• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai- nilai Pendidikan Islam SMP Negeri 1

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Nilai- nilai Pendidikan Islam SMP Negeri 1

Pendidikan yang bertujuan untuk membentuk suatu perilaku yang baik pada generasi muda muslim agar memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.

Dengan mengubah tingkah laku yang dilandasi oleh nilai- nilai Islam berdasarkan dengan aqidah Islam serta, akhlak serta ibadah yang berlandaskan Alquran dan as-sunnah. Suatu keharusan bagi tiap muslim untuk mempelajari bahkan mengamalkan tiap ajaran islam karena tugas kita tak lain hanya menyembah kepada-Nya, mengerjakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya.

Tabel 7

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal guru sering menjelaskan materi tentang nilai- nilai pendidikan Islam

No Alternatif Jawaban F %

1 Sering 20 83,3 %

2 Kadang- kadang 4 16,7 %

3 Pernah -

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 01

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 20 responden atau 83,3 % yang memberikan jawaban bahwa guru pendidikan agama Islam sering menjelaskan materi tentang nilai- nilai pendidikan Islam , yang memberikan jawaban kadang- kadang 4 responden atau 16,7 %, yang menjawab pernah dan tidak pernah adalah tidak terdapat responden atau 0% .

Tabel 8

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden bahwa setelah mempelajari nilai- nilai pendidikan Islam, siswa sering

menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari

No Alternatif Jawaban F %

1 Sering 15 62,5 %

2 Kadang- kadang 8 33,3 %

3 Pernah 1 4,2 %

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 02

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 15 responden atau 62,5 % yang memberikan jawaban bahwa setelah mempelajari nilai- nilai pendidikan Islam siswa sering menerapkannya

dalam kehidupan sehari- hari , yang memberikan jawaban kadang- kadang 8 responden atau 33,3 %, yang menjawab pernah 1 responden atau 4,2 % dan tidak pernah menerapakan pengajaran nilai- nilai pendidikan Islam ini adalah tidak terdapat responden atau 0% .

Sehingga guru seharusnya lebih mengusahakan pengajaran nilai- nilai pendidikan Islam ini dengan baik agar peserta didik dapat menerapkan apa yang telah diajarkan dalam kehidupan sehari- hari sehingga tidak hanya berdampak pada kepribadiannya akan tetapi berdampak pula pada masyarakat.

Adapun nilai- nilai pendidikan Islam yang semestinya untuk diterapkan:

1. Nilai Aqidah

Dalam pembinaan nilai- nilai aqidah ini memiliki pengaruh yang luar biasa pada kepribadian anak, bagaimana dia bisa meyakini dan mempercayai Allah Swt.

Tabel 9

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal kepercayaan bahwa Tuhan itu satu yaitu Allah Swt.

No Alternatif Jawaban F %

1 Sangat Percaya 24 100 %

2 Percaya -

3 Kurang Percaya -

4 Tidak Percaya -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 03

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 24 responden atau 100 % yang memberikan jawaban bahwa sangat percaya

bahwa Tuhan itu satu yaitu Allah Swt., yang memberikan jawaban percaya, kurang percaya dan tidak percaya adalah tidak terdapat responden atau 0 %.

Tabel 10

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal keyakinan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi merupakan

ciptaan Allah Swt.

No Alternatif Jawaban F %

1 Sangat Yakin 20 83,3 %

2 Yakin 4 16,7 %

3 Kurang Yakin -

4 Tidak Yakin -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 04

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 20 responden atau 83,3 % yang memberikan jawaban bahwa sangat yakin bahwa segala yang ada di langit dan di bumi merupakan ciptaan Allah Swt., 4 responden atau 16,7% memberikan jawaban yakin. Sedangkan yang menjawab kurang yakin dan tidak yakin adalah tidak terdapat responden atau 0 % .

