• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Model Pembelajaran

2. Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Model pembelajaran Kurikulum 2013 menerapkan tiga model pembelajaran yang utama. Ketiga model tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), model pembelajaran berbasis projek (PBL), dan model penyingkapan/penemuan (Discovery/Inquiry Learning).

Rambu-rambu penentuan model penyingkapan/penemuan:

1. Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah ke pencarian atau penemuan;

2. Pernyataan KD-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan dimungkinkan sampai metakognitif;

3. Pernyataan KD-4 pada taksonomi mengolah dan menalar Rambu-rambu penentuan model hasil karya:

1. Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah pada hasil karya berbentuk jasa atau produk;

2. Pernyataan KD-3 pada bentuk pengetahuan metakognitif;

3. Pernyataan KD-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, dan

4. Pernyataan KD-3 dan KD-4 yang memerlukan persyaratan penguasaan pengetahuan konseptual dan prosedural.

Dari setiap model pembelajaran tersebut memiliki susunan langkah kerja (syntax) tersendiri, yaitu:

1. Model Pembelajaran Penyingkapan (penemuan dan pencarian/penelitian)

Model pembelajaran penyingkapan (Discovery Learning) merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada pemahaman konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

(Budiningsih, 2005:43).

Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Proses Discovery dimulai dari observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi.

Sintak model Discovery Learning:

1) Pemberian rangsangan (Stimulation);

2) Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);

3) Pengumpulan data (Data Collection);

4) Pembuktian (Verification), dan

5) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

2. Sintak model Inquiry Learning Terbimbing

Joice & Wells mengatakan bahwa sintak inquiry learning terbimbing merupakan model pembelajaran yang dirancang membawa siswa dalam proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting waktu yang singkat.

Model pembelajaran inkuiri adalah proses kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu

secara sistematis, kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri hasil temuannya.

Sintak/tahap model inkuiri meliputi:

1. Orientasi masalah;

2. Pengumpulan data dan verifikasi;

3. Pengumpulan data melalui eksperimen;

4. Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan Analisis proses inkuiri.

C. Model Discovery Learning

1. Pengertian Model Discovery Learning

Discovery learning merupakan salah satu model instruksional kognitif dari Jerome Brunner yang sangat berpengaruh. Menurut Brunner, discovery learning sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya akan menghasilkan pengetahuan yang bermakna.

Discovery ialah proses mental dimana peserta didik bisa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dengan teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi.

Dengan demikian pembelajaran discovery ialah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Jadi, model discovery learning merupakan suatu cara, metode yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar dengan tujuan peserta didik mampu terlibat dalam melakukan penyelidikan suatu hubungan, mengumpulkan data, yang digunakan dalam menemukan hukum atau prinsip yang berlaku pada kejadian itu.

Dari defenisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola guru yang digunakan sebagai strategi dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan karakter muatan mata pelajaran, kompetensi guru dan kondisi peserta didik. Hal ini dilakukan untuk mengantarkan siswa pada perubahan kompetensi yang terdiri dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Beberapa pendapat dari p ara ahli tentang model discovery learningyang dikutip oleh M. Hosnandiantaranya:

a. Wilcox (Slavin, 1977), dalam pembelajaran dengan discovery learning peserta didik termotivasi untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong peserta didik dalam mempunyai pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan peserta didik menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

b. Jerome Bruner adalah metode belajar yang mendorong siswa dalam membuat pertanyaan dan menyimpulkan dari prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dasar ide J. Bruner adalah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.

Sehingga itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisir bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.

c. Bell (1978) discovery learning merupakan belajar yang terjadi sebagia hasil dari peserta didik memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi sedemikian sehingga menemukan informasi baru. Pada discovery learning, peserta didik mampu membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan fakta dengan menggunakan proses induktif atau proses dedukatif, melakukan penelitian dan membuat ekstrapolasi.

Discovery learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme mederen. Pada pembelajaran penemuan, peserta didik didorong untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep dan prinsip pembelajaran.

