BAB 1 SISTEM PERTANIAN ORGANIK
K. Proses Sertifikasi
Dalam proses sertifikasi menurut Djazuli (2014), ada lima tahapan kegiatan yang perlu dilaksanakan antara lain:
1. Pengajuan permohonan sertifikasi produk organik oleh pelaku usaha bisa melalui pendaftaran secara on line ataupun langsung
datang ke LSO sekaligus menyertakan lingkup sertifikasi yang diinginkan oleh Pelaku Usaha.
2. Selanjutnya LSO akan memberikan formulir pendaftaran yang harus diisi dan dikirimkan kembali oleh Pelaku Usaha ke LSO untuk dilakukan audit kecukupan oleh LSO.
3. Apabila hasil audit menyatakan cukup dan layak, maka LSO akan memberikan penawaran biaya sertifikasi sekaligus memberikan jadwal dan nama petugas inspektor yang akan melakukan inspeksi.
4. Pelaksanaan inspeksi dilakukan sesuai dengan SNI 6729:2013 yang intinya ada dua kegiatan utama antara lain pelaksanaan audit dokumen dan inspeksi lapang. Tugas utama dari Inspektor adalah memotret dan merekam semua proses sistem organik yang dilakukan oleh Pelaku Usaha. Apabila ada hal-hal yang kurang sesuai dengan SNI 6729:2013 maka akan dicatat dalam lembaran ketidak sesuaian (LKS) dan diberikan ke Pelaku Usaha untuk diperbaiki.
5. Hasil inspeksi di lapang dan tindakan perbaikan oleh Pelaku Usaha akan dipresentasikan oleh Inspektor di Sidang Komisi Sertifikasi untuk mendapatkan keputusan lulus atau tidaknya proses sertifikasi dari Pelaku Usaha. Apabila Komisi Sertifikasi meluluskan, maka LSO akan menerbitkan sertifikat kelulusan yang berlaku tiga tahun dan sertifikat tersebut akan diserahkan oleh Pimpinan LSO kepada pelaku usaha sekaligus pemberian hak penggunaan logo Organik Indonesia. Sertifikat Organik berlaku selama tiga tahun dan minimal sekali setahun dilakukan surveilen.
Masalah utama sertifikasi menurut Djazuli (2014) yang sering dijumpai selama proses sertifikasi antara lain:
1. Keragaman pemahaman Pelaku Usaha akan SNI 6729 tentang Sistem Pertanian Organik sehingga untuk pengisian formulir harus dibantu oleh LSO.
2. Dokumen sistem mutu atau company profile yang merupakan acuan pelaku usaha untuk berbudidaya organik seringkali tidak konsisten dan berbeda dengan tindakan yang dilaksanakan di lapang. Pembuatan dokumen atau SOP harus sesuai dan sama dengan seluruh kegiatan yang dilaksanakan di lapang.
Kurangnya catatan atau rekaman dari proses berbudidaya, menyebabkan Inspektor tidak bisa memantau kegiatannya secara benar dan lengkap.
3. Peta lokasi dan peta lahan yang dibuat tidak jelas dan tidak ada atau kurangnya keterangan atau legenda terutama lahan diluar lahan organik yang bersifat konvensional yang berbatasan dengan lahan organik.
4. Border lahan organik seringkali tidak memadai, sehingga berpotensi terjadinya pencemaran baik melalui air maupun udara. Untuk itu diperlukan areal border yang cukup memadai, sehingga terjadinya pencemaran baik melalui air dan udara tidak terjadi. Untuk mengendalikan pencemaran pestisida melalui udara, diperlukan tanaman atau bangunan penghalang (barrier) yang berfungsi mencegah dan mengurangi adanya pencemaran pestisida melalui udara.
5. Air pengairan yang menjadi sumber utama dari lahan organik yang berasal dari perairan umum atau limpahan dari lahan konvensional seringkali menjadi salah satu penyebab tercemarnya lahan organik. Dalam SNI Pertanian Organik diizinkan penggunaan air yang berasal dari perairan umum
tetapi harus melalui kolam penyaringan alami terutama dengan menggunakan tanaman eceng gondok.
