• Tidak ada hasil yang ditemukan

KISAH MIMPI NABI YUSUF AS ( Studi Psikoanalisis Sigmund Freud) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "KISAH MIMPI NABI YUSUF AS ( Studi Psikoanalisis Sigmund Freud) SKRIPSI"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Jurusan Tafsir Hadits Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

IQO MATUS SA'DIYAH NIM. 082 132 031

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA

SEPTEMBER 2017

(2)

























Artinya : Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat- buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (Q.S.

Yusuf: 111).

(3)

Bahri Ar-rasyid & Hj. Hamimatul Hosniyah), Bapak dan Ibu Mertua (H. Imam Samsul Arifin & Hj. Juairiyah), Suami (Imam Bahrowi), Saudara (Badruddin Munir Ali, Ifadatul Waziroh, Linatul Qolbiyah & Nurul Jadid), terima kasih atas dukungan dan do’anya selama ini semoga ku dapat membahagiakan kalian secara

lahir dan batin.

Dosen, Ustadz, dan Saudara-saudari yang telah berkontribusi dalam penyelesaian skripsi ini

Almamater

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora Institut Agama Islam Negeri Jember

(4)

KATA PENGANTAR

مسب

الله نمحرلا لا

ميح

Puji syukur saya sampaikan kepada Allah atas rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi yang berjudul KISAH MIMPI NABI YUSUF AS (Studi Psikoanalisis Sigmund Freud) sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar.

Kesuksesan ini didukung oleh beberapa pihak, dengan sepenuh hati penulis menyampaikan banyak terima kasih dan jazâkumulloh khoir kepada:

1. Bapak Prof. H. Babun Suharto, SE., MM selaku rektor IAIN Jember.

2. Bapak Dr. H. Abdul Haris, M. Ag. selaku Dekan Fak.ultas Ushuluddin.

3. Bapak H. Mawardi Abdullah, Lc. MA selaku Ketua Jurusan Tafsir Hadits.

4. Bapak Dr. Uun Yusufa, MA selaku Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

5. Bapak Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., selaku dosen wali.

6. Bapak Dr. Imam Bonjol Jauhari, S.Ag., M.Si, selaku dosen pembimbing yang telaten mengarahkan penulis dari awal hingga akhir.

7. Bapak dan ibu dosen yang telah berkontribusi memberikan ilmu & sumber inspirasi serta memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan penulisan skripsi.

8. Segenap keluarga yang selalu mendukung & mendo’akan.

9. Teman-teman seperjuangan program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, lintas prodi maupun alumni yang membantu penyelesaian tugas akhir penulis baik berupa peminjaman buku maupun kontribusi lain dalam

(5)

pelaksanaan seminar proposal hingga selesainya pelaksanaan sidang.

Tidak lupa untuk semua teman kelas Q1 yang berusaha menjaga kekompakan dan loyalitas antar-sesama meski penulis sebagai new comer di dalamnya.

Penulis

(6)

Beragam metode penafsiran yang kini semakin berkembang, memang memberikan kebebasan dalam memahami al-Qur’an dan menafsirkannya. Tetapi, dengan adanya kebebasan tersebut juga memberikan batasan-batasan dalam menafsirkan al-Qur’an. Sehingga penafsiran al-Qur’an terbatas pada sesuatu yang menyangkut salah satunya yaitu perkembangan ilmu pengetahuan. Pada penelitian kali ini akan memberikan kontribusi keilmuan baru dalam menggali al- Qur’an dengan mengimplikasikan teori ilmiah yaitu psikoanalisis yang kemudian fokus pada pembahasan mimpi yang berawal dari struktur mental dan kepribadian seseorang. Adapun mimpi yang akan dibahas yaitu mimpi Nabi Yusuf As yang memang dibahas kisahnya secara mendetail dalam al-Qur’an. Hal ini yang kemudian dapat menjadi acuan bagi persoalan akidah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat seperti adanya nabi palsu.

Rumusan masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah: 1. Bagaimana gambaran umum tentang mimpi? 2. Bagaimana kisah mimpi Nabi Yusuf As dalam al-Qur’an menurut beberapa ulama tafsir? 3. Bagaimana implikasi studi psikoanalisis Sigmund Freud terhadap kisah mimpi Nabi Yusuf As?

Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka (Library Research) dengan pendekatan historis-psikologis dan menggunakan teknik pengumpulan data metode dokumenter. Sumber data primer peneliti adalah kitab-kitab tafsir yang kaya akan riwayat sebagai referensi kisah mimpi Nabi Yusuf As dan juga buku- buku teori psikoanalisis Sigmund Freud. Analisis data berupa analisis isi dan analisis wacana yakni dianalisis menurut isinya secara objektif dari data-data yang telah dikumpulkan, baik data primer maupun sekunder. Kemudian dipahami makna serta pesan yang tersembunyi (laten) di dalamnya.

Penelitian ini memperoleh kesimpulan bahwa: Pertama, secara umum mimpi merupakan aktivitas psikis ketika sedang tidur. Sedangkan dalam islam, mimpi merupakan wahyu serta peringatan dari Allah SWT. Adapun menurut ulama muslim, mimpi merupakan aktivitas batin manusia yang tidak terlepas dari tujuan manusia dalam mengidealkan diri sesuai dengan syari’at yang ditetapkan oleh Allah. Sedangkan menurut kebudayaan barat dan ilmuwan non-muslim, mimpi merupakan pesan dari dewa-dewi dan juga menyatakan bahwa mimpi murni bersumber dari aktivitas mental seseorang. Kedua, kisah mimpi Nabi Yusuf As merupakan mimpi yang benar tetapi masih membutuhkan penafsiran dan mimpi tersebut bersumber dari Allah (wahyu Allah). Ketiga, implikasi teori psikoanalisis terhadap kisah mimpi Nabi Yusuf As, banyak terdapat kesesuaian seperti pada teori tentang kehidupan mental dan struktur kepribadian Freud maupun pada teori mimpinya dan beberapa ketidaksesuaian seperti pada teori seksual Freud.

