• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL TEKNIS KELOMPOK 2 KECAMATAN TEGOWANU

N/A
N/A
Sevhia Ardiani

Academic year: 2025

Membagikan "PROPOSAL TEKNIS KELOMPOK 2 KECAMATAN TEGOWANU"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROPOSAL TEKNIS

KECAMATAN TEGOWANU, KABUPATEN GROBOGAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktik Analisis Tata Ruang Dosen Pembimbing :

Khristiana Dwi Astuti, ST, MT Pangi, ST, MT

Reny Yesiana, ST, MT

Disusun oleh:

Iin Choirunnisa 40030318060010 Rhema Armen Dintar 40030318060011 Nawang Wulan R. 40030318060014 Dewi Pregiwati S.M. 40030318060016 Hasvi Nika Mardiana 40030318060023 Farah Fadila Adzra 40030318060028 Firda Amalia M. 40030318060036 M. Machfudz Ardhan 40030318060047 Sasabillah Aziz S. 40030318060049 Ardhiyan Kurnia P. 40030318060054 Zuhdi Firdaus Saputro 40030318060059 Irvan Permana 40030318060060 Candra Pamungkas T. 40030318060062 Erina Yuliana Dewi 40030318060063 M. Thoyib Abdulloh 40030318060068

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH DAN KOTA DEPERTEMEN SIPIL DAN PERENCANAAN SEKOLAH VOKASI UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2020

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Proposal Teknis guna memenuhi tugas mata kuliah Praktik Analisis Tata Ruang dengan tepat waktu. Proposal Teknis ini kami beri judul “Proposal Teknis Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan”. Kami sepenuhnya menyadari bahwa dalam penyusunan proposal teknis ini tidak terlepas dari bantuan, arahan dan dukungan berbagai pihak, diantaranya :

1. Orang tua kami yang telah memberikan doa dan dukungannya

2. Dosen pengampu Ibu Khristiana Dwi Astuti, ST, MT, Bapak Pangi, ST, MT, dan Ibu Reny Yesiana, ST, MT

3. Teman-teman kelompok 2 Kecamatan Tegowanu yang terlibat dalam pembuatan proposal teknis ini

Semoga proposal teknis ini dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan yang tentunya akan memberikan manfaat bagi pembacanya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pembuatan laporan ini. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan tugas ini. Untuk itu kami ucapkan terima kasih.

Semarang, 27 September 2020

Kelompok 2

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR...vii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1. 1 Latar Belakang ... 1

1. 2 Perumusan Masalah ... 2

1. 3 Tujuan dan Sasaran ... 2

1. 3. 1 Tujuan ... 2

1. 3. 2 Sasaran ... 2

1. 4 Ruang Lingkup Wilayah dan Substansi ... 2

1. 4. 1 Ruang Lingkup Wilayah ... 2

1. 4. 2 Ruang Lingkup Substansi ... 3

1. 5 Kerangka Logis Tahap Perencanaan ... 5

1. 6 Sistematika Pembahasan ... 6

BAB 2 DASAR TEORI ... 7

2. 1 Kebijakan ... 7

2. 1. 1 Penyusunan RDTR ... 7

2. 2 Struktur Ruang ... 8

2. 3 Pola Ruang ... 13

2. 4 Aspek Fisik ... 13

2. 4. 1 Fisik Alam ... 13

2. 4. 2 Penggunaan Lahan ... 15

2. 4. 3 Sarana ... 16

2. 4. 4 Prasarana... 19

2. 4. 5 Sistem Transportasi ... 22

2. 5 Aspek Non Fisik ... 25

2. 5. 1 Kependudukan dan Ketenagakerjaan ... 25

2. 5. 2 Sosial Budaya ... 26

2. 5. 3 Ekonomi dan Sektor Unggulan... 29

BAB 3 GAMBARAN UMUM ... 31

3. 1 Kondisi Fisik ... 31

3. 1. 1 Fisik Alam ... 31

3. 1. 2 Penggunaan Lahan ... 39

3. 1. 3 Sarana ... 40

3. 1. 4 Prasarana... 56

3. 1. 5 Sistem Transportasi ... 79

3. 2 Kondisi NonFisik ... 81

(5)

3. 2. 2 Sosial Budaya ... 94

3. 2. 3 Ekonomi dan Sektor Unggulan...101

3. 3 Konstelasi Wilayah ...112

BAB 4 METODOLOGI...114

4. 1 Tabel Kebutuhan Data ...114

4. 2 Metode Pengumpulan Data ...114

4. 2. 1 Data Sekunder ...114

4. 3 Metode Analisis ...115

4. 3. 1 Analisis Struktur Internal Wilayah...115

4. 3. 2 Analisis Kedudukan dan Peran Wilayah Kecamatan dalam Wilayah yang Lebih Luas (Konstelasi Wilayah) ...117

4. 3. 3 Analisis Sistem Penggunaan Lahan (Land Use) ...117

4. 3. 4 Analisis Sumber Daya Alam dan Fisik dan Lingkungan ...119

4. 3. 5 Analisis Pemanfaatan Ruang ...122

4. 3. 6 Analisis Kondisi Sosial Budaya ...122

4. 3. 7 Analisis Kependudukan ...123

4. 3. 8 Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan...124

4. 3. 9 Analisis Sumber Daya Buatan ...128

4. 3. 10 Analisis Transportasi ...137

4. 4 Kerangka Analisis ...140

4. 4. 1 Kerangka Analisis Sistem Internal BWP ...140

4. 4. 2 Aspek Fisik...141

4. 4. 3 Aspek Non Fisik ...146

BAB 5 MANAJEMEN PELAKSANAAN ...148

5. 1 Struktur Anggota ...148

5. 2 Komposisi Tim dan Pembagian Kerja ...149

5. 2. 1 Komposisi Tim...149

5. 2. 2 Pembagian Kerja Penyusunan Proposal Teknis ...150

5. 2. 3 Pembagian Kerja Penyusunan Laporan Akhir ...152

5. 3 Jadwal Pelaksanaan...153

DAFTAR PUSTAKA ...154

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Kemiringan Lereng ... 14

Tabel 3.1 Jumlah Sarana Pendidikan Kecamatan Tegowanu Tahun 2014-2018... 41

Tabel 3.2 Jumlah Sarana Kesehatan Kecamatan Tegowanu Tahun 2014-2018... 43

Tabel 3.3 Jumlah Tempat Ibadah di Kecamatan Tegowanu ... 46

Tabel 3.4 Jenis dan Lokasi Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum ... 49

Tabel 3.5 Sarana Olahraga di Kecamatan Tegowanu ... 51

Tabel 3.8 Jaringan Telekomunikasi... 58

Tabel 3.9 Kondisi Jaringan Drainase ... 62

Tabel 3.10 Panjang Saluran Drainase ... 64

Tabel 3.11 Daerah Irigasi ... 69

Tabel 3.12 Daftar Ruas Jalan Kabupaten di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 70

Tabel 3.13 Panjang Jalan Kabupaten Menurut Kondisi Jalan di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 70

Tabel 3.14 Jumlah Pengguna Sumber Air Minum Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 73

Tabel 3.15 Daftar Bank Sampah di Kecamatan Tegowanu Tahun 2019 ... 78

Tabel 3.16 Data Ruas Jalan Kabupaten di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 79

Tabel 3.17 Kondisi Jaringan Jalan Kecamatan Tegowanu... 80

Tabel 3.18 Jumlah Penduduk Kecamatan Tegowanu ... 81

Tabel 3.19 Jumlah Penduduk di Kecamatan Tegowanu Menurut Jenis Kelamin... 83

Tabel 3.20 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin ... 84

Tabel 3.21 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan Yang Ditamatkan... 86

Tabel 3.22 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 87

Tabel 3.23 Kepadatan Penduduk di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 88

Tabel 3.24 Laju Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Tegowanu Tahun 2014 – 2018 ... 89