6. Masa konversi atau sejarah lahan dari lokasi organik yang belum memenuhi persyaratan minimal. Untuk tanaman tahunan diperlukan masa konversi selama tiga tahun, sedangkan untuk tanaman semusim diperlukan masa konversi yang lebih singkat yaitu dua tahun. Pembuatan sejarah lahan diperlukan pengesahan dari institusi yang kompeten dan bertanggung jawab, bisa melalui Kepala Desa, Kecamatan ataupun Kepala Dinas Pertanian yang diketahui oleh Petugas Penyuluh Pertanian setempat.
7. Bagi pelaku usaha yang memproduksi produk organik bersama dengan produk konvensional, diperlukan persyaratan yang lebih ketat untuk menghindari adanya pencemaran dan tercampurnya produk organik. Pelaku usaha yang memproduksi produk organik dan konvensional harus didukung dengan SOP yang benar dan akurat untuk menghindari adanya pencemaran atau tercampurnya produk organik dan konvensional.
8. Untuk produk organik yang belum mempunyai pasar khusus dan dijual ke pasar tradisional, pada umumnya tidak akan mendapatkan nilai tambah dan margin keuntungan dari produk organik yang dihasilkan, menyebabkan Pelaku Usaha tidak mampu menabung dan melakukan surveilen yang harus dilaksanakan setiap tahun sekali.
9. Bagi Pelaku Usaha yang mempunyai pasar khusus dan harganya cukup baik, berpotensi pula terjadinya penjualan produk dengan label organik yang berasal dari lahan non organik atau konvensional. Untuk itu diwajibkan bagi pelaku usaha untuk membuat rekaman produksi dan penjualan di tiap petani dan di tingkat kelompok tani (Poktan).
10. Terdapat Poktan atau Gapoktan yang menerapkan sistem pengawasan internal (ICS) namun belum melaksanakan persyaratan pokok ICS itu sendiri, sehingga berpotensi melanggar SNI Pertanian Organik dan bisa dicabutnya sertifikat keorganikannya. Untuk itu, bagi Poktan atau Gapoktan yang jumlah petani atau luas arealnya tidak besar, tidak perlu menerapkan ICS.
11. Walaupun etika inspektor harus memegang rahasia perusahaan/Pelaku Usaha, namun masih ada beberapa Pelaku Usaha yang tidak terbuka dan tidak mau menyampaikan bahan dan komposisi pupuk/pestisida organik yang digunakan untuk pembuatan pupuk/pestisida organik yang akan disertifikasi, sehingga dengan terpaksa LSO tidak akan meluluskan karena dikhawatirkan adanya penggunaan bahan yang dilarang oleh SNI 6729: 2013.
Sistem pertanian organik merupakan sistem pertanian yang mengutamakan potensi-potensi yang berasal dari alam dan tidak merusak alam sehingga pertanian organik dapat disebut juga sebagai pertanian ramah lingkungan. Pertanian organik adalah sistem pertanian yang dikelola agar mampu menciptakan produktivitas yang berkelanjutan dengan prinsip tidak memakai atau membatasi penggunaan pupuk kimia. Diperkirakan pertumbuhan pasar organik mencapai 20-30% setiap tahunnya, hal ini disebabkan semakin tingginya kesadaran konsumen untuk mengonsumsi produk organik. Teknik budidaya padi organik meliputi persiapan benih, pengolahan tanah, pemupukan, dan pemeliharaan. Prinsip ekologis, prinsip teknis produksi dan pengolahan, dan prinsip sosial ekonomi
Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Selain itu pertanian organik memberikan keuntungan yang lebih besar dan berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani.
Pertanian organik semakin mendapat perhatian dari sebagian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Produk pertanian organik diyakini dapat menjamin kesehatan manusia dan lingkungan karena dihasilkan melalui proses produksi yang berwawasan lingkungan.
Pengembangan pertanian padi organik bertujuan untuk mengembalikan fungsi tanah yang sudah rusak akibat pertanian kimia, mengurangi ketergantungan bahan kimia sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang lebih sehat, serta sebagai penggerak ekonomi pedesaan. Strategi pengembangan dapat dilakukan dengan memberikan inovasi pada teknologi budidaya organik, pengendalian hama terpadu, dan memperbesar peluang pemasaran domestik. Strategi tersebut dapat terwujud apabila seluruh elemen atau stakeholder yang ada di dalamnya terlibat aktif dalam perwujudan pengembangan pertanian padi organik.
