BAB V PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. Prinsip dan Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (Curriculum Developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Menurut Unruh (1984:97) mengatakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah "a complex process of assessing needs, identifying desired learning outcomes, preparing for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural, social, and personal needs that the curriculum is to serve".
Maksudnya adalah sebuah proses yang komplek dari pelayanan kurikulum yang meliputi penilaian kebutuhan, mengidentifikasi hasil belajar yang diinginkan, mempersiapkan atuaran untuk mencapai hasil belajar, dan memenuhi kebutuhan aspek budaya, sosial dan perseorangan.
Konsep Pengembangan Kurikulum : a. Pengembangan Proses Kognitif b. Teknologi
c. Aktualisasi diri d. Rekonstruksi Sosial e. Rasional Akademik
a. Model pengembangan proses kognitif
Tujuannya adalah untuk mengembangkan berbagai macam keterampilan berpikir.
Materi terutama bahasa, logika dan matematika. Metode problem solving. Evaluasi mengutamakan proses daripada subjektif.
b. Model teknologi
Tujuannya adalah untuk mengarahkan siswa agar menguasai sejumlah kompetensi.
Materi sesuai dengan tujuan, dalam bentuk teori, keterampilan, yang dapat diamati dan dapat diukur. Materi diambil dari disiplin ilmu yang kemudian dirinci menjadi objektif yang dapat diamati. Metodenya adalah pemberian tugas, belajar mandiri dengan menggunakan berbagai media. Evaluasi bersifat formatif dan sumatif, evaluasi
80
berfungsi sebagai umpan balik untuk menyempurnakan program kurikulum dan evaluasi bentuknya objektif tes.
c. Model aktualisasi diri
Tujuannya adalah untuk mengembangkan seluruh aspek pribadi murid seperti kognitif, estetika moral, agar memiliki pribadi dinamis, integritas, berkepribadian. Mampu mengaktualisasi diri secara harmonis. Memberi pengalaman sebanyak-banyaknya.
Menjadi pribadi yang terbuka. Materi adalah semua disiplin ilmu yang menarik.
Metode dengan bertanya. Evaluasi menggunakan evaluasi formatif dari pada sumatif.
d. Model rekayasa sosial
Tujuannya adalah mengharapkan agar siswa dapat memecahkan masalahnya sendiri (misalnya dengan pengetahuan dan konsepsi pengetahuan sosial dibantu dengan pengetahuan lain seperti ekonomi, sosiologi, psikologi dan esetetika). Materi sesuai tujuan terutama masalah sosial yang mendesak dihadapi mahasiswa. Metode dengan diskusi kelompok. Evaluasi dilakukan dengan apa saja yang dikuasai siswa, pengaruh sekolah terhadap masyarakat, menilai apakah masyarakat berkembang dari taraf hidupnya.
e. Kurikulum rasional akademis
Tujuannya adalah memberikan siswa pengetahuan yang solid dan melatih siswa menggunakan ide-ide yang dimiliki. Materi terdiri dari berbagai disiplin ilmu terutama iimu bahasa, matematika, logika, humaniora. Bersifat universal, memberi siswa kesempatan untuk mencari kemampuan. Metode bersifat ekspistori dan inkuiri.
Pemanfaatan sumber yang ada dimasyarakat. Evaluasi berbentuk variasi sesuai dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Berbentuk esesi tes untuk seni. Model evaluasi formatif dan sumatif.
Pengembangan kurikulum perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. Dalam menghadapi tuntnuan perkembangan zaman, diperlukan penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum serta pendalaman dan perluasan materi. Dalam hal pembelajaran tidak kalah penting adalah penguatan proses pembelajaran dan penyesuaian beban
belajar agar dapat menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasiikan.
Pentingnya pengembangan kurikulum adalah berguna untuk membantu siswa dan guru daiam melakukan proses pembelajaran. Dengan makin berkembangnya sebuah negara maka ilmu yang diajarkan harus dikembangkan secara terus menerus. Maka dari itulah pengembangan proses belajar ini dimulai dari pengembangan kurikulum. Tetapi tetap saja kurikulum yang diberikan haruslah sesuai dengan kemampuan siswa disuatu negara. Jangan sampai menaikkan kurikulum tetapi sumber daya manusia siswanya tidaklah cukup menerima pelajaran itu. Hal ini akan membuat siswa malah menjadi tidak bisa belajar dengan baik dan efektif. Sehingga dapat membuat siswa itu tidak lulus.
