BAB I PENDAHULUAN
B. Kajian Teori
1. Model Problem Based Learning (PBL)
a. Pengertian Model Problem Based Learning (PBL)
Menurut Rusman, model pembelajaran adalah suatu pola pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mecapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Kurniasih dan Sani, model pembelajaran adalah suatu kegiatan yang memounyai tahapan yang sistematis yang digunakan dala kegiatan pembelajaran demi tercapainya tujuan belajar.16 Berdasarkan teori terebut kemudian dikembangkan tahapan pembelajaran, sistem sosial, prinsip reaksi, dan sistem pendukung untuk membantu peserta didik dalam membangun/
mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan sumber belajar. Model pembelajaran tersebut memiliki17:
a) Sintaks adalah suatu tahapan dalam mengimplementasikan model dalam proses belajar mengajar. Sintaks menunjukkan kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru dan peserta didik mulai dawi awal hingga akhir pembelajaran.
b) Sistem sosial Sistem sosial mendeskripsikan peran dan hubungan antara guru dengan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
c) Prinsip reaksi Prinsip reaksi merupakan infromasi bagi guru untuk merespon dan menghargai aktivitas yang dilakukan peserta didik.
16 Rusman. Model-Model Pembelajaran: Mnegembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta:
Rajawali Press, 2013), hlm. 133
17 Agus Suprijono, Cooperative Learning, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016) hlm. 64-65
d) Sistem pendukung Sistem pendukung mendeskripsikan kondisi pendukung berupa materi pembelajaran yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan model pembelajaran.
e) Dampak model pembelajaran juga memiliki dampak instruksional dan pengiring (nurturant effect). Dampak instruksional merupakan dampak langsung yang dihasilkan dari materi dan keterampilan berdasarkan kreativitas yang dilakukan.
Menurut muslimin I dalam Boud dan Felleti bahwa pembelajaran problembased learning ini adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, belajar peranan orang dewasa yang membentuk serta menjadi pelajar mandiri. Problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan
„membenturkan‟ siswa kepada masalah-masalah praktis, berbentuk ill- structured, atau open-ended melalui stimulus dalam belajar. Model problem based learning ini memili karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
a) Belajar dimulai dengan suatu permasalahan.
b) Memastikan bahwa permasalahan yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.
c) Mengorganisasikan pembelajaran diseputar masalah bukan seputar disiplin ilmu.
d) Memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada siswa dalam mengalami secara langsung proses belajar mereka sendiri.
e) Menggunakan kelompok kecil
f) Memimta siswa untuk mendemostrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja (performace).
g) Belajar adalah kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif.
h) Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i) Keterbukan dalam proses pembelajaran meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar.
j) Pembelajaran model problem based learning (PBL) melibatkan evaluasi dan riview pengalaman peserta didik dalam proses belajar.
Menurut Nurhayati, pelaksaan model pembelajaran berbasis masalah meliputi lima tahapan , yaitu:
1) Orientasi siswa terhadap masalah autentik. Pada tahap ini guru memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
2) Mengorganisasikan peserta didik. Pada tahap ini guru membagi peserta didik ke dalam kelompok, dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
3) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai .
4) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecah masalah. Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka. Prinsip- prinsip pembelajaran model problem based learning berdasarkan pada pandangan psikologi kognitif terdapat tiga prinsip pembelajaran yang berkaitan dengan pembelajaran problem based learning (PBL) :
a. Belajar adalah proses kontruktif dan bukan penerimaan Pembelajaran tradisional didominasi oleh pandangan bahwa belajar adalah penuangan pengetahuan ke kepala siswa maksud dari demikian adalah kepala siswa dipandang sebagai kotak kosong yang siap diisi melalui repitisi dan penerimaan. Psikologi kognitif modern menyatakan bahwa memori merupakan struktur asosiatif.pengetahuan disusun dalam jaringan antar konsep mengacu dalam jaringan semantik.
b. Knowing about knowing (metakognisi) memengaruhi pembelajaran Prinsipkedua ini yang sangat penting adalah belajar dikarenakan proses cepat, bila siswa mengajukan ketrampilan-keterampilan self monitoring, secara umum mengacu pada metakognisi. Metakognisi ini dipandang sebagai elemen esensial keterampilan belajar seperti setting tujuan (what am i going to do ), strategi seleksi (how am i
am doinit ?), dan evaluasi tujuan (didit work ?).
keberhasilan pemecahan masalah tidak hanya bergantung pada pemilikan pengetahuan konten (body of knowledge), tetapi juga penggunaan metode pemecahan masalah untuk mencapai suatu tujuan.
c. Faktor-faktor kontekstual dan sosial memngaruhi pembelajaran. Prinsip ketiga ini merupakan tentang penggunaan pengetahuan. Mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengetahuan dan untuk mampu menerapkan proses pemecahan masalah.
b. Langkah Model Problem Based Learning (PBL)
Model problem basedlearning (PBL) dijalankan dengan 8 langkah uraian lengkapnya adalah sebagai berikut :
1) Menemukan masalah
Peserta didik diberikan masalah berstruktur ill-definid yang diangfkat dari konteks kehidupan sehari-hari. Pernyataan permasalahan diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan memberikan sedikit fakta-fakta seputar konteks permasalahan.
