Model Pembangunan Bisnis dan Sosial Ekonomi Kalimantan Barat. Kuatnya peran masyarakat Dayak dalam Pengelolaan Sentra Candu. Variabel-variabel di atas patut diupayakan dalam paradigma pembangunan ekonomi dan sosial di Kalimantan Barat.
IDENTIFIKASI FAKTOR KONDISI MASYARAKAT DAYAK PADA
DAFTAR ISI
VISI, MISI DAN TUJUAN PEMBUATAN PETA JALAN: PERANAN KUAT MASYARAKAT DAYAK DALAM EPICENTRUM PENGELOLAAN HUTAN,
STRATEGI DAN PROGRAM DALAM MENCAPAI PERANAN KUAT MASYARAKAT DAYAK DALAM EPICENTRUM PENGELOLAAN HUTAN,
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Isu Strategis Pembangunan Ekonomi di Kalimantan Barat
- Strategi Sub-Sektor Kehutanan
- Strategi Sub-Sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
- Strategi Sub-Sektor Perkebunan
- Isu Strategis Bidang Infrastruktur di Kalimantan Barat
- Isu Strategis Bidang Sosial dan Budaya di Kalimantan Barat
Persentase rumah tangga menurut sumber utama air minum dan berbagai fasilitas rumah tangga di Kalimantan Barat. Namun suku-suku Kalimantan Barat yang relatif beragam menunjukkan ciri-ciri kehidupan sosial dan budaya.
GAMBARAN UMUM
Kontribusi Ekologi
Keberadaan hutan di Kalimantan Barat diyakini mampu berfungsi sebagai penyumbang oksigen, pengatur air, pelindung limpasan permukaan, pelindung iklim mikro, pelindung mikroplasma, habitat flora dan fauna, sumber pangan, dan pelindung bencana alam. . Fungsi-fungsi tersebut perlu dilestarikan dan sedapat mungkin dievaluasi dengan baik agar kontribusi ekologis hutan di Kalimantan Barat dapat terukur.
Kontribusi Sosial Budaya
Model Pembangunan Bisnis dan Sosial Ekonomi Penataan Ruang Kalimantan Barat. dan pengembangan pengelolaan hutan dan areal pemanfaatannya. Pengendalian Model Pembangunan Bisnis dan Sosial Ekonomi Kalimantan Barat/. Atur izin untuk menggunakan atau pemanfaatan kawasan hutan.
Model Bisnis Sektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
Untuk mencapai visi tersebut dituangkan dalam misi Kementerian Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, berdasarkan pendekatan on-farm, off-farm dan manajemen. Dari data tersebut, dapat dipahami betapa pentingnya peran Kementerian Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Barat karena unsur tanaman pangan yang terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembentukan PDRB. di sektor pertanian. Selain itu, sektor pertanian mempunyai kemampuan menyerap tenaga kerja terbesar di Provinsi Kalimantan Barat (60,30%) dibandingkan sektor lainnya.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2013-2018 sebagai tolok ukur pelaksanaan pembangunan pertanian sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas dan kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil. Rencana Strategis Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat merupakan serangkaian rencana aksi dasar dan strategi yang dibuat bersama antara manajemen dan seluruh komponen organisasi, yang harus dilaksanakan oleh seluruh pegawai untuk mencapai visi dan tujuan. misi.
Model Bisnis Sektor Perkebunan
77 Pembangunan sektor perkebunan di Kalimantan Barat yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat selalu selaras dengan kebijakan nasional pembangunan sektor pertanian, yaitu dengan prioritas tugas peningkatan ketahanan pangan dan pencapaian ketahanan energi nasional, serta sesuai dengan prioritas program pembangunan daerah untuk meningkatkan produksi produk perkebunan premium sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat 2013-2018. Keberhasilan pembangunan sektor perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat tidak lepas dari pengaruh dinamika lingkungan strategis, baik lingkungan internal maupun eksternal sektor perkebunan, oleh karena itu arah kebijakan, strategi dan program pembangunan perkebunan didasarkan pada berdasarkan hasil analisis lingkungan strategis. Potensi penggunaan lahan berdasarkan bahan baku di provinsi Kalimantan Barat, 2016 Jenis bahan baku lahan.
