• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian Learning Management System

Dalam dokumen pumpunan - Repository Poltekbang Surabaya (Halaman 110-128)

- 101 -

B A B S E B E L A S

Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian

102. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

Pada saat pandemi COVID-19 sejak tahun 2020, hampir semua sekolah di semua tingkat pendidikan melakukan pembelajaran daring, termasuk perguruan tinggi (Akbar, 2020).

Salah satu alat yang paling dibutuhkan adalah adanya Learning Management System (LMS), selain beberapa media komunikasi lain (WA, Telegram, SMS dan sebagainya). Beberapa lembaga pendidikan besar, mengembangkan sendiri LMS nya – sedangkan yang lain, menggunakan LMS yang ada atau di bangun oleh pihak ketiga (Rizal, 2022). LMS sebagai media pembelajaran daring, menjadi sangat populer sekali (Akbar, 2012) . Berbagai macam ragam LMS dibangun dan digunakan diberbagai lembaga pendidikan.

Keadaan yang mengharuskan penggunaan LMS secara mendadak ini, menyebabkan banyak lembaga pendidikan memilih LMS secara seadanya saja – tanpa pertimbangan yang memadai. Banyak pembelajaran yang terjadi dengan menyesuaikan pada fitur-fitur yang dimiliki LMS, sehingga beberapa kebutuhan bisa tidak terpenuhi. Fitur-fitur yang dibutuhkan, seringkali malah tidak disediakan atau dipenuhi oleh sistem (Amalia, 2020 & Igem 2020).

Adanya perbedaan antara kebutuhan dengan ketersediaan fitur ini seringkali menimbulkan gap pada pengguna LMS. Waktu yang mendesak dan harus segera

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.103

direalisasikan, seringkali menimbulkan perbedaan persepsi seperti ini, sehingga hasilnya menjadi kurang memuaskan (Dick, 2005).

Selain itu, belum adanya alat analisis khusus yang baku untuk menilai LMS juga menjadi penyebab terjadinya perbedaan persepsi antara pengguna dan juga pengembangan LMS.

Manfaat Umum LMS

Pembelajaran daring adalah proses belajar mengajar yang memanfaatkan internet dan media digital dalam penyampaian materinya. Pengajar maupun pemelajar dapat menggunakan smartphone, tablet phone, ataupun komputer sebagai alat untuk mengakses media pembelajarannya. Metode pembelajaran daring dianggap lebih dekat dengan generasi muda saat ini, dimana generasi ini dikenal sangat terbiasa menggunakan produk-produk teknologi komunikasi (Gall, 2003). Proses ini merupakan salah satu bentuk digitalisasi pada dunia pendidikan dan diyakini memiliki banyak manfaat. Berikut beberapa kelebihan dari pembelajaran daring (Alicia, 2012).

Manfaat pembelajaran daring yang pertama adalah dari sisi kepraktisan. Dengan pembelajaran daring, maka interaksi antara dosen dengan mahasiswa akan lebih praktis, karena tidak harus bertemu secara luring. Dalam pembelajaran daring juga tidak

104. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

membutuhkan ruang kelas fisik untuk lokasi pembelajaran formal. Proses pembelajaran bisa dilaksanakan di mana pun, sejauh kondusif dan tetap bisa fokus (Smalldino, 2007).

Manfaat kedua adalah pendekatan yang digunakan lebih sesuai bagi generasi masa kini, dengan kedekatan terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Dalam banyak hal, pendekatan ini dianggap lebih baik dari metode pembelajaran konvensional di kelas (David, 2022). Metode penyampaian pembelajaran yang dapat digunakan di kelas daring umumnya sudah merupakan gabungan konsep formal dan informal.

Mahasiswa akan lebih merasa sesuai dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi ini dalam pembelajaran (Zeithand, 2003).

Manfaat selanjutnya adalah pemelajar mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Pembelajaran daring sudah mulai meninggalkan item-item pembelajaran konvensional di kelas, seperti dosen dengan spidol dan white board, ataupun mahasiswa dengan buku catatan dan ballpoint.

Mahasiswa akan mendapatkan proses pembelajaran yang lebih menarik serta menggunakan berbagai format media ataupun multimedia (Zorg, 2007).

