BAB IV ANALISIS DATA TENTANG KISAH MIMPI NABI YUSUF AS
A. Gambaran Umum Tentang Mimpi
3. Pandangan Ulama Muslim tentang Mimpi
a. Pandangan Kaum Sufi terhadap Mimpi yang Benar
Para sufi menganggap bahwa mimpi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ajaran. Melalui mimpi, ajaran disampaikan dari alam rohani kepada orang yang bermimpi. Orang yang telah mencapai makrifat dapat memahami berbagai gambar dan bentuk yang terlihat dalam mimpi. Untuk dapat memahami tabir mimpi, maka mimpi itu harus ditafsirkan atau ditakwilkan.
Menurut pandangan dari aliran illuminasi, mereka mengatakan bahwa jiwa merupakan alam transendental, sehingga dapat mengenal sesuatu yang sejenisnya yang bersifat transendental juga. Sehingga dapat menerima informasi dari alam-alam tersebut ketika tidur bahkan dalam keadaan sadar.
Adapun pendapat kaum sufi mengenai wih}datul wujud atau penyatuan yang terjadi dalam diri kaum sufi menjadikan mimpi tidak datang dari sesuatu dzat yang lebih tinggi darinya melainkan dari jiwanya sendiri. Sedangkan makna akliyah tidak datang melalui perasaan karena perasaan lebih rendah tingkatnya daripada makna akliyah. Sehingga tabiat daripada khayal adalah mempersepsikan
9 Shihab, dkk, Ensiklopedia Al-Qur’an, 64.
segala sesuatu yang jatuh padanya (makna akliyah) dalam bentuk nyata (dapat dilihat dan dirasakan).
b. Mimpi menurut Psikologi-tasawwuf
Apapun bentuknya, mimpi merupakan kegiatan psikologis manusia yang sangat diperhatikan dalam psikologi islam. Mimpi menurut para psikologgi-tasawufi merupakan cerminan dunia sadar seseorang. Imam al-Sya’rani menyatakan bahwa salah satu tanda taubah yang nashuhah adalah apabila seseorang tidak lagi merasakan nikmatnya melakukan dosa ketika di alam mimpinya, seperti karena polusi atau ikhtilam (mimpi berhubungan seks sehingga spermanya keluar). Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan mimpi merupakan cerminan kepribadian seseorang. Jika seseorang itu benar-benar berkepribadian bersih dan suci maka dalam mimpi pun ia tidak akan
“melakukan” dosa.10
c. Mimpi menurut Psikologi Islam
Dalam pemikiran psikologi islam, tidurnya fisik tidak selalu menunjukkan tidurnya psikis. Ruh manusia tetap mampu beraktivitas, meskipun fisiknya beristirahat.11
Keunikan konsep mimpi dalam psikologi islam adalah bahwa seseorang tidak hanya dituntut untuk bermimpi yang menyenangkan dalam tidurnya, tetapi lebih dari itu, ia dituntut untuk bermimpi yang baik, agar mimpinya berimplikasi positif bagi perkembangan
10 Mujib dan Mudzakir, Nuansa-nuansa psikologi islam, 312-316.
11 Ibid, 303.
kepribadiannya. Hal itu dapat dipahami, sebab persoalan
“menyenangkan” dalam mimpi merupakan bagian dari kondisi yang diusahakan untuk memberi kualitas tidur seseorang, sedangkan persoalan “baik” dalam mimpi merupakan bagian dari kualitas spiritual yang diusahakan untuk memberi makna (terutama makna ibadah) dalam tidur seseorang. Psikologi islam bukan hanya membicarakan apa adanya, tetapi lebih penting lagi membicarakan bagaimana seharusnya.
Karena itu, psikologi islam sangat concern terhadap pembicaraan mimpi yang bersumber dari dunia eksternal, baik datangnya dari Allah swt maupun dari setan.12
d. Mimpi Menurut Beberapa Ulama yang Membahas Mimpi dalam Kitabnya
Menurut Dr. Abdul Mun’im Badar, Ibnu Sirin, dan Dr. Thawil dalam kitabnya, mimpi itu terbagi menjadi empat macam, yaitu:
1. Allah SWT berbicara dengan nabi-Nya tanpa perantara, seperti yang terjadi kepada Nabi Muhammad saw ketika mi’raj dan kepada Nabi Musa as ketika beliau bermunajat.