Discovery learning merupakan suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama serta tidak mudah dilupa oleh peserta didik. Dengan belajar penemuan, anak juga bias belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang sedang dihadapinya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran discovery learning merupakan suatu model pengembangan cara belajar peserta didik dalam proses dan penyelidikan dilakukan sendiri sehingga hasil yang

diperoleh dapat bertahan lama dalam ingatan peserta didik. Dengan discovery learning, peserta didik mampu belajar berfikir kritis serta analisis serta mencoba menemukan sendiri masalah yang dihadapai. Kebiasaan ini akan di bawa oleh peserta didik ketika memasuki kehidupan bermasyarakat.

2. Tujuan Model Discovery Learning

Menurut Bell (1978) dikutip oleh M. Hosna memenyebutkan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran discovery learning, yakni:

a. Pada discovery learning peserta didik memiliki kesempatan terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Fakta menunjukan bahwa keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran meningkat ketika discovery learning digunakan.

b. Melalui pembelajaran dengan discovery learning, peserta didik belajar menemukan kunci dalam situasi nyata maupun abstrak, peserta didik banyak memprediksi informasi tambahan yang diberikan

c. Peserta didik juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang teratur dan menggunakan tanya jawab dalam memperoleh informasi yang berguna dalam menemukan.

d. Pembelajaran discovery learning membantu siswa membuat cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.

e. Didapatkan beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui

discovery learning lebih bermakna.

f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.

Tujuan di atas, menyatakan bahwa model discovery learning ingin mengarahkan peserta didik agar lebih aktif baik secara individu maupun kelompok untuk belajar, karakter peserta didik lebih diutamakan agar keterampilan dapat terbangun secara efektif.

Kedepannya akan diperoleh hasil yang luar biasa karena melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang memiliki daya saing yang tinggi.

3. Karakteristik Model Discovery Learning

Adapun cii utama belajar menemukan, yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggenarilasasi pengetahuan, (2) berpusat pada peserta didik; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada. Terdapat beberapa ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori kontruktivisme, yaitu:

a. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar.

b. Menekankan terjadinya kemandirian dan inisiasi belajar peserta didik.

c. Melihat peserta didik sebagai pembuat kemauan dan tujuan yang ingin dicapai.

d. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, tidak menekankan pada hasil.

e. Menekankan peserta didik agar mampu melakukan penyelidikan.

f. Menghargai peranan pengalaman kritis peserta didik.

g. Mendorong perkembangan keingintahuan secara alami pada peserta didik.

h. Mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip kognitif.

i. Banyak menggunakan terminology kognitif untuk menjelaskan pembelajaran (prediksi, inferensi, kreasi dan analisis).

j. Menekankan pentingnya “bagaimana” siswa belajar.

k. Mendorong siswa agar mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan peserta didik lain dan guru.

l. Mendukung terjadinya belajar kooperatif.

m. Mempertahankan keyakinan dan sikap peserta didik dalam belajar.

n. Mendukung peserta didik dalam membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasari pengalaman nyata.

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme tersebut, penerapannya di dalam kelas, yakni sebagai berikut:

a. Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.

b. Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespons.

c. Mendorong siswa berpikir tingkat tinggi.

d. Siswa secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru atau siswa lainnya.

e. Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menonton

dan menantang terjadinya diskusi.

f. Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan materi-materi interaktif.

Berdasarkan dari pemaparan teori belajar kognitif serta ciri dan penerapan teori konstruktivisme di atas sehingga melahirkan model pembelajaran discovery learning.

4. Kelebihan dan kelemahan Discovery Learning

Pembelajaran Discovery Learning memiliki beberapa kelebihan yaitu sebagai berikut:

a. Pemahaman peserta didik terhadap konsep lebih baik b. Mampu meningkatkan motivasi peserta didik

c. Mendorong keterlibatan keaktifan peserta didik

d. Peserta didik aktif dalam proses belajar mengajar sebab pemikirannya terangsang untuk berpikir untuk menenemukan hasil secara mandiri

e. Menimbulkan rasa puas bagi peserta didik

f. Peserta didik mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks g. Melatih peserta didik belajar mandiri dan efektif