Tabel 3.25 Sex Ratio Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 90

Tabel 3.26 Jumlah Penduduk Usia Produktif dan Tidak Tahun 2018 ... 91

Tabel 3.27 Rasio Ketergantungan Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 92

Tabel 3.28 Jumlah Penduduk Transmigrasi Berdasarkan Penempatannya... 93

Tabel 3.29 Jumlah Penduduk Menurut Agama Tahun 2018... 94

Tabel 3.30 Jumlah Murud di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 96

Tabel 3.31 Jumlah Guru di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 97

Tabel 3.32 Jumlah Sarana Kesehatan Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 99

Tabel 3.33 Jumlah Tenaga Medis di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018...100

Tabel 3.34 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Pengeluaran. ...102

Tabel 3.35 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Lapangan Usaha ...103

Tabel 3.36 Pengunjung yang Datang di Beberapa Tempat Wisata di ...105

Tabel 3.37 Luas Panen Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kecamatan Tegowanu tahun 2018 ...106

Tabel 3.38 Potensi Ikan Air Tawar di Kabupaten Grobogan ...107

Tabel 3.39 Banyaknya Ternak Menurut Jenisnya di Kecamatan Tegowanu tahun 2018...108

Tabel 3.40 Jumlah Unggas Menurut Jenisnya di Kecamatan Tegowanu tahun 2018...109

Tabel 3.41 Jumlah, Jenis dan Pemasaran Industri di Kecamatan Tegowanu...110

Tabel 4.1 Indikator dan Parameter Penentuan Kawasan Perkotaan ...116

Tabel 4.2 Kelas Kemampuan Lahan dan Klasifikasi Pengembangan ...120

Tabel 4.3 Pedoman Skoring Kesesuaian Lahan dengan Metode Overlay...121

Tabel 5.1 Komposisi Tim Kelompok 2 Kecamatan Tegowanu ...149

Tabel 5.2 Pembagian Kerja Penyusunan Proposal Teknis Kelompok 2...150

Tabel 5.3 Pembagian Kerja Penyusunan Laporan Akhir Kelompok 2 ...152

Tabel 5.4 Jadwal Pelaksanaan Kelompok 2 Kecamatan Tegowanu...153

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Logis Tahap Perencanaan Kelompok 2 Kecamatan Tegowanu... 5

Gambar 2.1 Teori Konsentris ... 9

Gambar 2.2 Teori Sektoral ... 10

Gambar 2.3 Teori Berganda... 10

Gambar 2.4 Teori Poros ... 11

Gambar 2.5 Teori Konsektoral Tipe Amerika Latin... 11

Gambar 2.6 Teori Konsektoral Tipe Eropa... 12

Gambar 3.1 Peta Topografi Kecamatan Tegowanu ... 31

Gambar 3.2 Peta Kelerengan Kecamatan Tegowanu ... 32

Gambar 3.3 Peta Klimatologi Kecamatan Tegowanu... 33

Gambar 3.4 Peta Jenis Tanah Kecamatan Tegowanu... 34

Gambar 3.5 Peta Geologi Kecamatan Tegowanu... 35

Gambar 3.6 Peta Hidrogeologi Kecamatan Tegowanu ... 36

Gambar 3.7 Peta Cekungan Air Tanah Kecamatan Tegowanu ... 36

Gambar 3.8 Peta DAS Kecamatan Tegowanu ... 37

Gambar 3.9 Peta Bencana Rawan Banjir ... 38

Gambar 3.10 Peta Bencana Rawan Kekeringan ... 39

Gambar 3.11 Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Tegowanu ... 39

Gambar 3.12 Presentase Penggunaan Lahan di Kecamatan Tegowanu ... 40

Gambar 3.13 Peta Persebaran Sarana Pendidikan ... 42

Gambar 3.14 SMP Negeri 2 Tegowanu ... 42

Gambar 3.15 SD Negeri 2 Sukorejo ... 42

Gambar 3.16 Grafik Jumlah Sarana Pendidikan Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 43

Gambar 3.17 Peta Persebaran Sarana Kesehatan Kecamatan Tegowanu ... 45

Gambar 3.18 Puskesmas Kecamatan Tegowanu... 45

Gambar 3.19 Peta Persebaran Sarana Peribadatan Kecamatan Tegowanu... 46

Gambar 3.20 Masjid Pepe Lor Tegowanu... 47

Gambar 3.21 Masjid Al Istiqomah Tegowanu ... 47

Gambar 3.22 Jumlah Sarana Ekonomi di Kecamatan Tegowanu ... 48

Gambar 3.23 Peta Persebaran Sarana Ekonomi di Kecamatan Tegowanu ... 48

Gambar 3.24 Kantor Kecamatan Tegowanu... 49

Gambar 3.25 Kantor Pos Kecamatan Tegowanu... 50

Gambar 3.26 Peta Persebaran Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum Kecamatan Tegowanu Tahun 2020 ... 50

Gambar 3.27 Diagram Jumlah Sarana Olahraga di Kecamatan Tegowanu... 51

Gambar 3.28 Peta Persebaran Sarama Rekreasi dan Olahraga... 52

Gambar 3.29 Peta Persebaran Sarana Pertahanan dan Keamanan Kecamatan Tegowanu ... 53

Gambar 3.30 Polsek Tegowanu... 53

Gambar 3.31 Kantor Koramil 12 Tegowanu ... 54

Gambar 3.32 PT. Farmosa Bag ... 54

Gambar 3.33 PT. Belgindo Raya... 55

Gambar 3.34 Peta Persebaran Industri dan Pergudangan Kecamatan Tegowanu ... 55

Gambar 3.35 Peta Sebaran RTH Kecamatan Tegowanu ... 56

Gambar 3.36 Peta Jaringan Listrik Kecamatan Tegowanu... 57

Gambar 3.37 Peta Persebaran BTS Kecamatan Tegowanu ... 61

Gambar 3.38 Peta Jaringan Jalan Kecamatan Tegowanu... 69

Gambar 3.39 Grafik Cara Perolehan Air untuk Mandi/Cuci Sebagian Besar Keluarga (Desa) di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 71

Gambar 3.40 Peta Persebaran Cara Perolehan Air untuk Mandi/Cuci Sebagian Besar Keluarga di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 71

Gambar 3.41 Grafik Cara Perolehan Air untuk Minum Sebagian Besar Keluarga (Desa) Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 72

Gambar 3.42 Peta Persebaran Cara Perolehan Air untuk Minum Sebagian Besar Keluarga (Desa) Kecamatan Tegownau Tahun 2019 ... 72

Gambar 3.43 Grafiik Jumlah Pelanggan (KK) dan Air yang Dipakai dari PDAM(m3) Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 74

(8)

Gambar 3.44 Peta Persebaran Prasarana Air Bersih dan Air Minum di Kecamatan Tegowanu ... 74

Gambar 3.45 Grafik Pengguna Tempat Pembuangan Akhir Tinja Sebagian Besar Keluarga (Desa) di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 75

Gambar 3.46 Grafik Jumlah Pengguna Fasilitas Buang Air Besar Kecamatan Tegowanu Tahun 2016 ... 76

Gambar 3.47 Grafik Pengguna Tempat/Saluran Pembuangan Limbah Cair Dari Air Mandi/Cuci Sebagian Besar Keluarga (Desa) di Kecamatan Tegowanu, 2018 ... 76

Gambar 3.48 Grafik Jumlah Desa Menurut Metode Pengolahan Sampah Rumah Tangga di Kecamatan Tegowanu Tahun 2018 ... 77

Gambar 3.49 Grafik Volume Timbulan Sampah Rumah Tangga (Domestik) Kecamatan Tegowanu Tahun 2014-2018 ... 78

Gambar 3.50 Grafik Jumlah Penduduk Tahun 2014 – 2018 ... 82

Gambar 3.51 Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Kecamatan Tegowanu... 82

Gambar 3.52 Jumlah Penduduk di Kecamatan Tegowanu Menurut Janis Kelamin Tahun 2018. ... 84