Manfaat lain adalah pendekatan yang lebih personal.

Beberapa aspek pembelajaran daring menggunakan materi yang

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.105

bersifat satu arah, tetapi banyak juga aspek yang menyediakan komunikasi dua arah. Pembelajaran dapat berjalan secara asinkronous, ataupun sinkronous. Dengan cara ini, pembelajaran daring dapat melakukan interaksi dua arah dalam satu waktu sehingga lebih personal.

Dari sisi waktu dan biaya, LMS juga dapat memberikan efisiensi. Dalam pembelajaran luring, dibutuhkan waktu memulai kelas saat terjadi perpindahan ruang. Dosen dan mahasiswa membutuhkan waktu menuju kelas yang akan digunakan untuk belajar (Vanessa, 2020). Terkadang ada biaya- biaya tambahan untuk pengadaan media belajar seperti buku atau fotokopi materi. Manfaat pembelajaran daring lainnya adalah mengurangi semua pengeluaran tersebut, sehingga mahasiswa dan dosen hanya perlu terhubung dengan layar dan jaringan internet (Amalia, 2020 & Igem, 2020).

Dari sisi dokumentasi, pembelajaran daring lebih mudah dikelola. Metode pembelajaran luring terkadang menghendaki mahasiswa mencatat atau untuk menyalinan materi pelajaran untuk diri mereka. Terkadang mereka perlu mem-photo copy, yang membutuhkan media kertas dan tidak terlalu praktis.

Manfaat pembelajaran daring lainnya adalah menggunakan media atau multimedia, yang memungkinkan mahasiswa merekam dan menyimpan materi dalam bentuk digital. Materi

106. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

ini dapat dengan mudah diakses untuk dipelajari kembali dilain waktu.

Penggunaan LMS juga dianggap ramah lingkungan. Dengan pengurangan mobilitas, maka sudah mengurangi kemungkinan polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor.

Pembelajaran daring juga tidak memerlukan kertas baik untuk pemberian materi, tugas ataupun presensi dan administrasi lainnya. Hal ini diharapkan memiliki dampak yang positif bagi lingkungan, karena mengurangi penggunaan kertas serta mengurangi kemungkinan sampah yang dihasilkan dari penggunaan kertas tersebut.

Manfaat yang paling dirasakan selama pandemi covid-19, dimana kita harus membatasi interaksi sosial guna memutus rantai penyebarannya, termasuk proses belajar mengajar luring yang dirubah menjadi daring. Pendidikan tetap harus berlanjut, salah satunya dengan memanfaatkan sistem pembelajaran daring menggunakan LMS ini. Dengan sistem ini, dosen dan mahasiswa tidak perlu bertemu secara langsung dalam proses belajar mengajar.

Karakteristik Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring memiliki karakteristik yang terbentuk pada saat pelaksanaan. Karakteristik pertama adalah

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.107

merujuk pada pengertian harfiah atau segi epistemologi pembelajaran daring - yang berarti pembelajaran online dan memanfaatkan teknologi komunikasi elektronik, serta memanfaatkan media digital dan jasa teknologi informasi.

[18][19]20]

Karakteristik pembelajaran daring yang lain adalah dari materi pembelajarannya. Materi umumnya berupa materi belajar dalam bentuk digital yang memanfaatkan multimedia dan bersifat mandiri. Materi ini tersimpan dalam bentuk sistem komputer (David, 2022). Materi pembelajaran ini dapat diakses oleh mahasiswa atau dosen kapan saja dan di mana saja, selama mereka memiliki akses internet.

Karakteristik pembelajaran daring selanjutnya adalah memungkinkan untuk membuat kurikulum, memanfaatkan jadual pembelajaran, serta melaksanakan sistem administrasi pembelajaran (presensi, penugasan, diskusi, hingga penilaian) yang dapat diakses setiap saat melalui jaringan internet.

