• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Sebelum membahas arti pendidikan Islam, penulis uraikan terlebih dahulu term pendidikan dalam perspektif Islam.

Pendidikan dalam konteks Islam lebih dikenal dengan istilah at-tarbiyah, at-ta’lim, at-ta’dib, dan ar-riyadloh. Setiap istilah mempunyai makna yang berbeda-beda sesuai dengan teks dan konteks maknanya, meskipun terkadang mempunyai makna yang sama dalam hal-hal tertentu. Dari keempat term tersebut, para ahli pendidikan berbeda-beda dalam memaknai term tersebut namun pada hakikatnya adalah sama, yakni proses penyampaian sesuatu sampai batas kesempurnaan, transformasi ilmu dan pemahaman, pemeliharaan anak didik, penanaman etika, bimbingan jiwa. Sedangkan term al-riyadloh hanya khusus dipakai oleh imam Al-Ghazali dengan istilah Riyadlatussibyan85.

Kata tarbiyah merupakan salah satu term dalam bahasa arab yang mempunyai banyak arti. Menurut Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, sebagaimana yang dikutip oleh Muhaimin, beliau mendefinisikan at-tarbiyah sebagai upaya mempersiapkan individu untuk kehidupan yang lebih sempurna, kebahagiaan hidup, cinta tanah air, kekuatan raga, kesempurnaan etika, sistematik dalam berfikir, tajam

85 Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), 130-134

perasaan, giat dalam berkreasi, toleransi pada yang lain, berkompetensi dalam mengungkapkan bahasa tulis dan bahasa lisan, dan terampil berkreatifitas86. Menurut Raghib Al-Asfahani, kata tarbiyah berarti “menyebabkan suatu berkembang dari satu fase ke fase selanjutnya sampai mencapai titik puncak potensi. Hal ini mengindikasikan bahwa fitrah manusia memang telah ada dalam diri anak, dan pendidikan merupakan proses mengembangkan fitrah tersebut, yang lebih dari sekedar menyampaikan informasi (transfer of knowledge). Kalau dipahami secara luas maka arti tarbiyah adalah disiplin ilmu bagi pembentukan dan pengembangan fitrah manusia. Menurut Al-Asfahani, kata rabb secara linguistik juga berhubungan dengan kata tarbiyah, yang mengandung pengertian bahwa Tuhan atau rabb memelihara dan mengembangkan manusia dalam setiap fase kehidupan sampai mencapai potensi puncak. Oleh karena itu, konsep peningkatan, pengembangan dan pengasuhan merupakan aspek tarbiyah87. Sebagaimana pendapat Ustadz Abdurrahman Al-Banna berikut ini:

ذﺎﺘﺳﻷا ﻂﺒﻨﺘﺳا ﺪﻗو ﻲﻧﺎﺒﻟا ﻦﻤﺣﺮﻟا ﺪﺒﻋ

,

ﺮﺻﺎﻨﻋ ﻦﻣ نﻮﻜﺘﺗ ﺔﯿﺑﺮﺘﻟا نأ

ﺎﮭﻟوأ : ﺎﮭﺘﯾﺎﻋرو ﺊﺷﺎﻨﻟا ةﺮﻄﻓ ﻰﻠﻋ ﺔﻈﻓﺎﺤﻤﻟا

ﺎﯿﻧﺎﺛ ﺎﮭﻠﻛ ﮫﺗاداﺪﻌﺘﺳاو ﮫﺒھاﻮﻣ ﺔﯿﻤﻨﺗ : ﺔﻋﻮﻨﺘﻣ و ةﺮﯿﺜﻛ ﻲھو ,

ﺎﺜﻟﺎﺛ : ﻖﺋﻼﻟا ﺎﮭﻟﺎﻤﻛو ﺎﮭﺣﻼﺻ ﻮﺤﻧ ﺎﮭﻠﻛ ﺐھاﻮﻤﻟا هﺬھو ةﺮﻄﻔﻟا هﺬھ ﮫﯿﺟﻮﺗ

ﺎﮭﺑ ﺎﻌﺑار : ﺔﯿﻠﻤﻌﻟا هﺬھ ﻰﻓ جرﺪﺘﻟا ,

ﻮھو ﮫﻟﻮﻘﺑ يوﺎﻀﯿﺒﻟا ﮫﯿﻟا ﺮﯿﺸﯾ ﺎﻣ ...) :

ﺎﺌﯿﺸﻓ ﺎﺌﯿﺷ (

ﮫﻟﻮﻘﺑ ﺐﻏاﺮﻟاو )

ﻻﺎﺤﻓ ﻻﺎﺣ

(...