Gambar 3.53 Piramida Penduduk Kecamatan Tegowanu Tahun 2018... 86

Gambar 3.54 Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan Yang Ditamatkan ... 87

Gambar 3.55 Grafik Jumlah Penduduk Transmigrasi ke Kalimantan ... 94

Gambar 3.56 Presentase Jumlah Murid Kecamatan Tegowanu... 97

Gambar 3.57 Persentase Jumlah Guru di Kecamatan Tegowanu ... 98

Gambar 3.58 Grafik PDRB Menurut Pengeluaran...103

Gambar 3.59 Grafik PDRB Menurut Lapangan Usaha...104

Gambar 3.60 Persentase Luas Tanaman pangan dan Hortikultira di Kecam atan Tegowanu tahun 2018...107

Gambar 3.61 Peta Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Kabupaten Grobogan...113

Gambar 4.1 Diagram Jumlah Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Tegowanu ...130

Gambar 4.2 Kerangka Analisis Struktur Internal BWP ...140

Gambar 4.3 Kerangka Analisis Aspek Fisik Alam ...141

Gambar 4.4 Kerangka Analisis Aspek Penggunaan Lahan ...142

Gambar 4.5 Kerangka Analisis Aspek Sarana ...143

Gambar 4.6 Kerangka Analisis Aspek Prasarana...144

Gambar 4.7 Kerangka Analisis Sistem Transportasi ...145

Gambar 4.8 Kerangka Analisis Aspek Kependudukan ...146

Gambar 4.9 Kerangka Analisis Aspek Sosial Budaya ...147

Gambar 4.10 Kerangka Analisis Aspek Ekonomi dan Sektor Unggulan ...147

Gambar 5.1 Bagan Struktur Kelompok 2 Kecamatan Tegowanu ...148

(9)

BAB 1 PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Pada tahun 2008, berdasarkan laporan dari World Bank (2012) disebutkan bahwa 50% penduduk dunia akan tinggal di perkotaan, dua pertiganya menyebar ke negara- negara berpenghasilan rendah hingga menengah. Penduduk perkotaan diperkirakan akan meningkat 60% pada tahun 2030 dan meningkat 70% pada tahun 2050, dua kali lipat dari jumlah penduduk pedesaan. Begitu juga dengan Kecamatan Tegowanu dengan akses Jalan Semarang-Purwadadi, yang mana dalam suatu Kawasan Kedungsepur dengan pusat konsentrasi di Kota Semarang, serta berbatasan langsung dengan Kabupaten Demak. Selain itu Kecamatan Tegowanu berbatasan pula dengan Kawasan Perkotaan Godong, sehingga memunculkan potensi dan permsalahan yang tidak terlepas dari wilayah sekitarnya. Memunculkan permasalahan dan kebutuhan yang semakin kompleks. Selain permasalahan pedesaan juga permasalahan perkotaan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 7 Tahun 2012 Tentang RTRW Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2031, Kawasan Perkotaan Tegowanu difungsikan sebagai PPK yaitu kawasan pusat pelayanan skala kecamatan.

Sejalan dengan hal tersebut, perlu adanya perencanaan dalam upaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dalam proses penataan ruang untuk meningkatkan kinerja potensi yang dimiliki. Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian ruang.

Perencanaan tata ruang diwujudkan menjadi rencana tata ruang yang disusun secara menyeluruh dari berbagai aspek, holistik, sistematis, dan dengan tujuan jangka panjang (UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Pentaan Ruang, 2007). Pada penyusunan rencana tata ruang, terdapat serangkaian proses yang harus dilakukan, yakni pengenalan awal wilayah studi, identifikasi masalah dan tujuan, pengumpulan dan interpretasi data, proses analisis, perumusan potensi dan masalah hingga perencanaan struktur dan pola ruang.

(10)

1. 2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka berikut ini merupakan beberapa rumusan masalah yang dapat ditentukan :

1. Bagaimana karakteristik wilayah studi 2. Tujuan dan sasaran proposal teknis

3. Metode pengumpulan dan interpretasi data

4. Proses penyusunan analisis pola dan struktur ruang 5. Potensi dan masalah yang terdapat di wilayah studi 1. 3 Tujuan dan Sasaran

1. 3. 1 Tujuan

Tujuan penyusunan proposal teknis adalah untuk mengetahui gambaran umum wilayah berdasarkan data eksisting, mengetahui dasar-dasar teori yang digunakan, menentukan metodologi berdasarkan aspek untuk menganalisis struktur dan pola ruang, serta merencanakan penyelesaian tugas akhir berdasarkan manajemen pelaksanaan yang sistematis.

1. 3. 2 Sasaran

Sasaran yang perlu dilakukan untuk mecapai tujuan adalah sebagai berikut:

1. Menyusun tabel kebutuhan data berdasarkan analisis-analisis pada perencanaan tata ruang;

2. Mengumpulkan data-data sekunder;

3. Mengidentifikasi dan membuat gambaran umum wilayah;

4. Menyusun metode analisis berdasarkan aspek dalam penyusunan;

5. Menyusun kerangka analisis.

1. 4 Ruang Lingkup Wilayah dan Substansi

Ruang lingkup atau batasan wilayah yang akan dibahas pada proposal teknis mata kuliah praktik analisis tata ruang yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup substansi. Berikut merupakan rinciannya:

1. 4. 1 Ruang Lingkup Wilayah

Kecamatan Tegowanu memiliki luas 51,67 km2 yang secara administratif terdiri dari 18 desa, 54 dusun, 244 RT dan 56 RW dengan letak kantor kecamatan berada di Desa Tegowanu Wetan. Batas-batas administrasi Kecamatan Tegowanu adalah sebagai berikut:

(11)

• Utara : Kecamatan Guntur dan Kabupaten Demak

• Timur : Kecamatan Gubug

• Selatan : Kecamatan Tanggungharjo

• Barat : Kecamatan Karangawen dan Kabupaten Demak 1. 4. 2 Ruang Lingkup Substansi

Subtansi lingkup bahasan proposal teknis wilayah studi Kecamatan Tegowanu menerapkan pembahasan perencanaan yang komperhensif. Dengan mencakup aspek- aspek dalam perencaan tata ruang, terdiri dari aspek fisik alam, penggunaan lahan, infrastruktur baik sarana maupun prasarana, transportasi, kependudukan perekonomian, dan sosial budaya. . Serta terdapat pembahasan mengenai teori sebagai acuan dalam penyusunan analisis nanti dan terdapat pembahasan mengeai menejemen pelaksanaan sebagai acuan kerja kelompok. Selain itu dalan proposal teknis ini membahas terkait metode analisis yang akan digunakan dalam penyusunan tugas akhir, metode analisis yang digunakan dalan rencana tata ruang Kecamatan Tegowanu, sebagi berikut:

a) Analisis Konstelasi Wilayah dan Struktur Internal

Lingkup analisis konstelasi wilayah dan struktur internal meliputi kedudukan dan keterkaitan dalam segi sosial budaya dan demografi, ekonomi, prasarana wilayah, lingkungan, dan pertahanan dan keamanan.

b) Analisis Sumber Daya Alam, Fisik dan Lingkungan

Lingkup analisis sumber daya alam, fisik, dan lingkungan meliputi analisis topografi dan kelerengan, klimatologi, sumber daya tanah, sumber daya air, kesesuaian lahan, kemampuan lahan, dan daya dukung dan daya tampung lahan.

c) Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Sarana

Lingkup analisis ini meliputi analisis karakteristik dan kebutuhan sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan, perekonomian, rekreasi dan olahraga, pelayanan umum, ruang terbuka hijau, dan kebutuhan dan ketersediaan ruang.

d) Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Jaringan Prasarana

Lingkup analisis ini meliputi analisis jaringan pergerakan, energi/kelistrikan, telekomunikasi, air bersih dan air minum, drainase, pengelolaan air limbah, persampahan, dan jaringan evakuasi bencana.

