BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN
II- 1 BAB 2
18) Otonomi Daerah, Pemerintahan umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian dan Persandian
a. Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk
Polisi Pamong Praja adalah aparatur Pemerintah Daerah yang melaksanakan tugas Kepala Daerah dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum, menegakkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Jumlah polisi pamong praja dihitung dari jumlah aparatur pada satuan polisi pamong praja yang ditetapkan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan peraturan perundang- undangan. Satuan polisi pamong praja merupakan perangkat daerah yang dapat berbentuk dinas daerah atau lembaga teknis daerah. Berikut adalah tabel Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk di Kabupaten Blitar.
Tabel 2.96
Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk
0,04 (55 org)
0,62 (70 org)
0,62 (71 org)
0,61 (70 org)
0,6 (69 org) Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
Interpretasi sederhananya adalah, selama kurun 2011-2015, 1 orang Polisi Pamong Praja di Kabupaten Blitar rata-rata mengawal 20.000 penduduk.
b. Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Satuan ini memiliki peran penting dalam ketertiban masyarakat secara luas. Berikut adalah tabel jumlah linmas per 10.000 penduduk di Kabupaten Blitar.
II-75
Tabel 2.97
Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk Tahun 2011-2015 Kabupaten Blitar
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Linmas per 10.000 penduduk
15,51 (1.744
org)
15,84 (1.791
org)
59,03 (6.710
org)
65,32 (7.452 org)
71,23 (8.159
org) Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
Berbeda dengan satuan polisi pamong praja, rasio jumlah Linmas per 10.000 penduduk relatif mencukupi.
c. Rasio Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan
Pemerintah Kabupaten Blitar mentargetkan bahwa rasio jumlah pos siskamling per desa/kelurahan idealnya adalah 9:1. Dari data yang dihimpun, diketahui bahwa selama tahun 2011 hingga 2015, rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Blitar selalu mengalami perubahan, sebagaimana tertera dalam Tabel 2.98 berikut:
Tabel 2.98
Rasio Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan 0,2 0,2 0,2 0,31 0,31 Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
d. Pertumbuhan Ekonomi
Seperti telah dijelaskan sebelumnya secara detail pada aspek kesejahteraan masyarakat fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, PDRB dinilai atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas dasar harga konstan (ADHK) 2010. Berbeda dengan PDRB ADHB, PDRB ADHK sudah tidak dipengaruhi perubahan harga, sehingga perubahan PDRB ADHK dari tahun ke tahun, mencerminkan perubahan produksi barang dan jasa, yang lazim disebut pertumbuhan ekonomi.
II-76
Gambar 2.18
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Sumber: BPS Kabupaten Blitar, 2016 (diolah)
Pada Tahun 2015, perekonomian Kabupaten Blitar tumbuh sekitar 5,05 persen, sedikit lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh kategori lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 6,58 persen. Disusul kategori lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 6,44 persen serta kategori transportasi dan pergudangan sebesar 6,23 persen. Sementara lapangan usaha yang mengalami pergerakan paling lambat adalah kategori Pengadaan Listrik dan Gas yang hanya tumbuh 0,2 persen.
e. Kemiskinan
Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Pengukuran kemiskinan yang dilakukan oleh BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Garis kemiskinan (GK) adalah nilai rupiah dari nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori ditambah kebutuhan minimum non makanan untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
Pengukuran kemiskinan BPS menggunakan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul Konsumsi.
Perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Blitar selama kurun waktu tahun 2006-2014, secara konsisten menunjukkan penurunan. Jika pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin sebesar 190,4 ribu jiwa, pada tahun 2011 menurun menjadi 126.950 jiwa dan pada tahun 2014 menurun lagi menjadi sebesar 116.720 jiwa. Hal yang sama juga tampak pada persentase penduduk miskin menurun secara konsisten selama periode
5,43
5,62
5,06 5,02 5,05
2011 2012 2013 2014 2015
II-77
2006-2014. Jika pada tahun 2006 persentase penduduk miskin sebesar 17,91 persen, pada tahun 2011 menurun menjadi 11,29 persen dan pada tahun terakhir 2014 menurun lagi menjadi 10,22 persen. Jika dibandingkan, pada periode 8 tahun terakhir (2006-2014) rata-rata penurunan persentase penduduk miskin cukuptinggi sebesar 1.10 persen poin, sedangkan periode 5 tahun terakhir 2009-2014 rata-rata penurunannya menjadi lebih kecil, yaitu sebesar 0,86 persen poin, dan dalam 3 tahun terakhir periode 2011-2014 penurunannya lebih mengecil lagi rata-rata hanya sebesar 0,36 persen poin. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin semakin menurun dari tahun ke tahun secara konsisten tetapi jumlah penurunannya semakin kecil, atau dengan kata lain bahwa penurunan persentase penduduk miskin di Kabupaten Blitar dari tahun ke tahun makin melambat. Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk miskin yang ada mulai semakin sulit dientaskan, atau Kabupaten Blitar mengalami situasi ini apa yang disebut sebagai “hard core poverty”.
