dicatat bahwa sektor pertanian menyumbangkan rata-rata 21 persen - 26,2 persen terhadap PDRB Propinsi Kalimantan Barat ini merupakan sumbangan yang terbesar dari 21 lapangan usaha yang ada di Kalimantan Barat, sebagaimana Tabel berikut 2.24. dan Gambar 2.3. di atas.

Namun kalau dilihat dari tahun 2008 sampai tahun 2015 persentase PDRB sektor pertanian tersebut cenderung menurun (Gambar 2.3). Padahal Kalimantan Barat mempunyai luas lahan sebesar 146.807 km2 atau 1,13 kali pulau Jawa dan dengan

kepadatan penduduk yang hanya 33 jiwa per kilometer persegi11 adalah sangat prospektus untuk pembangunan ekonomi. Artinya tingginya PDRB di sektor pertanian ini belumlah linier dengan pendapatan per kepala keluarga (KK) per tahun terutama di wilayah perdesaan di Kalimantan Barat. Sebagai contoh dari hasil penelitian pendapatan keluarga di wilayah komunitas adat, sumber pendapatan dari tanaman pangan, kehutanan dan sumber lainnya sebesar Rp 3.852.409,83 di Desa Raut Muara, Kabupaten Sanggau dan Rp 2.698.186,03 di Sehe Lusur, Kabupaten Landak12.

Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat antara lain ditunjukkan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam: 1) Pembentukan Produk Dosmetik Bruto; 2) Penyediaan dan peningkatan Devisa Negara melalui ekspor hasil pertanian; serta 3) Penyediaan bahan baku industri. Kemudian peranan strategis sektor pertanian bagi pemerataan pembangunan antara lain ditunjukan oleh kedudukannya sebagai sumber-sumber:

1) Ketahanan Pangan; 2) Penyediaan lapangan kerja; 3) Peningkatan pendapatan, dan daya beli masyarakat dan pengentasan kemiskinan; 4) Peningkatan pasar dalam negeri.

Berkaitan dengan peranan sektor pertanian tersebut, pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat telah menetapkan agenda pembangunan ekonomi yang didasarkan kepada sektor pertanian melalui Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan dimana kebijakan ini sejalan dengan program revitalisasi pertanian Kementrian Pertanian. Dengan Revitalisasi Pertanian diharapkan sektor pertanian akan menjadi tulang punggung perekonomian Provinsi Kalimantan Barat, terutama dalam meningkatkan ketahanan pangan serta menjadi motor penggerak dan mendorong pembangunan ekonomi daerah sesuai dengan esensi otonomi yaitu percepatan pembangunan ekonomi daerah.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura telah menetapkan Visi Pembangunan sebagai berikut :

”Terwujudnya Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Yang Modern, Berbudidaya Industri, Berbasis Pedesaan dan Berdaya Saing.”

Untuk mencapai visi tersebut, maka dijabarkan melalui misi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan pendekatan on farm, off farm serta manajemen pengelolaan.

11 Badan Pusat Stastitik Kalimantan Barat. 2016. Kalimantan Barat Dalam Angka 2016. ISSN 2015-2509. Jembatan Kapuas, Pontianak.

12 Lumangkun, Augustine; Uke Natalina Haryani dan Ratih. 2015. Telaah Pengelolaan Tembawang oleh Masyarakat Adat di Desa Sehe Lusur Kecamatan Kuala Behe (Laporan Penelitian tahun I). Fakultas Kehutanan. Universitas Tanjungpura. Pontianak.

74

Walaupun demikian, pembangunan pertanian harus disinergikan dengan pembangunan sektor lainnya karena pembangunan pertanian yang tidak disertai dengan pembangunan industri hulu, industri hilir serta jasa-jasa pendukung secara simultan, tidak mampu mendayagunakan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Dalam perekonomian Kalimantan Barat sektor pertanian adalah penggerak utama perekonomian daerah. Sektor ini menempati posisi pertama dalam pembentukan PDRB Tahun 2012 (data sementara: BPS Prov. Kalbar) dengan menyumbang 24,10 persen, diikuti kemudian oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (22,71%), Sektor Industri Pengolahan (17,02%), Sektor Bangunan (10,79%), Sektor Jasa-jasa (10,75%), Sektor Pengangkutan dan Komunikasi (7,33%), Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (4,83%), Pertambangan dan Penggalian (2,00%), Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (0,47%). Pada sektor Pertanian, sub sektor tanaman bahan makanan (terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura) menyumbang PDRB sektor pertanian sebesar 8,49%. Jumlah ini sedikit di bawah sub sektor perkebunan yang menyumbang PDRB sebesar 8,49%. Sedangkan sub sektor perikanan menyumbang 2,35%, sub sektor Kehutanan menyumbang sebesar 2,31% dan sub sektor peternakan menyumbang 2,21%.

