• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monitoring Implementasi Kurikulum

Dalam dokumen KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN (Halaman 154-160)

BAB VII MONITORING DAN EVALUASI KURIKULUM

B. Monitoring Implementasi Kurikulum

Pemerintah mempunyai tanggung jawab yang besar agar penyelenggaraan program pendidikan dan pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana. Kurikulum sebuah program studi dalam implementasinya walau telah direncanakan berupa dokumen yang lengkap, dalam kenyataannya pasti akan ada kesenjangan, sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum tersebut. Kadangkala dokumen kurikulum hanya menjadi pajangan, sementara pelaksanaan dilapangan seperti apa adanya. Pemerintah melalui dinas pendidikan disetiap negara selalu mempunyai program pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Pengawasan dilakukan oleh superintenden (USA), sementara di Indonesia dilakukan oleh pengawas sekolah. Pengawas sekolah ini berada di Kabupaten atau Pemerintah Kota (Daerah tingkat II).

Peran pengawas sekolah adalah memberikan supervisi terhadap guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum sekolah. Supervisi juga menjadi tanggungjawab Kepala Sekolah.

Kegiatan supervisi yang dilakukan pengawas sekolah, bersifat pembinaan dan pengembangan. Monitoring ini dilakukan secara periodik. Sementara kepala sekolah melakukannya setiap hari. Pada beberapa negara monitoring pelaksanaan kurikulum dapat juga dikontrol melalui peserta didik. Yaitu dengan menyebarkan kuestioner kepada dengan fokus pelaksanaan pembelajaran yang diselenggarakan selama satu semester. Tujuannya adalah untuk mendeteksi masalah yang mungkin ada dalam implementasi program.

Kelemahan dan kekuatan instruksional yang diselenggarakan selama satu semester dapat dipantau sebagai bahan evaluasi program.

1. Makna Monitoring

Monitoring atau pemantauau adalah suatu aktifitas yang dilaksanakan untuk mendapatkan umpan balik dari kinerja yang diselenggarakan untuk suatu kegiatan tertentu.

sementara itu kegiatan monitoring terhadap pelaksanaan kurikulum pada dasarnya adalah untuk mengetahui sampai dimana kurikulum telah dilaksanakan di sekolah-sekolah dan

persoalan-persoalan apa yang muncul dalam melaksanakan kurikulum tersebut. Dengan kata lain, kegiatan monitoring sebenarnya merupakan kegiatan mengikuti jalannya pelaksanaan kurikulum di sekolah pada tahun-tahun permulaan ditetapkannya kurikulum tersebut.

Sehingga didapatkan data tentang keadaan penyelenggaraan implementasi kurikulum saat ini, apakah terdapat kesenjangan dari perencanaan kurikulum tersebut.

Sasaran di dalam kegiatan monitoring ini lebih dipusatkan pada pemantauan terhadap kelancaran proses pelaksanaan kurikulum, lingkungan belajar, serta sarana yang diperlukan di dalam kegiatan pelaksanaan tersebut. Hasil pantauan biasanya dibandingkan dengan standar pelaksanaan proses pembelajaran yang dikeluarkan pemerintah. Hasil belajar akhir belum dijadikan acuan monitoring. Untuk mengumpulkan keterangan dalam pelaksanaan monitoring tersebut dapat digunakan wawancara, observasi maupun angket untuk para pelaksana. Monitoring dilakukan pada tahun-tahun permulaan dilaksanakan kurikulum baru di sekolah-sekolah, dimana kegiatan ini dilakukan oleh pihak pengembang kurikulum untuk mengambil tindakan guna memperlancar penyebaran dan pelaksanaan kurikulum di sekolah- sekolah. Kegiatan monitoring ini lebih berfokus pada pembinaan dan pengendalian agar pelaksanaan pembelajaran berada dalam koridor yang benar sesuai dengan standar proses implementasi kurikulum dari sebuah program studi. Pemantauan dapat dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas atau konsultan implementasi kurikulum. Apabila ada kemelencengan maka pembenaran dapat dilakukan. Progres kemajuan implementasi dapat dikontrol demikian rupa dalam proses berjalan.