(12)

e) Analisis Kependudukan

Lingkup analisis kependudukan meliputi analisis pertumbuhan dan perkembangan penduduk, serta analisis persebaran dan kepadatan penduduk.

f) Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan

Lingkup analisis ekonomi dan sektor unggulan meliputi analisis struktur ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi, dan sektor unggulan.

g) Analisis Kondisi Sosial Budaya

Lingkup analisis kondisi sosial budaya meliputi warisan sejarah/budaya kawasan, adat istiadat dan budaya masyarakat, dan arsitektur bangunan asli setempat.

h) Analisis Pemanfaatan Ruang

Lingkup analisis pemanfaatan ruang meliputi analisis sistem pusat permukiman, kebutuhan hunian, dan permasalahan pemanfaatan ruang.

(13)

1. 5 Kerangka Logis Tahap Perencanaan

Review Kebijakan Rencana Detail Tata Ruang

Pengumpulan Data Sekunder Pemahaman Wilayah Studi

Latar Belakang

Kompilasi Data

Fisik Non Fisik

Fisik Alam

Penggunaan Lahan

Sarana

Prasarana

Sistem Transportasi

Menyusun Kebutuhan Data

Menentukan Metode Analisis

Kependudukan dan Ketenagakerjaan

Sosial Budaya

Ekonomi dan Sektor Unggulan

Analisis Konstelasi Wilayah dan Struktur Internal BWP

Analisis Sumber Daya Alam, Fisik dan Lingkungan

Analisis Pemanfaatan Ruang

Analisis Kondisi Sosial Budaya

Analisis Kependudukan

Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan

Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Sarana

Analisis Karakteristk dan Kebutuhan Jaringan Prasarana

Proposal Teknis Kecamatan Tegowanu

Sumber : Analisis Kelompok, 2020

Gambar 1.1 Kerangka Logis Tahap Perencanaan Kelompok 2 Kecamatan Tegowanu

(14)

1. 6 Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam proposal teknis ini terbagi kedalam lima bab dengan penjelasan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang penyusunan proposal teknis ini, perumusan masalah, tujuan dan sasaran dari proposal teknis ini, ruang lingkup wilayah dan substansi, kerangka logis tahap perencanaan, dan sistematika pembahasan.

BAB II DASAR TEORI

Bab ini menjelaskan mengenai dasar teori yang digunakan dalam penyusunan proposal teknis ini

BAB III GAMBARAN UMUM

Bab ini berisi mengenai gambaran umu dari wilayah studi yang terbagi dalam aspek fisik dan nonfisik. Yang termasuk ke dalam aspek fisik diantaranya adalah aspek fisim alam, penggunaan lahan, sarana, prasarana, dan sistem transportasi. Sedangkan aspek nonfisik memuat aspek kependudukan, sosial budaya, serta ekonomi dan sektor unggulan.

BAB IV METODOLOGI

Bab ini menjelaskan mengenai kebutuhan data, metode analisis, dan kerangka analsisi yang digunakan dalam proposal teknis ini.

BAB V MANAJEMEN PELAKSANAAN

Bab ini berisi tentang jadwal pelaksanaan dan pembagian kerja dalam menyusun proposal teknis ini.

(15)

BAB 2 DASAR TEORI

2. 1 Kebijakan

2. 1. 1 Penyusunan RDTR

Berdasarkan Permen ATR BPN No. 16 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR merupakan rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota. Dasar kebijakan penyusunan RDTR ini berpedoman pada Permen ATR BPN No. 16 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota dan juga berpedoman pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Dalam Permen ATR BPN No. 16 Tahun 2018 disebutkan bahwa muatan dalam RDTR yaitu : tujuan penataan BWP, rencana struktur ruang, rencana pola ruang, penetapan sub BWP yang diprioritaskan penanganannya dan juga ketentuan pemanfaatan ruang. Selain itu, peraturan tersebut juga memuat analisis yang diperlukan untuk penyusunan RDTR seperti :

1. Analisis Struktur Internal BWP

Analisis Struktur Internal BWP ini digunakan untuk merumuskan kegiatan fungsional sebagai pusat jaringan yang menghubungkan antarpusat di dalam BWP ruang dari RTRW Kabupaten ke RDTR.

2. Analisis Sistem Penggunaan Lahan

Analisis tersebut dilakukan untuk mendetailkan pola ruang dari RTRW Kabupaten/Kota ke RDTR.

3. Analisis Kedudukan dan Peran BWP Dalam Wilayah yang Lebih Luas

Analisis tersebut dilakukan untuk memahami kedudukan dan keterkaitan BWP dalam sistem regional yang lebih luas aspek sosial, ekonomi, lingkungan, sumber daya buatan atau sistem prasarana, budaya, pertahanan dan keamanan.

4. Sumber Daya Alam dan Fisik atau lingkungan BWP

Analisis tersebut dilakukan untuk memberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah serta batasan dan potensi alam BW.

(16)

5. Sosial Budaya

Analisis tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial budaya masyarakat yang mempengaruhi pengembangan wilayah perencanaan.

6. Kependudukan

Analisis kependudukan dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendapatkan proyeksi perubahan demografi.

7. Ekonomi dan Sektor Unggulan

Analisis ekonomi dan sektor unggulan dilakukan demi mewujudkan ekonomi BWP yang berkelanjutan melalui keterkaitan ekonomi lokal dalam sistem ekonomi kota, regional, nasional maupun internasional.

8. Transportasi

Analisis transportasi dilakukan untuk menciptakan kemudahan dalam pergerakan, mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan dan mendukung fungsi masing-masing zona.

9. Sumber Daya Buatan

Analisis tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya guna sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia.

10. Kondisi Lingkungan Binaan

Analisis tersebut dilakukan untuk menciptakan ruang yang berkarakter, layak huni dan berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan dan sosial.

11. Kelembagaan

Analisis kelembagaan dilakukan untuk memahami kapasitas pemerintah kota dalam menyelenggarakan pembangunan yang mencakup struktur organisasi dan tata laksana pemerintah.

12. Pembiayaan dan Pembangunan

Analisis pembiayaan dan pembangunan dilakukan untuk mengidentifikasi besar pembelanjaan pembangunan dan alokasi dana terpakai.

2. 2 Struktur Ruang

a. Pengertian Struktur Ruang

Tata ruang adalah wujud dari struktur ruang dan polar uang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara

(17)

hierarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana pada struktur ruang meliputi rencana sistem permukiman dan rencana sistem jaringan prasarana (UURI Nomor 26 Tahun 2007).

b. Teori Struktur Ruang

Terdapat beberapa teori yang melandasi struktur ruang kota sebagai berikut:

Teori Konsentris

Teori yang menyatakan bahwa Daerah Pusat Kota (DPK) atau Central Bussiness District (CBD) adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota. Teori konsentris merupakan teori yang dikemukakan oleh Burgess (1925) yang mengkaji struktur kota Chicago di Amerika Serikat. Teori Konsentris membagi menjadi lima karakteristik zona:

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.1 Teori Konsentris

Teori Sektoral (Hyot, 1939)

Teori yang dikemukakan oleh Hyot memperbaiki dan melengkapi teori Burgess, bukan merupakan pengubahan radikal dari teori konsentris. Dengan banyaknya jalur transportasi yang memiliki peranan besar dalam pembentukan pola struktur internal kota. Terdapat unsur penggunaan lahan secara sektoral disatu pihak dan penggunaan lahan konsentris dilain pihak, dengan CBD yang menjadi pusat kota yang terletak relatif di tengah kota dan memiliki bentuk bundar.