(7)

ا a ط t} َ أ Â/â

ب b ظ zh يِإ Û/û

ت t ع ‘ Î/î وأ Î/î

ث ts غ gh

ج j ف f Vokal Pendek

ح h{ ق q - a

خ kh ك k - i

د d ل l - u

ذ dz م m Vokal Ganda

ر r ن n َ ي yy

ز z و w َ و Ww

س S ه h

ش sy ء ‘ Diftong

ص sh ي y و أ Aw

ض dl ي أ Ay

(8)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Definisi Istilah ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 15

A. Penelitian Terdahulu ... 15

(9)

A. Metode Penelitian ... 44

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 44

2. Teknik Pengumpulan Data ... 46

3. Teknik Analisis Data ... 48

B. Sistematika Penulisan ... 50

BAB IV ANALISIS DATA TENTANG KISAH MIMPI NABI YUSUF AS DAN TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD... 52

A. Gambaran Umum Tentang Mimpi ... 52

1. Pengertian Mimpi secara Umum ... 52

2. Mimpi dalam Islam ... 54

3. Pandangan Ulama Muslim tentang Mimpi... 57

4. Pandangan Kebudayaan dan Ilmuwan Barat tentang Mimpi ... 64

B. Kisah Mimpi Nabi Yusuf As dalam Al-Qur’an ... 73

1. Klasifikasi Ayat-ayat Kisah Mimpi Nabi Yusuf As ... 73

2. Deskripsi Kisah Mimpi Nabi Yusuf As ... 73

C. Implikasi Teori Psikoanalisis terhadap Kisah Mimpi Nabi Yusuf As .... ... 79

BAB V PENUTUP ... 87

A. Kesimpulan ... 87

(10)

DAFTAR PUSTAKA ... 91 LAMPIRAN

(11)

A. Latar Belakang

Pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah-kaidah bahasa serta arti-arti yang dikandung oleh satu kosakata. Namun, sejalan dengan lajunya perkembangan masyarakat, berkembang dan bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, sehingga bermunculanlah berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya. Salah satunya yaitu corak penafsiran ilmiah.

Dalam penafsiran al-Qur’an, penafsiran Nabi saw tentang ayat-ayat al-Qur’an tidak banyak yang kita pahami dewasa ini. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali berusaha memahami al-Qur’an berdasarkan kaidah-kaidah disiplin ilmu tafsir, serta berdasarkan kemampuan setelah masing-masing memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Selain itu, manusia dituntut untuk memahami al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan untuk setiap manusia dan masyarakat kapan dan dimanapun. Maka dari itu terdapat kebebasan dalam menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah serta persyaratan yang ditentukan.

Akan tetapi, dalam kebebasan tersebut timbul pembatasan- pembatasan dalam menafsirkan al-Qur’an. Pembatasan-pembatasan dalam menafsirkan al-Qur’an ditemukan bahwa pembatasan tersebut menyangkut

(12)

perincian penafsiran dalam tiga bidang, yaitu perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan dan bahasa.

Sementara ulama berpendapat bahwa “syari’at” (al-Qur’an dan hadits) harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada masa turunnya. Ini mengakibatkan antara lain pembatasan dalam memahami teks- teks ayat al-Qur’an berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya al-Qur’an yang jauh terbelakang dibanding perkembangan ilmu dewasa ini.

Selanjutnya perlu dibedakan antara pemikiran ilmiah kontemporer dan pembenaran setiap teori ilmiah. Jika dalam menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pembatasan-pembatasan menurut para ulama. Maka pemahaman dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an tidak dapat ditempuh. Namun, ini tidak berarti bahwa setiap teori ilmiah walaupun yang belum mapan dan pasti dapat dijadikan dasar dalam pemahaman dan penafsiran al-Qur’an. Karena jika tidak dibatasi akan mengakibatkan bahaya sehingga pemahaman dan penafsiran ayat al-Qur’an tersebut dapat menentang hasil-hasil penemuan ilmiah yang sejati.1

Mengingat bahwa mempelajari al-Qur’an itu adalah kewajiban, berikut ini beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai “memahami al-Qur’an dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan”. Persoalan ini sangat penting, terutama pada masa-masa

1 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan Media Utama), 105-123.

(13)

sekarang ini, dimana perkambangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.

Membahas hubungan al-Qur’an dan ilmu pengatahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah.

Tetapi, pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.

Membahas hubungan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan juga bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relativitas atau bahasan tentang angkasa luar; ilmu komputer tercantum dalam al-Qur’an; tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Qur’an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?2

Adapun pembahasan mengenai ilmu pengetahuan ilmiah yang juga dibahas dalam al-Qur’an, seperti pembahasan mengenai mimpi. Sedangkan pembahasan mengenai mimpi dalam al-Qur’an banyak dijelaskan melalui kisah-kisah.