Tabel 11

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 22 91,6 %

2 Kadang- kadang -

3 Pernah 2 8,4%

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 05

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 22 responden atau 91,6 % yang memberikan jawaban bahwa selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. 2 responden atau 8,4% yang memberikan jawaban pernah. Sedangkan yang menjawab kadang- kadang dan tidak pernah adalah tidak terdapat responden atau 0 % .

2. Nilai Ibadah

Ibadah adalah suatu wujud perbuatan yang dilandasi rasa pengabdian kepada Allah Swt. Ibadah juga merupakan kewajiban agama Islam yang tidak bisa dipisahkan dari aspek keimanan. Keimanan merupakan pundamen, sedangkan ibadah merupakan manifestasi dari keimanan tersebut.

Tabel 12

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam melaksanakan shalat lima waktu

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 17 70,8%

2 Kadang-kadang 5 20,8 %

3 Pernah 2 8,4%

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 06

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 17 responden atau 70,8 % yang memberikan jawaban bahwa selalu melaksanakan shalat lima waktu, 5 responden atau 20,8% memberikan jawaban kadang-kadang, 2 responden atau 8,4 % memberikan jawaban

pernah. Sedangkan yang menjawab tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu adalah tidak terdapat responden atau 0 % .

Tabel 13

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 24 100 %

2 Kadang-kadang -

3 Pernah -

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 07

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 24 responden atau 100 % yang memberikan jawaban bahwa selalu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, yang memberikan jawaban kadang-kadang, pernah dan tidak pernah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah tidak terdapat responden atau 0 %

Tabel 14

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal membaca Alquran

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 8 33, 3%

2 Kadang-kadang 10 41,7%

3 Pernah 6 25 %

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data angket No. 08

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 8 responden atau 33,3 % yang memberikan jawaban bahwa selalu membaca Alquran, 10 responden atau 41,7% memberikan jawaban kadang-kadang, 6 responden atau 25 % memberikan jawaban pernah.

Sedangkan yang menjawab tidak pernah membaca Alquran adalah tidak terdapat responden atau 0% .

3. Nilai Akhlak

Akhlak merupakan suatu sifat mental manusia dimana hubungan dengan Allah Swt dan dengan sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dan Rasulullah Saw. sebagai utusan Allah Swt.

yang memiliki akhlak mulia dan patut di jadikan tauladan.

Ketinggian budi pekerti seseorang menjadikannya dapat melaksanakan kewajiban dan pekerjaan dengan baik dan sempurna sehingga menjadikan orang itu dapat hidup bahagia sebaliknya apabila manusia buruk akhlaknya, maka hal itu sebagai pertanda terganggunya keserasian, keharmonisan dalam pergaulannya dengan sesama manusia.

Tabel 15

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden bahwa ia selalu hormat dan patuh pada Bapak/ Ibu guru di sekolah

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 24 100 %

2 Kadang-kadang -

3 Pernah -

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 09

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 24 responden atau 100 % yang memberikan jawaban selalu hormat dan patuh pada bapak/ ibu guru di sekolah, yang memberikan jawaban

kadang-kadang, pernah dan tidak pernah hormat dan patuh pada bapak/

ibu guru di sekolah adalah tidak terdapat responden atau 0 % .

Nurhikmah, siswa di SMP Negeri 1 Bontomarannu mengemukakan bahwa:

Siswa- siswi di sini sangat hormat dan patuh pada bapak/ ibu guru karena kita diajarkan untuk bertingkah laku yang baik, berkata jujur, sopan santun kepada bapak/ ibu guru. Beliau semua yang mengajar dan mendidik kami, jadi suatu keharusan untuk kami hormat dan patuh padanya (Wawancara, 3 Agustus 2015).

Dari hasil wawancara di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa siswa- siswi di sekolah ini memiliki akhlak yang baik dalam kepatuhan pada bapak/ ibu guru di sekolah.

