• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivasi

Dalam dokumen SKRIPSI FIX FITRI MUNAQASYAH (Halaman 41-49)

Motivasi berasal dari bahasa Latin movore, yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak, Motivasi dalam Bahasa Inggris berasal dari kata motive yang berarti daya gerak atau alasan. Motivasi berasal dari kata motif dalam bahasa Indonesia yang berarti berusaha mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Motif dapat dikatakan sebagai kekuatan pendorong dari dalam diri subyek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan. Motif menjadi pangkal kata motivasi yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang sudah menjadi aktif.

Dalam arti yang lebih luas, motivasi didefinisikan sebagai pengaruh dari energi dan arahan terhadap perilaku yang meliputi: kebutuhan, minat, sikap, nilai, aspirasi, dan perangsang. Menurut Gage dan Berliner sebagaimana yang tertulis dalam buku psikologi pendidikan karya Nyanyu Khodijah, kebutuhan dan dorongan untuk memuaskan kebutuhan tersebut merupakan sumber utama motivasi. Sebagai kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, motivasi

dianggap sebagai energy vital atau daya pendorong hidup yang merangsang seseorang untuk melakukan aktivitas (Munir 2022). Menurut mayoritas definisi motivasi yang telah dipaparkan, bisa ditarik kesimpulan bahwa motivasi mengandung tiga komponen pokok yaitu:

1) Menggerakkan, yakni menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu

2) Mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku.

3) Menopang tingkah laku manusia

Motivasi investasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong keinginannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dalam berinvestasi Investor termotivasi untuk berinvestasi dalam pemenuhan kebutuhan diri seperti kesuksesan dan return, membantu perkembangan perekonomian dalam afiliasi dengan emiten atau perusahaan terbuka, untuk kebutuhan kekuasaan terkait dengan menjaga terpenuhinya kebutuhan diri dan keturunan, serta mengembangkan kekuasaan berinvestasi dalam rangka menjaga kestabilan perekonomian dengan menjadi mayoritas pemegang saham (Hermawati, Rizal, & Mudhofar, 2018).

Motivasi juga merupakan suatu kondisi pada individu secara pribadi yang mampu menciptakan kemauan seseorang dalam melaksanakan berbagai aktivitas atau kegiatan tertentu untuk dalam meraih sasaran tertentu. Motivasi yang ada pada diri individu ini akan mengarahkan pada suatu perilaku seseorang untuk mencapai sasaran kepuasan yang diinginkan (Darmawan et al., 2019). Motivasi dapat dikatakan sebagai langkah awal untuk memberi dorongan yang akan menunjukkan seseorang untuk meraih tujuan yang diinginkan dan sangat berpengaruh secara

langsung kepada faktor psikologis pada seseorang (Taufiqoh et al., 2019).

Keputusan masyarakat dalam berinvestasi di pada pasar modal pada akhirnya akan memotivasi seseorang untuk bisa dan berani berinvestasi. Hal ini terbukti bahwa apabila individu memiliki ketertarikan untuk berinvestasi, maka pastinya individu atau masyarakat bisa melaksanakan kegaiatan-kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat atau seseorang untuk berinvestasi misalnya keikutsertaan dalam mengikuti pelatihan, kegiatan workshop dan tentang investasi.

Motivasi merupakan suatu proses pemberian dorongan yang akan menentukan arah, tujuan seseorang pada kegiatan meraih tujuan serta pengaruhnya pada psikologi seseorang (Saputra, 2018).

Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa bagaimana caranya memberikan dorongan kepada individu agar mau bertindak (bekerja) sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam hal ini bagaimana caranya memberi dorongan kepada masyarakat khususnya mahasiswa agar mau menunjukkan minatnya terhadap investasi yang terdapat di pasar modal. Jadi motivasi adalah suatu perangsang atau pendorong yang terdapat pada diri seseorang untuk meningkatkan semangat dan keghairahan kerja dan kedisipilinan sehingga mereka mau. Allah SWT Berfirman dalam surah Al-Hasbr ayat 7, yakni:

اآ#لَ,لَ ۗIبُ #فِ /فِااۤلَفِ Fالَ9 (لَ لَ -نْۢدً للَ,Zبُ$لَ"Iبُ'لَ ا9لَ لَ فِلِۙ فِ Hلَل (فِ ,لَ (فِ IفِHلّٰلَ ل,لَ ىلّٰ لّٰ لَل,لَ ىلّٰ @%بُل ى)فِلفِ,لَ Oفِ"بُ @لَ لفِ,لَ فِ لّٰ فِ لَ ى@لّٰ%بُل فِ Uلَ (#فِ هٖ لفِ"بُ >لَ ىلّٰ +لَ بُ لّٰ ل /لَااۤلَ لَ اآ#لَ