Ustad Abdur Rahman Al Banna menjelaskan bahwa

Tarbiyah” memiliki empat unsur, yaitu: (1) Menjaga potensi

86 Muhaimin & Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, 131

87 M. Zainuddin, Reformulasi paradigma Transformatif dalam Kajian Pendidikan Islam, (Malang: UIN Press, 2011), 10.

diri serta membimbing dan mengarahkannya; (2) Mengembangkan kemampuan dasar serta menyiapkan dengan seutuhnya, dan itu banyak dan beragam; (3) Mengarahkan potensi dan kemampuan dasar tersebut menuju kesempurnaan yang sesuai dengan jiwanya; (4) Mendidiknya secara bertahap, inilah yang diisyaratkan oleh Al Baidhowi dengan kata: Syaian fa syaian`atau Ar Raghib melalui tulisannya: “Halan fa halan”88.

Selanjutnya, kata ta’lỉm merupakan kata benda buatan (mashdar) yang berasal dari kata ‘allama yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan. Begitu juga, kata ta’lim ini lebih berorientasi kepada aspek kognitif, seperti pengajaran mata pelajaran fisika dan lain sebagainya89. Menurut al-Raghib al-Asfahani bahwa kata ta’lim adalah al-tanbỉh al-nafs litashawwur al-ma’ẳniy 90 , yang berarti memperingatkan jiwa untuk mengabarkan berbagai pengertian, sedangkan al-ta’allum berarti proses mengingatkan jiwa dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang berbagai makna. Kata ta’lim itu sendiri terkadang digunakan juga untuk pengertian memberitahukan, jika kata ta’lim tersebut dilakukan secara berulang-ulang. Namun menurut Moh. Rasyid Ridha menerjemahkan ta’lim dengan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.

Secara konseptual pendidikan Islam adalah suatu upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan

88 ,ﻊﻣﺗﺟﻣﻟا و ﺔﺳردﻣﻟاو تﯾﺑﻟا ﻲﻓ ﺎﮭﺑﯾﻟﺎﺳأو ﺔﯾﻣﻼﺳﻻا ﺔﯾﺑرﺗﻟا لوﺻأ ,يوﻼﺣﻧﻟا نﻣﺣرﻟادﺑﻋ رﻛﻔﻟراد, ۱۹۹٦, 13

89 Tim LPP-SDM, Ensikolpedi Pendidikan Islam; Proses dan Istilah-istilah Umum Dalam Pendidikan Islam, (Depok: Bina Muda Cipta Kreasi, 2010 ), 233.

90 al-Raghib al-Asfahani, 189; Abudin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif al- Qur’an, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), 93.

kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang sempura, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan, atau merupakan suatu proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Muhammad Munir Mursyi, yakni:

ﺔﯿﻤﻨﺗ ﻰﻠﻋ ﻞﻤﻌﺗ ﻰﮭﻓ ﺔﯿﻧﺎﺴﻧ ﻻا ةﺮﻄﻔﻟا هﺬﮭﻟ ﺔﯿﺑﺮﺗ ﻰھ ﺔﯿﻣﻼﺳﻻا ﺔﯿﺑﺮﺘﻟا ﻄﻔﻟا ﻞﯿﻤﻟا ﺔﻓﺮﻌﻤﻟا ﺐﺣ ﺮﻤﺜﺘﺴﺗ و ﻞﮭﺠﯾ ﻞﻣ ﺔﻓﺮﻌﻣ ﻰﻓ نﺎﺴﻧﻻا ىﺪﻟ ىﺮ