(18)

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.2 Teori Sektoral

Teori Pusat Berganda (Harris dan Ullman, 1945)

Gagasan utama adanya teori ini adalah kebanyakan kota-kota besar tidak tumbuh dalam ekspresi keruangan yang sederhana, namun terbentuk sebagai suatu produk perkembangan dan integrasi yang berkelanjutan dari suatu pusat kegiatan yang terpisah satu sama lain dalam suatu sistem perkotaan. Pusat ini dan daerah disekitarnya dalam proses pertumbuhan yang ditandai spesialisasi dan diferensiasi ruang. Lokasi zona keruangan tidak ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor jarak dari CBD serta membentuk sebaran zona ruang yang teratur, namun berasosiasi dengan sejumlah faktor dan pengaruh. Pengaruh dari faktor ini menghasilkan pola keruangan yang berbeda-beda. Berikut ini adalah gambaran Teori Berganda.

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.3 Teori Berganda

Teori Poros (Babcock 1932)

Teori ini merupakan sebuah gagasan dari Babcock tentang penyempurnaan teori

(19)

kota. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi mobilitas dalam kota adalah poros transportasi penghubung CBD dengan daerah diluarnya. Daerah yang dilalui jalur transportasi memiliki perkembangan yang berbeda dari yang ada diantara jalur transportasi. Berikut ini adalah gambaran Teori Poros.

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.4 Teori Poros

Teori konsektoral tipe Amerika Latin

Teori konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry Ford pada tahun 1980. Teori ini menunjukkan kombinasi antara unsur tradisional dan unsur modern yang mengubah suatu citra kota. Teori ini mengklasifikasikan enam sektor zona berdasarkan penggunaan lahannya, berikut ini adalah gambar Teori Konsektoral tipe Amerika Latin.

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.5 Teori Konsektoral Tipe Amerika Latin

Teori Konsektoral tipe Eropa

Teori Konsektoral tipe Eropa ini merupakan sebuah teori yang dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 di Inggris. Ia memadukan antara teori sektoral dan konsentris, namun lebih menonjolkan pada teori konsentris. Berikut ini adalah gambaran dari Teori Konsektoral Tipe Eropa.

(20)

Sumber : Yunus, H (2000)

Gambar 2.6 Teori Konsektoral Tipe Eropa c. Rencana Struktur Ruang

Rencana struktur ruang merupakan susunan pusat-pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana di BWP yang akan dikembangkan untuk mencapai tujuan dalam melayani kegiatan skala BWP.

Rencana struktur ruang berfungsi sebagai:

• Pembentukan sistem pusat pelayanan di dalam BWP;

• Dasar perletakan jaringan serta rencana pembangunan prasarana dan utilitas dalam BWP sesuai dengan fungsi pelayanannya;

• Dasar rencana sistem pergerakan dan aksesibilitas lingkngan dalam RTBL dan rencana teknis sektoral.

Materi rencana struktur ruang meliputi:

• Rencana pengembangan pusat pelayanan yang merupakan distribusi pusat-pusat pelayanan di dalam BWP yang akan melayani sub BWP meliputi pusat pelayanan kota, sub pusat pelayanan kota, dan pusat lingkungan;

• Rencana jaringan transportasi dapat berasa di permukaan tanah, di bawah permukaan tanah, atau di atas permukaan tanah;

• Rencana jaringan prasarana yang terdiri dari jaringan energi atau kelistrikan, jaringan telekomunikasi, jaringan air minum, jaringan drainase, pengelolan air limbah, serta jaringan prasarana lainnya.

(21)

2. 3 Pola Ruang

Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruaang yang dimaksud dengan pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya (PUPR, 2007). Muatan dalam tata ruang salah satunya mencakup rencana pola ruang, rencana pola ruang sebagaimana dimaksud meliputi peruntukan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Peruntukan kawasan lindung dan budidaya mencakup pula peruntukan ruang untuk kegiatan pelestarian lingkungan sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.

Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Kawasan lindung nasional, antara lain, adalah kawasan lindung yang secara ekologis merupakan satu ekosistem yang terletak lebih dari satu wilayah provinsi, kawasan lindung yang memberikan pelindungan terhadap kawasan bawahannya yang terletak di wilayah provinsi lain, kawasan lindung yang dimaksudkan untuk melindungi warisan kebudayaan nasional, kawasan hulu daerah aliran sungai suatu bendungan atau waduk, dan kawasankawasan lindung lain yang menurut peraturan perundang-undangan pengelolaannya merupakan kewenangan Pemerintah.

Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Yang termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan peruntukan hutan produksi, kawasan peruntukan hutan rakyat, kawasan peruntukan pertanian, kawasan peruntukan perikanan, kawasan peruntukan pertambangan, kawasan peruntukan permukiman, kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan pariwisata, kawasan tempat beribadah, kawasan pendidikan, dan kawasan pertahanan keamanan.

2. 4 Aspek Fisik 2. 4. 1 Fisik Alam

1. Topografi

Topografi merupakan perbedaan tinggi rendah di permukaan bumi, baik berupa daerah dataran/landai, bergelombang/berbukit dan pegunungan. Topografi sangat berhubungan dengan kemiringan lereng serta beda tinggi relatif suatu tempat. Lalu,

(22)

untuk keadaan topografi adalah keadaan yang menggambarkan kemiringan lahan atau kontur lahan, semakin besar kontur lahan berarti memiliki lahan tersebut memiliki kemiringan lereng yang semakin besar (M. Suparno dan Marlina Endy, 2005).

2. Kelerengan

Kemiringan lereng adalah sudut yang dibentuk oleh perbedaan tinggi permukaan lahan (relief), yaitu antara bidang datar tanah dengan bidang horizontal dan pada umumnya dihitung dalam persen (%).(Syafri, 2015) Kelas kemiringan lereng sangat bervariasi dari kategori datar sampai sangat curam dimana masing-masing kelas memilik fungsi yang berbeda. (Syah & Hariyanto, 2013) Klasifikasi kemiringan lereng menurut SK Mentan No.837/KPTS/Um/11/1980 seperti ada tabel berikut :

Tabel 2.1 Klasifikasi Kemiringan Lereng

Sumber : SK Mentan No.837/KPTS/Um/11/1980

3. Klimatologi

Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Intensitas curah hujan merupakan jumlah curah hujan dalam satuan waktu tertentu, yang biasanya dinyatakan dalam mm/jam, mm/hari, mm/tahun, dan sebagainya. Biasanya data yang sering digunakan untuk analisis adalah nilai maksimun, minimum dan nilai rata-rata. (Dr.Masturyono, M., 2015).

4. Jenis Tanah

Menurut Tejoyuwono dalam buku Tanah dan Lingkungan menyebutkan bahwa tanah merupakan gejala alam permukaan daratan, membentuk suatu minakat (zone) yang disebut pedosfer, tesusun atas massa galir (loose) berupa pecahan dan laupkan batuan (rock) bercampur dengan bahan organik. Sifat tanah dipengaruhi oleh keragaman faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pembentukkan tanah.

No Kelerengan Keterangan 1. 0% - 8% Datar 2. 8% - 15% Landai 3. 15-25 % Agak curam 4. 25-45 % Curam 5. >45 % Sangat curam

(23)

5. Geologi

Kata geologi berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu geos (yang berarti bumi) dan logos (yang berarti ilmu). Jadi, Geologi adalah studi mengenai bumi dan fenomena yang terjadi di dalamnya (Setyanto & Setiady, 2008) Geologi yaitu material yang membentuk bumi dan semua proses yang sudah terjadi di atas permukaan bumi dan bawah permukaan (dalam bumi).

6. Hidrologi a. Hidrogeologi

Hidrogeologi (hidrologi air tanah) adalah cabang hidrologi yang berhubungan dengan air tanah dan didefinisikan sebagai ilmu tentang keterdapatan, penyebaran dan pergerakan air di bawah permukaan bumi (Chow, 1978). Dalam pengelolaan airtanah berbasis konservasi ketersediaan informasi hidrologi, hidrogeologi, geologi baik secara permukaan dan bawah permukaan sangat diperlukan dalam analisis dan evaluasi kondisi CAT. (A. R. Wicaksono, Putranto, & Setyawan, 2017)

b. Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah yang juga termasuk sebagai satuan sungai dan anak sungai, yang mempunyai fungsi – fungsi tertentu yaitu menyimpan, menampung, dan menyalurkan air yang berasal dari hujan menuju danau atau waduk (dari hulu ke hilir) (Haryanto, 2013).

