BAB II LANDASAN TEORI
B. Ekonomi Islam
2. Nilai-nilai Dasar Ekonomi Islam
Nilai-nilai dasar ekonomi Islam adalah seperangkat nilai yang telah diyakini dengan segenap keimanan, dimana ia akan menjadi landasan paradigma ekonomi Islam. Nilai-nilai dasar ini baik nilai filosofis,
40 Abdullah Zaky Al-Kaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Pustaka Setia Pertama Maret 2002), Cet. Ke-1, h.18.
41 Surya Pos, Pengertian Ekonomi Islam, Artikel di akses pada tanggal 29 Januari 2016 dari http://www.suryapost.com/2010/16/pengertian-ekonomi-islam.html
instrumental maupun institusional didasarkan atas Al-Qur’an dan Hadist yang merupakan dua sumber normative tertinggi dalam agama Islam.
Inilah hal utama yang membedakan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, yaitu ditempatkannya sumber ajaran agama sebagai sumber utama ilmu ekonomi. Tentu saja, Al-Qur’an dan Hadist bukanlah merupakan suatu sumber yang secara instan menjadi ilmu pengetahuan.
Untuk mengubah nilai dan etika Islam menjadi suatu peralatan operasional yang berupa analisis ilmiah, maka suatu filsafat etika harus disusutkan (diperas) menjadi sekumpulan aksioma yang kemudian dapat berlaku sebagai suatu titik mula pembuat kesimpulan logis mengenai kaidah- kaidah sosial dan perilaku ekonomi yang Islami, inilah yang dimaksud dengan nilai dasar ekonomi Islam dalam pembahasan ini, yang sesungguhnya merupakan derivatif dari ajaran Islam dalam bentuk yang lebih fokus.
Menurut Ahmad Saefuddin, ada beberapa nilai yang menjadi sumber dari dasar sistem ekonomi Islam, antara lain:
a. Kepemilikan
Nilai dasar pemilikan dalam sistem Ekonomi Islam
1) Pemilikan terletak pada kepemilikan pemanfaatannya dan bukan menguasai secara mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi.
2) Pemilikan terbatas pada sepanjang umurnya selama hidup di dunia, dan bila orang itu mati, harus didistribusikan kepada ahli warisnya menurut ketentuan Islam.
3) Pemilikan perorangan tidak dibolehkan terhadap sumber- sumber yang menyangkut kepentingan umum atau menjadi hajat hidup orang banyak.
b. Keseimbangan
Merupakan nilai dasar yang pengaruhnya terlihat pada berbagai aspek tingkah laku ekonomi muslim, misal kesederhanaan
(moderation), berhemat (parsimony), dan menjauhi pemborosan (extravagance). Konsep nilai kesederhanaan berlaku dalam tingkah laku ekonomi, terutama dalam menjauhi konsumerisme, dan menjauhi pemborosan berlaku tidak hanya untuk pembelanjaan yang diharamkan saja, tetapi juga pembelanjaan dan sedekah yang berlebihan.
c. Keadilan
Secara garis besar keadilan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terdapat kesamaan perlakuan di mata hukum, kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara layak, dan hak menikmati pembangunan.42
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa nilai dasar keseimbangan ini selain mengutamakan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat, juga mengutamakan kepentingan perorangan dan kepentingan umum, dengan dipeliharanya keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Nilai-nilai dasar sistem ekonomi Islam terdiri dari empat kata, yaitu 1. nilai, 2. sistem, 3. Islam, dan 4. ekonomi. Kata “nilai” merupakan tema baru dalam filsafat Aksiologi (ilmu tentang nilai). Filsafat Aksiologi merupakan cabang filsafat yang muncul pertama kali pada paruh kedua abad IX (Tahun 900 Masehi).43 Menurut Riseri Frondizi, nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda.44 Menurut Munir dalam bahasa sehari-hari, kata “barang sesuatu mempunyai nilai, maka “barang sesuatu”
yang dimaksudkan di sini dapat disebut barang nilai. Dengan demikian, mempunyai nilai itu adalah soal penghargaan, maka nilai adalah
42 Ahmad M. Saefuddin, Studi Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta Pusat: Media Da’wah dan LIPPM), h. 43-49.