Disamping memiliki kelebihan, Discovery Learning memiliki beberapa kelemahan, diantaranya:

a. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi motivasi informasi, menjadi fasilator, motivator dan pembimbing peserta didik dalam belajar

b. Menyita pekerjaan guru

c. Tidak semua peserta didik mampu melakukan penemuan

d. Belajar penemuan memerlukan kecerdasan anak yang tinggi. Bilang kurang cerdas, hailnya kurang efektif

e. Tidak berlaku untuk semua topik 5. Langkah-langkah

Langkah-langkah pembelajaran dengan metode guided discovery menurut Jacobsen, dkk, yaitu sebagai berikut:

a. Tahap Pengenalan dan Review

Guru memulai pembelajaran dengan media tujuannya untuk pengenalan dan review hasil kerja sebelumnya. Inti pembelajarannya:

1) Menarik perhatian peserta didik,

2) Menghidupkan pengetahuan yang lalu.

b. Tahap Terbuka

Guru menyajikan berbagai contoh dan meminta peserta didik untuk melakukan pengamatan dan perbandingan. Inti pembelajaran:

1) Memberikan pengalaman yang dapat mengkonstruksi pengetahuan peserta didik.

2) Mendorong interaksi social peserta didik.

c. Tahap Konvergen

Guru menuntun peserta didik untuk menemukan pola dalam contoh yang

diberikan. Inti pembelajarannya : 1) Mulai membuat abstraksi

2) Mendorong interaksi social peserta didik.

d. Tahap Penutup

Menggambarkan konsep-konsep hubungan yang ada di dalam inti pembelajaran. Inti pembelajaran meliputi pengklarifikasian deskripsi tentang abstraksi yang baru.

Sedangkan menurut Herdian, langkah-langkah pembelajaran discovery yaitu:

a. Identifikasi kebutuhan peserta didik

b. Menyeleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan

c. Menyeleksi bahan, masalah/ tugas-tugas;

d. Membantu memperjelas masalah/tugas yang didapat serta peranan masing- masing peserta didik

e. Menyiapkan kelas dan alat-alat yang diperlukan dan dibutuhkan

f. Menanyakan k e m a m p u a n pemahaman peserta didik terhadap masalah yang akan dipecahkan

g. Memberikan kesempatan pada peserta didik dalam melakukan penemuan;

h. Membantu, jika diperlukan oleh peserta didik dengan informasi atau data

i. Menuntun analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi problem

j. Merangsang hingga terjadi interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang lain

k. Menuntun peserta didik dalam merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Dari beberapa kelebihan yang disampaikan para ahli di atas, discovery learning merupakan salah satu metode pembalajaran yang ditentukan dalam meningkatkan pemikiran peserta didik, sangat memungkinkan, karena metode ini: (1) adalah suatu cara dalam mengembangkan serta meningkatkan cara belajar peserta didik aktif; (2) dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan bertahan lama dalam ingatan dan tidak mudah untuk dilupakan peserta didik; (3) pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain; (4) dengan menggunakan strategi discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang dapat dikembangkan sendiri; (5) peserta didik belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri.

34 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah library research atau studi literatur.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan persentase penggunaan media di analisis secara kuantitatif.

B. Instrumen Penelitian

Sugiyono (2011: 13) menyampaikan, sebagai alat instrumen, “peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkontruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna”. Dengan kata lain peneliti menjadi instrumen utama penelitian. Sehingga pada penelitian ini, peneliti adalah sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data yang kemudian menganalisi data yang telah penulis dapatkan.

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengumpulkan data sebanyak lima puluh jurnal ilmiah tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media agar hasil penelitian akurat. Selain dari itu peneliti mulai membaca serta menganalisis jurnal ilmiah tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media pembelajaran.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini merupakan data tekstual atau konsep konsep. Karena dalam penelitian ini sebagaimana telah disebutkan di atas termasuk kedalam jenis studi literatur. Dengan demikian aspek-aspek yang peneliti analisis melingkupi definisi, konsep, pandangan, pemikiran dan argumentasi yang terdapat dalam literatur yang relevan dengan pembahasan.

Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan studi kepustakaan. Sarwono (2006, hlm. 49) menjelaskan beberapa sumber kepustakaan yang dapat digunakan oleh peneliti di antaranya “abstrak hasil penelitian, indeks, review, jurnal, buku referensi”, sedangkan data adalah keterangan mengenai variabel pada sejumlah objek (Purwanto, 2007, hlm. 192).