Pernyataan permasalahan diupayakan memberikan peluang pada peserta didik untuk melakukan penyelidikan. Peserta didik menggunakan kecerdasan inter dan intrapersonal untuk saling memahami dan saling berbagi pengetahuan antar anggota kelompok terkait dengan permasalahan yang dikaji.
2) Mendefinisikan masalah
Peserta didik mendefinisikan masalah menggunakan kalimatnya sendiri. Permasalahan dinyatakan dengan parameter yang jelas. Peserta didik membuat beberapa definisi sebagai informasi awal yang perlu disediakan. Pada langkah ini peserta isisik melibatkan kecerdasan intra-personal dan kemampuan awal yang dimiliki dalam memahami dan medefinisikan masalah.
3) Mengumpulkan fakta-fakta
Peserta didik membuka kembali pengalaman yang sudah diperlehnya dan pengetahuan awal untuk mengumpulkan fakta- fakta. Peserta didik melibatkan kecerdasan majemuk yan dimiliki untuk mencari informasi yang berhubungan dengan permasalahan.
Pada tahap ini peserta didik berupaya mengorganisasikan informasi-informasi dengan menggunakan istilah “apa yang diketahui(know)‟,‟apa yang dibutuhkan(need to know)‟, dan apa yang dilakukan (needto do)‟ untuk menganalisis permasalahan dan fakta-fakta yang berhubungan dengan permasalahan.
4) Menyususn dugaan sementara
Peserta didik menyususn jawaban-jawaban sementara terhadap permasalahan. Dalam hal ini, peserta didik melibatkan kecerdasan interpersonal yang dimilikinya untuk mengungkapkan apa yang dipikirkanya, membuat hubungan-hubungan, jawaban
dugaannya, dan penalaranmereka dengan langkah-langkah yang logis.
5) Menyelidiki
Peserta didik melakukan penyelidikan terhadap data dan informasi yang diperoleh berorientasi pada permasalahan. Peserta didik melibatkan kecerdasan majemuk yang dimikinya dalam memahami dan memaknai informasi dan fakta-fakta yang ditemukanya. Guru membuat struktur belajar yang memungkinkan peserta didik bisa menggunakan berbagai cara untuk mengetahui dan memahami dunia mereka.
6) Menyempurnakan pemasalahan yang telah didefinisikan
Peserta didik menyempurnakan kembali perumusan maslah dengan merefleksikanya melalui gambaran nyat yang mereka pahami. Peserta didik melibatkan kecerdasan verbal-linguistic guna memperbaiki pernyataan rumusan masalah, yang sedapat mungkin menggunakan kata yany lebih tepat. Perumusan ulang permasalahan lebih memfokuskan pada penyelidikan, menunjukkan secara jelas fakta-fakta dan informasi yang perlu dicari, serta memberikan tujuan yang jelas dalam menganalisis data.
7) Menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan secara kolaboratif Peserta didik berkolaborasi mendiskusikan data dan informasi yang relevan denganpermasalahan. Setiap anggota
kelompok secara kolaboratif mulai bergelut untuk mendiskusikan permasalahan dari berbagai sudut pandang. Pada tahap ini perosespemecahan masalah berada pada tahap menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang dihasilkan dengan berkolaborasi. Kolaborasi menjadi mediasi intuk menghimpun sejumlah alternatif pemecahan masalah yang menghasilan alternatif yang lebih baik ketimbang dilakukan secara individual.
a. Menguji solusi permasalahan
Peserta didik menguji alternatif pemecahan yang sesuai dengan permasalahan aktual melalui diskusi secara komprehensif antar anggota kelompok untuk memperoleh hasil pemecahan terbaik. Peserta didik menggunakan kecerdasan majemuk untuk menguji alternatif pemecahan masalah dengan membuat sketsa, menulis, debat, dan membuat plot untuk mengungkapkan ide-ide yang dimilikinya dalam menguji alternatif pemecahan.