لﻮﺻﻮﻠﻟ ﺔﻨﻜﻤﻣ ﺔﻠﯿﺳو ﻞﻛ مﻼﺳﻻا مﺪﺨﺘﺳا ﺪﻗ و ﮫﯾﺪﻟ لﻮﮭﺠﻤﻟا ﻦﻋ ﺚﺤﺒﻟاو ﺮﻤﺘﺴﻤﻟا ﺪﯾﺪﺸﻟا ﻒﮭﻠﺘﻟاو ﻢﻠﻌﻟﺎﺑ ﻒﻐﺸﻟا ﺔﺒﺗﺮﻣ ﻰﻟا ىﺮﻄﻔﻟا ﻞﯿﻤﻟا اﺬﮭﺑ راﺮﺳأ و فرﺎﻌﻣ ﻦﻣ دﻮﺟﻮﻟا ﻰﻓ ﺎﻣ ﺔﻓﺮﻌﻤﻟ Artinya: Pendidikan Islam merupakan pendidikan fitrah manusia yang condong untuk mengembangkan fitrahnya sebagai manusia untuk mengetahui sesuatu yg tidak diketahuinya, dan menanamkan dalam dirinya kecintaan terhadap pengetahuan dan meneliti apa yg belum diketahuinya, dan Islam sudah menggunakan berbagai macam cara terbaik untuk mencapai fitrahnya sampai menumbuhkan gairah keilmuan untuk mengetahui sesuatu yang nyata dari yang sudah diketahui dan masih rahasia91.

Yusuf Quradlawi, mengartikan pendidikan Islam sebagai pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya akhlak dan keterampilannya. Sehingga dari pengertian pendidikan Islam mencerminkan adanya nilai- nilai keseimbangan baik yang berupa jasmani dan rohani maupun kehidupan dunia dan akhiratnya. Hal senada disampaikan, Muhaimin bahwa pendidikan Islam harus diselenggarakan atau didirikan dengan hasrat dan niat untuk

91 ۲٥ ص ,ﺔﯾﺑرﻌﻟا دﻼﺑ ﻲﻓ ﺎھروطﺗو ﺎﮭﻟوﺻأ ﺔﯾﻣﻼﺳﻻا ﺔﯾﺑرﺗﻟا ,ﻲﺳرﻣ رﯾﻧﻣ دﻣﺣﻣ روﺗﻛد

mengajarkan nilai-nilai Islam, dan harus dikembangkan dan disemangati atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam92.

Disisi lain, Pendidikan Islam adalah suatu upaya atau proses, pencarian, pembentukan, dan pengembangan sikap dan perilaku untuk mencari, mengembangkan, memelihara, serta menggunakan Ilmu dan perangkat teknologi atau keterampilan demi kepentingan manusia sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, pada hakekatnya, proses pendidikan Islam merupakan proses pelestarian dan penyempurnaan kultur Islam yang selalu berkembang dalam suatu proses transformasi budaya yang berkesinambungan atas konstanta wahyu yang merupakan nilai universal.93

Konsep pendidikan Islam menawarkan banyak keutamaan, karena bersumber dari kebenaran ilmiah (wahyu), yang meliputi segenap aspek kehidupan manusia, yang berlaku universal, dan tidak terbatas hanya untuk bangsa tertentu saja, serta berlaku sepanjang masa, maka semangat tersebut sangat sesuai dengan fitrah kemanusiaan, bahkan menyiapkan pengembangan naluri-naluri kemanusiaan sehingga tercapai kebahagiaan yang hakiki.

Dari berbagai definisi tentang pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam diatas, ada beberapa poin penting menurut hemat penulis merupakan inti dari pendidikan Islam, yaitu terkait dengan orientasi pendidikan Islam, dimana pendidikan Islam harus memiliki budaya religiusitas, berfilosofis, berorientasi pada kebahagiaan dunia akhirat, serta selalu menjadikan al-Qur’an dn Hadits sebagai inti atau landasan utama didalam penyelenggaraan pendidikan Islam.

92 Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 14

93 Jusuf Amir Faeisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), 96.

2. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang cerdas dan berkarakter, yakni:

Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir ('aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam.

Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu: (1) Menanamkan akidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori akidah tersebut, yaitu sebagai 'aqîdah 'aqliyyah; akidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam; (2) Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah pada orang yang sudah memiliki akidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi akidah yang diyakininya; (3) Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.

Kedua, menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu: (1) Ilmu yang termasuk fardhu 'ain (kewajiban individual), artinya wajib dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqâfah Islam yang terdiri dari konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam;

bahasa Arab; sirah Nabi saw., Ulumul Quran, Tahfizh al-

Quran, ulumul hadis, ushul fikih, dan lain-lain; (2) Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dan lain-lain.

Ketiga, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dan lain-lain.

Keempat, memiliki keterampilan yang memadai.

Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT.

Sebagaimana penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardlu kifayah, yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.

Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam diarahkan untuk mengembangkan potensi dan kepribadian total manusia, melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan dan kepekaan fisik, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT serta berakhlak mulia.