2. Melalui perantara malaikat kepada Rasul-Nya dan diperintahkan agar Rasul-Nya menyampaikan kepada manusia, seperti wahyu al- Qur’an.
3. Ilham, goresan yang diberikan oleh Allah SWT dan ditaruh di dalam hati nabi-Nya tentang apa yang dikehendaki oleh Allah
12 Mujib dan Mudzakir, Nuansa-nuansa psikologi islam, 315
SWT, dalam bentuk ma’rifah, dan kemudian nabi-Nya yakin bahwa apa yang tergores berupa ma’rifah itu benar dari Allah SWT.
4. Mimpi yang benar (ar-ru’yâ fî al-manâm) dari seorang nabi merupakan kebenaram dari Allah, lantas mereka para nabi mengetahui maksud dari mimpinya itu.
Menurut Rosulullah saw mimpi itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu: mimpi yang berupa kabar baik dari Allah SWT, mimpi dari setan dan yang ketiga adalah jiwa manusia itu sendiri. Mimpi yang benar merupakan gambaran yang benar dari akal batin manusia.
Macam-macam mimpi yang benar diantaranya sebagai berikut:
Pertama, ar-ru’yâ as-shah}ih}ah (mimpi yang benar) merupakan gambaran yang benar dari akal batin yang menta’birkan hakikat- hakikat yang tetap, dimana ucapan dari orang yang bermimpi itu merupakan ucapan yang benar dan menunjukkan atas makna yang benar juga. Mimpi semacam ini dibagi menjadi empat bagian:
a. Ar-ru’yâh ash-shadiqah al muh}aqqiqah, mimpi yang benar- benar menjadi satu kenyataan, dan ini merupakan sebagian daripada wahyu dan kenabian, seperti mimpi Nabi Muhammad saw yang disebutkan dalam QS. Al-fath (48): 27 Mimpi yang benar dibagi menjadi dua bagian:
- Berbentuk mimpi yang jelas, dengan lafadz yang jelas yang tidak memerlukan kepada penafsiran, tidak juga membutuhkan ta’wil seperti mimpi Rasulullah saw di atas
dan mimpi Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya yaitu Nabi Isma’il as.
- Mimpi yang masih samar yang terkandung di dalamnya hikmah, dan mimpi ini masih membutuhkan penafsiran, seperti mimpinya Nabi Yusuf as yang terdapat pada QS.
Yusuf (12): 4.
b. Ar-ru’yâ ash-shalih}ah (mimpi yang baik). Mimpi ini merupakan berita gembira dari Allah SWT.
c. Ar-ru’yâ al-h}atifah al-marmuzah (mimpi berupa bisikan dan berbentuk simbolik). Mimpi ini diberikan oleh Allah SWT untuk menjelaskan suatu persoalan atau kesulitan yang sedang dihadapi oleh seseorang didalam kehidupan keseharian, akibat dari tidak adanya satu bentuk penyelesaian yang baik. Dalam hal ini malaikat diutus oleh Allah SWT untuk memberikan mimpi yang mengandung bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya, dalam bentuk rumus atau simbol. Penafsiran mimpi yang demikian ini harus disesuaikan dengan dasar-dasar penafsiran mimpi.
d. Ar-ru’yâ al-muh}adzdzirah; (mimpi sebagai peringatan). Mimpi yang dibawa oleh malaikat sebagai peringatan akan terjadinya suatu bahaya yang mengancam orang yang bermimpi, dan biasanya mimpi ini diikuti dengan as-syahid, yaitu indikasi atau keterangan yang datang bersama dengan mimpi itu,
sebagai pertimbangan ta’wilnya. Seperti mimpi Raja Nabi Yusuf yang kemudian di ta’wilkan oleh Nabi Yusuf (QS.