Adapun dalam melaksanakan model pembelajaran problem based learning ini bridges dan charlin mengemukakan beberapa ciri- ciri utama seperti berikut :
a. Pembelajaran berpusat dengan masalah
b. Msalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan akan dihadapi oleh peserta didik dalam kerja profesional mereka di masa depan.
c. Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh peserta didik saat proses pembelajaran disusun berdasarkan masalah.
d. Para peserta didik bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.
e. Peserta didik aktif dengan proses bersama.
f. Pengetahuan menyokong pengetahuan yang baru.
g. Pengetahuan diperoleh dalam konteks yang bermakna.
h. Peserta didik berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.
i. Kebanyakan pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok kecil.
c. Tujuan Model ProblemBased Learning (PBL)
Menurut Ibrahim dan nur mengemukakan tujuan pembelajaran berbasis maasalah ini lebih rinci yaitu membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata, dan menjadi para peserta didik yang otonom.
Sementara itu adapun menurut kemendikbud dalam materi sosialisasi kurikulum 2013 mengemukakan tujuan pembelajaran berbasis masalah ini atau problem based learning (PBL) sebagai berikut :
a) Keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah untuk mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi.
b) Pemodelan peranan orang dewasa untuk membentuk peserta didik yang dapat melakukan aktivitas mental diluar sekolah yang dapat dikembangkan.
c) Belajar pengarahan sendiri (self directed learning) peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari, dan dari mana informasi harus diperoleh dan dibawah bimbingan guru.
d. Kelebihan dan Kekurangan Model Problem Based Learning (PBL) Pembelajaran berbasis masalah hendaknya dilaksanakan secara kontinyu dan diterapkan pada berbagai materi pembelajaran. Hal ini selain bertujuan untuk meningkatkan aktivitas peserta didik dalam pembelajran, selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir mereka. Maka, penguasaan kelas oleh guru pada saat membimbing diskusi kelas sangat diperlukan untuk memotivasi kemampuan komunikasi antar siswa, sehingga pertanyaan dan jawaban peserta didik akan lebih berkembang. Pemerataan pertanyaan sebagai upaya menghidupkan suasana juga diperlukan untuk mengaktifkan peserta didik dalam menjawab pertanyaan maupun pendapat, Kelebihan pembelajaran problem based learning dalam pemanfaatanya adalah sebagai berikut :
a) Mengembangkan pemikiran kritis dan ketramipilan kreatif serta mandiri.
b) Meningkatkan motivasi dan kemampuan memecahkan masalah.
c) Membantu peserta didik belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru.
d) Dengan pembelajaran berbasis masalah ini akan terjadi pembelajaran bermakna.
e) Dalam situasi pembelajaran berbasis masalah ini peserta didik mengintegrasikan pengetaahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikanya dalam konteks yang relevan.
f) Pembelajaran berbasis masalah ini dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis, menumbuhkan inisiatiif peserta didik dalambekerja, motivasi internal untuk belajar dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
g) Mendorong peserta didik untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
h) Lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.
Selain kelebihanya ada juga kelemahan dari pembelajaran problem based learning dalam pemanfaatanya sebagai berikut :
1) Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini.
2) Kurangnya waktu pembelajaran.
3) Peserta didik tidak dapat benar-benartahu apa yang mungkin penting bagi mereka untuk belajar.
4) Seorang guru sulit menjadi fasilitator yang baik.
e. Pendidikan agama islam (PAI)
a) Pengertian pendidikan agama islam (PAI)
Abudinata berpendapat dalam buku filsafat Pendidikan Islam bahwa pendidikan agama adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktivitas pendidikan diperlukan landangan yang kokoh dan koprehensif. Al-Qur‟an dan al-Hadits merupakan sumber utama untuk mengarahkan manusia sebagai kekhalifahannya di muka bumi dalam rangka beribadah kepada Allah. Menurut Ramayulis, Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia serta mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur‟an dan al- Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan serta pengalaman.18
Pengertian yang sama dikemukakan oleh tafsir, sebagaimana dikutip dalam hidayati, bahwasanya pendidikan agama islam merupakan upaya dalam membimbing peserta didik agar potensinya dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam. Sementara pendidikan agama islam adalah mata pelajaran atau nama kegiatan yang dibakukan dan berkaitan dengan kegiatan mendidik agama islam.19 Sementara itu, Muhaimin menjelaskan dua inti pokokdari hakikat pendidikan
18 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2014), 21
19 Haitami salim dan syamsul kurniawan, studi ilmu pendidikan islam (yogyakarta: arruzmedia, 2012), h.27
islam yaitu : Aktivitas pendidikan yang dijalankan dan diselenggarakan untuk mengejewantahkan nilai-nilai islam, Sistem pendidikan yang disemangati atau dijiwai oleh nilai-nilai islam.