Total volume ekspor karet sebesar 15.781,48 ton, sedangkan volume perdagangan antar pulau pada tahun 2015 sebesar 1.247.921 ton yang terdiri dari karet dan bahan baku lainnya sebanyak 148.215 ton. Tingginya volume antar pulau sebagian besar diambil dari luar pulau karena tidak memadainya industri hilir yang tersedia di Kalimantan Barat. Sejalan dengan Program Pengembangan Agribisnis Karet Rakyat (Probangkara) yang dicanangkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, untuk mempercepat pengembangan karet jangka panjang hingga tahun 2033, akan bersinergi dengan Probangkara yaitu peremajaan dan perluasan karet. perkebunan dengan luas 1.200.000 ha.
Off-farm
UPK) melalui penerapan teknologi dan kebutuhan pasar dengan model waralaba untuk mendukung upaya percepatan pembaharuan dan perluasan ban rakyat. e) Ketersediaan sarana produksi lainnya (pupuk, pestisida dan peralatan) dalam jumlah yang cukup dengan tingkat kualitas dan harga yang kompetitif. f) Diversifikasi usaha pertanian melalui optimalisasi penggunaan lahan dengan budidaya tanaman sela, ternak serta tanaman pakan ternak dan tanaman kuat lainnya untuk mendukung peningkatan pendapatan keluarga petani. g) Meningkatkan efisiensi usaha pada setiap tahapan proses produksi untuk menjamin margin keuntungan yang tinggi dan daya saing.
Pendukung
UPK) melalui penerapan teknologi dan kebutuhan pasar dengan model waralaba untuk mendukung upaya percepatan peremajaan dan perluasan karet rakyat. e) Ketersediaan sarana produksi lainnya (pupuk, pestisida dan peralatan) dalam jumlah yang cukup dengan tingkat kualitas dan harga yang kompetitif. f) Diversifikasi usaha pertanian melalui optimalisasi penggunaan lahan dengan menanam tanaman hasil tangkapan, peternakan serta tanaman pakan ternak dan tanaman keras lainnya untuk mendukung peningkatan pendapatan keluarga petani. g) Meningkatkan efisiensi usaha pada setiap tahapan proses produksi untuk menjamin margin dan daya saing yang tinggi. e) Pengembangan kebun uji karet di kawasan sentra karet.
Implikasi Kebijakan
Memberikan pengaturan sistem pemasaran kayu karet agar tidak tunduk pada peraturan seperti kayu hutan alam, dan melaksanakan program sertifikasi lahan skala besar dengan mudah dan murah. Pembangunan sarana dan prasarana berupa jalan, jembatan, pelabuhan, sarana transportasi, komunikasi dan sumber energi (energi listrik). f) Kebijakan input pertanian. Peralatan dan mesin pengolah ditata sedemikian rupa sehingga sebagian besar dapat dipasok di dalam negeri, dengan memperhatikan kualitas dan harga yang memadai.
Implikasi Kebijakan
Peluang pengembangan agroindustri kelapa sawit masih cukup terbuka bagi Provinsi Kalimantan Barat, terutama karena ketersediaan sumber daya alam/lahan, tenaga kerja, teknologi dan tenaga ahli. Peluang ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, mulai dari perencanaan hingga upaya mempertahankan posisi sebagai negara terdepan.
On-farm
Penetapan luas areal perkebunan kelapa sawit dan jumlah/kapasitas pengolahan TBS PKS yang ideal secara sosial, ekonomi dan lingkungan dalam suatu kawasan industri kelapa sawit. i) Peningkatan kerjasama antar produsen minyak sawit. Pangan Masyarakat 1. Integrasi vertikal perkebunan kelapa sawit dan agroindustri yang menghasilkan produk pangan seperti minyak goreng dan mentega. 2. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung khususnya prasarana transportasi masuk dan menuju perkebunan kelapa sawit serta prasarana pengolahannya.