Dari data tersebut bisa dipahami peran penting Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura bagi penyumbang PDRB Provinsi Kalimantan Barat karena elemen tanaman bahan makanan yang terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pembentukan PDRB sektor pertanian. Selain itu sektor pertanian memiliki kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja paling besar di Provinsi Kalimantan Barat (60,30%) dibandingkan sektor lainnya. Oleh karena itu sektor pertanian masih menjadi penopang utama penggerak perekonomian daerah.

Untuk menyelaraskan perencanaan pembangunan bidang Pertanian, meningkatkan efisiensi dan efektifitas program serta memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat harus terus menerus melakukan perubahan ke arah perbaikan, dimana perubahan tersebut harus disusun dan ditetapkan dalam suatu tahapan yang konsisten serta berkelanjutan dalam bentuk Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 2013-2018 sebagai tolok ukur pelaksanaan pembangunan pertanian, sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas dan kinerja yang berorientasi kepada pencapaian hasil.

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat tahun 2013-2018 merupakan suatu perencanaan berbasis kinerja yang memberikan panduan terhadap hasil yang ingin dicapai dalam kurun waktu tahun 2013 sampai tahun 2018 dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang mungkin ada dan mungkin timbul. Rencana Strategis

ini berkedudukan dan berfungsi antara lain merupakan acuan dan tolok ukur yang jelas dan tegas bagi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, sehingga keberhasilan atau kegagalan dalam implementasinya dapat diukur dengan jelas dan tepat.

Agar Rencana Strategis dapat mendatangkan manfaat bagi pembangunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, maka dalam implementasinya perlu adanya komitmen, semangat, tekad, kemauan, kemampuan dan etos kerja yang tinggi, yang ditunjukkan melalui kesungguhan, kejujuran dan keterbukaan, tidak hanya oleh segenap pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat saja, melainkan juga seluruh aparatur pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan stakeholder lainnya yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.

Rencana Strategis ini merupakan proses yang berkelanjutan, oleh karena itu agar mampu dan responsif terhadap perkembanganan situasi yang sangat dinamis, baik dalam aspek kenegaraan, politik, ekonomi, maupun sosial budaya, maka secara periodik perlu diupayakan untuk dilakukan revisi baik secara parsial maupun menyeluruh.

Rencana Strategis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat merupakan serangkaian rencana tindakan dan strategi mendasar yang dibuat secara bersama-sama antara pimpinan dan seluruh komponen organisasi untuk diimplementasikan oleh seluruh jajarannya dalam rangka pencapaian visi dan misi. Perumusan Rencana Strategis tersebut mengikuti pola yang merupakan tahapan-tahapan kegiatan mulai dari yang paling ideal/kualitatif sampai dengan yang paling teknis dan kuantitatif. Tahapan-tahapan tersebut merupakan rangkaian yang memiliki saling keterkaitan untuk mencapai suatu tujuan bersama yang merupakan visi dan misi organisasi. Adapun tujuan yang ingin dicapai Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat adalah:

1) Tujuan strategis untuk mencapai misi: “Meningkatkan Fungsi Manajemen Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yang Efektif” adalah Meningkatkan pengelolaan administrasi yang tertib dan SDM yang handal agar dapat berperan aktif dalam pembangunan pertanian.

2) Tujuan strategis untuk mencapai misi: “Meningkatkan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura secara Berkelanjutan” adalah Mengembangkan usaha agribisnis komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang berbasis sumberdaya lokal.

3) Tujuan strategis untuk mencapai misi: “Meningkatkan Mutu, Daya Saing, Nilai Tambah dan Pemasaran Produk Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura”

adalah Mengembangkan pengolahan dan pemasaran produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura.

Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan secara terukur yang akan dicapai secara nyata dalam jangka waktu tahunan. Sasaran merupakan bagian internal

76

dalam proses perencanaan strategis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat. Indikator kinerja sasaran merupakan ukuran keberhasilan dari suatu sasaran strategis organisasi yang bersifat kuantitatif atau kualitatif dan dijadikan patokan/tolak ukur dalam menilai keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan pemerintahan dalam mencapai visi dan misi organisasi, maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat menetapkan sasaran sebagai berikut:

1) Mengembangkan usaha agribisnis komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang berbasis sumberdaya lokal, dengan sasaran: (a) meningkatkan produksi tanaman pangan, dengan indikator kinerja sasaran luas panen, produktivitas dan produksi komoditi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar, (b) meningkatkan produksi tanaman hortikultura, dengan indikator kinerja sasaran produksi buah-buahan, sayuran, florikultura dan biofarmaka;

2) Mengembangkan pengolahan dan pemasaran produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura, dengan sasaran: (a) meningkatkan sumberdaya lokal yang berdaya saing, dengan indikator kinerja sasaran jumlah pelaku usaha yang produktif, (b) meningkatkan usaha agribisnis tanaman pangan yang berorientasi pasar melalui penurunan tingkat kehilangan hasil, dengan indikator kinerja sasaran persentase penurunan tingkat kehilangan hasil komoditas pangan, (c) meningkatkan penerapan dan penyebaran informasi pasar produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura, dengan indikator kinerja sasaran jumlah informasi pasar yang terbangun.