Kisah qur’ani atau kisah dalam al-Qur’an (qashash al-Qur’an) maksudnya adalah berita-berita al-Qur’an ihwal orang-orang terdahulu, baik umat-umat maupun para nabi yang telah lampau, demikian juga, berita mengenai peristiwa-peristiwa nyata di zaman dulu, yang memuat pelajaran

2 Shihab, Membumikan Al-Qur’an, 46-59.

(14)

dan dapat diambil pelajaran bagi generasi yang datang setelahnya. Al-Qur’an juga memanfaatkan kisah untuk menegaskan wahyu dan risalah, keesaan Allah, menyatukan agama-agama dalam pilar tauhid, pemberitaan kabar gembira dan ancaman, fenomena-fenomena kuasa ilahi.3

Adapun ilmu pengetahuan ilmiah yang juga membahas mengenai mimpi yaitu teori psikoanalisis. Pada penelitian kali ini akan membahas mengenai psikoanalisis yang fokus pada pembahasan mimpi. Mimpi yang dimaksud adalah mimpi yang dijelaskan melalui kisah mimpi Nabi Yusuf As.

Mimpi yang dialami Nabi Yusuf yang merupakan kisah yang dijelaskan secara detail dalam al-Qur’an. Menurut Imam Ghazali dalam bukunya Nah}wa Tafsir Maudhû’iy li Suwar al-Qur’an al-Karim, beliau menyatakan bahwa Nabi Yusuf merasa bahwa dia memiliki peranan yang disiapkan oleh Allah. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain Nabi Yusuf lebih dekat dengan ayahnya (Nabi Ya’qub As). Agaknya, ketika itu Nabi Yusuf hatinya berbisik mengenai warisan kenabian yang akan jatuh kepadanya. Dugaan tersebut yang dialami Nabi Yusuf sebelum mengalami mimpi. Sehingga mimpinya berupa benda-benda mati yang sangat mustahil untuk melakukan sesuatu seperti halnya orang yang berakal yaitu bersujud atau tunduk. Yang mana mimpi tersebut memberikan isyarat atas kemuliaan Nabi Yusuf. 4

3 Muhammad Hadi Ma’rifat, Kisah dalam al-Qur’an fakta atau metafora, terj. Azam Bahtiar, (Tk:Penerbit Citra, 2013), 28-39.

4 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, vol 6 (Jakarta:

Lentera Hati, 2002), 395.

(15)

Dalam islam, mimpi dapat menjadi petunjuk tentang adanya kabar gembira atau peringatan adanya suatu bahaya. Bahkan mimpi itu sebagai wahyu atau ilham dari Allah SWT bagi para nabi, sufi dan orang-orang shalih. Mimpi itu yang memang diakui kebenarannya dalam al-Qur’an.

Mimpi mereka mengandung nilai kebenaran bahkan kesakralan.5

Namun pemahaman mengenai mimpi itu awalnya hanya sebagai bunga tidur saja seperti yang tertanam dalam benak masyarakat. Bahkan menurut rakyat jerman mimpi itu hanya bualan belaka yang terkadang berupa mimpi baik dan mimpi buruk. 6 Mimpi-mimpi tersebut terkadang tidak hanya dialami sekali saja bahkan berulang-ulang kali dengan mimpi yang sama ataupun mimpi yang berbeda tetapi saling berkaitan. Berbicara mengenai mimpi yang berulang-ulang, Dalam perjanjian Lama di tegaskan bahwa raja bermimpi dua kali, sekali mimpikan sapi dan dikali lain yaitu satu tangkai dengan tujuh bulir gandum [kejadian 41: 5].7

Berbicara mengenai mimpi dalam al-Qur’an merupakan mimpi yang memiliki unsur kebenaran. Baik itu sebagai wahyu ataupun hanya sebagai peringatan saja. Adanya mimpi yang benar sebenarnya juga meyakini adanya mimpi yang tidak benar. Hal itu yang dibahas oleh para ulama seperti Abdul Mun’im Badar dan Ibnu Sirin dalam kitabnya yang berjudul “Tafsir al- Ah}lâm min Wah}yu al-Dîn wa al-‘Ilmu” dan Thawil dalam kitabnya “At- Tanabbu’ bi al-Ghayb”. Bahwasannya mimpi diklasifikasikan menjadi

5 Ade Armando, dkk, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, tt), 56.

6 Wolfgang Bock, Menafsir mimpi, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 15.

7 Shihab, Tafsir al-misbah, vol 6, 455.

(16)

mimpi sebagai perwujudan wahyu, mimpi yang benar, mimpi yang kemungkinan benar dan kemungkinan salah bahkan ada mimpi yang tidak benar.

Mimpi-mimpi yang dijelaskan di atas dikatakan berasal dari Allah, malaikat, bahkan jiwa dan setan. Telah dijelaskan bahwa mimpi yang berasal dari Allah dan dari malaikat hanya dialami oleh para Nabi yaitu sebagai wahyu baginya. Mimpi yang berasal dari jiwa maupun setan merupakan mimpi yang tidak mengandung makna dan hanya merupakan sebuah godaan.8 Oleh karena itu, pengkajian mengenai mimpi yang mengacu pada al-Qur’an dan hadits melalui kisah-kisah mimpi yang telah disebutkan di atas sangat dibutuhkan. Supaya seseorang tidak asal menakwilkan mimpi disebabkan mereka mengetahui asal mimpi tersebut.

Dari beragam mimpi tersebut banyak yang menakwilkan mimpi dengan mengacu pada buku-buku tafsir mimpi namun tak jarang yang menakwilkannya sendiri. Padahal menurut para pakar ilmu jiwa analisa, mimpi menurut mereka sangat berkaitan dengan keseharian orang tersebut ketika dalam keadaan sadar.9 Sehingga mimpi itu tidak dapat diinterpretasikan sesuai dengan interpretasi pada umumnya. Karena keseharian seseorang berbeda-beda. Sehingga nantinya akan berdampak negatif terhadap diri seorang yang bermimpi.

8 Amin An-Najjar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf. terj. Hasan Abrori, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2004), 131-138.

