• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teoritik

2. Motivasi

a. Pengertian Motivasi

Motivasi merupakan salah satu faktor terjadinya perubahan tingkah laku sbagai hasil belajar. Tanpa motivasi, minat siswa tidak akan timbul, sehingga kebutuhan yang mendasar tidak akan terpenuhi, yang menyebabkan perbuatan belajar tidak akan terjadi secara efektif.18

Istilah motivasi menunjukkan kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebeleumnya tidak ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut.Motivasi

17 Lalu Mukhtar, Hully, Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2012), hlm. 78-79.

18 Karti Soeharto Dkk, Teknologi Pembelajaran (Surabaya: Intelektual Club, 2003), hlm.

144.

dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di luar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah didalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat- minat. Dan adapun juga motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya prilaku seseorang kearah suatu tujuan tertentu.19

Menurut McDonald berpendapat motivasi adalah suatu perubahan energy di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.Adapun menurut Sumadi Subyabrata mendefinisikan motivasi adalah keadaan keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas tertentu guna pencapean suatu tujuan.20

Menurut Crider motivasi adalah sebagai abstrak keinginan yang timbul dari seseorang dan langsung ditunjukkan kepada suatu objek.

Sedangkan menurut S. Nasution, motivasi adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.21

Wasty Soemanto juga menjelaskan bahwa “yang dimaksud dengan motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberikan dorongan kepada makhluk untuk berbuat dan bekerja serta

19 Muyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm.

195.

20 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), hlm. 173.

21 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2014), hlm.

113.

bertingkah laku guna mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut”.22

Dari pembahasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sifatnya sangat kompleks, dengan adanya motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi pada diri seseorang. Hal itu terkait dengan gejala kejiwaan perasaan dan emosi yang terjadi pada diri orang tersebut untuk kemudian dengan perubahan-perubahan tersebut menyebabkan tindakan-tindakan tertentu, termasuk belajar.

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut diatas, maka yang dimaksud dengan motivasi adalah suatu kondisi yang menggerakkan hastrat, keinginan dalam diri seseorang yang ditunjukkan kepada suatu objek, misalnya dalam melakukan aktifitas belajar agar banyak memperoleh hasil yang lebih baik. Agar semuanya bisa terealisasi dengan sebaik mungkin, maka harus ada dorongan dan motif sebagai penunjang agar bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Penelitian ini adalah daya upaya untuk mendorong siswa kelas VIII MTs Haqqul Yakin NW Sayang-Sayang untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa untuk mencapai tujuan yang di inginkan.

22 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 193.

b. Fungsi motivasi

Ada 3 macam fungsi motivasi antara lain:

1) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.

2) Sebagai pengaruh, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.

3) Sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambat suatu pekerjaan.23

c. Prinsip motivasi

1) Pujian lebih efektif daripada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan suatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, pujian lebih besar nilainya bagi motivasi belajar.

2) Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar. Kepuasan yang didapat oleh individu itu sesuai dengn ukuran yang ada didalam dirinya sendiri.

3) Tiap siswa mempunyai tingkat frustrasi dan toleransi yang berlainan.

Ada siswa yang kegagalannya justru menimbulkan insentif, tetapi ada anak yang selalu berhasil malahan menjadi cemas terhadap kemungkinan timbulnya kegagalan.24

23 Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm 74.

24 Ibid., hlm. 76.

d. Macam-macam motivasi

Menurut S. Nasution mengemukakan macam-macam motivasi ada dua yakni;

1) Motivasi intrinsik yaitu ia ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu. Timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah ada dalam diri individu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan dengan kebutuhannya.

2) Motivasi ekstrinsik tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri.

Timbul karena adanya rangsangan dari luar individu, minsalnya dalam bidang pendidikan terdapat minat yang positif terhadap kegiatan pendidikan timbul karena melihat manfaatnya.25

e. Ciri-ciri motivasi

1) Tekun menghadapi tugas

Siswa dalam menghadapi tugas dari seorang guru akan termotivasi ketika tugas-tugas yang ia kerjakan disampaikan dengan peka dan penuh kasih sayang dari seorang guru.

2) Ulet menghadapi kesulitan

Siswa tidak akan pernah jenuh menghadapi kesulitan dalam belajar kalau bener-bener ia memiliki motivasi yang besar dalam belajar.

25 Ibid., hlm. 79.

3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah

Siswa dalam proses belajar di dalam kelas akan terlihat mana yang lebih aktif banyak bertanya dan selalu ingin tau tentang hal baru yang ia dengar.

4) Lebih senang bekerja mandiri

Siswa yang mempunyai kepandaian dan mempunyai motivasi tinggi untuk belajar pasti dia akan lebih mandiri dari teman-teman yang lain.