Adapun untuk data-data yang disiapkan dalam penelitian ini adalah yang bersumber dari literature dan internet.

1. Sumber data primer

Dalam proses penelitian, peneliti menggunakan sumber primer. Sugiyono (2011, hlm. 308) menjelaskan sumber data primer merupakan sumber data yang langsung menyajikan data kepada peneliti. Sumber data primer pada penelitian ini adalah data yang memuat model pembelajaran discovery learning berbantuan media.

2. Sumber data sekunder

Selanjutnya peneliti juga menggunakan beberapa sumber sekunder. Sugiyono (2011, hlm. 308) menerangkan sumber sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul, bisa lewat orang lain atau dokumen yang ditulis

oleh orang lain. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber sekunder merupakan jurnal serta buku-buku penunjang yang berhubungan dengan persoalan yang dibahas. Data sekunder ini berfungsi sebagai pelengkap data primer yang digunakan dalam penelitian ini. Sumber data sekunder yang digunakan peneliti, yaitu:

a. Jurnal ilmiah tentang media pembelajaran yang digunakan pada model pembelajaran discovery learning.

b. Buku Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D D. Teknik Pengumpulan Data

“Penelitian kualitatif merupakan suatu proses penyelidikan yang sama dengan pekerjaan detektif. Dari sebuah penyelidikan yang mirip akan dihimpun data-data utama dan sekaligus tambahannya” (Afifuddin dan Sabeni, 2009, hlm. 129). Dalam teknik pengumpulan data Sugiyono (2011, hlm. 308) menjelaskan bahwa “teknik pengumpulan dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara”. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian studi literatur. Oleh karena itu peneliti melakukan proses pengumpulan data berupa jurnal atau dokumen dan mengumpulkan beberapa buku penunjang.

E. Teknik Analisis Data

Setelah melakukan proses pengumpulan data maka peneliti melakukan tahapan selanjutnya yaitu analisis data. Dikarenakan banyaknya data yang terkumpul di lapangan peneliti mengambil beberapa tahapan dalam menganalisis sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Tahapan pertama peneliti menggunakan cara melalui reduksi data. Moleong (2000, hlm. 103) menjelaskan bahwa analisis data dengan cara mereduksi data merupakan proses mengorganisasikan data. Kemudian Afifuddin dan Sabeni (2009, hlm. 145) menjelaskan data diorganisasikan ke dalam satuan pola, kategori, dan satuan uraian dasar.

2. Display Data

Setelah melakukan reduksi data, maka langkah selanjutnya yang peneliti lakukan adalah menunjukkan data atau display data. Dengan meunjukkan data, maka akan mempermudah peneliti dalam memahami hasil penelitian.

3. Content Analysis

Metode analisis data peneliti menggunakan analisis isi (content analysis). Afifuddin dan Sabeni (2009, hlm. 145) menjelaskan analisis isi (content analysis) merupakan “penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Afifuddin dan Sabeni (2009, hlm. 166) menjelaskan berkenaan dengan analisis isi, bahwa analisis isi dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat digunakan jika memenuhi syarat. yaitu:

a. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, jurnal, naskah/manuscript)

b. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan metode pendekatan terhadap data tersebut.

c. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan atau data- data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas atau spesifik.

Dengan demikian peneliti dalam metode ini menganalisa berdasarkan kajian tekstual yang ada dalam literatur tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media. Setelah mendapatkan hasil analisis langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan.

39 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN

1. Proses Pelaksanaan Penelitian 1. Pelaksanaan Penelitian

Dalam melaksanakan proses pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode yang penulis gunakan yaitu metode deksriptif. Untuk mempermudah proses penelitian, penulis menggunakan tahapan-tahapan di antaranya:

a. Pengumpulan Sumber

Pengumpulan data atau sumber dilakukan untuk mempermudah dalam proses analisis. Jauh sebelum ada surat keputusan penelitian, peneliti sudah berusaha mencari sumber data yang berkaitan dengan objek penelitian. Kaitannya dengan hal tersebut peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari lima puluh jurnal ilmiah tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media. Dalam skripsi ini penulis mengambil topik model pembelajaran discovery learning berbantuan media, yang kemudian dianalisis.