Tabel 16

Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal berbuat baik kepada teman- teman di sekolah

No Alternatif Jawaban F %

1 Selalu 20 83,3%

2 Kadang-kadang 4 16,7%

3 Pernah -

4 Tidak Pernah -

Jumlah (N) 24 100 %

Sumber data: angket No. 10

Berdasarkan tabel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa 20 responden atau 83,3 % yang memberikan jawaban selalu berbuat baik kepada teman- teman di sekolah, yang memberikan jawaban kadang- kadang 4 responden atau 16,7 %, pernah, tidak pernah berbuat baik kepada teman- teman di sekolah adalah tidak terdapat responden atau 0

% .

C. Faktor Penghambat dalam Mengimplementasikan Nilai- nilai pendidikan Islam dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP Negeri 1 Bontomarannu

1. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berasal dari luar diri peserta didik. Lingkungan tersebut bisa jadi berasal dari teman, dan dari lingkungan masyarakat, seperti teman yang memiliki perangai yang tidak baik. Lingkungan ikut berperan dalam pembentukan kepribadian peserta didik.

Nurliyah,S.Ag guru bidang studi Pendidikan Agama Islam,mengemukakan bahwa:

Faktor penghambat dalam penerapan nilai- nilai pendidikan islam dikarenakan peserta didik bergaul di lingkungan dengan anak yang memiliki akhlak tidak baik. Meskipun kita berusaha keras untuk mngajarkan nilai akhlak, ibadah dan aqidah kepada peserta didik, akan tetapi setelah mereka keluar dari ruangan dan kembali ke lingkungan yang tidak baik maka lepas pula apa yang kita ajarkan. Peserta didik yang baik, bisa saja berubah dikarenakan berteman dengan peserta didik yang malas, pembuat masalah dan sering membolos sekolah. Berhubung perserta didik belum bisa memilah-milah mana yang seharusnya dicontoh dan mana yang tidak patut dicontoh, akhirnya peserta didik yang baik tersebut bisa berubah menjadi seperti temanya tersebut. Padahal pendidik tidak bosan-bosan mengajari peserta didik dengan hal- hal yang baik. (Wawancara, 3 Agustus 2015).

Dari hasil wawancara diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap kepribadian anak. Apabila seorang anak berada dalam lingkungan yang baik, contoh mengaji, ikut acara yang bermakna positif maka dalam diri anak akan tercipta akhlak yang baik pula, insya

Allah. sedangkan apabila ia terjerumus ke dalam lingkungan yang buruk yang mana di situ merupakan tempat-tempat orang yang mabuk- mabukan, seks bebas dan lain sebagainya, bukan tidak mungkin seorang anak juga akan terjun ke arah yang negatif.

2. Kemajuan Teknologi

Era globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat dari tahun ke tahun. Ciri-ciri kemajuan teknologi yaitu ditandai dengan menjamurnya pusat permainan Play Station, Warung Internet, dan Hand Phone. Barang elektronik tersebut, sekarang bisa dinikmati semua kalangan dari orang dewasa sampai anak-anak.

Penyebab kemerosotan akhlak peserta didik salah satunya disebabkan maraknya Play Station, Hand Phone, dan Warung Internet.

Peserta didik yang biasanya belum bisa membagi waktu dan belum bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Setelah peserta didik mengenal Play Station, semua waktunya hanya dihabiskan untuk bermain Play Station, mereka lupa bahwa tugasnya tidak hanya bermain, tapi juga harus belajar, mengaji, dan juga harus istirahat.

Perbedaan dalam hal akhlak antara peserta didik zaman dahulu dengan peserta didik sekarang sangat menonjol. Salah satu penyebabnya adalah adanya kemajuan teknologi.

Nigerawati, S.Ag guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, mengemukakan bahwa:

Kita tidak menyalahkan kemajuan teknologi sekarang yang memberikan dampak negatif pada kepribadian anak- anak , akan

tetapi kita juga harus melihat dari dampak positifnya. Dulu permainan anak- anak masih tradisional yang mungkin jika dilihat dari efek negatifnya hanya kecil dan mereka bisa membagi waktu antara bermain dan belajar serta mengaji. Sekarang dengan kemajuan teknologi, anak- anak sangat sulit membagi waktu, pulang sekolah main sampai terkadang lupa waktu, malamnya tidak belajar karena capek. Itulah mengapa materi pendidikan Islam yang diajarkan terkadang sulit untuk tertanamkan dalam diri peserta didik. (Wawancara, 3 Agustus 2015).