9 Ibid, 139.

(17)

Penakwilan mengenai mimpi manusia selain Nabi yang mimpi bertemu dengan Allah atau malaikat telah dijelaskan oleh Ibnu Sirin melalui penjelasan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam kitab Tafsir al-Ah}lâm.10 Terkadang orang yang bermimpi demikian salah dalam menakwilkannya sehingga menganggap bahwa hal tersebut merupakan wahyu baginya seperti kisah-kisah Nabi palsu yang mengaku mendapat wahyu melalui mimpi meskipun ada juga yang mengatakan mendapat wahyu dari bisikan-bisikan saja. Karena mimpi merupakan salah satu dari empat puluh enam sifat kenabian.11 Tidak sedikit yang mengaku sebagai nabi bahkan pada zaman Rasulullah pun telah banyak yang mengaku sebagai nabi seperti Al-Aswad Al-Ansi dan Musailamah. Bahkan masa setelah itu sampai saat ini.12

Sedangkan pembahasan mimpi menurut psikoanalisis, yang mana mimpi yang akan dibahas yaitu tentang cara kerja mimpi. Bahwa menurut Freud (pakar psikoanalisis) mimpi merupakan petunjuk berharga untuk memahami cara kerja pikiran bawah sadar.13

Melihat dari beberapa kisah mengenai mimpi. Ketika mimpi berkaitan dengan sesuatu seperti ilham, wahyu ataupun peringatan, seakan- akan mimpi merupakan kejadian yang mistis dan mengandung kebenaran.

10 Muhammad bin Sirin, Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. M.Syihabuddin dan Asep Sopian (Jakarta: Gema Insani, 2004), 25.

11 Seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim, Bukhori dan Tirmidzi yang berbunyi:

Mimpi yang benar merupakan bagian dari 46 cabang kenabian”. (HR. Muslim, Bukhori dan Tirmidzi). Lihat pada Armando, Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, 56. Lihat juga Al-Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul Lathif, Ringkasan Shohih al-Bukhori, terj. Cecep Syamsul Hari dan Tholib anis, (Bandung: Mizan, 1997), 903.

12 Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, Mengungkap Berita Besar dalam Kitab Suci terj.

Subhanur (Solo: Tiga Serangkai, 2006), 30.

13 Matt Jarvis, Teori-teori Psikologi: Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan &

Pikiran Manusia,, terj.SPA-Teamwork (Bandung: Nusa Media, 2012), 61.

(18)

Namun ketika mimpi sebagai produk psikis, mimpi merupakan refleksi daripada pikiran manusia, atau perbuatannya, atau perilaku akhlaknya sewaktu ia dalam keadaan sadar. Kesemuanya itu dapat direfleksikan dikala seseorang sedang tidur melalui ruh-ruh samawi (langit).14 Sama halnya seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud mengenai teori mimpinya.15

Psikoanalisis Freud paling terkenal disebabkan oleh teorinya yaitu teori mimpi.16 Pembahasan mengenai Psikoanalisis ini yang menjadi landasan bagi teori mimpi Freud. Yaitu melalui pemahamannya tentang id, ego dan super ego. Teori psikoanalisis ini kemudian akan dikaitkan dengan al-Qur’an. Dengan menggambarkan kondisi material atau setting historis yang terjadi pada Nabi Yusuf As sebelum mereka mengalami mimpi yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan dikaji dengan teori psikoanalisis.

Maka dari itu, implikasi teori psikoanalisis terhadap mimpi Nabi Yusuf As dapat memberikan pengetahuan akan adanya kondisi psikologis yang mempengaruhi beliau dalam bermimpi. Selain mimpi yang Nabi Yusuf As alami tersebut memang merupakan wahyu dari Allah jika kita lihat dari sisi pengetahuan keagamaan.

Begitu juga dengan mimpi-mimpi manusia pada zaman sekarang berbeda dengan mimpi pada zaman para nabi. Hal tersebut membutuhkan pengkajian tentang teori psikoanalisis, yang mana implikasi teori psikoanalisis terhadap kisah mimpi dalam al-Qur’an bertujuan untuk

14 An-Najjar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf, 133.

15 Jarvis, Teori-teori Psikologi, 61.

16 Ibid, 81.

(19)

mengetahui perbedaan antara kisah mimpi dalam al-Qur’an (seperti dalam kisah mimpi Nabi Yusuf As) yang dikaji menurut ulama tafsir dan pakar psikoanalisis. Agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan sosial yang telah dikemukakan di atas. Karena dengan mengkaji kisah mimpi Nabi Yusuf As melalui kedua disiplin ilmu tersebut, mimpi yang dialami oleh manusia zaman sekarang dapat dikategorikan terhadap mimpi yang semestinya (tidak salah dalam menginterpretasikan mimpi). Karena manusia zaman sekarang bukan lagi manusia pada zaman nabi yang mimpinya memiliki unsur kebenaran.

B. Fokus Kajian

Rumusan masalah dalam penelitian pustaka disebut dengan istilah fokus kajian. Bagian ini merupakan pengembangan dari uraian latar belakang masalah yang menunjukkan bahwa masalah yang akan di telaah memang belum terjawab atau belum dipecahkan secara memuaskan.17 Bagian ini mencoba memformulasikan secara ringkas, jelas dan tajam tentang permasalahan utama yang ada di latar belakang masalah.18 Adapun pokok permasalahan yang dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran umum tentang mimpi?

2. Bagaimana kisah mimpi Nabi Yusuf As dalam al-Qur’an menurut beberapa ulama tafsir?

17 Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Jember (jember: IAIN Jember press, 2015), 51.

18 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), 338.