Bahwa pengertian pertama berkaitan dengan pangkat institusi atau kelembagaan, sementara pengertian kedua lebih bermakna spirit atau ruh dari sistem pendidikan yang diselenggarakan.20
Selain itu pengertian dari pendidikan agama islam (PAI) dapat pula merujuk pada definisi yang disebutkan dalam peraturan pemerintah No. 55 Tahun 2007, 21selanjutnya dipertegas kembali melalui peraturan menteri agama (PMA) Nomor 16 Tahun 2010 pasal 1 yang menyebutkan, bahwa; „pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur,jenjang, dan jenis pendidikan.”
1. Tujuan pembelajaran pendidikan agama islam (PAI).
Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai.
Karena pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya
20 Lili hidayati, “kurikulum 2013 dan arah baru pendidikan agama islam,” jurnal insania IAIN purwokerto 19 no. 1 (2014): h. 76
21 Rpublik indonesia, „peraturan pemerintahan republik indonesia nomor 55 tahub 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan,‟ 2007, Bab II pasal 2.
bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap, tetapi merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya. Pendidikan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera. Pendidikan ini juga membahas pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah.
Pendidikan ini bukan hanya mempelajari pendidikan duniawi saja, individual, sosial saja, juga tidak mengutamakan aspek spiritual atau aspek materiil. Melainkan keseimbangan antara semua itu merupakan karakteristik terpenting pendidikan Islam.22
Tujuan pendidikan agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah “agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan. Islam mempunyai dua tujuan, yaitu :
a. Tujuan Keagamaan, maksudnya ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui tuhannya yang telah memurnikan hak- hak Allah yang telah diwajibkan atasnya.
22 Aat Syafaat; Sohari Sahrani; Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), 33-38
b. Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.23
2. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, antara lain sebagai berikut :
a. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari materi pokok pendidikan agama Islam (al-Qur‟an dan Hadis, Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Peradaban Islam).
b. Ditinjau dari segi muatan pendidikannya, PAI dan Budi Pekerti merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Maka, semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti.
c. Diberikannya mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. berbudi pekerti yang luhur (berakhlak yang mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata
23 Zulvia Trinova, “Pembelajaran Berbasis Student-Centered Learning Pada Materi Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Al-Ta‟lim 1, No. 4 (Februari, 2013): 333.
pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.
d. Pendidikan agama islam dan Budi Pekerti adalah mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai kajian keislaman tersebut sekaligus dapat.24
3. Evaluasi pembelajaran pendidikan agama islam (PAI)
Evaluasi Pembelajaran menurut Oemar Hamalik adalah Evaluasi terhadap proses belajar mengajar secara sistematik, evaluasi pembelajaran diarahkan pada komponen-komponen system pembelajaran, yang mencangkup komponen input, yakni perilaku awal siswa, komponen input instrumental yakni kemempuan provisional guru atau tenaga pendidik, komponen kurikulum (program setudi, metode, media) komponen administrasi (alat, waktu, dana) komponen proses adalah proses pelaksanaan, pembelajaran, komponen out put adalah hasil pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran.
Ruang Lingkup Pembelajaran Agama Islam Ruang lingkup evaluasi dalam pembelajaran disekolah menurut Wayang Nurkancana dan P.P.N Sumartana meliputi :
a. Evaluai Hasil Belajar b. Evaluasi Intelegensi
24 Tim Pengembang Pedoman, Kurikulum 2013 Pedoman Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, 24-25.
c. Evaluasi Bakat Khusus d. Evaluasi Minat
e. Evaluasi Hubungan Sosial
BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Judul penelitian ini, yaitu “Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti Kelas XI SMA Negeri 1 Tegaldlimo Tahun 2021/2022.” Dari judul tersebut, sudah diketahui bahwa pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka.25 Karena penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan tentang implementasi model pembelajaran problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam(PAI) dan budi pekerti kelas XI.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian lapangan (field research) . Penelitian lapangan (field research) dadalah penelitian yang dilakukan di lapangan atau di luar ruangan.26 Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi yang terjadi di lapangan. Selain itu penelitian ini juga termasuk jenis penelitian fenomenologi, karena berusaha untuk mengungkap dan mempelajari serta memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh individu. Maksudnya penelitian fenomenologi berusaha untuk mencari arti dari suatu pengalaman individu terhadap suatu fenomena melalui penelitian yang mendalam dalam
25 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2015), 13.
26 M. Zaim, Metode Penelitian Bahasa, Pendekatan Struktural, (Padang: Sukabina Press Padang, 2014),18.
39 41
konteks kehidupan sehari-hari subjek yang diteliti.27 Dengan itu, penelitian ini langsung dilakukan di lapangan atau pada responden, untuk megumpulkan data dan berbagai informasi harus berada langsung pada objeknya dengan harapan dapat melakukan penelitian secara terperinci dan mendalam tentang hal-hal unik dalam Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas XI di SMA Negeri 1 Tegaldlimo tahun 2021/2022.