Dari hasil wawancara diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan bahwa kemajuan teknologi memiliki dampak negatif akan tetapi kita juga harus melihat dari sisi positifnya. Seorang peserta didik akan memanfaatkan kemajuan teknologi dengan baik jika dibantu dengan pengawasan dari orang- orang terdekat.

3. Kurangnya didikan langsung dari orangtua

Padahal kita ketahui bersama, bahwa pendidikan awal dari seorang anak yaitu keluarga. Orangtua mempunyai peran penting dalam mendidik, bahkan membimbing anaknya agar bisa menjadi anak yang dibanggakan oleh orangtuanya, berakhlak mulia, tekun dalam beribadah serta dapat meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.

Sekarang ini banyak orangtua yang sibuk berkarir, sehingga melupakan kewajiban utamanya yaitu mendidik anak. Pergi pagi dan pulang malam. Padahal orang tua sangat bertanggung jawab untuk membimbing anaknya, selain sebagai pembimbing orang tua juga bertanggung jawab dalam mewujudkan anak-anak yang memiliki potensi

hidup beragama yang kuat, agar ia bisa mengenal dirinya serta pencipta- Nya .

Hal yang sangat disayangkan, karena sebagian orangtua menganggap bahwa di sekolah tempatnya anak untuk belajar, dididik oleh bapak/ ibu guru. Padahal pendidikan utama seorang anak yaitu di lingkungan keluarga. Inilah yang mesti diluruskan dan perlu sekiranya diberi pemahaman kepada orangtua- orangtua yang beranggapan seperti itu.

D. Upaya- upaya yang dilakukan dalam Mengimplementasikan Nilai- nilai Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Kecerdasan Siswa SMP Negeri 1 Bontomarannu

1. Memberikan pengarahan serta bimbingan pada peserta didik secara terus menerus

Pendidik melakukan berbagai upaya dalam mengatasi hambatan dengan memberikan pengarahan serta bimbingan pada peserta didik secara terus menerus, baik di luar proses belajar mengajar maupun ketika proses belajar mengajar berlangsung. Bahwa pentingnya kita untuk mempelajari nilai aqidah, ibadah serta akhlak agar dapat meningkatkan kecerdasan spiritual keagamaan kita. Walaupun pendidik dikatakan cerewet, tapi itu berbuah manis bagi peserta didik. Sering diberi pengarahan, diberi nasihat, dan diperingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak baik, peserta didik menjadi anak yang tahu mana yang baik dan buruk. Mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus

ditinggalkan. Yang harus dilakukan oleh pendidik adalah terus menerus tanpa henti tanpa bosan-bosannya memberikan nasihat pada peserta didik.

2. Meminta Dukungan Orang tua.

Setiap orang ingin memberikan pelajaran dan pendidikan akhlak, ibadah serta aqidah kepada anaknya, supaya anaknya tersebut memperoleh kehidupan yang lebih baik. Karena moral itulah yang akan membentuk tingkah laku dalam kehidupannya. Sikap seperti itu secara alami di miliki oleh semua orang tua di dunia ini.

Pendidik selalu memberikan pengarahan kepada orang tua peserta didik agar selalu meningkatkan pengawasan kepada para peserta didik berkenaan dengan tingkah lakunya sehari-hari dan menyuruh peserta didik agar selalu giat belajar, mengurangi jam bermain, agar meminimalkan pergaulan peserta didik dengan dunia luar yang lebih banyak memberikan dampak negatif bagi peserta didik.

Orang yang pertama dan utama yang bertanggung jawab tentang pendidikan agama terhadap anak-anaknya adalah orang tua. Selain berperan sebagai pendidik, orang tua juga memegang peranan lain yang perlu disadari dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut :

a. Memelihara dan membesarkanya. Dengan memberikan makanan, minuman, perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.

b. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah dan rohaniah, dari berbagai ganguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.

c. Mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila telah dewasa, ia mampu berdiri sendiri sendiri dan membantu orang lain.

d. Membahagikan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.