Yusuf (12): 43).
Kedua, mimpi yang mungkin benar dan mungkin salah, sebagai refleksi daripada pikiran manusia, atau perbuatanya, atau perilaku akhlaknya sewaktu ia dalam keadaan sadar (tidak tidur).
Kesemuanya itu dapat direfleksikan dikala seseorang sedang tidur melalui ruh-ruh samawi (langit). Biasanya mimpi ini mengandung dua makna yang bertentangan atau mengandung makna yang berbeda-beda, dimana orang yang bermimpi langsung ingat kepada suatu kejadian, dan langsung memahami bagian-bagian dari kejadian tersebut. Lantas ia melihat di dalam penta’wilannya kepada kejadian yang lebih utama dan lebih dekat terhadap dasar- dasar penafsiran sebuah mimpi. Penta’wilan semacam ini dikarenakan bahwa mimpi itu merupakan penglihatan orang yang bermimpi terhadap kehidupan kesehariannya atau timbul dari akal batinnya.
Ketiga, mimpi yang tidak benar, dimana seorang yang bermimpi tidak dapat memahami bagian-bagian dari mimpi yang dilihatnya dan tidak dapat mengingatnya sesuai dengan tertib kejadian didalam mimpi. Biasanya mimpi seperti ini tidak teratur kejadiannya, dan makna-maknanya tidak terdapat di dalam ushul atau penta’wilan sebuah mimpi. Mimpi semacam ini adalah mimpi
batil dan tidak mengandung pelajaran dan mimpi ini adalah mimpi setan. Mimpi setan ini terbagi empat bagian:
1. Mimpi dalam keadaan glamor dan persetubuhan 2. Mimpi ketakutan, keterkejutan, iri dan hasud
3. Mimpi melihat pengalaman-pengalaman yang telah sangat jauh di masa lalu
4. Mimpi tabiat kotor, yaitu mimpi seseorang pada waktu dirinya mengalami godaan atau was-was.13
Adapun seorang ilmuwan muslim yang berpengaruh besar dalam hal tafsir mimpi dan juga mempengaruhi para psikolog muslim yaitu Ibnu Sirin (651-729 H).14
e. Mimpi Menurut Al-Kindi
Salah seorang filosof abad ketiga yang membahas tentang mimpi adalah Al-Kindi15. Mimpi menurut al-kindi, sesungguhnya khayalan itu dapat memberikan gambaran yang dikhayalkan dengan lebih jelas dan lebih meyakinkan daripada apa yang diterima oleh indra. Menurut al-kindi sebab-sebab mimpi adalah sesuatu yang memperlihatkan kepada kita tentang lawan-lawannya (sesuatu yang antagonis), sebab manusia memiliki tanda yang dapat menyimbolkan
13 An-Najjar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, 131-134.
14 Seorang imam kiraah di basraj sangat dikenal dan dihormati karena ketinggian ilmunya maupun kesalihannya. Beliau menyusun kamus tafsir mimpi Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al- ahlam (kunci pengungkap tafsir mimpi). Armando, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, 56.
15 Al-Kindi (kufah, 185 H/801 M-Baghdad, 256 H/869 M) seorang filsuf besar pertama arab dan islam. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Isma’il bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-kindi. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 1, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1997), 69.
sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi dengan menerima sesuatu tersebut secara sempurna dan bersih dari kendala-kendala yang dapat merusak jiwanya yang disebut “kekuatan jiwa”. Jika anggota tubuh manusia itu lemah didalam menerima kesan-kesan, berarti jiwanya terganggu dalam mempersepsikan sesuatu melalui simbol. Maka sesuatu itu akan datang dalam bentuk antagonis (yang berlawanan). Jika anggota tubuh manusia sungguh lemah sehingga sangat tidak mampu untuk menerima penyimbolan itu, maka mimpi yang akan diterimanya akan lebih kacau lagi dan sangat tidak jelas.16
4. Pandangan Kebudayaan dan Ilmuwan Barat tentang Mimpi