(20)

3. Bagaimana implikasi studi psikoanalisis Sigmund Freud terhadap kisah mimpi Nabi Yusuf As?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melaksanakan penelitian.19 Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian.20 Sesuai dengan apa yang telah kami sajikan pada fokus kajian diatas dapat kita tarik beberapa tujuan dalam penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami gambaran umum tentang mimpi.

2. Untuk mengetahui dan memahami kisah mimpi Nabi Yusuf As dalam al- Qur’an menurut beberapa ulama tafsir.

3. Untuk mengetahui dan memahami implikasi studi psikoanalisis Sigmund Freud terhadap kisah mimpi Nabi Yusuf As.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi, dan masyarakat secara keseluruhan.21 Adapun manfaat penelitian ini, antara lain:

19 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Jember, 52.

20 Bahdin Nur Tanjung dan Ardial, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal, Skripsi dan Tesis dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah) (Jakarta: Kencana, 2010), 57.

21 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Jember, 52.

(21)

1. Manfaat Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan tentang “Kisah Mimpi Nabi Yusuf As : Studi Psikoanalisis Sigmund Freud”.

2. Manfaat Praktis a) Bagi Penulis

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan baru dan membuka tabir penghalang akan kegelisahan akademik penulis mengenai kajian tafsir yang terfokus pada kisah mimpi Nabi Yusuf As yang dikaji dengan teori psikoanalisis.

b) Bagi IAIN Jember

Dalam Penelitian kali ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan yang bermanfaat tentang kajian keislaman khususnya keterlibatan kajian psikologi (psikoanalisis) terhadap kajian tafsir. Agar hal tersebut dapat menstimulus adanya pengembangan kajian keilmuan di IAIN Jember khususnya fakultas Ushuluddin, Adab dan humaniora yang tidak hanya dalam lingkup kajian tafsir bahkan juga dalam lingkup disiplin ilmu yang lain.

c) Bagi Masyarakat umum

Penelitian ini dikaji dengan tujuan dapat memberi pemahaman mengenai kisah mimpi dalam al-Qur’an dan dari segi psikologisnya.

Sehingga pemahaman ini dapat memberi solusi bagi permasalahan

(22)

sosial seperti yang dikemukakan pada latar belakang. Yaitu memberikan pemahaman mengenai asal mula dan interpretasi mimpi, sehingga tidak terjadi penyimpangan akidah.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.22

1. Kisah

Cerita tentang kejadian (riwayat dsb) dalam kehidupan seseorang dsb; kejadian (riwayat dsb).23 Kisah yang akan dijelaskan pada penelitian kali ini adalah kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an. Sebagaimana di dalam al-Qur’an bahwa kisah itu disebut dengan Qishshah (ةَّصِق) yang berarti mengikuti jejak, menceritakan, atau menjelaskan.24

2. Mimpi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mimpi adalah sesuatu yang dilihat atau dialami dalam tidur atau angan-angan.25 Namun menurut kamus psikologi mimpi adalah serangkaian pengalaman halusinasi dengan tingkat kohesi tertentu, akan tetapi sering kacau dan hebat, yang terjadi dalam kondisi tidur dan kondisi serupa itu.26

22 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Jember, 52.

23 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 572

24 M. Quraish Shihab, dkk, Ensiklopedia Al-Qur’an: Kajian Kosa Kata (Jakarta: Lentera Hati, 2007), 765

25 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 744

26 James Drever, Kamus Psikologi, (Tk: BINA AKSARA, 1986), 118

(23)

3. Nabi Yusuf As

Seorang nabi dan rasul Tuhan. Ia adalah satu dari dua belas putra Nabi Ya’qub As. Ayahnya mempunyai empat orang istri, yaitu Rakhel, Lea, Bilha dan Zilpa. Dengan Rakhel istri paling awal dari ayah beliau tetapi baru bisa hamil belakangan pada usia sudah tua, dilahirkan ia (Yusuf) dan Benyamin. Yusuf dilahirkan di Harran (Siria Utara) dan diperkirakan hidup sekitar abad ke 17/16 SM.27

4. Studi

Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), studi adalah penelitian ilmiah, kajian, telaahan.28 Selain itu kata studi juga merupakan kata serapan dari bahasa inggris yaitu Study yang berarti belajar.29

5. Psikoanalisis

Psikoanalisis adalah satu sistem psikologi yang diarahkan pada pemahaman, penyembuhan dan pencegahan penyakit-penyakit mental.

Seperti yang difikirkan Sigmund Freud, psikoanalisis merupakan suatu sistem dinamis dari psikologi, yang mencari akar-akar tingkah laku manusia di dalam motivasi dan konflik yang tidak disadari.30

27 Harun Nasution, dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), 993.

28 Tim Penyusun Kamus Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 1093

29 Surawan Martinus, Kamus Kata Serapan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), 597.

30 James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, ter. Kartino-Kartono, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), 393. Dalam buku Sigmund Freud, Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah, terj. K. Bertens, (Jakarta: PT. Gramedia, 1979), xii. Psikoanalisa merupakan suatu pandangan baru tentang manusia, dimana ketidaksadaran memainkan peranan sentral.

(24)

6. Sigmund Freud

Sigmund Freud (nama aslinya Sigismund Schlomo)31 adalah seorang dokter, psikiatris, neurologi yang menaruh perhatian besar pada pengertian dan pengobatan ganggguan-gangguan mental.32 Freud adalah pendiri psikodinamika terhadap psikologi yang disebut psikoanalisa.33 Beliau lahir pada pukul 06.30 tanggal 6 mei 1856 di Freiburg, Moravia dan meninggal pada tanggal 23 september 1939 di London.34

31 Sigmund Freud, Kenangan Masa Kecil Leonardo da Vinci, terj. Yuli Winarno (Yogyakarta:

Penerbit Jendela, 2002), catatan kaki.