Nurliyah, S.Ag guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, mengemukakan bahwa:

Upaya yang dilakukan dalam menerapkan nilai- nilai pendidikan Islam dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa yaitu dengan menitik beratkan pada pembiasaan dalam penerapan pendidikan agama Islam serta menumbuhkan dan menanamkan nilai keagamaan agar nilai- nilai tersebut dapat tertanam dalam diri setiap peserta didik. (Wawancara 3 agustus 2015)

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menanamkan nilai- nilai pendidikan Islam harus pula dilakukan pembiasaan agar peserta didik tidak hanya melakukan satu dua kali akan tetapi secara terus menerus.

3. Menerapkan pula kegiatan- kegiatan ekstrakurikuler islami di sekolah, antara lain:

a. Pembiasaan Akhlak Mulia.

Pembiasaan Akhlak Mulia (SALAM), adalah upaya yang dilakukan oleh sekolah secara rutin dan berkelanjutan dalam membangun

karakter (character building) keagamaan dan akhlak mulia peserta didik, sebagai proses internalisasi nilai-nilai keagamaan agar peserta didik terbiasa berbicara, bersikap, dan berperilaku terpuji dalam kehidupan keseharian. Melalui kegiatan pembiasaan, diharapkan peserta didik memiliki karakter dan prilaku terpuji baik dalam komunitas kehidupan di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.

Beberapa kegiatan pembiasaan akhlak mulia yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah, antara lain: shalat berjamaah, tadarusan, baca do'a pada awal dan akhir pelajaran, melafalkan Asmaul Husna atau melakukan suatu pekerjaan, mengucapkan dan menjawab salam, infak dan sodaqoh, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan, berperilaku jujur, adil, memanfaatkan waktu luang untuk kebaikan, tolong menolong dan hormat antar sesama. Sekolah harus menciptakan budaya agamis, mulai dari penampilan profil fisik sekolah sampai kepada situasi kehidupan antar sesama guru, sesama murid, guru dengan murid, dengan pegawai, juga dengan lingkungan.

b. Pekan Keterampilan dan Seni PAI (PENTAS PAI)

Pekan Keterampilan dan Seni PAI (PENTAS PAI) adalah wahana kompetisi di kalangan peserta didik dalam berbagai jenis keterampilan dan seni agama yang diselenggarakan mulai tingkat sekolah, gugus, kecamatan kabupaten/kota, propinsi sampai dengan tingkat nasional. Jenis keterampilan yang dapat dilombakan antara lain:

Musabaqah Tilawatil Qur'an, kaligrafi, hafalan surat pendek, pidato,

cerdas cermat, khutbah Jum'at, hafalan do'a, menjadi imam, adzan, baca sajak, puisi, lomba mengarang, kesenian Islam seperti nasyid, qasidah, dan lain-lain. Mengenai jenis keterampilan yang dilombakan, setiap sekolah atau daerah dapat memilih jenis lomba yang cocok dan lebih memasyarakat di daerahnya masing-masing.

c. Pesantren Kilat (SANLAT)

Pesantren kilat adalah kegiatan pesantren yang dilaksanakan pada saat liburan sekolah, dengan waktu yang relatif singkat di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan. Pesantren Kilat disebut juga Pesantren Ramadhan apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan.

Rentang waktu pelaksanaan Sanlat bisa 3, 5, 7 hari, atau lebih disesuaikan dengan kebutuhan.

d. Tuntas Baca Tutis Al-Qur'an (TBTQ)

Tuntas Baca Tulis Al-Qur'an (TBTQ) adalah kegiatan khusus yang dilakukan oleh sekolah di luar jam pelajaran dalam rangka mendidik, membimbing, dan melatih keterampilan membaca, menulis, menghafal, dan memahami arti Al-Qur'an, khususnya bagi para peserta didik yang belum memiliki kompetensi membaca dan menulis Al-Qur'an. Mengingat pentingnya penguasaan aspek Al-Qur'an dalam mata pelajaran PAI, maka TBTQ dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib.