1. Merevitalisasi dan mengembangkan organisasi usaha di bidang agribisnis kelapa sawit (kelompok petani, gabungan petani dan gabungan asosiasi petani kelapa sawit, koperasi petani kelapa sawit dan dewan kelapa sawit, serta organisasi lainnya) melalui inovasi kelembagaan. 5. Membangun sinergi kebijakan antara pemerintah dan lembaga legislatif serta antara pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan perkebunan kelapa sawit sebagai penggerak perekonomian nasional dan daerah.
Model Bisnis Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Dalam upaya mendukung pencapaian target pembangunan nasional, berdasarkan
Untuk menggambarkan keadaan lingkungan pemukiman di Provinsi Kalimantan Barat, berikut indikator persentase rumah sehat, tempat umum sehat, serta fasilitas sanitasi dasar seperti air bersih, pembuangan limbah, dan kepemilikan toilet. Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) merupakan fasilitas yang sering dikunjungi banyak orang sehingga dikhawatirkan dapat menjadi sumber penularan. Pada tahun 2011, terdapat 6.782 tempat umum yang diperiksa di Kalimantan Barat berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten/kota dari total tempat umum yang diperiksa, banyak diantaranya yang merupakan tempat umum yang dinyatakan sehat.
Pada tahun 2011, di Kalimantan Barat, berdasarkan rekapitulasi data profil kesehatan kabupaten dan kota, dari total tempat umum yang diperiksa, terdapat 6.782 tempat umum yang telah diperiksa, dimana beberapa tempat umum dinyatakan sehat. Mayoritas rumah tangga di Provinsi Kalimantan Barat masih didominasi oleh keluarga yang menggunakan air hujan atau air ledeng sebagai sumber air minum.
Rencana Strategis Pembentukan Modal Sosial di Kalimantan Barat 1. Perjalanan Sejarah Dayak
- Mosaik Dayak dalam Toleransi
Fakta di lapangan membuktikan saat ini banyak orang Dayak yang sudah masuk Islam, namun tetap mengaku sebagai orang Dayak. Hal ini menjadikan masyarakat Dayak sebagai masyarakat alami yang hidup di tengah alam. Maksud dan tujuan awal Perkumpulan Dayak adalah menyadarkan seluruh masyarakat Dayak akan kedudukannya dari keterbelakangan.
Sistem pertanian suku Dayak yang dikenal dengan istilah pertanian berpindah merupakan salah satu bentuk pemanfaatan alam secara bijaksana. Ironisnya, masyarakat Dayak yang tidak menikmati hasil eksploitasi tersebut justru menderita karena alam dan hutan di sekitarnya menjadi rusak dan tandus.
Masyarakat Dayak pada Areal Tertentu
Dari Tabel 3.1 di atas terlihat bahwa luas desa (dalam hektar) yang tercatat dalam arsip desa atau hasil wawancara pada umumnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan/pengukuran dari hasil pemetaan yang dikeluarkan negara. Sanksinya, jika peta desa tidak dibuat maka akan diharapkan usulan ADD, hal ini dilakukan pada tahun 2015 di Kabupaten Kubu Raya. 70 Dari Tabel 3.1 di atas terlihat bahwa luas desa (dalam hektar) yang tercatat dalam arsip desa atau wawancara pada umumnya relatif lebih kecil dibandingkan perhitungan/pengukuran hasil pemetaan yang dikeluarkan negara.
Sungai Mata-Mata Sudah ada peta desa yang diterbitkan oleh Bagian Pemerintahan Sekretaris Daerah Kayong Utara (catatan: kepala desa adalah perempuan). Dilihat dari jumlah penduduk yaitu jumlah, tingkat pendidikan dan ketersediaan prasarana yang tinggal di perdesaan seperti pada tabel 3.3 dibawah ini.