^فِبِۘا%لَ3فِل 6بُ'6فِ`لَ لَ لّٰ ل $لَفِ- ۗلَ لّٰ ل "%بُAلَ,لَ ثَۚ"!بُلَ الَ بُ +لَ Iبُى!لّٰلَ ا#لَ,لَ Qبُ,)بُCبُلَ Oبُ"بُ @لَل بُIبُىAلّٰلّٰ

Terjemahnya:

Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.

(Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di

antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu (M.

Quraish Shihab, 2000).

Berdasarkan tafsir diatas bahwasanya harta benda hendaknya jangan hanya dimiliki dan dikuasai oleh sekelompok manusia, tetapi harus diedarkan sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Maka dari itu motivasi investasi dalam Al- Quran bertujuan untuk mendorong umat islam agar sadar financial dan mempersiapkan generasi yang kuat, khususnya kuat dalam hal materi atau harta melalui kegiatan investasi.

Adapun jenis motivasi menurut Winkel yang membagi motivasi menjadi dua jenis seperti yang tertulis dalam buku yang ditulis oleh Nyanyu Khodijah, yaitu:

1) Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang timbul dari diri orang yang bersangkutan tanpa adanya rangsangan atau bantuan dari orang lain.

Seseorang yang termotivasi secara intrinsik akan melakukan pekerjaan

karena merasa menyelesaikan pekerjaan itu menyenangkan dan bisa memenuhi kebutuhannya, tidak tergantung pada imbalan eksplisit atau tekanan eksternal lainnya. Motivasi intrinsik dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, pendidikan, penghargaan dan cita-cita. Misalnya, seseorang bekerja karena menyukai pekerjaan tersebut.

2) Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang timbul karena rangsangan atau bantuan dari orang lain. Motivasi ekstrinsik disebabkan oleh keinginan untuk menerima ganjaran atau menghindari hukuman. Misalnya, seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, setiap kebutuhan manusia dapat menjadi motivasi utama bagi manusia untuk terjun dalam suatu pekerjaan.

Adapun indikator motivasi berdasarkan konsep Hati & Harefa (2019), dan Hermawati, Rizal, & Mudhofar (2018), yaitu sebagai berikut:

1) Investasi berarti memiliki perusahaan.

2) Investasi berarti membantu perusahaan berkembang.

3) Berinvestasi jika teman berinvestasi.

4) Berinvestasi jika kebutuhan substansial terpenuhi.

G.Persepsi Risiko

Pada dasarnya jika membahas tentang investasi tentu akan berkaitan dengan risiko. Jika dihadapkan dalam suatu risiko yang sama. Akan terdapat kemungkinan perbedaan penilaian risiko tersebut dari tiap-tiap individu. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor dimana salah satunya dipengaruhi oleh persepsi dari individu. Hasil dari persepsi mahasiswa (investor) terkait risiko akan menentukan investor berada

pada tingkatan tipe yang mana. (Rois, Perihati 2019)

Semua jenis investasi mengandung unsur ketidakpastian atau risiko.

Investor tidak akan mengetahui hasil pasti yang didapatkannya di masa depan atas investasi yang dilakukannya sekarang (Parulian & Aminnudin, 2020). Risiko investasi yaitu segala macam kemungkinan yang akan terjadi yang menyebabkan kerugian atas investasi akibat adanya perbedaan antara pendapatan aktual yang didapatkan dengan pendapatan yang diharapkan saat berinvestasi di pasar modal (Hati & Harefa, 2019).

Persepsi risiko adalah ekspektasi subjektif seseorang pada kerugian yang mereka alami dalam mengejar hasil yang diharapkan. Persepsi risiko juga dapat didefinisikan sebagai sikap investor dalam membuat keputusan investasi untuk sebuah risiko (Hati & Harefa, 2019). Lebih lanjut, Hati & Harefa (2019) mengategorikan investor menjadi tiga tipe jika dilihat dari kesediaan untuk menanggung risiko, yaitu risk taker, risk averse, dan risk moderate.

