BAB V MANAJEMEN PELAKSANAAN
BAB 4 METODOLOGI
4. Observasi Google Street View
Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data dengan mengamati objek (benda, lingkungan, kondisi atau situasi) secara langsung maupun tidak langsung (Sukmadinata, 2011 dalam Arif Amiruddin Jabbar, 2014). Observasi Google Street View merupakan metode pengumpulan data dengan pengamatan secara sekunder melului Google Street View untuk mengetahui karakteristik objek pengamatan. Metode pengumpulan data ini diterapkan pada aspek sarana dan prasarana untuk mengetahui karakteristik dan ketersediaannya. Observasi ini menghasilkan data spasial yaitu gambar dari hasil dokumentasi beserta deskripsi dengan kriteria atau parameter tertentu. Alat bantu yang digunakan dalam observasi ini aadalah Google Earth dan Ms. Word.
4. 3 Metode Analisis
4. 3. 1 Analisis Struktur Internal Wilayah
Kota dan perkotaan merupakan pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam suatu peraturan perundangan sehingga dapat memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan.
Kawasan perkotaan merupakan (Samsudi, 2010). Kawsan perkotaan merupakan kawasan yang memiliki ciri-ciri kehidupan perkotaan, didalamnya berkembang sifat- sifat permukiman yang mampu menunjang kehiudpan kawasan disekitranya seperti perdagangan dan jasa, kantor pemerintahan, pendidikan dan sarana penunjang lainnya. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Penentuan kawasan perkotaan menjadi hal yang penting mengingat perencanaan yang dilakukan akan berbeda pada proses, input dan outputnya. Kebijakan yang akan dibuat juga mempertimbangkan hal tersebut agar perencanaan yang dilakukan sesuai
dengan kebutuhan dan membawa manfaat yang berkelanjutan. Untuk menetapkan kawasan perkotaan dibutuhkan beberapa aspek diantaranya yang meliputi aspek fisik, ekonomi dan sosial (Kasikoen, 2011). Untuk menentukan kawasan perkotaan, kelompok memilih cara weighted overlay dengan memasukan beberapa aspek yang dapat mencirikan suatu kawasan perkotaan. Parameter dan skor untuk penentuan kawasan perkotaan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Indikator dan Parameter Penentuan Kawasan Perkotaan
Sumber Teori Indikator Parameter Nilai
Perka BPS No.37 Tahun
2010 Kepadatan
penduduk (jiwa/km2)
<500 1
500 – 1249 2
1250 – 2499 3
2500 – 3999 4
4000 – 5999 5
6000 – 7499 6
7500 – 8499 7
8500<
Yunus, 2008 dalam Oroh dkk., 2019;
Septanaya & Ariastita, 2012
Persentase lahan terbangun
>25% (pedesaan) 1
25-50% (peri-urban
sekunder/desa-kota) 2
50-75% (peri-urban
primer/kota-desa 3
>75% (kota) 4
Yunus, 2005; UU
No.22/1999 Fungsi politik Desa/Kelurahan 1
Ibukota Kecamatan 2
Ibukota Kab/Kota 3
Yunus, 2005 Jaringan jalan hirarki
tertinggi
Tidak ada lokal/kolektor 0
Jalan lokal 1
Jalan kolektor 2
Yunus, 2005;
Permenhub No.15/2019;
Permendagri No.1/2008
Jalur
transportasi bus
Tidak ada 0
Jalur trayek bus tipe C 1
Perka BPS No.37 Tahun 2010
Keberadaaan puskesmas rawat inap
Tidak ada 0
Puskesmas non rawat inap 1 Puskesmas rawat inap 2 Perka BPS No.37 Tahun
2010
Pasar Tidak ada 0
Ada 1
Perka BPS No.37 Tahun
2010 Sarana
Pendidikan TK, SD 1
TK, SD, SMP 2
TK, SD, SMP, SMA 3
Sumber : Analisis Kelompok, 2020
Menentukan kawasan perkotaan menggunakan metode overlay dapat dengan mempertimbangkan beberapa indikator agar hasil pengklasifikasian menjadi kuat. Selain menentukan kawasan perkotaan dengan metode analisis. Kelompok kami juga menyelaraskan dengan dokumen Master Wilayah Jawa Tengah 2019 tentang pengklasifikasian desa yang bersifat perkotaan dan pedesaan.
4. 3. 2 Analisis Kedudukan dan Peran Wilayah Kecamatan dalam Wilayah yang Lebih Luas (Konstelasi Wilayah)
Analisis wilayah kecamatan pada wilayah yang lebih luas dilakukan untuk memahami kedudukan dan keterkaitan wilayah kecamatan dalam sistem regional yang lebih luas dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, sumber daya buatan atau sistem prasarana, budaya, pertahanan, dan keamanan. Sistem regional tersebut dapat berupa sistem kota, wilayah lainnya, kabupaten atau kota yang berbatasan, pulau, dimana suatu wilayah dapat berperan dalam perkembangan regional. Oleh karena itu, analisis regional ini dilakukan pada beberapa aspek sebagai berikut.