Dibandingkan dengan rata-rata persentase penduduk miskin Kabupaten/Kota di Jawa Timur tampak bahwa program pengentasan kemiskinan di Kabupaten lebih berhasil, hal ini dapat ditunjukkan dengan persentase penduduk miskin di Kabupaten Blitar lebih rendah dibanding rata-rata kabupaten/kota di Jawa Timur. Pada tahun 2014 persentase penduduk miskin Kabupaten Blitar sebesar 10,22 persen, sedangkan di Provinsi Jawa Timur sebesar 12,28 Persen.
Selama periode 2011-2014 Garis Kemiskinan (GK) terus naik dari Rp.
210.254,- per kapita per bulan menjadi Rp. 244.382,- per kapita per bulan atau naik rata-rata per tahun sekitar Rp. 11.376,- per kapita per bulan (atau naik sekitar 16,23 persen dalam 3 tahun terakhir). Angka ini berarti kenaikan GK periode 2011-2014 naik rata-rata per tahun sebesar 5.14 persen. Perubahan garis GK terus terjadi seiring perubahan harga (inflasi) kebutuhan bahan pokok konsumsi rumah tangga.
Komoditi yang penting bagi penduduk miskin adalah beras.
Berdasarkan komoditas makanan, selain beras, ada 4 komoditas yang secara persentase memberikan kontribusi yang cukup besar pada garis kemiskinan makanan yaitu rokok filter, gula pasir, tempe dan tahu.
Sedangkan untuk komoditi non makanan di wilayah perdesaan meliputi biaya perumahan, biaya listrik, kayu bakar dan pendidikan. Di daerah perkotaan 5 kontributor terbesar terhadap garis kemiskinan non makanan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi (Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Timur, No.47/07/35/Th.XII, 1 Juli 2014). (Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Timur, No.47/07/35/Th.XII, 1 Juli 2014).
II-78
f. Penegakan Perda
Pada tahun 2015, terdapat 88 kasus pelanggaran Perda yang dapat ditangani dan diselesaikan dari total 90 kasus. Dua kasus yang belum tersentuh di tahun 2015 ditargetkan dapat diselesaikan di tahun 2016.
Berikut adalah tabel penegakan PERDA pada Kabupaten Blitar tahun 2011 sampai dengan 2015.
Tabel 2.99
Penegakan Perda (%) Tahun 2011-2015 Kabupaten Blitar
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Penegakan PERDA 80 80 85 100 97,78
Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
g. Cakupan Patroli Petugas Satpol PP
Cakupan patroli petugas Satpol PPmencapai target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 2, sebagaimana tercatat dalam Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan (AMJ) Bupati Blitar Tahun 2011-2016.Tercapainya target tersebut, salah satunyadidorongoleh semakinintensnya pengamanan dan patroli yang dilakukan oleh petugas Satpol PP Kabupaten Blitar.
Tabel 2.100
Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan Patroli Petugas Satpol PP 1x 2x 2x 2x 2x
Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
h. Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan) Di Kabupaten Blitar
Tingkat penyelesaian terhadap pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015 disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 2.101
Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan) Di Kabupaten Blitar (%)
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban,
ketentraman, keindahan) di Kabupaten 80 80 85 100 97,78
Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
II-79
i. Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Blitar
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat. Satuan ini memiliki peran penting dalam ketertiban masyarakat secara luas. Berikut merupakan tabel persentase petugas perlindungan masyarakat (Linmas) di Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015:
Tabel 2.102
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di
kabupaten (%) 0,16 0,16 0,59 0,65 0,71
Sumber: Satpol PP Kab. Blitar, 2016
j. Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat
Indeks kepuasan layanan masyarakat Kabupaten Blitarselama empat tahun terakhir rata-rata mencapai 79,05%. Dengan demikian, masyarakat yang puas akan layanan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah mencapai 79,05%. Berikut adalah tabel indeks kepuasan layanan masyarakat Kabupaten Blitar tahun 2011 hingga tahun 2014.
Tabel 2.103
Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014
Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat 73.80% 73.40% 92.40% 76.60%
Sumber: Bagian Organisasi Kabupaten Blitar Tahun 2016
k. Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kabupaten (%)
Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kabupaten Blitar dari tahun 2011-2015 dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini :
Tabel 2.104
Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran Kabupaten (%) Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Cakupan Pelayanan Bencana Kebakaran
Kabupaten (%) 100% 100% 100% 100% 100%
Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016
II-80
l. Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)
Berikut disajikan Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (Menit) dari tahun 2011-2015 :
Tabel 2.105
Tingkat Waktu Tanggap (Response Time Rate) daerah layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) (Menit) Kabupaten Blitar
Tahun 2011-2015
Indikator 2011 2012 2013 2014 2015
Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah layanan Wilayah Manajemen
Kebakaran (WMK) (menit) 120 90 75 60 45
Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Blitar Tahun 2016