Sertifikasi adalah prosedur di mana lembaga sertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasi yang diakui oleh pemerintah, memberikan jaminan tertulis atau yang setara bahwa pangan atau sistem pengendalian pangan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Terdapat 8 lembaga sertifikasi Internasional yang teridentifikasi beroperasi di Indonesia, yaitu: IMO, Control Union, NASAA, Naturland, Ecocert, GOCA, ACO, dan CERES. Sedangkan lembaga sertifikasi nasional saat ini yang telah terakreditasi KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan diakui OKPO (Otoritas Kompeten Pangan Organik) adalah: BIOcert (Bogor), INOFICE (Bogor), Sucofindo (Jakarta), LeSOS, Mutu Agung (Depok), PT Persada (Yogyakarta) dan LSO Sumbar (Padang).
Proses sertifikasi dimulai dari pengajuan permohonan sertifikasi produk organik oleh pelaku usaha, kemudian LSO akan memberikan formulir pendaftaran, selanjutnya akan dilaksanakan audit dan inspeksi sesuai dengan SNI 6729:2013 yang kemudian akan dipresentasikan oleh Inspektor di Sidang Komisi Sertifikasi untuk mendapatkan keputusan lulus atau tidaknya proses sertifikasi.
Bab 2
Pengembangan Pertanian Organik
A. Pengembangan Pertanian Organik
Pertanian organik semakin mendapat perhatian dari sebagian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Produk pertanian organik diyakini dapat menjamin kesehatan manusia dan lingkungan karena dihasilkan melalui proses produksi yang berwawasan lingkungan (Gribaldi, 2009).
Di beberapa negara maju, pertanian organik telah menunjukkan porsi yang cukup signifikan dalam sistem produksi pangan. Misalnya di Austria, 10% dari pangan berasal dari pertanian organik, di Swiss pangan organik mencapai 7,8% dan di beberapa negara lainnya seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang dan Singapura. Kemajuan dalam pertanian organik mencapai lebih dari 20% setiap tahunnya (Gribaldi (2009).
Di Indonesia, sampai saat ini belum ada catatan yang jelas tentang produksi pertanian organik. Namun beberapa tanaman hortikultura seperti sayuran sudah mulai diproduksi dan dipasarkan di dalam negeri, meskipun masih dalam jumlah yang sangat terbatas, dengan lokasi pengembangan terbatas. Oleh karena itu, kesiapan teknologi untuk
mendukung produksi pertanian organik perlu dikaji. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana kesiapan teknologi budidaya pertanian organik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (Gribaldi, 2009).
Faktor pendorong adanya pertanian organik adalah aspek kualitas bahan konsumsi untuk kesehatan jangka anjang manusia, aspek penyelamatan dan kelestarian lingkungan (environmentally friendly and farming sustainability), aspek ideologis, dan aspek nilai tambah secara ekonomi (Hartanti dan Putri, 2016).
B. Tujuan Pengembangan Pertanian Organik
1. Tujuan Jangka Pendek
Adapun tujuan jangka pendek yang akan dicapai melalui pengembangan pertanian organik menurut Sutanto (2002) adalah sebagai berikut:
a) Ikut serta mensukseskan program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pemanfaatan peluang pasar dan ketersediaan lahan petani yang sempit.
b) Mengembangkan agribisnis dengan jalan menjalin kemitraan antara petani sebagai produsen dan para pengusaha.
c) Membantu menyediakan produk pertanian bebas residu bahan kimia pertanian lainnya dalam rangka ikut meningkatkan kesehatan masyarakat.
d) Mengembangkan dan meningkatkan minat petani pada kegiatan budidaya organik baik sebagai mata pencaharian utama maupun sampingan yang mampu meningkatkan pendapatan tanpa menimbulkan terjadinya kerusakan lingkungan.
e) Mempertahankan dan melestarikan produktivitas lahan, sehingga lahan mampu berproduksi secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan mendatang.