Untuk melakukan tahapan ini penulis mencari dan mengumpulkan sumber yang dianggap relevan dengan objek penelitian. Kemudian teknik penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu studi literatur, maka sumber yang digunakan adalah berbentuk tulisan, baik itu berupa buku, kamus, karya ilmiah, serta bahan yang

penulis temukan dari internet. Kegiatan yang penulis lakukan adalah mendatangi perpustakaan dan toko buku serta tak lupa penulis mengambil data dari sumber internet. Adapun untuk sumber data primernya adalah hasil analisis lima puluh jurnal ilmiah tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media, sedangkan sumber data sekunder adalah kumpulan jurnal Ilmiah tentang model pembelajaran discovery learning berbantuan media.

Setelah melakukan proses pengumpulan data maka peneliti melakukan tahapan selanjutnya yaitu analisis data. Dikarenakan banyaknya data yang terkumpul di lapangan peneliti mengambil beberapa tahapan dalam menganalisis sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Tahapan pertama peneliti menggunakan cara melalui reduksi data. Moleong (2000, hlm. 103) menjelaskan bahwa analisis data dengan cara mereduksi data merupakan proses mengorganisasikan data. Kemudian Afifuddin dan Sabeni (2009, hlm. 145) menjelaskan data diorganisasikan ke dalam satuan pola, kategori, dan satuan uraian dasar.

2. Display Data

Setelah melakukan reduksi data, maka langkah selanjutnya yang peneliti lakukan adalah menunjukkan data atau display data. Dengan meunjukkan data, maka akan mempermudah peneliti dalam memahami hasil penelitian.

3. Content Analysis

Metode analisis data peneliti menggunakan analisis isi (content analysis). Afifuddin dan Sabeni (2009, hlm. 145) menjelaskan analisis isi (content analysis) merupakan

“penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa”. Analisis isi dapat digunakan jika memenuhi syarat. yaitu:

a. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, jurnal, naskah/manuscript)

b. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan metode pendekatan terhadap data tersebut.

c. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan atau data- data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas atau spesifik.

b. Membatasi dan Merumuskan Masalah yang Akan Diteliti

Dalam tahapan ini peneliti bermaksud untuk memfokuskan objek penelitian yang hendak diteliti. Dari seluruh jurnal ilmiah yang berkaitan dengan judul, maka peneliti bermaksud untuk membatasi pada lingkup seberapa besar persentase analisis penggunaan media pembelajaran yang digunakan pada model pembelajaran discovery learning dan apa jenis media yang paling banyak digunakan pada model pembelajaran discovery learning

c. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Perihal tujuan umum peneliti bermaksud untuk mendeskripsikan seberapa besar persentase analisis penggunaan media pembelajaran yang digunakan pada model

pembelajaran discovery learning dan mendeskripsikan apa jenis media yang paling banyak digunakan pada model pembelajaran discovery learning

Selanjutnya manfaat umumnya adalah, Memperoleh pengalaman belajar yang baru serta melatih kemampuan berfikir, kreatif dan teliti. Melatih siswa dalam merencanakan dan mengorganisir waktu dalam pelaksanaan pembelajaran.

d. Interpretasi dan Penulisan

Alwasilah (2009 hlm. 171) menyatakan bahwa interpretasi adalah proses menafsirkan data. Dalam tahapan ini digunakan konstruksi etik yaitu pandangan atau perspektif peneliti. Interpretasi dilakukan dengan tujuan mengungkapkan makna yang terkandung dalam data yang kemudian akan dituliskan dalam laporan hasil penelitian berdasarkan pedoman penulisan skripsi Universitas Muhammadiyah Makassar tahun 2020.

3. Laporan Penelitian

Bagian ini merupakan tahapan terakhir dalam suatu penelitian. Hasil dari penelitian kemudian disusun secara terstruktur dan sistematis menjadi suatu karya ilmah berbentuk skripsi. Adapun sistematika yang digunakan adalah sebagaimana tercantum dalam Pedoman Penulisan Skripsi Universitas Muhammadiyah Makassar 2020.

Dokumen terkait