1. Analisis kedudukan dan keterkaitan sosial budaya dan demografi wilayah kecamatan pada wilayah yang lebih luas;
2. Analisis kedudukan dan keterkaitan ekonomi wilayah kecamatan pada wilayah yang lebih luas;
3. Analisis kedudukan dan keterkaitan sistem prasarana wilayah perencanaan dengan wilayah yang lebih luas. Sistem prasarana yang diperhatikan dalam analisis ini adalah sistem prasarana kabupaten/kota dan wilayah;
4. Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek lingkungan (pengelolaan fisik dan SDA) wilayah kecamatan pada wilayah yang lebih luas;
5. Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek pertahanan dan keamanan wilayah kecamatan
4. 3. 3 Analisis Sistem Penggunaan Lahan (Land Use) 1.) Analisis Klasifikasi Penggunaan Lahan
Klasifikasi kelas penggunaan lahan dilakukan berdasarkan hasil interpretasi citra secara visual. Interpretasi secara visual dilakukan berdasarkan pendekatan unsur- unsur interpretasi seperti rona/warna, tekstur, pola, ukuran, bentuk, bayangan dan situs sebagai pedoman untuk deliniasi kelas penggunaan lahan (Purwadhi and Sanjoto, 2009). Menggunakan Citra Resolusi Tinggi yang di download, kita dapat
mebuat deliniasi secara manual menggunakan metode Interpretasi Citra dengan pendekatan unsur-unsur interpretasi seperti rona/warna, tekstur, pola, ukuran, bentuk, bayangan dan situs. Citra Resolusi Tinggi yang digunakan menggunakan data pada tahun terbaru.
Hasil Deliniasi berdasarkan pengamatan mata atau interpretasi citra akan diujikan kelayakannya atau dilakukan uji validasi dengan menggunakan uji titik sampel. Menggunakan perhitungan dengan rumus slovin. Titik sampel yang didapat berjumlah 390 titik, dibagi rata disetiap desa menjadi 30 titik.
Sumber: Sutanto (1986)
Rumus Slovin untuk menghitung titik sampel
Titik tersebut disebar merata diseluruh bagian dengan pertimbangan mengujikan titik yang masih belum tahu kebenarannya atau dapat dikatakan mengetahui kebenaran objek yang masih ambigu. Setelah itu dilakukan survei lapangan dan validasi titik uji untuk mengetahui kebenaran titik yang masih dianggap ambigu serta melihat kebenran deliniasi. Data penggunaan lahan yang sudah didaptkan digunakan untuk identifikasi karakteristik wilayah.
2.) Analisis Perubahan Penggunaan Lahan
Analisis perubahan penggunaan lahan ini dapat dibuat menggunakan aplikasi ArcGIS, dengan membandingkan antara penggunaan lahan pada tahun sekarang dengan tahun lampau yang sudah divalidasi dengan metode analisis overlay GIS.
Metode overlay adalah suatu sistem informasi dalam bentuk grafis yang dibentuk dari penggabungan berbagai peta individu (memiliki informasi/database yang spesifik) (Rachmah, Rengkung and Lahamendu, 2014). Metode overlay adalah metode tumpeng tindih antara 2 shapefile/format file yang dapat dibuka pada program pemetaan digital. Data yang digunakan adalah Citra Landsat 7 ETM dan Citra Landsat OLI 8. Waktu yang digunakan adalah tahun 2000 dan 2020
Metode overlay dapat digunakan untuk mengetahui kesesuaian lahan, kawasan rawan bencana dan analisis yang membutuhkan dua atau lebih pembanding. Metode overlay juga dapat digunakan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan dengan cara menumpangtindihkan shapefile penggunaan lahan hasil intepretasi citra
dari tahun sekarang dengan tahun lampau. Shapefile penggunaan lahan tahun lampau yang dapat digunakan adalah data yang menunjukan lima tahun atau lebih karena dinilai sudah menunjukan perbedaan yang signifikan. Hasil dari proses analisis overlay ini adalah peta perubahan penggunaan wilayah penelitian. Peta perubahan penggunaan lahan adalah peta yang menunjukkan distribusi spasial dari lahan yang berubah dan tidak berubah penggunaannya. (Wijaya and Susetyo, 2017).
Selain peta perubahan lahan, kita dapat membuat olahan data statistik untuk melihat perubahan penggunaan lahannya dan juga dapat membandingkan dokumen perencanaan seperti RTRW dengan keadaan eksisting saat ini, sehingga nantinya akan muncul tiga kategori kesesuaian lahan antara penggunaan lahan eksisting dan penggunaan lahan pada dokumen RTRW. Data perubahan lahan di suatu kawasan dapat digunakan untuk mengidentifikasi besaran run-off yang terjadi dari kurun waktu tertentu, sehingga kita dapat mengetahui dan mengantisipasi perubahan lahan dan dampak dari besaran run-off yang terjadi.
4. 3. 4 Analisis Sumber Daya Alam dan Fisik dan Lingkungan
Aspek sumber daya alam dan fisik lingkungan merupakan aspek yang berkaitan dengan kondisi fisik pada wilayah studi. Aspek sumberdaya alam dan fisik lingkungan yang akan dibahas pada laporan ini berupa gambaran umum mengenai topografi, kelerengan, klimatologi, jenis tanah, geologi, hidrologi, baik air permukaan maupun air tanah dan daerah rawan bencana. Analisis untuk aspek fisik alam mengunakan beberapa metode. Tahapan selanjutnya dari analisis tersebut adalah dapat digunakan untuk melihat daya tamping, daya dukung, kesesuaian lahan dan kemampuan lahan.