2. Tujuan Jangka Panjang
Tujuan jangka panjang yang akan dicapai melalui pengembangan pertanian organik menurut Sutanto (2002) adalah sebagai berikut:
a) Melindungi dan melestarikan keragaman hayati serta fungsi keragaman dalam bidang pertanian.
b) Memasyarakatkan kembali budidaya organik yang sangat bermanfaat dalam mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan sehingga menunjang kegiatan budidaya pertanian yang berkelanjutan.
c) Membatasi terjadinya pencemaran lingkungan hidup akibat residu pestisida, pupuk, serta bahan kimia lainnya.
d) Mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan dari luar yang berharga mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan.
e) Meningkatkan usaha konversi tanah dan air, serta mengurangi masalah erosi akibat pengolahan tanah yang intensif.
f) Mengembangkan dan mendorong kembali munculnya teknologi pertanian organik yang telah dimiliki petani secara turun- menurun, dan merangsang kegiatan penelitian pertanian organik oleh lembaga penelitian universitas.
g) Membantu meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara menyediakan produk-produk pertanian bebas pestisida, residu bubuk, dan bahan kimia pertanian lainnya.
h) Meningkatkan peluang pasar produk organik, baik domestik maupun global dengan jalan menjalin kemitraan antara petani dan pengusaha yang bergerak di bidang pertanian.
C. Peluang Pengembangan Pertanian Organik
Adapun peluang pertanian organik menurut Mayrowani (2012) antara lain adalah sebagai berikut:
1. Peluang Pasar
Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri masih sangat kecil, penggunaan produk organik hingga saat ini masih terbatas pada kalangan menengah dan atas. Hal tersebut disebabkan kurangnya informasi tentang pentingnya produk organik bagi kesehatan, tidak ada jaminan mutu dan standar kualitas organik dan harga produk pangan organik masih tergolong mahal. Secara bisnis pertanian organik di Indonesia masih memiliki peluang yang besar. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar menjadi potensi yang besar sebagai konsumen produk organik. Walaupun tidak semua kalangan masyarakat Indonesia mampu membeli hasil pertanian organik, karena harga hasil produk pertanian organik biasanya tergolong cukup mahal.
Peluang bisnis produk pertanian organik ini sudah mulai banyak dimanfaatkan terbukti ada peningkatan jumlah lahan pertanian organik Indonesia berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (Ariesusanty, L., S., N. & R., W., 2010).
2. Potensi dalam Meningkatkan Pendapatan Petani
Pada umumnya petani berharap mendapat harga yang tinggi untuk produk-produk organis mereka setelah lahan mereka organik. Tetapi, bila harga tertinggi tidak terpenuhi, sebenarnya petani organik sudah mendapatkan keuntungan karena biaya produksi organik lebih rendah dibandingkan non organik. Beberapa keuntungan membudidayakan padi secara organik adalah: (1) kesehatan konsumen; (2) penggunaan pupuk organik yang mengembalikan kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan; dan (3) meningkatkan pendapatan petani, karena harga jualnya lebih tinggi dari beras konvensional.
3. Pertanian Berkelanjutan
Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumber daya terbarukan berarti sumber daya tersebut harus dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Kita sadar akan adanya potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budidaya manusia untuk merusak lingkungan, sedangkan ketersediaan sumber daya adalah terbatas.
Pertanian ramah lingkungan yang salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian organik, merupakan upaya untuk memfungsikan sumber daya secara berkelanjutan. Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan produksi yang ramah lingkungan adalah: (1) pemanfaatan sumber daya alam untuk pengembangan agribisnis (terutama lahan dan air) secara lestari sesuai dengan kemampuan dan daya dukung alam; (2) proses produksi atau kegiatan usahatani yang dilakukan secara akrab lingkungan, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan eksternalitas pada masyarakat;
(3) penanganan dan pengolahan hasil, distribusi dan pemasaran, serta pemanfaatan produk tidak menimbulkan masalah pada lingkungan (limbah dan sampah); dan (4) produk yang dihasilkan harus menguntungkan secara bisnis, memenuhi preferensi konsumen dan aman dikonsumsi (Sitohang, B., 2009).
Pertanian organik, jika dilakukan dengan tepat, akan mengurangi biaya input terutama pupuk dan pestisida, secara dramatis akan meningkatkan kesehatan petani dan kesuburan tanah mereka secara alami. Masalah dalam pengembangan pertanian organik ini adalah insentif yang tepat untuk petani dalam mengkonversi usahataninya menjadi usahatani organik yang bisa berkelanjutan, di mana pada awalnya usahatani ini belum dianggap efektif. Masyarakat menghendaki produk pangan yang baik dan sehat, tetapi mereka tidak mau membayar tinggi. Petani ingin mendapatkan bayaran yang wajar atas usaha/kerjanya dalam memproduksi pangan organik dan mensuport usahataninya untuk masa yang akan datang. Namun, sistem ini belum tersedia saat ini. Sertifikasi yang mahal, keahlian mereka hilang dan uang yang petani keluarkan untuk memproduksi pangan yang baik hilang, dalam hal ini hilang ke pedagang (middlemen) (FAO, 1999).