7. Daerah Rawan Bencana

Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 1 Tahun 2012 menyebutkan bahwa rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, dan geografis pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang dapat menimbulkan dampak buruk pada masyarakat dan segala sesuatu yang berada di wilayah tersebut.

2. 4. 2 Penggunaan Lahan

Lahan merupakan suatu media yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia contohnya, sebagai media tanam dalam kegiatan pertanian. Lahan juga dimanfaatkan oleh manusia sebagai media untuk membangun pemukiman sebagai tempat tinggal, dan penggunaan lahan lainnya. Menurut (Purwowidodo, 1983 dalam(Cie et al., 2016) lahan adalah suatu lingkungan fisik yang mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai pada batas tertentu akan

(24)

mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan. Penggunaan lahan atau land use ialah pemanfaatan lahan untuk membantu bagi kebutuhan hidup manusia perlu pengolahaan lebih lanjut, atau secara singkat penggunaan lahan merupakan pemanfaatan lahan dengan adanya campur tangan manusia (aktivitas manusia).

Penggunaan lahan harus dimanfaatkan secara tepat, dan sesuai dengan kemampuan lahan tersebut, terkadang dalam penggunaan lahan ini sering terjadi masalah berupa alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan merupakan suatu pergantian pemanfaatan lahan yang berubah dari suatu fungsi ke fungsi lainnya. Contohnya, yang dimana penggunaan lahan yang digunakann sebagai lahan pertanian, di alih fungsikan menjadi lahan untuk industri, dan dimana akan memunculkan suatu bencana – bencana dari alih fungsi lahan tersebut. Maka dari itu perlu adanya perhatian bagi pengelola sebelum memanfaatkan sutu lahan tersebut, agar nantinya penggunaan lahan itu tepat dan tidak memunculkan suatu bencana yang merugikan bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya

2. 4. 3 Sarana

1. Sarana Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sarana pendidikan merupakan semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah maupun lembaga-lembaga lain tempat belajar dan mengajar berlangsung. Standar sarana dan prasarana pendidikan mencakup ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

2. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan merupakan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara,

(25)

meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, ataupun masyarakat. Salah satu sarana yang diharapkan mampu menjalankan fungsi pelayanan kesehatan adalah Puskesmas. Puskesmas adalah suatu unit organisasi fungsional yang secara professional melakukan upaya pelayanan kesehatan pokok yang menggunakan peran serta masyarakat secara aktif untuk dapat memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerja terntentu yang telah ditentukan secara mandiri dalam menentukan pelayanan namun tidak mencakup aspek pembiayaan. Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau dalam wilayah kerja kecamatan atau kota madya atau kabupaten.

3. Sarana Peribadatan

Tempat ibadah merupakan sarana tempat yang penting bagi masyarakat dalam menjalankan kegiatan keagamaan di suatu daerah. Selain sebagai sarana tempat kegiatan keagamaan, juga sebagai tempat penyiaran agama dan tempat melakukan ibadah. Tempat ibadah yang sehat memiliki pengelola dan penyantun yang aktif dalam pengelolaannya, sehingga kondisi dari tempat ibadah tersebut selalu terpelihara.

4. Sarana Perekonomian

Sarana perekonomian merupakan penggerak utama pembangunan perekonomian nasional, memberikan daya dukungan dalam meningkatkan eksport dan devisa, memeratakan pendapat, meningkatkan produksi dan memperkuat daya saing produksi dalam negeri demi kepentingan nasional.

5. Sarana Pemerintah dan Pelayanan Umum

Pemerintah adalah semua aparatur negara baik lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yang bertugas mewujudkan tujuan negara. Pelayanan umum atau pelayanan publik merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Sarana pemerintahan dan pelayanan umum sendiri merupakan seluruh fasilitas dapat berupa kantor maupun pos-pos pelayanan yang berfungsi untuk melayani kebutuhan administrasi pemerintahan, administrasi kependudukan dan pelayanan utilitas umum dan jasa

(26)

lainnya seperti layanan air bersih, listrik, telepon, serta pos. Dasar penyediaan sarana pemerintahan dan pelayanan umum adalah untuk melayani setiap unit administrasi pemerintahan baik yang informal (RT dan RW) maupun formal (Kelurahan dan Kecamatan), bukan didasarkan semata-mata pada jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana tersebut.

6. Sarana Rekreasi dan Olahraga

Menurut RTRW Kabupaten Grobogan Tahun 2011 – 2030, sarana olahraga masuk kedalam ruang terbuka hijau publik. Sarana olahraga seperti gedung olahraga merupakan salah satu ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkotaan yang berfungsi sebagai PPK. PPK adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.

7. Sarana Pertahanan dan Keamanan

Pembangunan pertahanan dan keamanan terutama ditujukan untuk menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjaga keselamatan segenap bangsa dari ancaman militer dan nonmiliter, meningkatkan rasa aman dan nyaman sebagai jaminan kondusifnya iklim investasi, serta tetap tertib dan tegaknya hukum di masyarakat.

8. Sarana Industri dan Pergudangan

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Gudang adalah suatu tempat penyimpanan untuk semua barang-barang hasil produksi maupun penjualan. Fungsinya sebagai tempat penyimpanan memiliki peranan yang sangat vital.

9. RTH (Ruang Terbuka Hijau)

Menurut RTRW Kabupaten Grobogan Tahun 2011 – 2030, RTH merupakan area memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau dibagi menjadi 2 jenis yaitu RTH publik dan RTH privat. RTH publik terdiri dari lapangan olahraga, taman & hutan kota, tempat pemakaman umum, dan jalur hijau. Sedangkan RTH privat memiliki ketentuan yaitu kurang lebih 330 hektar meliputi pekarangan rumah tinggal dan halaman perkantoran.

(27)

2. 4. 4 Prasarana 1. Jaringan Jalan

Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi semua bagian jalan yang peruntukkannya untuk lalu lintas, baik itu berada di permukaan tanah, di atas tanah, di bawah tanah dan/atau air maupun di permukaan air. Jalan kereta api, lori, dan kabel tidak termasuk dalam bagian jalan. Ruas jalan saling membentuk satu- kesatuan dan saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dalam satu hirarki yang kemudian disebut sistem jaringan jalan. Jaringan jalan berperan mendukung kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan yang saling menghubungkan sehingga mobilitas penduduk dan perkembangan wilayah dapat terwujud. Selain itu adanya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk akan meningktakan kebutuhan jalan untuk perjalanan. Oleh karena itu perencanaan jaringan jalan begitu diperlukan (UU No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, 2004).

Berdasarkan Permen Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pedoman RDTR, pada prasarana jaringan jalan perlu dilakukan analisis karakteristik jaringan jalan eksisting, tingkat pelayanan jalan, serta proyeksi kebutuhan jaringan jalan dengan mengacu pada pedoman Permen PU Nomor: 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, dan Permen PUPR Nomor: 27/PRT/M/2016 Tentang Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum.

2. Jaringan Listrik

Infrastruktur perkotaan listrik meliputi pembangkit, gardu, dan jaringan kabel.

Energi listrik dibutuhkan dalam beberapa sektor, yaitu sektor rumah tangga, industri, bisnis,sosial, gedung kantor pemerintah, dan penerangan jalan umum. Seiring majunya teknologi dan pesatnya perkembangan pembangunan pada sektor tersebut, maka kebutuhan energi listrik juga ikut meningkat. Oleh karena itu, kebutuhan energi listrik tidak sama tiap tahunnya. Sehingga, diperlukan adanya prediksi kuantitatif kebutuhan listrik di masa mendatang.

