• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa Nilai-nilai dan Sikap Moderasi Beragama penting dalam dunia pendidikan?

BAB I PENDAHULUAN

E. Mengapa Nilai-nilai dan Sikap Moderasi Beragama penting dalam dunia pendidikan?

Pandangan secara umum, pentingnya nilai-nilai dan sikap moderasi beragama dalam dunia pendidikan dikarenakan dalam satu

dekade terakhir, beberapa survei menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam memiki kerentanan yang cukup kuat terhadap ideologi- keagamaan yang bersifat radikal (Survey BNPT 2017, PPIM UIN Jakarta 2017, Alvara Research Center 2017, 2018, Setara Institute 2019). Padahal sebelumnya perguruan tinggi Islam dikenal sebagai salah satu “pilar Islam moderat” di Indonesia bersama dengan Muhammadiyah dan NU (Bruinessen, 2009: 219; Lukens-Bull, 2013:

32) serta para alumni IAIN, terserap dalam kerangka berpikir yang tersimpul dalam ideologi pembangunan, atau modernisasi yang pada dekade 1980-an merupakan ideologi dominan (Jabali dan Jamhari, 2002)29.

Alasan lain yaitu untuk merespon dan mendukung kebijakan- kebijakan pemerintah. Sebagaimana Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Nomor B- 3663.1/Dj.I/BA.02/10/2019 tertanggal 29 Oktober 2019 tentang Rumah Moderasi Beragama). Edaran tersebut meminta Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mendirikan Rumah Moderasi Beragama di kampus masing-masing. Pada tahun 2019, Kementerian Agama telah menerbitkan Buku dengan judul “Mederasi Beragama” (Jakarta:

Litbang Kemenag, 2019) sebagai bentuk penjelasan tentang konsep moderasi bergama secara komprehensif dan kontekstualisasinya di Indonesia; Pada 2020, “Moderasi Beragama” menjadi bagian tak terpisahkan “Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan”

RPJMN 2020-2024 dan merupakan prioritas pembangunan nasional30. Secara khusus, sebagai bagian yang berkenaan dengan nilai dan feeling, moderasi beragama dipengaruhi oleh kondisi dan iklim yang berlangsung pada saat pembelajaran terjadi, karena kondisi ini biasanya tidak terencanakan, namun sering menghasilkan pembelajaran yang negatif atau pembelajaran yang tidak konsisten apa yang sedang

29 PPIM UIN Jakarta, Potret Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Muslim : Studi Tiga Kampus Islam (Jakarta, Bandung, Yogyakarta), 2021,2.

30 PPIM UIN Jakarta, Potret Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Muslim : Studi Tiga Kampus Islam (Jakarta, Bandung, Yogyakarta), 2021,3.

diajarkan, maka dibutuhkan pendidikan perasaan “social learning” atau belajar melalui identifikasi dengan imitasi atau membentuk emosi terhadap sistuasi pengalaman.31

Secara praktis, nilai menjadi standar perilaku yang menjadikan orang berusaha untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang telah diyakininya sedemikian rupa, sehingga menjadikan semua orang memiliki nilai, sekalipun ditemukan sebagian orang tidak selamanya menyadari nilai yang dimilikinya. Sebagai standar perilaku, nilai membantu kita menentukan pengertian sederhana terhadap sesuatu realitas. Dalam pengertian lebih kompleks nilai membantu kita menentukan apakah sesuatu itu perlu atau tidak perlu, benar atau salah, baik atau buruk dan maupun cantik atau jelek. Dalam konteks ini nilai berkaitan dengan rasio yang akan membangun cara pandang seseorang.

Suatu keyakinan akan suatu nilai yang kemudian menjadi karakter bagi seseorang sangat tergantung pada bagaimana seseorang itu bersikap terhadap realitas dirinya dalam lingkup lingkungannya dan keyakinannya akan nilai-nilai tersebut, maka tentulah nilai tidak mungkin tampil dalam sikap dan tingkah laku tanpa adanya upaya pembentukan nilai melalui dunia pembelajaran. Persoalan ini membutuhkan penelaahan menyeluruh dalam keseluruhan varian yang terkait dengannya, baik dalam konteks individu dan sosial, maupun dalam hubungannya dengan aspek pembentukan sistem yang mendorong percepatan tumbuh kembangnya nilai sesuai dengan kebutuhan manusia dalam menata kehidupannya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa nilai merupakan sebuah ide atau konsep tentang sesuatu yang penting dalam kehidupan yang menjadi perhatian seseorang, sehingga ketika seseorang sedang memikirkan sesuatu nilai, pada dasarnya ia telah mengusahakan nilai-nilai tersebut dapat dilakukan untuk dirinya.