Pengembangan kurikulum akan membuat suatu kemajuan. Sehingga tidak lagi tertinggal dalam suatu bidang ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan sangat penting untuk kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga dengan menaikkan kurikulum maka akan menaikkan mutu kita sebagai sumber daya manusia. Sehingga menciptakan sebuah SDM yang handal dan berkualitas bagi bangsa dan negara.
Pengembangan kurikulum pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan untuk kemajuan. Kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan dan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang ada pada dunia pendidikan. Secara garis besar, kurikulum dapat diartikan sebagai perangkat materi pendidikan dan pengajaran tujuan pendidikan yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai.
Sekarang ini kita dapat melihat realita bahwa indonesia sangatlah jauh tertinggal dibidang IPTEK dibandingkan bangsa Eropa dan Barat. Untuk mengatasi masalah ini Pemerintah menegaskan perlunya pengembangan kurikulum dalam dunia pendidikan, baik Pendidikan formal manpun non formal. Dalam pengembangan kurikulum harus sesuai dengan pengertian kurikulum yakni seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang dinginkan. Sesuai perkembangan masyarakat yang berlatar belakang berbeeda-beda maka dalam pengembangan kurikulum juga harus melibatkan masyarakat sehingga terbentuk kurikulum yang ideal dan sistematik sesuai kebutuhan mereka.
Tujuan dan objektif adalah unsur yang sangat penting untuk pengembangan kurikulum sebuah program kejuruan, alasannya adalah bahwa unsur lain seperti
peralatan, materi, metode, media pendidikan, dan perangkat pebelajaran lainnya, sangat tergantung pada gaya guru tentang apa yang harus dikerjakannya. Seleksi, pengorganisasian dan presentasi bahan ajar hendaknya mengikuti urutan sebagai berikut : aktifitas pembelajaran, pengalaman belajar dan materi ajar harus direncanakan dan diajarkan pada waktu yang telah dijadwalkan. Diantara kriteria memilih materi ajar aspek berikut ini penting untuk dipertimbangkan :
a. Materi ajar harus relevan dengan minat siswa.
b. Materi tersebut berkontribusi terhadap kompetensi yang hendak dicapai,
c. Materi tersebut hendaknya bermanfaat bagi siswa untuk membantunya mengambil keputusan dan sesuai dengan situasi kehidupannya.
d. Materi tersebut hendaknya terpaut dengan kebutuhan siswa, bukan menurut isi dan ruang lingkup materi itu sendiri.
Studi tentang kurikulum harus mempertimbangkan hal berikut 1) Philosophy yang dianut sekolah,
2) Tujuan program.
3) Hubungan antara kurikulum dengan komunitas dan okupasi.
4) Karakteristik, pertumbuhan, dan perkembangan target populasi.
5) Teori belajar.
6) Perencanaan siswa guru.
7) Hubungan guru dan siswa.
8) Artikulasi antara bagian program sekolah, rumah, masyarakat, industri, profesi dan perguruan timggi.
9) Organisasi, waktu, jadwal, alokasi tingkatan atau jenjang pendidikan.
10) Ruang lingkup dan urutan kurikulum (struktur kurikulum).
11) Isi, aktifitas dan pengalaman belajar.
12) Modul, lembaran kerja dan material lainnya.
13) Metoda, format, perekam data, manajemen kelas.
14) Bahan pembelajaran, peralatan, multimedia, dan fasilitas belajar lainnya.
15) Fasilitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kurikulum 16) Rencana pengujian, tes dan penilaian.
17) Bahan untuk guru dan siswa.
2. Prinsip Konstruksi Kurikulum
Prosedur berikut ini dapat dijadikan rujukan untuk pengembangan dan rekonstruksi kurikulum;
a. Konsultasi antara guru, orang tua, siswa, dan komite sekolah, pengawas, dan manajemen sekolah untuk menentukan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa.
b. Laksanakan job analisis untuk menentukan :
1) Jumlah dan jenis pekerjaan yang tersedia pada area perusahaan.
2) Keperluan untuk jumlah dan jenis pelatihan.
3) Kondisi perusahaan.