32 H. Ahmad Fauzi, Psikologi Umum untuk IAIN, STAIN, PTAIS (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), 27.

33 Jarvis, Teori-teori Psikologi, 46.

34 Ernest Jones, Hidup dan Karya Sigmund Freud, terj. Kardono (Yogyakarta: IRCiSoD, 2015), 28. Lihat juga, Freud, Kenangan Masa Kecil Leonardo da Vinci, xi dan xxix. Lihat juga, Freud, Memperkenalkan Psikoanalisa: Lima Ceramah, xix. Lihat juga, Agus Sujanto, Psikologi Umum (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 128. Dalam buku ini menyebutkan tempat kelahiran Freud yaitu di Cekoslavia.

(25)

A. Kajian Kepustakaan a. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan. Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan perbedaan penelitian yang hendak dilakukan.1

Adapun beberapa penelitian mengenai mimpi dan kisah mimpi Nabi Yusuf As yang juga merupakan kisah pemimpi dalam al-Qur’an yang telah dilakukan sebelumnya yang berupa skripsi, tesis maupun disertasi, diantaranya seperti skripsi yang disusun oleh Syahbudi yang berjudul “Mimpi dalam Islam”.2 Penelitian yang terfokus pada masalah mimpi yang kemudian di bahas dalam berbagai perspektif. Seperti perspektif al-Qur’an, hadits, dan mimpi dalam fenomena keagamaan maupun kehidupan. Dapat disimpulkan bahwa mimpi yang dijelaskan dalam penelitian ini adalah mimpi secara umum yang memacu pada al- Qur’an dan hadits.

1Tim penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IAIN Jember (jember: IAIN Jember press, 2015), 52.

2 Syahbudi, “Mimpi dalam Islam”, (Skripsi, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001)

(26)

Tesis yang disusun oleh Suroso yang berjudul “Mimpi dalam Al- Qur’an dan As-sunnah (Studi Komparasi atas Pemikiran Ibnu Sirin dan Ibnu Hajar al-Asqalani)”.3 Beliau dalam menyusun tesisnya tersebut, menjelaskan mimpi menurut al-Qur’an dan hadits. Membandingkan masalah mimpi menurut al-Qur’an dan hadits, yang dalam hal ini beliau membandingkan penjelasan dari dua tokoh yaitu Ibnu Sirin yang menjelaskan mimpi menurut al-Qur’an dan Ibnu Hajar al-Asqalani yang menjelaskan mimpi menurut tinjauan hadits. Dalam tesisnya ini, juga tertera sekelumit pendapat Freud dalam memaparkan masalah mimpi.

Selain itu, beliau memberikan penjelasan bagaimana seharusnya mimpi itu dita’wilkan sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan hadits.

Tesis yang disusun oleh Habibullah Nuruddin yang berjudul

“Mimpi dalam Al-Qur’an (Pendekatan Psikologi Islam)”.4 Penelitian dalam tesis ini merupakan pengkajian mengenai mimpi dalam al-Qur’an yang kemudian ditinjau dari aspek psikologi islam. Namun, dalam penelitian ini mimpi juga dikaitkan dengan pembahasan tentang ruh sebagaimana ilmuwan muslim menjelaskan perihal mimpi dengan landasan keislaman. Selain itu, pembahasan mimpi ini membahas tentang macam-macam mimpi yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan kisah-kisah mimpi dalam al-Qur’an. Meskipun penelitian ini difokuskan pada macam-macam mimpi yang ditinjau dari psikologi islam bukan terfokus

3 Suroso, “Mimpi dalam Al-Qur’an dan As-sunnah (Studi Komparasi atas Pemikiran Ibnu Sirin dan Ibnu Hajar Al-Asqalani”, (Tesis, IAIN Walisongo, Semarang, 2013)

4 Habibullah Nuruddin, “mimpi dalam al-Qur’an (pendekatan Psikologi islam)”, (Tesis UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2016)

(27)

pada kisah-kisah mimpi yang diuraikan kemudian ditinjau dari sisi psikologi islam.

Tesis yang dibukukan milik Ali Imron M.Si yang berjudul

“Semiotika Al-Qur’an Metode dan Aplikasi terhadap Kisah Yusuf”.5 Buku ini menjelaskan secara rinci dan sistematis mengenai kisah Nabi Yusuf As dengan pendekatan semiotika. Selain itu juga pembahasannya yang juga mengutip beberapa tafsir klasik dan juga kontemporer.

Tesis yang disusun oleh Dzulhaq Nurhadi yang berjudul “Nilai- nilai Pendidikan Kisah Yusuf As dalam Al-Qur’an”.6 Dalam penelitian ini, membahas mengenai nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kisah Nabi Yusuf As yang mana menjadi solusi bagi persoalan masyarakat yang ada mengenai nilai-nilai pendidikan keagamaan. Dan dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa dalam kisah Nabi Yusuf As lebih ditekankan pada sisi keagamaan dari pada sisi kepribadiannya.

Skripsi yang disusun oleh Suroso yang berjudul “ Ta’wil Mimpi sebagai Materi Bimbingan Konseling Islam (Studi Komparasi Pandangan Ibnu Sirin dengan Teori Psikoanalisa Sigmund Freud)”.7 Penelitian ini membahas mengenai ta’wil mimpi yang kemudian digunakan sebagai materi untuk bimbingan konseling islam. Yang mana pena’wilan mimpi

5 Ali Imron, Semiotika Al-Qur’an Metode dan Aplikasi terhadap Kisah Yusuf, (Yogyakarta:

Teras, 2011)

6 Dzulhaq Nurhadi, Nilai-nilai Pendidikan Kisah Yusuf As dalam Al-Qur’an, (Tesis, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2011)

7 Suroso, “Ta’wil Mimpi sebagai Materi Bimbingan Konseling Islam (Studi Komparasi Pandangan Ibnu Sirin dengan Teori Psikoanalisa Sigmund Freud)”, (Skripsi, IAIN Walisongo, Semarang, 2005)

(28)

yang terfokus pada perbandingan pena’wilan mimpi menurut Ibnu Sirin dan Sigmund Freud.