43 Riseri Frondizi, Pengantar Filsafat Nilai, terj. Cuk Ananta Wijaya, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2001), h. 1.
44 Ibid
dihargai.45 Sejalan dengan itu, Juhaya S. Praja dengan singkat mengatakan, nilai artinya harga. Sesuatu mempunyai nilai bagi seseorang karena ia berharga bagi dirinya.46
Notonegoro membagi nilai menjadi tiga. Nilai material, nilai spiritual, nilai vital.
a. Nilai Material adalah nilai yang berguna bagi jasmani manusia.
Contoh, makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal atau lebih dikenal sandang, pangan, papan.
b. Nilai Spiritual adalah nilai yang berguna bagi rohani manusia.
Nilai spiritual dibagi lagi menjadi nilai religi (agama), nilai estetika (keindahan, seni), nilai etika (moral) dan nilai logika (kebenaran).
c. Nilai vital, yaitu nilai yang berguna menunjang kegiatan manusia. Contoh, buat seorang pemikir, cangkul tidak terlalu bernilai, tapi untuk petani itu sangat bernilai.47
Sistem didefinisikan sebagai suatu organisasi berbagai unsur yang saling berhubungan satu sama lain. Unsur-unsur tersebut juga saling mempengaruhi, dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan pemahaman semacam itu, maka kita bisa menyebutkan bahwa sistem ekonomi merupakan organisasi yang terdiri dan bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan ekonomi.48
45 Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, h. 26
46 Juhaya S.Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 59.
47 Darji Darmodiharjo, dkk., Santiaji Pancasila: Suatu Tinjauan Filosofis, Historis dan Yuridis Konstitutional, (Surabaya: Usaha Nasional, 2014), h. 51.
48 Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 2
Ekonomi secara umum didefinisikan sebagai hal yang mempelajari perilaku manusia dalam menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan manusia.49
Beberapa ahli mendefinisikan ekonomi Islam sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas di dalam kerangka Syariah. Ilmu yang mempelajari perilaku seorang muslim dalam suatu masyarakat Islam yang dibingkai dengan syariah. Definisi tersebut mengandung kelemahan karena menghasilkan konsep yang tidak kompatibel (cocok) dan tidak universal (berlaku secara umum). Karena dari definisi tersebut mendorong seseorang terperangkap dalam keputusan yang apriori (apriory judgement), benar atau salah tetap harus diterima.50
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Sumber dari keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma dan qiyas. Nilai-nilai sistem ekonomi Islam ini merupakan bagian integral dari keseluruhan
49 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2011), h. 14.
50 Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam, (Yogyakarta: LPPI, 2006), h. 6
ajaran Islam yang komprehensif dan telah dinyatakan Allah SWT sebagai ajaran yang sempurna (QS. Al-Ma'idah ayat 3).
…
Artinya: “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Maidah: 3).51
Karena didasarkan pada nilai-nilai Ilahiah, sistem ekonomi Islam tentu saja akan berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang didasarkan pada ajaran kapitalisme, dan juga berbeda dengan sistem ekonomi sosialis yang didasarkan pada ajaran sosialisme. Memang, dalam beberapa hal, sistem ekonomi Islam merupakan kompromi antara kedua sistem tersebut, namun dalam banyak hal sistem ekonomi Islam berbeda sama sekali dengan kedua sistem tersebut. Sistem ekonomi Islam memiliki sifat-sifat baik dari kapitalisme dan sosialisme, namun terlepas dari sifat buruknya.52
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai dasar sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam.
51 Depantemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya., h. 11
52 Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam., h. 2