4) Tambahan pelatihan yang dibutuhkan untuk pengembangan.
c. Laksanakan survey untuk menentukan kemungkinan jumiah siswa yang akan mengikuti program; kemungkinan jumlah pekerjaan yang tersedia setiap tahun, kecendrungan perkembangan lapangan kerja diarea tersebut; mobilitas siswa.
d. Susun komite penasehat yang dapat bekerjasama dengan manajemen sekolah dan guru kejuruan dalam rangka membuat program kejuruan yang efektif dan realistik.
e. Pertimbangkan untuk memasukkan unsur berikut ke dalam isi kurikulum; informasi teknis pekerjaan, kompetensi produktif; occupational inteliligence; sikap, apresiasi dan kepribadian.
f. Promosikan usulan program untuk meyakinkan administrator, orang tua, komite sekolah, siswa, dan personal pengambil keputusan. Pertimbangkan juga kemampuan sekolah untuk mendukung program dengan kesediaan peralatan, sarana prasarana dan ketersediaan guru. Buatlah keputusan mengenai : seleksi siswa; standar mutu; lama masa studi: beban belajar siswa, program pengalaman kerja, porsi alokasi waktu belajar di sekolah dan magang di dunia kerja.
h. Gambarkan panduan untuk evaluasi program, untuk melihat tingkat ketercapaian tujuan, relevansi materi, dan keefektifan metoda pembelajaran.
i. Sediakan waktu untuk melaksanakan revisi sebagai umpan balik evaluasi.
Pada dasarnya prinsip pengembangan kurikulum telah dikembangkan dalam banyak versi disamping yang dikembangkan Calhoum dalam kontek pengembangan kurikulum pendidikan teknik dan kejuruan, para ahli lainnya juga seperti Ramizosky, model Grayson, dan Wales and Stager (1972).
Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum : a. Prinsip umum
1) Prinsip relevansi :
a) Internal (kesesuaian antar komponen dalam kurikulum).
b) Eksternal (kurikulum harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat).
2) Prinsip fleksibelitas : Pelaksanaannya harus fleksibel. Ada altematif lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
3) Prinsip kontinuitas : Kurikulum dikembangkan secara berkesinambungan (kelas dan jenjang pendidikan).
4) Prinsip praktis : mudah diterapkan.
5) Prinsip efektivitas : tepat dalam pencapaian tujuan.
b. Prinsip khusus
1) Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan.
2) Prinsip berkenaan dengan isi pendidikan.
3) Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran.
4) Prinsip berkenaan dengan media dan alat Bantu pembelajaran.
5) Prinsip berkenaan dengan evaluasi.
Oemar Hamalik (2001) membagi Prinsip pengembangan kurikulum menjadi 8 yaitu : a. Prinsip berorientasi pada tujuan. Pengembangan kurikulum diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan Pendidikan Nasional.
Tujuan kurikulum merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum mengandung aspek-aspek Pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang selanjutnya menumbuhkan Perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasonal.
b. Prinsip relevansi (kesesuaian). Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi masyarakat penyampaian harus relevan (sesuai) dengan kebutuhan dan keadaan, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa, serta serasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Prinsip efisensi dan efektifitas, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien pendayagunaan data, waktu, tenaga dan sumber-sumber tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbatas harus digunakan sedemikian rupa dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran. Waktu yang tersedia bagi siswa belajar di sekolah juga terbatas sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan tata ajaran dan bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga
disekolah juga sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya, hendaknya didayagunakan secara efisien untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Demikian juga keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan dan sumber keterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh siswa dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas atau keberhasilan siswa.
d. Prinsip fleksibilitas
Kurikulum yang luwes dan mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan keterampilan industri dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan pertanian., maka yang dialaksanakan program keterampilan pendidikan industri. Sebaliknya, pelaksanaan di desa ditekankan pada program keterampilan Pertanian. Dalam hal ini lingkungan sekitar, keadaaan masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.
e. Prinsip kontinuitas
Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-aspek, materi, dan bahan kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikan, tingkat perkembangan siswa.
Dengan prinsip ini, tampak jelas alur dan keterkaitan di dalam kurikulum tersebut sehingga mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran.
f. Pinsip keseimbangan
Penyusunan kurikulum memperhatikan keseimbangan secara proporsional dan fungsional antara berbagai program dan sub-program, antara semua mata ajaran, dan antara aspek-aspek prilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan antara teori dan praktek, antara unsur-unsur keilmuan sains, sosial, humaniora, dan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan tersebut terjalin perpaduan diharapkan lengkap dan menyeluruh, yang satu sama lainnya saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan pribadi.
g. Prinsip keterpaduan
Kurikulum dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik tolak dari masalah atau topik dan konsistensi antara
unsur-unsurnya. Pelaksanaan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah maupun pada tingkat inter sektoral. Dengan keterpaduan ini diharapkan terbentuk pribadi yang bulat dan utuh. Disamping itu juga dilaksanakan keterpaduan dalam proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar siswa dan guru maupun antara teori dan praktek.
h. Prinsip mutu
Pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.
