• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kajian Teori

4. Non Perfoming Loan (NPL)

Kredit atau pembiayaan dapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang, misalnya bank membiayai kredit untuk pembelian rumah atau mobil. Kemudian adanya kesepakatan antara bank (kreditor) dengan nasabah penerima kredit (debitur), bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuatnya. Dalam perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula dengan masalah sanksi apabila si debitur ingkar janji terhadap perjanjian yang telah dibuat bersama.

Sebelum kredit diberikan untuk menyakinkan bank bahwa si nasabah benar-benar dapat dipercaya maka bank terlebih dahulu mengadakan analisis kredit. Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek perusahaan, jaminan yang diberikan serta faktor-faktor lainya. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikn benar-benar aman.

Pemberian kredit tanpa dianalisis terlebih dahulu akan sangat membahayakan bank. Nasabah dalam hal ini dengan mudah memberikan

29Toto Prihadi, Analisasi Rasio Keuangan (Jakarta: PPM Manajemen, 2008).,68.

data-data fiktif sehingga kredit tersebut sebenarnya tidak layak untuk diberikan. Akibatnya jika salah dalam menganalisis maka kredit yang disalurkan akan sulit untuk ditagih alias macet. Namun faktor salah analisis ini bukanlah merupakan penyebab utama kredit macet walaupun sebagian besar kredit macet diakibatkan salah dalam mengadakan analisis.

Penyebab lainnya mungkin disebabkan oleh bencana alam yang memang tidak dapat pula kesalahan dalam pengelolaan.30

Jika kredit yang disalurkan mengalami kemacetan, maka langkah yang dilakukan untuk peyelamatan kredit tersebut beragam. Dikatakan beragam karena dilihat terlebih dahulu penyebabnya. Jika memnag masih bisa dibantu maka tindakan membantu apakah dengan menambahkan jumlah kredit atau dengan memperpanjang jangka waktunya. Namun, jika memang sudah tidak dapat diselamtkan kembali, aka tindakan terakhir bank adalah menyita jaminan telah dijaminkan oleh nasabah.

Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pemberian kredit tersebut tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan. Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit adalah sebagai berikut:

1. Mencari keuntungan yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bank. Jika yang terus menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank tersebut dilikuidasi (dibubarkan).

30Kasmir, Bank dan lembaga keuangan lainnya ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2012), 85.

2. Membantu usaha nasabah adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja.

3. Membantu pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh perbankan maka akan semakin baik mengingat semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sektor.31

Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menyanggah resiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur. Semakin banyak dana atau uang terkumpul dari masyarakat pada suatu bank, maka bank tersebut memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk menyalurkan kembali kepada masyarakat dana tersebut. Penilaian aspek kredit bermasalah suatu bank lebih dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana atau berapa kredit yang telah disalurkan kepada debitur mengalami gangguan pada pengembalian.

Terdapat tiga kategori kredit bermaslah, yaitu:

a) Kredit kurang lancar b) Kredit diragukan c) Kredit macet.

Semakin besar non performing loan yang ditanggung bank menunjukkan bahwa kinerja bank dalam penyaluran kredit terjadi masalah, yang berdampak pada penurunan laba yang diperoleh bank.32

31Ibid, 88-89.

32Dhian Andanarini Minar Savitri, โ€œPengaruh Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM) Dan Loan To Deposit Ratio (LDR) Terhadap Perubahan Laba Bank Pada Bank Devisa Dan

Salah satu resiko yang dihadapi oleh bank adalah resiko tidak terbayar kredit yang telah diberikan kepada debitur atau disebut dengan resiko kredit. Resiko kredit merupakan suatu resiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan atau dijadwalkanโ€. Kredit bermasalah atau Non Performing Loan menggambarkan suatu situasi dimana persetujuan pengembalian kredit mengalami resiko kegagalan, bahkan cendrung menuju atau mengalami kerugian potensial. Yang termasuk ke dalam Non Performing Loan (NPL) adalah kredit kurang lancar, kredit diragukan dan kredit macet.

1. Pengkuran Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio dari kredit bermasalah dalam kategori kredit yang macet. Non Performing Loan (NPL) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:33Menurut surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001, NPL dapat dihitung dengan rumus :๐๐๐‹= ๐‰๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐š๐ก ๐Š๐ซ๐ž๐๐ข๐ญ ๐›๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก

๐“๐จ๐ญ๐š๐ฅ ๐Š๐ซ๐ž๐๐ข๐ญ ๐ฑ ๐Ÿ๐ŸŽ๐ŸŽ%

Ada beberapa hal yang mempengaruhi naik turunnya NPL suatu perbankan, diantaranya adalah sebagai berikut :

Bank Non Devisa Di Indonesia tahun 2006-2010โ€. Jurnal Ilmu Manajemen Dan Akuntansi Terapan, Vol 2 No 2 (November,2011).

33Slamet Riyadi, Banking Asset And Reability Management (Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesi, Edisi Ke tiga, 2006),160.

a. Kemauan atau itikad baik dari debitur. Kemauan debitur dari sisi finansial untuk melunasi pokok dan bunga pinjaman tidak akan ada tanpa kemauan dan itikad baik dari debitur itu sendiri.

b. Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Kebijakan pemerintah dapat mempengaruh tinggi rendahnya NPL suatu perbankan, misalnya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM akan menyebabkan perusahaan yang banyak menggunakan BBM akan membutuhkan dana tambahan yang diambil dari yang dianggarkan untuk pembayaran cicilan utang memenuhi biaya produksi yang tinggi, sehingga perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan dalam membayar utang-utangnya kepada bank. Demikian pula halnya dengan PBI, peraturan-peraturan Bank Indonesia mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap NPL suatu bank.

c. Kondisi perekonomian mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemampuan debitur dalam melunasi utang-utangnya. Indikator- indikator ekonomi makro yang mempunyai pengaruh NPL diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Inflasi, merupakan kenaikan harga secara menyeluruh dan terus menerus. Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan kemampuan debitur untuk melunasi utang-utangnya berkurang.

2. Kurs rupiah, mempunyai pengaruh juga terhadap NPL suatu bank kerena aktivitas debitur perbankan tidak bersifat nasional tetapi juga internasional.

NPL yang tinggi akan memperbesar biaya, sehingga berpotensi terhadapkerugian bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kreditbank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, dan olehkarena itu bank harus menanggung kerugian dalam kegiatan operasionalnyasehingga berpengaruh terhadap penurunan laba (ROA) yang diperoleh bank. BankIndonesia (BI) melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) menetapkan bahwa rasiokredit bermasalah (NPL) adalah dibawah 5%34

Dokumen terkait