BAB I PENDAHULUAN
B. Penyajian data dan analisis data
2. Penerapan model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas XI SMA
Negeri 1 Tegaldlimo.
Penerapan model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas XI, Untuk mengetahuinya peneliti menggunakan teknik wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasilnya diketahui bahwa penerapan model problem based learning (PBL) yang berlaku. Hal ini sesuai dengan hasil
wawancara peneliti dengan guru kelas XI juga sebagi guru pata pelajaran PAI yaitu bapak Mu‟I zudaillah berkata bahwa :
“Bahwa guru memberikan arahan berupa materi yang telah terdapat pada rencana perencanaan pembelajaran(RPP) dan silabus yang beredar. Selanjutnya guru menerangkan sedikit materi setelah itu memberikan suatu kegiatan atau tugas berdiskusi yang beranggotakan 3-4 anak untuk diberikan tugas suatu masalah yang berkaitan dengan materi yang telah diberikan seperti, tentang sholat jenazah mereka diberi tugas untuk menghafal serta diberikan suatu masalah seperti bagaimana cara merawat jenazah dan bagaimana cara menyolatkan jenazah sehingga dalam kegiatan tersebut peserta didik dapat menerapkan jika berada terjun di masyarakat”.43
Hasil wawancara tersebut dapat dibuktikan dengan dokumentasi sebagai berikut :
Gambar 4.2
Wawancara dengan guru kelas XI mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi pekerti.
43 Hasil wawancara dan dokumentasi dengan guru mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas XI di SMA Negeri 1 Tegaldlimo.
Sebagaimana yang juga disampaikan oleh kepala sekolah SMA Negeri 1 Tegaldlimo Banyuwangi yaitu bapak H. Mohamad Rosid sebagai berikut:
“ Rata-rata disini menggunakan model dan PTK sesuai dengan guru mata pelajaran masing-masing mau menerapkan atau menggunakan yang mana. Sekreatif guru mata pelajaran tersebut dikarenakan anak di SMA Negeri 1 Tegaldlimo ini setiap anak berbeda dan disini menerapkan system SKS juga, dan pada masa pandemic kemarin kita mengikuti arahan dari kementrian dikarenakan peserta didik masuk tatap muka kita sudah harus siap untuk tatap muka apabila kementrian meminta untuk daring atau pembelajaran jarak jauh kita sebagai guru harus siap dalam keadaan apapun “.44
Hasil wawancara tersebut dapat di buktikan dengan dokumentasi sebagai berikut :
Gambar 4.3
Wawancara dengan kepala sekolah SMA Negeri 1 Tegaldlimo H.Mohamad Rosid, S.Pd
44 Hasilwawancara dan dentasi dengan kepala sekolah H. Mohamad Rosid di SMA Negeri 1 Tegaldlimo.
Hasil wawancara diatas dikuatkan dengan dokumentasi oleh kegiatan pembelajaran didalam kelas XI yang menerapkan model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam sebagai berikut:
Gambar 4.4
Kegiatan pembagian kelompok peserta didik untuk melaksanakan diskusi pemecahan masalah pada materi sholat jenazah.
Dokumentasi diatas bahwasanya kegiatan pembagian kelompok diskusi untuk memecahkan masalah pada materi sholat jenazah yang akan dilaksanakan setelah guru menyampaikanmateri sehingga peserta didik dapat mengetahui sekilasmateri yang akan dibuat bahan berdiskusi.
Dalam materi tersebut penerapan model problem based learning (PBL) dalam penerapan model ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untukmenetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang harus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan
agar siswa mampu menyelesaikan maslah secara sistematis dan logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar melalui model problem based learning ini berdasarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perunahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Berikut adalah hasil wawancara oleh siswi kelas XI menanyakan tentang kesulitan apa yang dialami setelah diterapkannya model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti .
“menurut saya sangat menyenangkan dikarenakan menyampaikan materinya tidak hanya dengan metode ceramah yang sangat membosankan tetapi juga agar kita lebih faham akan materi yang disampaikan dengan per sub bab kita diberi tugas untuk mendiskusikan suatu masalah yang terdapat pada materi tersebut dan darisitu kita faham akan materi yang disampaikan oleh bapak guru”45
Penjelasan materi untuk pemahaman peserta didik biasanya diibaratkan hubungan antara orang tua dan anak. Kerena hubungan orang tua dan anak sama halnya hubungan antara guru dan murid. Ketika anak tersebut tidak melakukan kewajibanya yaitu sholat maka orang tua tersebut harus mengingatkan bahwa sholat tersebut wajib dan apabila ditinggalkan mendapatkan dosa. Begitu juga guru apabila anak yang meninggalkan guru segera mengingatkan karena apabila ditinggalkan mendapatkan dosa.
45 Hasil wawacara kepada siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Tegaldlimo
Selanjutnya wawancara kepada salah satu peserta didik yang kesulitan dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.
Hasil wawancara tersebut dapat dibuktikan dengan hasil dokumentasi sebagai berikut;
Gambar 4.4
Wawancara dengan siswi kelas XI SMA Negeri 1 Tegaldlimo yang bernama sukma widiyanti purnama siwi.
Selanjutnya wawancara dengan siswa yang kesulitan atas materi yang disampaikan oleh bapak guru yang bernama nindya ramada putri sebagai berikut :
“ disini saya merasa kesulitan dikarenakan saya susah untuk memahami materi terkadang saya ketinggalan dengan teman yang lain dan disini saya meminta untu bapak atau ibu guru untuk menerangkan kembali sehingga saya faham dan dapat mengerjakan tugas berdiskusi menyelesaikan masalah pada materi sub bab yang telahdiberikan bapak guru”.46
46 Hasil wawancara dan dokumentasi dari siswa kelas XI IPA 3 di SMA Negeri 1 Tegaldlimo
Hasil wawancara tersebut dapat dibuktikan dengan hasil dokumentasi sebagai berikut :
Gambar 4.5
Wawancara oleh peserta didik yang kesulitan dalam penerapan model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas XI yang bernama
nindya ramada putri.
Hasil wawancara dengan peserta didik yang sedang menanyakan jawaban dari berdiskusi dengan kelompoknya dengan perwakilan 1 anak yang menanyakan adalah andre setiawan selaku ketua kelompok sebagai berikut :
“ apakah benar jawaban dari kelompok saya ini harap dikoreksi lagi bu, dan jika ada yang salah harap diberi tanda mana yang salah sehingga nanti waktu dikumpulkan mendapat nilai yang memuaskan dan menurutsaya dengan model pembelajaran PBL ini sangan efektif sekali bagi saya dan teman-teman agar mendapatkan nilai dengan baik dan mudah juga untuk mendapat nilainya dengan cara memecahkan masalah secara kelompok dan sangat menyenangkan bagi saya karena apa dikala guru menjelaskan dengan metode ceramah saya tipe anak yang suka mengantuk dalam kelas”.47
Hasil wawancara yang dibuktikan dengan hasil dokumentasi sebagai berikut:
47 Hasil wawancara dan dokumentasi siswa kelas XI dengan peneliti di SMA Negeri 1 Tegaldlimo
Gambar 4.6
Wawancara dengan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tegaldlimo yang benama andre setiawan.
3. Evaluasi kegiatan pembelajaran model problem based learning