2. Pelaksanaan Monitoring

Cara pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap kurikulum dapat dilakukan melalui dua cara yaitu cara langsung dan tidak langsung. Kedua cara tersebut dilakukan dengan seperangkat kegiatan monitoring yang sama yaitu kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan, mencatat, mengolah informasi dan pelaksanaan suatu proyek; kemudian dituangkan dalam suatu laporan monitoring

a. Pemantauan langsung

Pengertian pemantauan langsung adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara mengunjungi lokasi sekolah. Dengan cara demilkian petugas monitoring dapat secara bebas mengumpulkan informasi yang diperlukan. Agar pengumpulan informasi dapat berjalan secara efisien maka diperlukan strategi pengumpulan data yaitu;

1) Mempersiapkan instrument pengumpulan data, misalnya dengan menyiapkan daftar isian, angket, pedoman wawancara atau lembaran observasi.

2) Menggali informasi pada orang-orang penting yang memegang posisi dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. Bertatap muka langsung dilapangan akan memberikan makna tersendiri dalam melaksanakan pemantauan. Data dan informasi yang didapat lebih otentik dan kaurat.

3) Pemantauan langsung ke lapangan akan memberikan peluang yang sangat besar bagi tim monitoring untuk mendapatkan dokumen, informasi dan data yang langsung berhubungan dengan pelaksana kurikulum, seperti pimpinan sekolah, guru, siswa, maupun komite sekolah. Data dokumentasi pun dapat diambil, misalnya dengan mengambil video atau pun foto, Sehingga tujuan monitoring dapat tercapai.

Pelaksanaan monitoring secara langsung akan memerlukan biaya yang lebih besar, karena akan dibutuhkan biaya transportasi, uang harian, akomodasi dan lain-lain. Kemudian kepiawaian tim monitoring juga dituntut untuk dapat menggali data dan informasi yang akurat dari sumber data yang representatif. Data dan informasi adalah data primer, kemudian keuntungan monitoring langsung ini adalah tim bisa mengamati langsung kelemahan implemnentasi kurikulum dan dapat memberikan saran perbaikan, sehingga performance dapat ditingkatkan.

b. Pemantauan tidak langsung

Cara menghendaki petugas monitoring tidak perlu terjun langsung ke lokasi; tetapi penggalian data dilakukan dengan cara mengirim seperangkat daftar isian untuk di isi oleh orang lain di lokasi penelitian. Cara tidak langsung ini juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui laporan-laporan yang dibuat pimpinan pemantau. Bisa juga dilakukan interview melalui telepon, atau mengirimkan laporan melalui email. Monitoring tidak langsung ini memungkinkan biaya yang lebih murah dan tidak memeras tenaga. Juga subjek monitoring tidak perlu khawatir secara psychologis, karena mereka bebas dari pengawasan langsung. Merekapun tidak terbebasi untuk memberikan informasi sesuai dengan keinginan mereka. Jelas tingkat akutasi data dan informasi sangat terbatas dan tidak akurat.

Kelemahannya adalah keabsahan data rendah walaupun informasi yang diberikan banyak.

Bila ada perbedaan pendapat tidak dapat langsung diatasi dan tidak bisa diberikan saran dan kritik langsung pada saat monitor.

3. Supervisi Pembelajaran

Monitoring implementasi kurikulum dapat terdiri dari beberapa jenis kegiatan sesuai dengan peran dan fungsi kurikulum itu sendiri, diantaranya adalah Supervisi Pembelajaran.

Supervisi adalah suatu kegiatan pemantauan yang bersifat membina, mengembangkan dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, yang terkait dengan tugas pokok guru, yaitu melaksanakan pendidikan, pembelajaran dan pembimbingan terhadap peserta didik.

Alfonso,Firth and Neville (1981) menjelaskan bahwa supervisi merupakan gabungan kata, super dan vision. Super berarti lebih dan vision adalah pandangan. Berarti supervisi adalah pandangan yang jauh dan lebih terhadap sesuatu. Alfonso et al (1989,3) lebih jauh mengartikan bahwa "supervision is a combination or integration of processes, procedures, and conditions that are consciously designed to advance the work effectiveness of individuas and groups". Supervisi adalah kombinasi dan perpaduan dari suatu proses, prosedur, dan keadaan yang dirancang secara sadar untuk meningkatkan efektifitas kerja atau kinerja seseorang atau sekelompok orang. Pekerjaan supervisi ini dilakukan oleh supervisor. Dalam kontek pendidikan dan pembelajaran di Indonesia, tugas supervisi instruksional ini dilakukan oleh jabatan pengawas. Jabatan pertgawas di Amerika di sebut Superintendent.

