• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi Pengembangan Pertanian Organik

BAB 2 PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK

F. Organisasi Pengembangan Pertanian Organik

Selain lembaga sertifikasi, terdapat beberapa organisasi yang bergerak di bidang pengembangan pertanian organik seperti (Mayrowani, 2012): (1) IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movements) yang merupakan lembaga payung untuk gerakan organik, menyatukan lebih dari 750 organisasi anggota di 116 negara. IFOAM aktif berpartisipasi dalam negosiasi pertanian dan lingkungan internasional untuk memajukan kepentingan gerakan pertanian organik di seluruh dunia; (2) Maporina (Masyarakat Pertanian Organik Indonesia) adalah sebuah wadah Organisasi Profesi untuk menghimpun potensi berbagai pihak yang terkait dengan Pertanian Organik yang meliputi Birokrat, Akademisi, Petani, Pengusaha dan Masyarakat luas pemerhati masalah Pertanian di Indonesia yang diharapkan dapat mensejahterakan Rakyat, melestarikan lahan dan lingkungan melalui Sistem Pertanian; dan (3) AOI (Aliansi Organik Indonesia) merupakan sebuah organisasi masyarakat sipil berbasis keanggotaan, saat ini AOI beranggotakan 79 anggota yang terdiri dari lembaga dan individu yang bergerak di

pertanian organik. AOI mendorong terintegrasinya prinsip dan praktik pertanian organik dan fair trade di Indonesia.

Pertanian organik semakin mendapat perhatian dari sebagian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Produk pertanian organik diyakini dapat menjamin kesehatan manusia dan lingkungan karena dihasilkan melalui proses produksi yang berwawasan lingkungan.

Tujuan jangka panjang dari pengembangan pertanian organik adalah melindungi dan melestarikan keragaman hayati serta fungsi keragaman dalam bidang pertanian; membatasi terjadinya pencemaran lingkungan hidup akibat residu pestisida, pupuk, serta bahan kimia lainnya; dan mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan dari luar yang berharga mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Peluang dari pengembangan pertania organik antara lain berasal dari peluang pasar. Secara bisnis pertanian organik di Indonesia masih memiliki peluang yang besar. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar menjadi potensi yang besar sebagai konsumen produk organik.

Selain itu juga dapat meningkatkan pendapatan petani karena input yang lebih murah sedangkan hasil panen yang diperoleh lebih tinggi.

Selanjutnya adalah mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.

Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumber daya terbarukan berarti sumber daya tersebut harus dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Perwujudan pertanian organik dapat dilaksanakan dengan adanya kerjasama antar semua stakeholder serta inovasi-inovasi teknologi budidaya.

Bab 3

Proses Produksi Padi Organik

Proses produksi merupakan tahapan yang dilakukan dari awal pembenihan hingga proses hasil panen yang dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan organik. Dalam SNI Sistem Pertanian Organik menjelaskan manajemen produksi tanam padi organik, berikut uraian manajemen produksi padi organik yang meliputi manajemen produksi tanam, yaitu (Kementerian Pertanian, 2013):

1. Konversi

• Prinsip produksi pertanian organik harus telah diterapkan pada lahan yang sedang berada dalam periode konversi dengan ketentuan sebagai berikut: (1) dilaksanakan 2 tahun sebelum benih ditebar untuk tanaman musim, (2) dilakukan pada tahun sebelum panen pertama untuk tanaman tahunan, (3) Tanpa periode konversi (zero convertion) untuk lahan yang ditumbuhi tumbuhan liar (tidak dibudidayakan) tanpa asupan bahan kimia sintetis,

• Masa konversi dapat diperpendek berdasarkan pertimbangan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) tetapi tidak boleh kurang dari 12 bulan untuk tanaman semusim dan 18 bulan untuk tanaman tahunan.

• Masa konversi dihitung sejak lahan mulai dikelola secara organik yang dapat diverifikasi (sejarah lahan, catatan

produksi, rekaman pengawasan internal, dan lain-lain). Atau dimulai sejak tanggal diterimanya aplikasi permohonan sertifikasi organik kepada LSO.

• Seluruh lahan pertanian tidak dapat dikonversi secara bersamaan, harus mengikuti persyaratan yang telah ditentukan

2. Pemeliharaan Manajemen Organik

Lahan yang sedang dijadikan lahan konversi tidak boleh digunakan kembali menjadi lahan pertanian anorganik. Kemudian apabila terjadi kesalahan sebelum masa konversi selesai maka lahan tersebut tidak bisa diklaim sebagai lahan organik.