5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin/mekanis

Siswa tidak bisa dipaksa dengan tugas-tugas yang rutin dan banyak walaupun walaupun motivasi belajarnya tinggi.26

f. Bentuk-bentuk motivasi

Menurut Sardiman, ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan untuk mempertahankan minat belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Bentuk-bentuk motivasi yuang dimaksud adalah:

1) Memberi angka

Banyak murid belajar untuk mencapai angka baik dan untuk itu berusaha dengan segenap tenaga.Angka itu bagi mereka merupakan motivasi yang kuat.Akan tetapi ada pula yang belajar untuk naik kelas saja, namun angka itu harus bener-bener menggambarkan hasil yang sebaik-baiknya dalam belajar anak.

26 Hamzah, Teori Motivasi Dan Pengukurannya (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 4.

2) Hadiah

Hadiah tidak selalu merupakan motivasi, hadiah untuk gambar yang terbaik, tidak menarik bagi mereka yang tidak mempunyai bakat menggambar hadiah memang membangkitkan motivasi bila setiap orang mempunyai harapan untuk memperolehnya.

3) Pujian

Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif sekaligus merupakan motifasi yang baik. Oleh karena itu supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat.

4) Gerakan tubuh

Gerakan tubuh merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah anak didik, sehingga proses belajar mengajar lebih menyenangkan.

5) Memberi tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan.

6) Memberi ulangan

Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui ada ulangan. Oleh karena itu memberi ulangan juga merupakan sarana motivasi.

7) Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

8) Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.27

g. Upaya guru aqidah akhlak dalam mengembangkan motivasi belajar siswa

Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan memberi pasilitas bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan belajar siswa.

Penyampaian materi pelajaran dengan berbagai ragam hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam proses belajar mengajar untuk menumbuhkan motivasi belajar terhadap siswa, karena prorses pembelajaran yang didasari dengan adanya motivasi terhadap siswa akan memberikan dorongan, semangat dalam kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan.28 Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh guru aqidah akhlak dalam mengembangkan motivasi belajar siswa diantaranya :

1. Memberi Cerita

Cerita adalah hiburan yang membentangkan bagaimana terjadinya sustu hal (peristiwa,kejadian dan sebagainya), selain itu cerita juga bisa diartikan sebagai suatu ungkapan, tulisan yang berisikan runtutan peristiwa, kejadian yang biasa disebut juga dengan dongeng atau kisah,

27 Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara 2008), hlm.

149-151.

28 Slameto, Belajar dan Fakor-Faktor yang mempengaruhi, ( Jakarta, RINEKA CIPTA, 2015), hlm. 97.

selain itu cerita juga termasuk salah satu media pengajaran yang sukses, karena merupakan satu cara pendidikan yang disenangi anak-anak dan orang dewasa. Selain itu cerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak.29

Maka ceritakan kisah-kisah itu kepada mereka agar mereka berfikir. Tentu yang Nampak disana adalah metode kisah atau cerita. Maka ceritakanlah wahai Rasul yang mulia, kisah-kisah tentang orang yang menyerupai keadaannya dengan keadaan mereka yang mendustakan ayat- ayat yang terang yang kamu bawa, dengan kisah-kisah itu diharapkan mereka memikirkannya, sehingga keadaan mereka yang buruk dan perumpamaan mereka yang buruk akan menyebabkan mereka berlama- lama memperhatikan dan berfikir dengan pikiran yang jernih tentang keadaan mereka sendiri agar memandang ayat-ayat allah dengan mata hatinya, bukan dengan mata nafsu dan sikapnya yang bermusuhan.

Aspek prioritas dalam metode cerita adalah pemahaman terhadap implikasi makna cerita itu, karena kisah-kisah itu tidak akan banyak memberikan makna tanpa memahami makna yang terkandung didalam cerita tersebut. Stimulasi kepada peserta didik dengan cerita secara otomatis mendorong peserta didik untuk berbuat kebajikan dan dapat membentuk akhlak mulia serta dapat membeina rohani.

29 Aamrogiaf, “Pengertian Metode Cerita” Di Ambil Pada Tanggal 18 Oktober 2018.

Metode ini dapat dibentuk dengan “kisah-kisah pada masa Rasulullah serta cerita-cerita pendek yang islami”.30 Mengaplikasikan metode ini dalam proses belajar mengajar, metode cerita merupakan “salah satu metode pendidikan dan yang masyhur dan terbaik, sebab kisah mampu menyentuh jiwa jika didasari oleh ketulusan hati yang mendalam”.31

2. Memberikan Informasi Hasil Belajar Siswa

Keberhasilan pengajaran dilihat dari segi hasil siswa terhadap sasaran belajar pada topic bahasan yang dipelajari yang diukur berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar, sehingga semua hasil yang diperoleh membentuk satu system nilai yang dapat membentuk kepribadian siswa, sehingga member warna dan arah dalam semua perbuatannya. Menurut Hamalik, hasil belajar tanpak berbagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan.32

Menurut Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitf, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah pengetahuan, ingatan, pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh menerapkan, menguraikan, menentukan hubungan, mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru nam menilai. Domain efektif adalah sikap menerima, member respon, nilai, organisasi, karakterisasi. Domain psikomotorik

30 Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2016), hlm. 193.