Sedangkan penelitian serupa yang membahas tentang kajian psikoanalisis baik terhadap mimpi maupun aspek yang lain diantaranya adalah skripsi yang disusun oleh Ismi Damayanti yang berjudul “Mimpi sebagai Qualia Kesadaran Melalui Interpretasi Mimpi Sigmund Freud”.8 Dalam penelitian ini, tidak lagi dibahas mengenai mimpi menurut pandangan islam (Al-Qur’an dan hadits). Akan tetapi lebih terfokus pada mimpi berdasarkan tinjauan psikologis, dalam hal ini penelitian yang dilakukan berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund freud. Tidak hanya menjelaskan bagaimana teori mimpi freud, tetapi bagaimana relasi antara mimpi dan kesadaran dalam bentuk qualia yang kemudian dijelaskan dengan interpretasi mimpi Freud.

Tesis yang disusun oleh Karmila A.s. Wellem yang berjudul,

“Ambivalensi Diri Tokoh Utama terhadap Kematian dalam Novel A Monster Calls Karya Patrick Ness: Sebuah Kajian Psikoanalisis”. Kajian psikoanalisis terhadap tokoh utama pada sebuah novel. Dalam penelitian ini teori psikoanalisis tentang alam sadar dan alam bawah sadar yang mempengaruhi diri seorang tokoh utama tentang kematian. Bahwa alam sadarnya menerima akan adanya kematian sedangkan alam bawah sadar

8 Ismi Damayanti, “Mimpi sebagai Qualia Kesadaran Melalui Interpretasi Mimpi Sigmund Freud”, (Skripsi, Universitas Indonesia, Jakarta, 2012)

(29)

yang takut akan kematian dan tidak menerima adanya kematian tersebut.9

Sepanjang pengetahuan penulis, dari beberapa penelitian yang berupa buku, skripsi, tesis maupun disertasi yang disebutkan di atas maupun yang tidak. Mengenai penelitian al-Qur’an yang kemudian disandingkan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud memang telah ada dan banyak diminati untuk dijadikan suatu penelitian. Akan tetapi, peneliti tidak menemukan penelitian yang mencoba membahas secara khusus tentang kisah mimpi Nabi Yusuf As yang kemudian dikaji melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud.

b. Kajian Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

Dalam hal ini, teori-teori yang akan digunakan sebagai pisau analisis yaitu teori psikoanalisis milik Sigmund Freud yang memang pencetus pertama.10

9 Karmila A.s. Wellem, Ambivalensi Diri Tokoh Utama terhadap Kematian dalam Novel A Monster Calls Karya Patrick Ness: Sebuah Kajian Psikoanalisis, (Tesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2016)

10 Howard S. Friedman dan Miriam W. Schustack, Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern Edisi Ke-3 Jilid 1, terj. Fransiska Dian Ikarini, dkk. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008), 129.

Lihat juga, Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Psikologi Kepribadian 1: Teori-teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus MSc (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 178.

(30)

Teori Psikoanalisis Sigmund Freud 1. Biografi Sigmund Freud (1856-1939)

Sigismund (Sigmund) Freud nama aslinya adalah Sigismund Schlomo Freud. Ia adalah seorang ahli saraf asal austria yang dikenal sebagai bapak psikoanalisis.11 Dia lahir di freiburg, Moravia, pada pukul 6.30 pagi, tanggal 6 mei 1856, dan wafat di jalan Mansfield Gardens, london, 23 september 1939. Ayah freud bernama Jakob Freud (1815-1896) dan ibunya yang bernama Amalie Nathsnsohn (1835-1930).12 Akan tetapi hampir selama 80 tahun ia tinggal di Wina dan meninggalkan kota itu hanya ketika Nazi menyerang Austria. Sebagai seorang pemuda ia memutuskan ingin menjadi seorang ilmuwan dan dengan tujuan ini di benaknya, ia memasuki sekolah kedokteran di Universitas Wina tahun 1873 dan ia tamat 8 tahun kemudian.

Freud tidak pernah berniat untuk membuka praktik dokter tetapi karena imbalan yang kecil untuk seorang ilmuwan, kesempatan yang terbatas untuk maju secara akademik bagi seorang yahudi13 dan

11 Eka Nova Irawan, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi dari Klasik sampai Modern, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2015), 62.

12 Ernest jones, Hidup dan Karya Sigmund Freud, terj. Kardono, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2015), 28.

13 Freud sangat setia terhadap identitas Yahudi sekuler yang berpengaruh secara signifikan dalam membentuk pandangan moral dan intelektualnya. Terutama berkaitan dengan pemikiran intelektual non-konformisme. Identitas Yahudi juga memiliki pengaruh besar dalam pandangan psikoanalitik Freud, terutama dalam hal nilai-nilai rasional. Irawan, Buku pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi, 64. Meskipun latar belakang keluarga Freud yang beragama yahudi, akan tetapi kenyataannya Freud menjadi seorang atheis. Hal itu dinyatakan dengan dua jenis pengalaman “antireligius” sebagaimana kebenciannya pada musik menciptakan impresi mendalam bagi Freud tehadap masa lalunya: pengalaman-pengalaman ritualisme dan pengalaman anti-semitik. Pengalaman-pengalaman dengan ritualisme katolik.