Dalam konteks sekolah, nilai itu paling tidak dikelompokkan dalam dua bagian, yakni ektrinsik dan intrinsik. Yang pertama disebut

31 Hilda Taba; Curriculum Development; Theory and Practice, New York: Harcout, Brace & World, Inc,, 1962, 158

juga dengan nilai instrumental, yaitu nilai yang ditetapkan baik lantaran bermakna bagi sesuatu. Nilainya tergantung dari konsekuensinya ketika dipakai untuk meraih nilai yang lain. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa nilai ekstrinsik ini bersifat subjektif dalam karakternya dan relatif bagi orang dan situasinya. Sedangkan yang ke dua, yakni nilai intrinsic nilai yang diputuskan good-nya bukan karena sesuatu yang lain tetapi berada di dalam nilai itu sendiri. Nilainya tidak tergantung pada nilai lain atau yang melampaui dirinya, tetapi nilainya merupakan bagian self-contained dari nilai itu sendiri.32 Dalam hal konteks penanaman nilai-nilai dan sikap moderasi beragama adalah bagaimana memanipulasi nilai ekstrinsik itu menjadi nilai intrinsik.

Selain itu, nilai sangat berkaitan dengan aktivitas seseorang. Ini bukan berarti bahwa nilai berbeda dengan sikap/tindakan. Pada prinsipnya nilai agama merupakan tindakan agama itu sendiri begitu pula sebaliknya. Tegasnya nilai agama dan tindakannya adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, bahkan nama dari perilaku yang tampil itu sendiri adalah nilai agama itu sendiri, misalnya berperilaku toleran, sopan, jujur, adil dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dirasakan umpamanya toleransi tidak hanya dipahami sebagai nilai saja, tetapi juga nama dari suatu perbuatan. Jadi nilai toleransi dan perbuatan toleransi merupakan satu yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Dengan demikian, urgensi nilai mendapatkan posisi yang strategis dalam dunia pendidikan, buktinya terkonsep pada pendidikan nasional, akan tetapi dalam kenyataannya tidak berperan secara riil dalam kepribadian peserta didik di Indonesia. Kesenjangan ini diduga akibat dari beberapa faktor, seperti: (1) Buku teks atau buku pelajaran (bahan ajar) yang digunakan kurang mengarah pada integrasi keilmuan antara sains dan agama; (2) Penerapan strategi belajar mengajar yang belum maksimal dan belum relevan dengan tuntutan kurikulum karena keterbatasan kemampuan pendidik, dan (3) Lingkungan belajar (hidden

32 W.F.R. Hardie, Aristotle`s Ethical Theory, Oxford: Clarendon Press, 1980. 61- 62.

curriculum) belum kondusif bagi berlangsungnya sesuatu proses pembelajaran33.

Konsekuensi dari tiga faktor tersebut adalah internalisasi nilai belum mampu merasuk kedalam diri peserta didik secara utuh sehingga menjadi suatu kepribadian. Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah harus mampu mengintegrasikan antara keilmuan sains dan dimensi nilai agama seperti nilai etika, nilai teologis, nilai moderasi dan lain-lain. Begitu juga proses pembelajaran sains harus mampu mengintegrasikan domain afektif (nilai-nilai agama) ke dalam domain kognitif dan psikomotorik, sehingga mutu pendidikan Indonesia semakin baik. Pandangan ini dikuatkan oleh fisikawan besar, Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind, science without religion is lame”, Tanpa sains agama menjadi buta, dan tanpa sains agama menjadi lumpuh34. Ini berarti perlu pendekatan analisis multidisipliner dalam menarasikan moderasi beragama di lembaga pendidkan dan masyarakat.

F. Teori Penguat dalam Pengarusutamaan Nilai-nilai dan