3. Jaringan Telekomunikasi

Telekomunikasi adalah setiap alat perlengkapan yang digunakan dalam bertelekomunikasi. dimana Perangkat telekomunikasi adalah sekelompok alat telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi. Telekomunikasi pada perkotaan telah merupakan kebutuhan vital dalam aktivitas, perkembangan

(28)

teknologi komunikasi mempengaruhi perkembangan kota dengan pesat. Seperti halnya pada masa transportasi menjadi penggerak kehidupan perkotaan, jaringan jalan dan sistem transportasi menjadi sangat dominan dalam kota, era telekomunikasi dan era informasi pun mewarnai perkembangan dan pertumbuhan kota, baik secara fisik maupun sosial ekonomi masyarakat perkotaan.

4. Jaringan Air Bersih dan Air Minum

Penyediaan air bersih dan air minum merupakan kebutuhan dasar masyarakat sebagaimana tercantum dalam Permen PU Nomor: 14/PRT/M/2010 yang digunakan untuk keperluan minum, cuci, ibadah, dan bentuk kegiatan lainnya agar masyarakat mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih dan produktif. Sumber air yang digunakan tersebut berasal dari sumber air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut dengan pengolahan maupun tanpa pengolahan. Sedangkan menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehar- hari dan kualitasnya telah memenuhi syarat kesehatan serta dapat diminum setelah dimasak. Sehingga pemenuhan air bersih dan air minum menjadi salah satu indikator kesejahteraan dan dibutuhkannya jaringan air bersih dan minuman (Permen PUPR Nomor: 27/PRT/M/2016; Purwanto, 2020).

Sistem jaringan penyediaan air baku terdiri dari bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan saluran pembawa/transmisi beserta bangunan pelengkapnya yang membawa air dari sumbernya ke Instalasi Pengolah Air. Setiap sistem jaringan air dan air minum memiliki kapasitas yang berbeda tergenatu dari kapasitas produksi sumber air baku serta tingkat kehilangan air dari sistem tersebut.

Terdapat dua jenis Sistem Penyediaan Air Bersih dan Air Minum (SPAM) yaitu SPAM Jaringan Perpipaan dan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan (Permen PU Nomor:

14/PRT/M/2010; Permen PUPR Nomor: 27/PRT/M/2016). Berdasarkan Permen Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pedoman RDTR, analisis yang diperlukan adalah analisis karakteristik, kinerja serta kebutuhan di masa mendatang dengan mengacu pada Permen PU Nomor: 14/PRT/M/2010 dan Permen PUPR Nomor:

27/PRT/M/2016.

5. Jaringan Drainase

Sistem drainase kota adalah jaringan drainase yang mempunyai daerah layanan di dalam wilayah kota. Sementara sistem pengendali banjir kota adalah sungai -

(29)

sungai yang ada, yang mempunyai daerah pengaliran di luar kota dan mempengaruhi terjadinya banjir di wilayah kota tersebut. Kegunaan dari sistem drainase adalah untuk melindungi aset perkotaan baik material maupun nonmaterial akibat dari hujan, erosi, banjir, dan bencana lainnya. Pada dasarnya sistem drainase perkotaan bertujuan mengendalikan aliran permukaan dan elemen lingkungan lain yang memiliki resiko kerusakan, mengalirkan air permukaan ke badan penerima air dan atau ke bangunan resapan buatan, yang harus disediakan pada lingkungan perumahan di perkotaan.

6. Jaringan Irigasi

Irigasi adalah contoh dari sarana pemanfaatan sumber daya air yang memiliki fungsi sebagai penyedia, pengatur dan penyalur air untuk menunjang lahan pertanian khususnya pada musim kemarau. Dalam mempertahankan air irigasi yang optimal, tentu diperlukan pengelolaan upaya pemeliharaan yang baik, upaya pemeliharaan dan penilaian terhadap daerah irigasi tersebut pun harus selalu ditingkatkan dan diawasi dalam operasionalnya. Penilaian kondisi dan fungsi prasarana fisik irigasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan keberfungsian prasarana fisik irigasi berdasarkan kondisi awal yang telah direncanakan. Suatu prasarana fisik irigasi setelah selasai dibangun akan terjadi proses penurunan kualitas atau kerusakan yang mana semakin lama akan semakin menurun kualitas prasarana fisik irigasi tersebut, hal ini disebut kondisi merupakan fungsi umurnya.

7. Jaringan Pengolahan Air Limbah

Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, dan sebagainnya. Pengolahan air limbah merupakan salah satu komponen bidang sanitasi yang berperan dalam penyediaan lingkungan hidup yang baik dan sehat untuk penduduknya. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 76,2%

rumah tangga di Indonesia telah memiliki fasilitas buang air besar pribadi, 12,9%

rumah tangga masih mempraktikkan BABS. Sedangkan akses fasilitas buang air besar layak pada tahun 2015 di Indonesia baru sebesar 62,14%. Hal ini menujukkan perlunya pengembangan jaringan pengelolaan air limbah, khusunya di wilayah studi (Prasetiawan, 2017).

Sistem pengelolahan air limbah adalah serangkaian kegiatan pengelolahan air limbah dalam satu kesatuan dengan prasarana dan sarananya. Pada sistem

(30)

pengelolahan air limbah domestik terdapat dua jenis yaitu setempat (on-site) dan terpusat (off-site). Berdasarkan Permen Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pedoman RDTR perlu dilakukan analisis karakteristik jaringan pengolahan air limbah eksisting serta pengukuran tingkat pelayanan yang menunjukkan kinerja/performa infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu pertumbuhan penduduk menimbulkan perbedaan kebutuhan di masa mendatang sehingga diperlukan perhitungan proyeksi kebutuhan jaringan pengolahan air limbah dengan mengacu pada Permen PU Nomor: 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Permen PUPR Nomor:

04/RT/M/2017 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik.

8. Jaringan Persampahan

Sampah adalah hasil sisa dari kegiatan sehari-hari yang tidak terasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah dihasilkan oleh sumber/asal timbulan sampah berdasarkan jenis aktivitasnya. Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume maupun berat per kapita perhari, atau perluas bangunan, atau perpanjang jalan dan terdiri dari berbagai jenis sumber sampah (Permen PU Nomor 03 Tahun 2013). Pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan adanya peningkatan volume, jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Seiring berjalannya waktu, volume sampah yang dihasilkan dapat meningkat apabila tidak ada pengendalian dan penanganan. Sehingga diperlukan jaringan persampahan untuk menunjang kegiatan penanganan sampah untuk menwujudkan lingkungan yang sehat dan bersih.

Berdasarkan Permen Nomor 16 Tahun 2018, dalam mewujudkan pemenuhan terhadap penanganan persampahan perlu dilakukan analisis karakteristik, tingkat pelayanan untuk melihat kinerja jaringan persampahan eksisting dan proyeksi atau perhitungan volume timbulan sampah di masa mendatang untuk menghitung kebutuhan jaringan persampahan dengan dasar pedoman dari SNI 3242-2008, SNI 19-2454-200, SNI 03-1733-2004, Permen PU Nomor: 14/PRT/M/2010, Permen PU Nomor 03 Tahun 2013.

2. 4. 5 Sistem Transportasi

Pengertian transportasi yang dikemukakan oleh Nasution (1996) diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Sehingga dengan kegiatan tersebut maka terdapat tiga hal yaitu adanya muatan yang diangkut,

(31)

tersedianya kendaraan sebagai alat angkut, dan terdapatnya jalan yang dapat dilalui.

Proses pemindahan dari gerakan tempat asal, dimana kegiatan pengangkutan dimulai dan ke tempat tujuan dimana kegiatan diakhiri. Transportasi merupakan suatu hal yang mendasar pada kehidupan manusia, dengan adanya transportasi maka akan terjadi pergerakan dan siklus pada suatu daerah. Keberadaan transportasi berkaitan hampir pada semua aspek pembangun perkotaan mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga fisik alam.

Transportasi merupakan komponen utama dalam kehidupan manusia.