3. Model Pengembangan Kurikulum
Perencanaan dan pengembangan kurikulum dapat dikategorikan dalam 2 model yang umum dilaksanakan banyak instirusi, yaitu model objektif yang berkembang menjadi model competency based curriculum dan model interaksi.
a. Model objektif
Model yang umum untuk pengembangan kurikulum adalah model objektif yang dikembangkan oleh Tyler's (1949). Tyler merumuskan rasional pengembangan kurikulum atas 4 pertanyaan utama yaitu
1) Apakah tujuan pendidikan yang harus ditetapkan sekolah dan yang harus dicapai?
2) Pengalaman pendidikan seperti apa yang bisa disediakan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut?
3) Bagaimana agar pengalaman belajar tersebut dapat diatur secara efektif ? 4) Bagaimana menetapkan bahwa tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai ? Beberapa model pengembangan kurikulum menurut Tyler (Marsh,I995);
1) Langkah pertama adalah merumuskan tujuan (stating objectives)
Tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dari yang bersifat umum sampai yang bersifat khusus, atau kalau kita mengembangkan model kurikulum berbasis kompetensi, dapat dijabarkan dari kompetensi utama (berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan BSNP) maka dapat diuraikan menjadi kompetensi inti dan terurai lagi menjadi kompetensi dasar, lebih detail lagi terurai dalam sub-sub kompetensi yang hendak dicapai dalam setiap proses pembelajaran. Perumusan tujuan atau kompetensi
yag hendak tercapai dan terukur, sesuai dengan singkatan SMART (specific, measurable, achievable, realistic and tangible).
2) Memilih pengalaman belajar (selecting leaming experiences)
Setelah tujuan atau kompetensi yang akan dicapai terumuskan, maka isi materi pembelajaran juga ditentukan sebagai pengalaman belajar bagi siswa, berurut berdasarkan kompetensi materi belajar dapat ditentukan secara berurutan (sequential), paralel dengan urutan tujuan, mulai dari yang mudah pada yang sulit, dari yang umum kepada yang khusus, dari yang sederhana pada yang ruwet.
3) Menyusun dan mengatur pengalaman belajar (organizing learning experiences) Pengalaman belajar dan diatur sesuai dengan pertimbangan keadaan siswa dan materi yang akan dipelajari siswa, tentukanlah strategi dan pendekatan pembelajaran yang sesuai, methoda pembelajaran yang tepat, menggunakan alat bantu pembelajaran yang tepat pula, sehingga berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
4) Penilaian (evaluation)
Pengukuran dan penilaian hendaknya dapat direncanakan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, sehingga validitas dan reliabelitas pengujian dan penilaian dapat dipercaya keabsahannya. Guru perlu mengetahui sejauh, mana tujuan yang telah dirumuskan tercapai. Hasilnya adalah hasil belajar yang diperoleh siswa melalui pengalaman pembelajaran yang dilaksanakannya. Guru juga dapat melakukan diagnosis terhadap hasil belajar untuk memberikan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan. Apakah rumusan masalah, materi atau metoda mengajar yang kurang tepat, atau masalah input (siswa) yang perlu dianalisis.
b. Model interaksi
Model interaksi atau model dinamis dikembangkan oleh Hilda Taba (1962) dan Cohen (1974). Mode1 ini berbeda dengan model objektif yaitu perbedaannya terlihat pada hubungan antar elemen kurikulum. Pengembangan kurikulum pada model interaksi ini dapat dimulai dari setiap elemen kurikulum dan elemen-elemen kurikulum tersebut tersusun sesuai dengan unitannya. Model interaksi kurikulum,
mungkin saja dimulai dari penetapan metoda atau materi terlebih dahulu, tidak harus mulai dari perumusan tujuan.
Rumusan Tujuan/Kompetensi yang hendak dicapai
Selecting learning Evaluasi
Experiences (materi)
Organizing learning experiences (methods)
Gambar. 5.1 Model Interaksi
Good (1972) dan Travers (1973) menyatakan bahwa model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Sedangkan menurut Zainal Abidin (2012: 137) model atau konstruksi merupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia model adalah pola, contoh, actian, ragam dari sesuatu yang akan dihasilkan. Model Pengembangan kurikulum dapat didefenisikan sebagai model yang digunakan untuk mengembangkan suatu kurikulum, yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang dibuat untuk dikembangkan sendiri baik pemerintah pusat, pemerintah daerah atau sekolah.