D. Strategi Pengembangan Pertanian Organik
Memperhatikan kondisi pembangunan pertanian yang sedang berjalan di Indonesia, usaha untuk meningkatkan kebutuhan pangan sejalan dengan meningkatnya penduduk dan kebutuhan untuk memperbaiki kesehatan tanah maka pada tahap awal pemasyarakatan pertanian organik memerlukan strategi dengan cara memadukan beberapa komponen pertanian organik ke dalam teknologi konvensional yang sedang berjalan.
Rekomendasi pelaksanaan menurut Sutanto (2002) adalah sebagai berikut:
1. Teknologi pertanian konvensional tetap dilaksanakan terutama di wilayah yang mempunyai sarana dan prasarana pendukung.
Sedang konsep pertanian organik diterapkan di wilayah yang kurang diminati dan tidak tersentuh teknologi konvensional, termasuk lahan kering, lahan marginal, pekarangan dan kebun.
2. Dampak negatif teknologi konvensional terhadap ekosistem dan lingkungan perlu dievaluasi dan kemudian dicari usaha pemecahannya, baik menyangkut penggunaan pestisida, pupuk kimia, maupun bahan kimia pertanian lainnya.
3. Untuk memasyarakatkan di kalangan petani, maka prinsip pertanian organik perlu dimasukkan ke dalam paket teknologi pertanian. Untuk itu diperlukan dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan spesifikasi komoditas yang meliputi teknik buddaya dan pengelolaan usaha tani, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, panen sampai perlakuan pascapanen.
4. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Pengelolaan Hara/Nutrisi Terpadu (PNT) merupakan langkah awal dalam periode transisi sebelum mengarah pada pengembangan
pertanian organik murni, dan diperlukan usaha untuk memasyarakatkan secara lebih luas. Model pemasyarakatan PHT dapat diadopsi untuk memasyarakatkan PNT.
5. Peluang pemasaran domestik produk organik yang meliputi tanaman sayuran, buah-buahan dan perkebunan perlu diidentifikasi, di samping itu, perlu dijalin interaksi dan jaringan kerja yang saling menguntungkan antara konsumen dan produsen untuk menjamin pemsaran produk organik secara berkesinambungan.
6. Praktik produksi pertanian berkelanjutan pada berbagai sistem usaha tani perlu dikembangkan dengan memperhatikan kondisi agroekosistem dan teknologi yan spesifik lokasi.
7. Diperlukan peningkatan pengetahuan melalui jalur pendidikan dan pelatihan tentang kesehatan tanah dan perlindungan tanaman secara organik, yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai materi penyuluhan pertanian.
E. Pelaku Pengembangan Pertanian Organik
Adapun pelaku pengembangan pertanian organik menurut Sutanto (2002) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1: Pelaku Pengembangan Pertanian Organik (Sutanto, 2002)
Fungsi Aktor/ Pelaksana
Produksi Pekebun
Petani
Petani musiman Kelompok Tani Pengolahan Hasil Industri rumah tangga
Fungsi Aktor/ Pelaksana Koperasi
Agroindustri/ perusahaan swasta Pemasaran Pemasaran dari pintu ke pintu
Pasar tradisional/ Swalayan
Konsumen organik/ Lembaga Swadaya Informasi Pendampingan peneliti-peneliti
LSM organik
Universitas dan Lembaga penelitian Media cetak dan elektronik
Promosi LSM organik
Konsumen produk organik Media cetak dan elektronik Took produk organik
Penelitian Produsen dan Pengolahan produk organik LSM organik
Universitas dan Lembaga penelitian Pendidikan LSM organik dan Peduli lingkungan
Sekolah dasar dan menengah Akademi dan universitas Pendampingan Petani Antar petani organik
LSM organik Pola kemitraan
Penyuluhan pertaniaan (PPL dan PPS) Pengawasan Lembaga pemerintah
LSM organik dan Peduli lingkungan Sektor swasta
Koordinasi Pemerintah pusat/ antar- departemen Pemerintah daerah
LSM organik
Penyusunan Normatif LSM Organik (internal)
Fungsi Aktor/ Pelaksana Pemerintah (Peraturan)
Lembaga dunia FAO/ WHO/ UNESCO Pendanaan Hasil jualan lembaga swadaya
Individu/ BUMN/ swasta Donor dalam/ luar negeri Pemerintah
Sektor perbankan
Kebijakan Pemerintah
DPR
LSM organik dan Peduli lingkungan Konsumen