Transportasi berasal dari bahasa latin, yaitu “transportare” dimana “trans” yang berarti seberang atau sebelah lain dan “porture” yang berarti mengangkut dan membawa. Jadi, transportasi dapat didefinisikan sebagai usaha dan kegiatan mengangkut atau membawa barang dan/atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya (Kadir, 2006). Ahmad Munawad dalam Kadir (2006) juga menjelaskan bahwa terdapat lima unsur pokok dalam sistem transportasi, yaitu orang yang membutuhkan, barang yang dibutuhkan, kendaraan sebagai alat angkut, jalan sebagai prasarana angkutan, dan organisasi pengelolaan angkutan. Sistem adalah Suatu bentuk keterkaitan antar variable/komponen dalam tatanan yang terstruktur, sehingga berkelakuakn sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi rangsangan yang di terima (Azis & Asrul, 2014) Adanya komponen/variable dalam kegiatan pergerakan maka transportasi akan membentuk sebuah sistem transportasi Kecamatan tegowanu termasuk sisitem trasnportasi Tatralok (Tatanan Transportasi Lokal) merupakan tatanan transportasi seperti Tatranas hanya saja berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antarsimpul atau kota lokal, dan dari simpul atau kota lokal ke simpul atau kota wilayah, dan simpul atau kota nasional terdekat atau sebaliknya, serta dalam kawasan perkotaan dan perdesaan. Tatanan Transportasi kecamatan tegowanu berfungsi melayani perpindahan ke kecamatan purwodadi(kota lokal) dan ke kota semarang(kota wilayah)

Perencanaan pada aspek transportasi merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Perencanaan sistem transportasi yang baik akan menunjang perekonomian daerah, pemerataan pembangunan daerah dan penigkatas aksesbilitas.

(32)

A. Sistem

Sistem merupakan suatu keterkaiatan antara beberapa komponen penyusun yang berjalan secara statis sehingga saling membantu antara satu sama lain sehingga berjalan selaras. Sistem transportasi merupakan hubungan antara pergerakan, sarana transportasi, kegiatan, aksesbilitas, dan moda transportasi. Sistem transportasi makro terdiri dari 3 komponen :

1. Sistem jaringan 2. Sistem pergerakan 3. Sistem kegiatan

Sistem transportasi akan muncul pada suatu daerah dengan sendirinya, maka pemerintah perlu mengendalikan sistem tersebut sehingga semua fungsinya berjalan dengan semestinya tanpa ada permasalahan. Pemerintahan dalam hal ini mengendalikan secara penuh sistem transportasi sehingga tidak ada suatu ketimpangan antar sistem. Sistem transportasi di Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Tatranas (Tatanan Transportasi Nasional) adalah tatanan transportasi yang

terorganisasi secara kesisteman, terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara, dan transportasi pipa, yang berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antarsimpul atau kota nasional, dan dari simpul atau kota nasional ke luar negeri atau sebaliknya.

2. Tatrawil (Tatanan Transportasi Wilayah) merupakan tatanan transportasi seperti Tatranas hanya saja berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antarsimpul atau kota wilayah, dan dari simpul atau kota wilayah ke simpul atau kota nasional atau sebaliknya

3. Tatralok (Tatanan Transportasi Lokal) merupakan tatanan transportasi seperti Tatranas hanya saja berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antar simpul atau kota lokal, dan dari simpul atau kota local ke simpul atau kota wilayah, dan simpul atau kota nasional terdekat atau sebaliknya, serta dalam kawasan perkotaan dan perdesaan.

B. Manfaat transportasi

Menurut Tamin (1997:5), prasarana transportasi mempunyai dua peran utama, sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah perkotaan dan sebagai prasarana bagi pergerakan manusia dan/atau barang yang timbul akibat

(33)

adanya kegiatan di daerah perkotaan tersebut. Manfaat transportasi selain 2 hal diatas masih terdapat beberapa manfaat adanya transportasi yang berpengaruh keaspek lain seperti manfaat sosial, manfaat politis, manfaat kewilayahan, ketersediaan barang, stabilitas harga barang, dan peningkatan nilai tanah.

Transportasi secara langsung berpengaruh pada perkembangan baik pembangunan maupun ekonomi suatu daerah, adanya sistem transportasi yang baik dan merata akan memberikan dampak bagi pembangunan kawasan baik secara fisik maupun ekonomi.

2. 5 Aspek Non Fisik

2. 5. 1 Kependudukan dan Ketenagakerjaan 1. Kependudukan

Dalam proses pembangunan, kependudukan memegang peranan yang penting.

Kependudukan sangat erat kaitannya dengan demografi. Kata demografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti: “Demos” dalah rakyat atau penduduk dan “Grafein

adalah menulis. Jadi demografi adalah tulisan-tulisan atau karangan-karangan mengenai rakyat atau penduduk. Penduduk adalah orang atau individu yang tinggal atau menetap pada suatu daerah tertentu dalam jangka waktu yang lama.

Kependudukan berkaitan dengan jumlah, struktur, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya, agama serta lingkungan setempat. (Presiden Indonesia, 2014)

Aspek kependudukan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti fertilias, mortalitas dan migrasi penduduk. Karakteristik kependudukan di suatu wilayah dapat dilihat dari komposisi penduduk dan struktur penduduk. Komposisi penduduk merupakan pengelompokan penduduk suatu wilayah berdasarkan kriteria tertentu dari berbagai aspek seperti mata pencaharian dan pendidikan. Struktur penduduk suatu wilayah adalah susunan penduduk yang dapat dilihat dari komposisi umur dan jenis kelamin penduduk di wilayah tertentu. Sehingga dari komposisi dan struktur penduduk tersebut dapat diketahui karakteristik kependudukan dari suatu wilayah.

2. Mobilitas Penduduk

Mobilitas penduduk merupakan salah satu komponen pertumbuhan penduduk di suatu wilayah, disamping fertilitas dan mortalitas. (Pangaribuan & Handayani, 2013)

(34)

Mobilitas penduduk dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu perpindahan penduduk permanen atau migrasi dan perpindahan penduduk non permanen atau sirkuler.

Sehingga, migrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu wilayah lain dengan maksud untuk menetap di daerah tujuan. Sedangkan mobilitas non permanen merupakan perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lainnya dengan tidak ada niatan untuk menetap di daerah tujuan. Selain migrasi dan sirkuler, Pemerintah Indonesia juga mempunyai suatu program untuk memindahkan penduduk ke wilayah lainnya, yaitu program transmigrasi.

Transmigrasi merupakan suatu program yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (Kota) ke daerah lain (desa) dalam wilayah Indonesia. Daerah transmigran pada umumnya merupakan daerah baru, dengan kondisi lapangan yang berat dengan daya dukung lahan yang relatif rendah. (Sudrajat, 2016) Padatnya penduduk di Pulau Jawa menjadikan pemerintah membuat suatu program transmigrasi yang bertujuan untuk meratakan persebaran penduduk di Indonesia atau membantu memecahkan masalah ketimpangan distribusi penduduk khususnya antara Pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa.

3. Penduduk Usia Produktif dan Tidak

Bonus demografi merupakan suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat tinggi, sedangkan jumlah usia semakin kecil dan jumlah usia lanjut belum terlalu banyak. Tingginya angka usia produktif ini biasa disebut dengan Bonus Demografi. Bonus Demografi merupakan kondisi dalam suatu daerah jumlah penduduk yang berusia produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia non produktif. Jumlah usia produktif merupakan jumlah penduduk yang berusia 15-64 tahun. Sedangkan jumlah penduduk tidak produktif merupakan jumlah penduduk yang berusia (15 < dan > 65) tahun.

2. 5. 2 Sosial Budaya

1. Pengertian Konsep Budaya

Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Banyak sekali definisi tentang kebudayaan diajukan oleh parakar di bidang antopologi, sosiologi, psikologi, filsafat dan lainnya.

Referensi

Dokumen terkait