Permasalahan

Ada beberapa faktor yang dianggao menjadi kelemahan dari pembelajaran daring, diantaranta teknologi, kesiapan mahasiswa, keberadaan fasilitator pembelajaran, serta kurikulum yang belum siap mengadopsi penggunaan LMS untuk

108. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

pembelajaran daring. Selain itu, masalah utama dalam pemilihan LMs adalah belum standarnya fitur, disain dan teknologi LMS menyebabkan pengguna kesulitan untuk menentukan LMS yang akan dipilih untuk digunakan.

Penelitian ini akan membuat atau memodifikasi indikator yang ada berupa Imprtance – Performance Analysis Matrix (IPA Matrix), untuk digunakan menilai satu LMS. IPA Matrix yang ada, akan diadaptasi untuk menilai satu LMS sehingga memudahkan pengguna untuk membandingkan beberapa LMS sebelum memilih LMS tersebut. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah satu set indikator IPA Matrix yang khusus digunakan untuk menilai LMS.

Metode Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan metode triangulasi untuk mendapatkan indikator penilaian LMS, yang dimulai dari IPA Matrix yang sudah ada. Indikator IPA Matrix yang menjadi dasar adalah indikator yang sudah pernah penulis teliti sebelumnya dan dipublikasikan dalam prosiding seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Mercu Buana tahun 2021 (Akbar, 2021).

Triangulasi pertama adalah dengan meminta pendapat dari beberapa orang ahli dalam bidang disain UI/UX disainer,

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.109

terutama disain situs web. Hasil yang didapatkan adalah indikator terpilih yang dianggap penting oleh para disainer UI/UX berkaitan dengan situs pembelajaran daring atau LMS.

Berdasarkan penilai ini, akan dibuat list berupa indikator IPA Matrix yang sudah dimodifikasi berdasarkan masukan para disainer UI/UX (Martilla, 1978).

Hasil penyesuaian ini kemudian akan dievaluasi oleh beberapa orang ahli atau pelaksana administrasi LMS. Praktisi administrasi LMS akan menentukan ranking kepentingan dari masing-masing indikator yang sudah dimodifikasi berdasarkan masukan ahli disain UI/UX. Hasilnya adalah indikator IPA Matrix yang sudah disortir berdasarkan kepentingan oleh praktisi administrasi LMS.

IPA Matrix yang sudah disusun ulang dari hasil penilaian administrator LMS – akan dinilai oleh pengguna untuk menentukan bobot masing-masing dari sisi pengguna. Pengguna dalam hal ini adalah dosen dan mahasiswa yang sudah pernah berinteraksi dengan LMS. Hasilnya adalah satu set indikator IPA Matrix yang siap untuk diuji coba menilai LMS atau Sistem Informasi Akademik (yang mendukung pembelajaran).

110. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

Hasil dan Pembahasan

Berikut adalah indikator dari IPA Matrix yang sudah disesuaikan berdasarkan teori , penelitian terdahulu dan dinilai oleh disainer UI/UX.

1. Kinerja Aplikasi. Mengukur seberapa baik suatu aplikasi dapat melakukan apa yang seharusnya dilakukan aplikasi tersebut, termasuk di dalam indikator ini adalah berapa lama waktu panggil yang dibutuhkan dan seberapa handal aplikasi dalam melakukan tugas-tugasnya dalam batasan penggunaan normal (Sommerville, 2011).

2. Features. Menilai tampilan dari icon dan objek-objek yang melengkapi atau meningkatkan fungsi dasar pada layanan aplikasi.

3. Fungsionalitas. Menilai seberapa baik aspek teknologi dari bahasa pemrograman yang digunakan untuk dapat membuat interkasi, menarik dan aplikasi seperti hidup saat berinteraksi dengan pengguna (Kendall, 2011).

4. Kesesuaian. Menilai sebarapa sesuai sistem yang dibuat dibandingkan dengan standar yang berlaku atau diharapkan pengguna.

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.111

Gambar 1. Langkah-langkah Penelitian

5. Kompatibilitas. Menilai seberapa luas sebuah webite didukung perambah yang ada, seperti browser dengan berbagai plug-in nya ( Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera, Maxton, Vivaldi ) 6. Durabilitas. Mengukur seberapa lama umur ekonomis dari suatu sistem dapat berjalan dengan teknologi modern sejauh memungkinkan.

112. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

7. Waktu Perawatan. Penggunaan dalam waktu lama, seringkali menyebabkan suatu sistem harus menjalani perbaikan, baik berkenaan dengan bugs yang ada, perawatan dalam data, penambahan kemampuan, perbaikan dalam kemampuan sistem dan hal lain yang berkenaan dengan perawatan.

8. Keindahan. Berkenaan dengan pemilihan bentuk grafis, layout halaman situs, komposisi warna, bentuk maupun typografi yang menarik secara visual pengunjung untuk menjelajahi website.

9. Persepsi. Pandangan subjektif pengguna terhadap aplikasi.

10. Usabilitas. Mengukur effort yang dibutuhkan seorang user menemukan cara untuk menggunakan website tersebut dengan efektif (doing things right).

11. Navigasi. Menggambarkan seberapa sulit penggunaan perintah perpindahan antar halaman atau komponen hypertext dalam situs.

12. Konten yang bermanfaat. Mengukur penilaian pengguna terhadap konten-konten yang disediakan pengembang aplikasi.

Skala yang digunakan untuk penilaian adala pilihan berdasarkan pembobotan dengan skala 5, dengan pilihan 1 – sangat tidak penting; 2 – tidak penting; 3 – rata-rata; 4 – penting

; 5 – sangat penting, untuk tingkat kepentingan (Importance) dan

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.113

1 – sangat tidak baik; 2 – tidak baik; 3 – rata-rata; 4 – baik ; 5 – sangat bakl – untuk penilaian Kinerja (Performance).

Penilaian selanjutnya oleh administrator LMS, yang menghasilkan urutan sebagai berikut untuk tingkat kepentingan:

1. Kinerja Aplikasi 4,8 2. Features 4,6

3. Fungsionalitas4,4 4. Kesesuaian 4,4 5. Kompatibilitas 4,2 6. Durabilitas 4,0 7. Waktu Maintain 4,0

8. Keindahan / Disain Grafis 4,0 9. Persepsi 4,0

10. Usabilitas 4,0 11. Navigasi 3,8

12. Konten yang bermanfaat 3,5

Sedangkan indeks untuk kinerja yang diharapkan, urutannya sebagai berikut :

1. Kompatibilitas 4,5 2. Kinerja Aplikasi 4,1

114. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

3. Kesesuaian 4,0 4. Persepsi 4,0 5. Usabilitas 4,0 6. Features 3,3 7. Durabilitas 3,3 8. Waktu Maintain 3,3

9. Konten yang bermanfaat 3,3 10. Keindahan / Disain Grafis 2,8 11. Fungsionalitas 2,6

12. Navigasi 2,5

Hasil penilaian pengguna, didapatkan urutan sebagai berikut 1. Kinerja Aplikasi 4,4

2. Features 4,0 3. Kesesuaian 4,5 4. Kompatibilitas 4,8 5. Durabilitas 4,0 6. Waktu Maintain 3,5 7. Persepsi 4,2

8. Usabilitas 4,0

9. Konten yang bermanfaat 4,6

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.115

Sebagian besar pengguna tidak menilai faktor fungsionalitas, keindahan/ disain grafis, dan navigasi sebagai hal yang perlu dimasukkan (skor dibawah 2) dalam penilaian mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan triangulasi yang dilakukan peneliti dan hasil pengolahan penilaian yang sudah dilakukan, maka dapat disimpulkan indikator yang dapat digunakan sebagai indikator penilaian LMS sebagai berikut (urutan sesuai hasil pemeringkatan): Kompatibilitas, Konten yang bermanfaat, Kesesuaian, Navigasi, Kinerja Aplikasi, Persepsi, Features, Fungsionalitas, Usabilitas, Durabilitas, Disain Grafis, Waktu Maintain. Dari sisi pengguna, hasil penilaian indikator kepentingannya adalah sebagai berikut : Kinerja Aplikasi , Features , Kesesuaian , Kompatibilitas, Durabilitas, Waktu Maintain , Persepsi ,Usabilitas , Konten yang bermanfaat.