Kemampuan membaca dan menulis Al-Qur'an merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang yang beragama Islam, karena akan berfungsi sebagai alat untuk mengetahui, memahami,

menghafal, dan mempelajari agama Islam baik yang bersumber dari Al- Qur'an maupun Hadits. Karena itu, belajar membaca dan menulis Al- Qur'an perlu diselenggarakan secara khusus, sehingga diharapkan seluruh peserta didik yang lulus dari sekolah memiliki kompetensi membaca dan menulis Al-Qur'an. Setiap peserta didik yang telah selesai dan lulus dari jenjang pendidikannya, diharapkan selain memperoleh ijazah dan tanda lulus, juga memperoleh Sertifikat TBTQ.

e. Wisata Rohani (WISROH)

Wisata Rohani adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler PAI yang dapat dilakukan dalam bentuk out bound atau umroh pelajar yang ditujukan sebagai wahana hiburan yang menyenangkan sekaligus memperoleh pengetahuan dan pengalaman religius yang bermanfaat.

Dengan mengacu kepada pendekatan dan prinsip belajar aktif dan menyenangkan, perlu diadakan kegiatan wisata rohani bagi peserta didik untuk sekaligus menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan keagamaan. Kegiatan wisata rohani, pada gilirannya diharapkan juga dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

f. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)

Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) adalah kegiatan memperingati Hari Besar Islam, dengan maksud syiar Islam sekaligus menggali arti dan makna dari suatu Hari Besar Islam. Hari Besar Islam

yang dimaksud, antara lain; Maulid Nabi, Isra Mi'raj, Nuzulul Qur'an, dan Tahun Baru Islam atau bulan Muharram, Idul Fitri dan Idul Adha.

Agar kegiatan PHBI memiliki makna pembelajaran bagi siswa, maka pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam secara teknis sebaiknya dikelola oleh siswa melalui ROHIS dibawah bimbingan guru PAI, dan bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah. Dalam memperingati PHBI selain mengundang nara sumber yang berkompeten, sebaiknya menampilkan kegiatan-kegiatan siswa di bidang keterampilan dan seni PAI, seperti menjadi MC, pidato, baca Qur'an dan tarjamahnya, baca do'a, dan kesenian Islam. Dengan penyelenggaraan PHBI seperti ini, maka dapat pula berfungsi sebagai kegiatan Pentas PAI tingkat sekolah.

Dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Islami ini diharapkan tidak hanya guru bidang studi PAI yang bertugas akan tetapi partisipasi dari guru bidang studi lainnya juga sangat diperlukan demi terwujudnya peserta didik yang berkualitas tidak hanya dari intelektual tetapi dari spiritualnya pun demikian.

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian skripsi yang berjudul ”Implementasi Nilai- nilai Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa SMP Negeri 1 Bontomarannu Kabupaten Gowa” dan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah diajukan dalam rumusan masalah pada bab I, maka berikut ini peneliti memberikan kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai- nilai pendidikan Islam yang tertanam pada diri siswa di SMP Negeri 1 Bontomarannu sudah baik. Terbukti dari angket yang tersebar dan pertanyaan yang menyangkut hal aqidah keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Allah Swt. sudah 100 % sangat percaya Allah itu Esa, 83,3 % sangat yakin bahwa seala yan di langit dan di bumi merupakan ciptaan Allah Swt, 91,6% selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Oleh Allah Swt. Sedangkan dari segi ibadah, 70,8 % yang sering melaksanakan shalat lima waktu, 100 % yang sering menjalankan ibadah puasa, 41,7% kadang- kadang membaca Alquran. Dan dari segi akhlak, 100 % selalu hormat dan patuh pada bapak/ ibu guru di sekolah, 83,3 % yan sering berbuat baik kepada teman- teman di sekolah.

Dokumen terkait