3. Produksi Pararel dan Produksi Terpisah

Dalam pelaksanaan produksi pararel dan produksi terpisah harus memperhatikan pembatas, penanganan, pengemasan, dan penyimpanan sehingga tidak terjadi kontaminasi antara produk organik dan anorganik.

4. Pencegahan Kontaminasi

Kontaminasi terhadap produk organik dapat terjadi melalui berbagai macam hal seperti udara, air, tempat penyiapan dan lain-lain, sehingga tindakan pencegahan yang dilakukan juga berbeda, berikut uraian pencegahan kontaminasi produk organik

• Pencegahan kontaminasi melalui udara dilakukan dengan menambahkan tanaman penyangga, membentuk zona penyangga seperti parit, jalan dan lain-lain, dan membuat penghalang berupa pagar hidup yang lebih tinggi dari tanaman pokok.

• Pencegahan kontaminasi melalui air dilakukan dengan membuat filterisasi berupa kolam yang ditanami tanaman eceng gondok.

• Kegiatan yang dilakukan untuk pertanian organik dan anorganik berbeda bangunan, lahan, areal produksi dan tempat penyiapannya

• Peralatan yang digunakan harus didahulukan untuk produk organik.

• Dilakukan pengecakan rutin berupa pengambilan sampel tanah, air maupun tanaman untuk dilakukan pengecekan di laboratorium

5. Pengolahan Lahan, Kesuburan Tanah dan Air

• Dilarang melakukan pembakaran untuk penyiapan lahan

• Harus dilakukan pencegahan degradasi lahan (erosi, salinitasi dan lain-lain)

• Memelihara kesuburan dan aktivitas biologi tanah

• Dalam melakukan evaluasi terhadap bahan baru harus dilakukan beberapa persyaratan yaitu: Telah terbukti mampu menyuburkan atau mempertahankan kesuburan tanah dan menyediakan hara tertentu, Berasal dari tumbuhan, hewan, mikroba atau mineral yang diproses secara fisik (mekanis, pemanasan, dan lain-lain), enzimatis atau mikrobiologi (kompos, fermentasi, dan lain-lain).

Penggunaannya tidak merusak keseimbangan ekosistem tanah, sifat fisik tanaha tau mutu air dan udara, Penggunaannya dibatasi untuk kondisi, daerah atau komoditas tertentu.

• Harus menggunakan produk yang sudah tersertifikasi organik

• Pupuk organik diprosesnya pembuatan menggunakan pemanasan buatan dan sulit terurai tidak diijinkan digunakan dalam produk organik.

6. Pemilihan Tanaman dan Variates

Dalam pemilihan tanaman dan variates untuk pertanian organik, benih yang digunakan adalah benih yang bersifat organik atau hasil budidaya organik, atau jika boleh menggunakan benih anorganik tetapi hanya di awal.

7. Manajemen ekosistem dan keanekaragaman dalam produksi tanaman

Dalam manajemen ekosistem dan keanekaragaman pertanian organik tidak boleh membawa dampak negatif terhadap lingkungan, pertanian organik harus mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati, Produksi tanaman organik termasuk penggunaan beragam penanaman sebagai bagian integral dari sistem pertanian organik, produk organik tanaman dihasilkan dari sistem pertanian organik dari media tanah, dan mendukung ekosistem yang beragam

8. Pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT)

• Pengelolaan organisme pengganggu tanaman harus memperhitungkan dampak potensial yang dapat mengganggu lingkungan biotik maupun abiotik dan kesehatan konsumen.

• Pengelolaan OPT harus mengutamakan tindakan pencegahan (preventive) sebelum melaksanakan tindakan pengendalian (curative).

Proses produksi merupakan tahapan yang dilakukan dari awal pembenihan hingga proses hasil panen yang dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan organik. Tahapan-tahapan dalam proses produksi meliputi konversi, pemeliharaan manajemen organik, produksi parallel, pencegahan kontaminasi, pengolahan lahan, pemilihan varietas, manajemen ekosistem, serta pengendalian hama. Tahapan-tahapan tersebut dapat meningkatkan hasil produktivitas padi organik.

Bab 4

Kuantitas dan Kualitas Padi Organik

A. Kuantitas Padi Organik dibandingkan

Dokumen terkait