Berdasarkan dua perbandingan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa indikator utama penilaian LMS adalah : Kinerja Aplikasi , Features , Kesesuaian , Kompatibilitas, Durabilitas, Waktu Maintain , Persepsi ,Usabilitas , Konten yang bermanfaat. Sedangkan indikator tambahan adalah : fungsionalitas, keindahan/ disain grafis, dan navigasi.

116. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

Referensi

Akbar, R., . (2020). Pengembangan Instrumen Penilaian LMS menggunakan Importance Performance Analysis Matrix, Jurnal FORMAT Mercubuana , Vol 9 (2).

http://dx.doi.org/10.22441/ format.2020.v9.i2.005 Rizal, F., (2022), Manfaat Online Learning Sebagai Metode

Pembelajaran Terkini di era pandemi COVID-19, https://smkpgritegal.sch.id/read/17/8-manfaat-online- learning-sebagai-metode-pembelajaran-terkini-di-era- pandemi-covid-19

N.N., (2022), E-Learning Terbaik,

https://www.gramedia.com/best-seller/e-learning Akbar, R.. (2012). “Pemanfaatan Hypertext dalam

Pembelajaran”. Jurnal Ilmiah SISFOTEKNIKA. Vol. 2. (2) , pp. 87 – 98.

Akbar, R., . (2009). Peningkatan Hasil Pembelajaran Melalui Pemanfaatan Hypertext dalam Pembelajaran Sejarah.

Disertasi, Universitas Negeri Jakarta - 2009

Dick, W., Carry, L., (2005 ), The Systematic Design of Instruction, Harper Colins Publishers, New York.

Gall, J., Gall, M., & Borg, W, (2003), Educational Research – and introduction, Pearson Education, New York.

Rufman Iman Akbar, Denny G. Purnama, Suparto Darudiato, Aulia S, Aurelia S.117

Smaldino, S., Molenda, M., (2007), Instructional Technology and Media for Learning, 8th edition, Merril Prenctice Hall Martilla, J., James, C., (1977), Importance-Performance Analysis,

The Journal of Marketing, Vol. 41(1), pp. 77-79, American Marketing Association

Jorg, Z., (2007), Hypertext-Based Argumentation : Role of Tools, Motivation, and Cognition, Universitat Heidelberg, http://zumbach.psi.uni_heidelberg.de .

Akbar, R., Setiyadi, D., (2012). Function Points as Approach to Estimating Software Development Effort. International Proceeding ISSTN, Univ Al Azhar, Jakarta

David, D., (2022), Aplikasi LMS Terbaik Karya Anak Bangsa, https://sevima.com/sevima-edlink-aplikasi-lms-terbaik- karya-anak-bangsa/

David, D., (2022), Lima Aplikasi e-learning Gratis, https://sevima.com/5-aplikasi-e-learning-gratis/

N.N., (2022), Aplikasi Belajar Online via Android, https://jalantikus.com/tips/aplikasi-belajar-online- android/

N.N., (2020), CNET e-Commerce Website Builder, https://www.cnet.com/feature/ecommerce-website- builder/

118. Modifikasi IPA Matrix untuk Penilaian LMS

Zeithaml, V., Bitner, M., (2003), Services Marketing: Integrating Customer Focus Across the Firm. McGraw Hill Irwin Vanesa, J., Devina, F., (2020), Analisis Peningkatan Kualitas

Pelayanan Pasien Menggunakan Metode SERVQUAL dan Importance Performance Analysis (IPA). Jurnal Kajian Manajemen dan Wirausaha , Vol 2 (4)

Sommerville, I,, (2011), Software Engineering, 9th edition, Pearson Education Inc

Kendall, K., Kendall, J., (2011), System Analysis and Design, 8th Edition, Prentice Hall

Amalia, I., (2020), 7 Kriteria Website yang Baik, https://sites.google.com/site/buatwebsite99/home Igem, D., (2020), 11 KRITERIA WEBSITE YANG BAIK UNTUK

MENGHASILKAN PENJUALAN MELIMPAH,

https://igem.blog/guide/, diakses 1 November 2020

- 119 -

B A B D U A B E L A S

Improvisasi UX untuk Sistem Informasi

Dalam dokumen pumpunan - Repository Poltekbang Surabaya (Halaman 110-128)