31 Armai Arief, Pengantar Ilmu Metodelogi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Prees 2002), hlm 160.

32 Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm.

155.

adalah keterampilan produktif, tehknik, fisik, social dan intelektual. Hasil pembelajaran yang dikatagorikan oleh para pakar pendidikan diatas adalah tidak diliht secara pragmentaris melainkan secara konfrehensif.33

3. Memberikan Keteladanan

Guru dalam mengembangkan motivasi belajar terhadap siswa dengan memberikan nasehat kepada siswa. Cara lain dalam pembinaan adalah keteladanan. Akhlak yang baik tidak hanya dibentuk hanya dengan pelajaran, intruksi dan larangan. Sebab tabi‟at jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup dengan hanya seorang guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu. Menanamkan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus dan harus ada pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukses, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh teladan yang baik dan nyata.34

Rasulullah teladanku. Siswa memahami bahwa Muhammad adalah rasulullah dan suka cita meneladaninya. Meladani rasulullah akan membawanya pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Begitupun sebaliknya. Akhirnya, siswa merindukan bertemu dengan rasulullah pada hari akhir nanti.35

4. Memberikan Nasehat

Menurut al-Nahlawi yang dikutip ahmad taisir, bahwa nasehat adalah memberikan petuah dengan cara menyentuh kalbu, nasehat ini tidak

33 Agus Suprijono, Cooperative Learning. Teori Dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), hlm. 56.

34 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan (Mengenai Kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia), (Jakarta: Kencana,2007), hlm. 51.

35 Ismail Yusanto Dkk, Menggagas Pendidikan Islami, (Bogor: Bantarjati, 2011.

mudah dilaksanakan. Agar nasehat dapat dengan mudah dilaksanakan dan menyentuh kalbu, maka nasehat itu harus dilakukan dengan cara berulang- ulang dan dilandasi keikhlasan. Maksud berulang-ulang yaitu bahwa member nasehat hendaknya berulang kali, mengingatkan agar nasehat itu meninggalkan kesan, sehingga orang yang dinasehati tergerak untuk mengikuti nasehat itu. Keikhlasan dalam member nasehat sangat penting, karena keikhlasan itu menyangkut paedagogis. Nasehat yang disampaikan secara ikhlas akan lebih mujarab dalam tanggapan pendengarannya.

Melalui nasehat pembinaan akhlak dapat dilakukan dengan cara memberikan nasehat yang baik.36

5. Memberikan Tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang harus dilakukan baik tugas datangnya dari orang lain maupun dalam diri kita sendiri. Disekolah biasanya itu datang dari pihak pendidik atau kepala sekolah atau peserta didik sendiri. Tugas ini bersifat edukatif dan bukan bersifat dan berunsur pekerjaan.37

Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari pada itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan di tempat lainnya. Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual atau dapat pula secara kelompok.38

36 Ahmad Taisir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1996), hlm. 25.

37Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2014), hlm.

507.

38 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014, hlm 81.

Yang dimaksud dengan metode ini ialah suatu cara dalam proses belajar-mengajar bilamana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara bebas tapi bertanggung jawab dan murid-murid akan berpengalaman mengetahui berbagai kesulitan kemudian berusaha untuk ikut mengatasi kesulitan- kesulitan itu.

Sekolah berkewajiban mempersiapkan murid-murid agar tidak canggung hidup di tengah-tengah masyarakat. Karenanya guru hendaklah berusaha melatih teknik kemampuan anak untuk mencocokkan berbagai masalah yang mungkin akan dihadapi kelak.

Pusat kegiataan metode ini berada pada murid-murid dan mereka disuguhi bermacam masalah agar mereka menyelesaikan, menanggapi dan memikirkan masalah itu.

Pemberian tugas dapat dilakukan dalam beberapa hal yaitu:

1) Murid diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku teks, baik secara kelompok atau secara perorangan diberi waktu tertentu untuk mengerjakannya kemudian murid yang bersangkutan mempertanggung jawabkannya.

2) Murid diberi tuga untuk melaksanakan sesuatu yang tujuannya melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan matorik.

3) Murid diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu/problem solving dengan cara mencoba memecahkannya. Dengan tujuan agar murid biasa

berpikir ilmiah ( logis dan sistematis dalam memecahkan sesuatu masalah).

4) Murid diberi tugas melaksanakan proyek, dengan tujuan agar murid-murid membiasakan diri bertanggung jawab terhadap penyelesaian suatu masalah, yang telah disediakan dan bagaimana mengolah selanjutnnya.39

Dokumen terkait