F. Organisasi Pengembangan Pertanian Organik
Selain lembaga sertifikasi, terdapat beberapa organisasi yang bergerak di bidang pengembangan pertanian organik seperti (Mayrowani, 2012): (1) IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movements) yang merupakan lembaga payung untuk gerakan organik, menyatukan lebih dari 750 organisasi anggota di 116 negara. IFOAM aktif berpartisipasi dalam negosiasi pertanian dan lingkungan internasional untuk memajukan kepentingan gerakan pertanian organik di seluruh dunia; (2) Maporina (Masyarakat Pertanian Organik Indonesia) adalah sebuah wadah Organisasi Profesi untuk menghimpun potensi berbagai pihak yang terkait dengan Pertanian Organik yang meliputi Birokrat, Akademisi, Petani, Pengusaha dan Masyarakat luas pemerhati masalah Pertanian di Indonesia yang diharapkan dapat mensejahterakan Rakyat, melestarikan lahan dan lingkungan melalui Sistem Pertanian; dan (3) AOI (Aliansi Organik Indonesia) merupakan sebuah organisasi masyarakat sipil berbasis keanggotaan, saat ini AOI beranggotakan 79 anggota yang terdiri dari lembaga dan individu yang bergerak di
pertanian organik. AOI mendorong terintegrasinya prinsip dan praktik pertanian organik dan fair trade di Indonesia.
Pertanian organik semakin mendapat perhatian dari sebagian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Produk pertanian organik diyakini dapat menjamin kesehatan manusia dan lingkungan karena dihasilkan melalui proses produksi yang berwawasan lingkungan.
Tujuan jangka panjang dari pengembangan pertanian organik adalah melindungi dan melestarikan keragaman hayati serta fungsi keragaman dalam bidang pertanian; membatasi terjadinya pencemaran lingkungan hidup akibat residu pestisida, pupuk, serta bahan kimia lainnya; dan mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan dari luar yang berharga mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Peluang dari pengembangan pertania organik antara lain berasal dari peluang pasar. Secara bisnis pertanian organik di Indonesia masih memiliki peluang yang besar. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar menjadi potensi yang besar sebagai konsumen produk organik.
Selain itu juga dapat meningkatkan pendapatan petani karena input yang lebih murah sedangkan hasil panen yang diperoleh lebih tinggi.
Selanjutnya adalah mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.
Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumber daya terbarukan berarti sumber daya tersebut harus dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Perwujudan pertanian organik dapat dilaksanakan dengan adanya kerjasama antar semua stakeholder serta inovasi-inovasi teknologi budidaya.
Bab 3
Proses Produksi Padi Organik
Proses produksi merupakan tahapan yang dilakukan dari awal pembenihan hingga proses hasil panen yang dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan organik. Dalam SNI Sistem Pertanian Organik menjelaskan manajemen produksi tanam padi organik, berikut uraian manajemen produksi padi organik yang meliputi manajemen produksi tanam, yaitu (Kementerian Pertanian, 2013):
1. Konversi
• Prinsip produksi pertanian organik harus telah diterapkan pada lahan yang sedang berada dalam periode konversi dengan ketentuan sebagai berikut: (1) dilaksanakan 2 tahun sebelum benih ditebar untuk tanaman musim, (2) dilakukan pada tahun sebelum panen pertama untuk tanaman tahunan, (3) Tanpa periode konversi (zero convertion) untuk lahan yang ditumbuhi tumbuhan liar (tidak dibudidayakan) tanpa asupan bahan kimia sintetis,
• Masa konversi dapat diperpendek berdasarkan pertimbangan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) tetapi tidak boleh kurang dari 12 bulan untuk tanaman semusim dan 18 bulan untuk tanaman tahunan.
• Masa konversi dihitung sejak lahan mulai dikelola secara organik yang dapat diverifikasi (sejarah lahan, catatan