Pemerintah berdasarkan perundang-undangan yang berlaku telah mengeluarkan regulasi sebagai landasaan yuridis yang kuat dalam penyelenggaraan supervisi pendidikan, yaitu:

a. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standarisi. Pada Rumawl V sub disebutkan bahwa :

1) Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, 2) Pelaksanaan dan penilaian hasii pembelajaran.

3) Supervisi pembeiajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan dan konsultasi,

5) Kegiatan supervise dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.

b. Permendiknas RI No 13 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/ bahwa pada kompetens supervisi Kepala sekolah yaitu :

1) Merencanakan Program supervise akademik dalam rangka peningkatan guru.

2) Melaksanakan supervise akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan profesional dan tehnik supervisi yang tepat.

3) Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

Supervisi pembelajaran merupakan sistem tingkah laku formal yang dipersiapkan oleh lembaga untuk menyiapkan interaksi dengan system perilaku pengajar dengan cara memelihara, mengubah dan memperbaiki rencana serta aktualisasi kesempatan belajar siswa.

Pentingnya supervisi dilakukan adalah untuk membantu guru mencapai tujuan pendidikan yang memenuhi harapan siswa. Supervisi dengan kata lain adalah usaha memberikan layanan kepada guru secara personal maupun kelompok untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran dengan kata lain adalah implementasi kurikulum. Tujuan supervisi adalah mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesionalisme. Tujuan ini akan tercapai bila pelaksanaan supervisi akrab dilakukan, melalui pembinaan, pembimbingan yang profesional pula. Dengan kata lain supervisor dengan pengalaman dan kebijaksanaannya mampu membantu guru untuk bekerja melaksanakan tugasnya dengan baik. Agar kegiatan supervisi dapat dilaksanakan dengan baik maka perlu dianut beberapa prinsip dalam penyelenggaraan supervisi yaitu sebagai berikut :

a. Saintifik

Pelaksanaan supervisi hendaknya sesuai dengan kaedah ilmiah yaitu mengacu pada prinsip yang sistimatis, teratur, terprogram, dan berkelanjutan, objektif, dan menggunakan data dan informasi yang sahih dan terpercaya. Instrumen pengukuran yang digunakan seperti tes, angket dan lain-lain dapat dipercaya untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat, valid dan reliabel.

b. Demokratis

Pelaksanaan supervise hendaknya dapat menjunjung tinggi azas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat, serta menghargai dan dapat menerima masukan dari pihak lain. Tidak bersifat otoriter dan konfrontatif terhadap guru.

c. Kooperatif

Dalam melaksanakan supervise hendaknya dapat mengembangkan usaha menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Kerjasama yang dimaksud adanya komunikasi timbal balik yang kondusif antara pengawas dan guru, sehingga usaha peningkatan dan perbaikan kinerja guru dapat dilaksanakan dengan baik.

d. Konstruktif dan Kreatif

Supervisi yang dilaksanakan pengawas hendaknya dilaksanakan dengan bijaksana, kritik yang konstruktif, membangkitkan motivasi guru, rasa percaya diri guru, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang harmonis.

Contoh : Monitoring dan Evaluasi Implementasi Kurikulum Selandia Baru 2008-2009 Tabel. 7.1. Curriculum & Instruction

Monitoring Curriculum Implementation & Instructional Practice

Overview: The adoption of curriculum by the school board starts a process of implementation that includes monitoring both the curriculum and the instructional practice with respect to achieving the expected outcomes.

Sumber : Dr. Claire Sinnema The University of Auckland Curriculum Implementation of The New Curriculum 2008-2009

Tabel 7.2 Curriculum Instruction

Monitoring Curriculum Implementation & Instructional Practice (continued)

Sumber : Dr. Claire Sinnema The University of Auckland Curriculum Implementation of The New Curriculum 2008-2009

Dalam dokumen KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN (Halaman 154-160)