Risiko investasi juga berpotensi kerugian yang diakibatkan oleh penyimpangan tingkat pengembalian yang diharapkan dengan tingkat pengembalian actual. Dengan adanya ketidakpastian keuntungan dimasa yang akan datang akan menyebabkan kegagalan dari sebuah investasi. Untuk mengurangi risiko investasi, investor harus mengetahui investasi apa yang dijalaninya.

Seseorang yang menginvestasikan dananya ke dalam saham akan mengharapkan memperoleh return (pengembalian). Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang dapat berupa return realisasian (realized return) yang telah terjadi atau return ekspektasian (expected return) yang belum terjadi tetapi

diharapkan akan terjadi di masa datang. Perbedaan antara return ekspektasian dan return realisasian merupakan pengukur risiko yang harus dipertimbangkan oleh investor dalam proses investasi Seperti dalam buku Tandelilin. Return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari dividen dan capital gain/loss. Dalam pasar saham tidak selalu menjanjikan suatu return yang pasti bagi investor. Untuk mendapat return tertentu seorang investor juga harus memperhatikan risiko yang akan ditanggung.

Risiko ini terdiri dari dua jenis yaitu risiko umum (general risk) yang merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan dan risiko spesifik (risiko perusahaan) adalah risiko yang tidak berkaitan dengan perubahan pasar secara keseluruhan. Persepsi terhadap risiko memainkan peran penting dalam perilaku manusia khususnya terkait pengambilan keputusan dalam keadaan tidak pasti. Investor mengalami risiko saat investor tidak mengetahui dengan pasti hasil investasi yang dilakukannya (Malik, 2017). Investasi di pasar modal tidak dapat dipisahkan antara return dan tingkat risiko, kecuali jika investasi tersebut diproteksi oleh pemerintah/institusi yang berwenang, seperti praktek-praktek bisnis pada masa orde baru.

Dalam menentukan keputusan untuk berinvestasi investor harus memperhatikan berbagai risiko yang akan dihadapi, baik itu risiko untuk jangka panjang atapun jangka pendek, karena akan mempengaruhi hasil yang akan didapat mau itu rugi ataupun untung, dengan pemahaman yang sudah diketahui oleh investor itu akan menjadi bekal untuk mengetahui bagaimana cara menghindar dari

risiko. Allah SWT Berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18, yakni:

$لَ"بُ لَ 3Aلَ الَ فِ -نْۢ@مٌ فِ <لَ لَ لّٰ ل $لَفِ- ۗلَ لّٰ ل "%بُAلَ,لَ 6ةٍثَۚNلَلفِ #لَ6لَ:لَ ا#لَ Dمٌ&لَ @bبُ لَل,لَ لَلّٰ ل "%بُAلَ "بُ #لَلّٰ (لَ')فِللَ ا!لَ'بُالَ'لّٰآ

Terjemahnya:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).

Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa taqwa sendiri diaplikasikan dalam dua hal, menepati aturan Allah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. Jadi, tidak bisa kita mengatakan “saya telah menegakkan shalat”, setelah itu berbuat maksiat kembali.

Karena makna takwa sendiri saling bersinergi, tidak dapat dipisahkan. Bagitu pula penjelasan Al- Qurthubiy yang menyatakan bahwa perintah takwa (pada ayat ini) bermakna: “Bertaqwalah pada semua perintah dan larangannya, dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya yang dibebankan oleh Allah kepada diri kita, sebagai orang yang beriman, dan menjauhi larangan-larangan Allah, yang secara keseluruhan harus kita tinggalkan dalam seluruh aspek kehidupan kita”. (M.

Quraish Shihab, 2000).

Berdasarkan tafsir diatas bahwasanya sebagai umat islam diperintahkan untuk memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok atau masa depan.

Bisa dengan cara berinvestasi di pasar modal syariah ataupun cara lainnya.

Walaupun kita tidak pernah tahu apakah kita akan mendapat untung atau rugi dalam berinvestasi, namun hal itu menjadi konsekuensi terhadap keputusan berinvestasi untuk bisa menghadapi risiko yang akan datang.

Adapun indikator persepsi risiko berdasarkan konsep Aini, Maslichah, &

Junaidi (2019), yaitu sebagai berikut:

1) Adanya risiko tertentu.

2) Memiliki risiko yang tinggi.

3) Mengalami kerugian.

4) Tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan.

5) Keputusan investasi berisiko.

Dalam dokumen SKRIPSI FIX FITRI MUNAQASYAH (Halaman 41-49)

Dokumen terkait