Identifikasi Faktor Human Capital Masyarakat Dayak
- Kemampuan Beradaptasi (Capacity to Adapt)
Meskipun diketahui tidak setiap hari keluarga di desa penelitian mengonsumsi makanan berbasis protein. Penduduk terpelajar umumnya bekerja sebagai guru, bidan atau konsultan sebagai pembantu masyarakat yang bekerja di desa-desa tersebut secara sementara. Di Desa Sekabuk, tercatat 30 laki-laki dan 20 perempuan berimigrasi ke Malaysia karena alasan migrasi.
Jika sudah berkeluarga maka akan tinggal di Desa Sungai Utik (kecuali yang belum berpindah kewarganegaraan, yang kembali setiap tahun untuk mengajukan izin tinggal). Di Desa Bumbun, perpindahan penduduk mengikuti alur sungai dan kawasan pertanian (hutan yang awalnya dibuka untuk pertanian dan perdagangan kayu).
Identifikasi Faktor Natural Capital Masyarakat Dayak
- Lahan, Hutan dan Sumberdaya Alam Lainnya
Lahan gambut yang ada di Desa Sekabuk berada pada wilayah yang oleh masyarakat disebut sedaram (sungai Sedaram disana). Gambut di Desa Bumbun dimanfaatkan masyarakat untuk membuat perkebunan kelapa sawit dan sebagian kecil untuk sawah. Kajian Pengelolaan Tembawang oleh Masyarakat Adat Desa Sehe Lusur Kecamatan Kuala Behe(Laporan Penelitian Tahun 1).
Potensi hutan berdasarkan jenis satwa, golongan dan bagian yang dimanfaatkan oleh masyarakat suku Dayak Kanayatn di Desa Babane, Kec. Potensi hutan berdasarkan jenis satwa, golongan dan bagian yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak Seberuang di Desa Gurung Mali.
Jenis Vegetasi yang Ditemukan dengan Jumlah Individu Terbanyak Tahun 2015
- Identifikasi Faktor Sosial Capital Masyarakat Dayak 1) Kerjasama dan Koneksitas
- Hubungan Kepercayaan dan Saling Mendukung
- Lembaga Formal dan Informal
- Identifikasi Faktor Physical Capital Masyarakat Dayak 1) Infrastruktur
- Peralatan dan Teknologi
- Identifikasi Faktor Financial Capital Masyarakat Dayak 1) Tabungan
- Pengeluaran Masyarakat
- Kredit Formal-Informal, NGO
- Remittance dan Upah
- Analisa dari Identifikasi Lima Faktor Tersebut di Atas 1) Identifikasi Faktor Human Capital Masyarakat Dayak
- Identifikasi Faktor Natural Capital Masyarakat Dayak a) Lahan, Hutan dan Sumberdaya Alam Lainnya
- Identifikasi Faktor Social Capital Masyarakat Dayak a) Kerjasama dan Koneksitas
Jumlah etnis yang ada di desa tersebut adalah 98% Dayak Iban, 2% lainnya (Tionghoa, Timor Timur, Melayu, Jawa dan keturunan Dayak lainnya). Lembaga lain yang ada di desa adalah perbankan, kelompok nelayan, kelompok pemuda, Dewan Pengurus Masjid (DKM). Masyarakat lokal di desa penelitian, khususnya masyarakat Dayak, telah mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun.
Hingga saat ini belum ada program pemerintah mengenai peraturan pengolahan sumber daya di desa ini. Di Desa Bumbun, konflik terjadi antara masyarakat Desa Bumbun (khususnya yang lahannya bersinggungan dengan HGU) dengan PT. Perumahan, seperti yang lazim terjadi di pedesaan, khususnya di Kalimantan Barat, memiliki lantai, dinding berdinding papan, dan atap seng.
Pola migrasi di desa-desa penelitian hampir sama dengan daerah lain di Kalimantan Barat, khususnya di wilayah perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu, hal ini dikarenakan masyarakatnya melakukan migrasi atau merantau ke luar negeri untuk bekerja.