Pada tahun 1976 seorang ahli kurikulum Robert. S. Zais mengemukakan tentang beberapa kategori model pengembangan kurikulum dalam bukunya yang berjudul Curriculum Principles and Foundation, sebagai berikut :
1) Model adminstratif (line staf)/garis komando.
a) Administrator pendidikan/top administrative officers (pemimpin) membentuk komisi pengarah.
b) Komisi pengarah (steering committee) bertugas merumuskan rencana umum, mengembangkan prinsip-prinsip sebagai pedoman, dan menyiapkan suatu pernyataan filosofi dan tujuan-tujuan untuk seluruh wilayah sekolah.
c)Membentuk komisi kerja pengembangan kurikulum yang bertugas mengambangkan kurikulum secara operasional mencakup keseluruhan komponen kurikulum dengan mempertimbangkan landasan dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
d) Komisi pengarah memeriksa hasil kerja dari komisi kerja dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu bila dianggap perlu. Karena pengembangan kurikulum model administratif ini berdasarkan konsep, inisiatif, dan arahan dari atas ke bawah, maka akan memerlukan waktu bertahun-tahun agar dapat berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan adanya tuntutanuntuk mempersiapkan para pelaksana kurikulum tersebut.
2) Model dari bawah (gross-roats)
a) Inisiatif pengembangan datangnya dari bawah (para pengajar).
b) Tim pengajar dari beberapa sekolah ditambah narasumber lain dan orang tua peserta didik atau masyarakat luas yang relevan.
c) Pihak atasan memberikan bimbingan dan dorongan
d) Untuk pemantapan konsep pengembangan yang telah dirintisnya diadakan lokakarya untuk mencari input yang
3) Model demonstrasi diperlukan.
a) Staf pengajar pada suatu sekolah menemukan suatu ide pengembangan dan ternyata hasilnya dinilai baik.
b) Kemudian hasilnya disebarluaskan di sekolah sekitar.
4) Model tyler
a) Menentukan tujuan. Gunanya untuk menetttkan arah atau sasaran pendidikan.
b) Menentukan pengalaman belajar. Harus sesuai dengan tujuan yang dicapai, memuaskan siswa, melibatkan siswa, dapat mencapai tujuan yang berbeda.
c) Mengorganisasi pengalaman belajar. Yang berguna untuk memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
d) Evaluasi. Yang berguna untuk mendapatkan infomasi tentang ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan evaluasi dapat ditentukan apakah kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau belum.
Ada 2 aspek penting dalam penilaian : Pertama, evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkat laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Ada dua fungsi evaluasi : Pertama, evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik.
Dengan kata lain, bagaimana tingkat pencapaian tujuan atau tingkat penguasaan isi kurikulum oleh setiap siswa. Fungsi ini dinamakan fungsi sumatif. Kedua, untuk melihat efektifitas proses pembelajaran. Dengan kata lain, apakah program yang disusun telah dianggap sempurna atau perlu perbaikan. Fungsi ini kemudian dinamakan fungsi formatif.
5) Model taba
a) Model taba memfokuskan kepada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempuranaan. Langkah-langkahnya adalah:
Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot, unit).
Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.
Merevisi dan mengkonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.
Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.
Implementasi dan diseminarkan kurikulum yang telah teruji. Pada tahap ini terakhir dipersiapkan guru-guru melalui penataran-penataran lokakarya dan lain sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum.
6) Model bauchamp
a) Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikuium.
b) Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.
c) Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi. Terdiri dari : pertama, membentuk tim pengembang kurikulum. Kedua, melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan. Ketiga, melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru. Keempat, merumuskan kriteria dan alternatif pengembangan kurikulum. Kelima, menyusun dan menulis kurikulum yang dikehendaki.
d) Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum, seperti pemahaman guru tentang kurikulum itu, sarana atau fasilitas yang tersedia, manajemen sekolah dan lain sebagainya.
e) Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut : Pertama, evaluasi aan kurikulum oleh guru-guru disekolah. Kedua, evaluasi terhadap pelaksanaan terhadap desain kurikulum, ketiga, evaluasi keberhasilan anak didik, keempat evaluasi sistem kurikulum.
7) Model wheeler
a) Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bersifat normatif yang mengandung tujuan filosofis (aim) atau tujuan pembelajaran umum yang bersifat praktis (goals). Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang bersifat spesifik dan observable (objective) yakni tujuan yang mudah diukur ketercapaiannya.
b) Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang mungkin dirumuskan dalam langkah pertama.
c) Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar d) Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar.
e) Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.
8) Model nicholls a) Analisis situasi.
b) Menentukan tujuan khusus.