(31)

kebutuhan-kebutuhan keluarganya yang bertambah telah memaksanya terjun membuka praktik privat. Disela-sela praktiknya, ia menyempatkan diri meneliti dan menulis, dan prestasi-prestasinya sebagai seorang peneliti kedokteran, menyebabkan ia mendapat reputasi yang kokoh.

Minat freud pada neurologi menyebabkan ia menspesialisasikan diri di bidang perawatan gangguan-gangguan saraf, sebuah cabang ilmu kedokteran yang ketinggalan di tengah gerak maju di kalangan seni penyembuhan selama abad XIX. Pada 1885, Freud menerima tawaran dari University of Vienna untuk belajar di luar negeri. Freud belajar selama satu tahun pada psikiater perancis yang terkenal, Jean Charcot, yang menggunakan hipnosis untuk menyembuhkan histeria. Karena ia tidak yakin kemudian ia mendengar metode baru yaitu katarsis yang dikembangkan oleh seorang dokter wina, Joseph Breuer. Ia mencobanya dan melihat bahwa cara itu efektif. Breuer dan freud bekerjasama menulis

Seorang perempuan tua katolik ceko yang mendidiknya dan menanamkan tentang surga dan neraka serta penebusan dan kebangkitan secara obsesif.

Pengalaman dengan anti-semitik Katolik. Freud menganggap dirinya seorang Yahudi dan memang dibuktikan oleh fakta. Namun ia merasa sangat tersiksa dengan kenyataan itu, kendati ia cukup jelas memahami pelajaran-pelajaran di sekolah keduanya dan jarang menemukan pertanyaan. Sebagai pendatang di sekolah pertama dan keduanya, posisinya serupa dengan Karl Marx. Dia hanya memiliki sedikit teman Yahudi: semua jenis penghinaan dari “orang-orang kristen” anti-semitik telah menjadi kehidupan sehari-harinya. Bahkan hinaan akan Yahudi terhadapnya dari ayahnya dan juga dia merasa asing di perguruan tinggi karena dia seorang Yahudi. Hans Kung, Ateisme Sigmund Freud, terj. Edi AH Iyubenu, (Yogyakarta: PELANGI, 2016), 21.

(32)

beberapa dari kasus-kasus histeria mereka yang berhasil disembuhkan dengan teknik pengungkapan.14

Breuer sepakat menerbitkan buku bersama Freud yang berjudul Studies on Hysteria (Breuer dan Freud, 1895/1955). Di buku ini, Freud memperkenalkan istilah “Psychical analysis” (analisis psikis), dan beberapa tahun kemudian dia mulai menyebut pendekatannya “psycho-analysis” (psikoanalisis).15

Akan tetapi kedua orang tersebut segera berbeda pandangan mengenai peranan faktor seksual dalam histeria. Sejak itu Freud praktis bekerja sendirian mengembangkan ide-ide yang menjadi dasar teori psikoanalitik dan yang mencapai puncaknya dalam penerbitan hasil karya besar pertamanya, The Interpretation of Dream. Dalam waktu singkat Freud dikelilingi oleh sekelompok murid yang berasal dari berbagai bangsa, diantaranya adalah Ernest Jones, Carl Jung dari Zurich, A.A. Brill dari New York, Sandor Ferenczi dari Budapest, Karl Abraham dari Berlin, Alfred Adler dari Wina. Jung dan Adler kemudian menarik diri dari kelompok tersebut dan mengembangkan pandangan tandingan. 16

14 Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Psikologi Kepribadian 1: Teori-teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus MSc (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 61.

15 Jess Feist dan Gregory J. Feist, Theories of Personality Edisi Keenam, terj. Yudi Santoso, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 19.

16 Hall dan Lindzey, Psikologi kepribadian 1, 61. Buku Interpretation of Dream adalah hasil dari analisis dirinya, banyak mimpi-mimpi Freud yang tercantum di dalamnya dengan menyamarkan namanya di balik nama-nama fiktif. Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 20

(33)

Setelah beberapa lama membuka praktik neurologi dan direktur sebuah taman kanak-kanak di Berlin, dia kembali ke Wina dan menikah dengan Martha Bernays yang telah bertunangan dengannya beberapa tahun sebelumnya.17

Freud sangat mengagumi guru filsafatnya, Franz Brentano, yang dikenal berkat teori tentang persepsi dan introspeksi. Ia juga mengagumi Theodor Lipps yang memiliki konsep kesadaran empati.

Freud kala itu memikirkan adanya alam bawah sadar yang dibantah oleh Bretano. Namun, ia tetap mempertahankan pendapatnya. Ia memanfaatkan karya charles darwin dan Eduard von Hartmann untuk meyakinkan diri tentang alam bawah sadar.18

Adapun karya-karya penting Freud yang membantu pengukuhan fondasi psikoanalisis, seperti On Dreams (1901/1953) yang ditulis karena Interpretation of Dreams gagal menarik banyak minat, Psychopayhology of Everyday Life (1901/1960), yang mengenalkan dunia kepada selip-selip Freudian (Freudian slips), Three Essays on the Theory of Sexuality (1905/1953b), yang menjadikan seks sebagai fondasi awal psikoanalisis, dan Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905/1960) yang mengusulkan bahwa gurauan, seperti halnya mimpi dan selip-selip Freudian,

17Feist dan J. Feist, Teories of Personality, 35. Martha Bernays lahir pada tanggal 26 Juli 1861, lima tahun lebih muda dari Freud. Lihat pada jones, Hidup dan Karya Sigmund Freud, 112.

18 Irawan, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi, 63.

(34)

memiliki makna tak sadar. Publikasi buku-buku ini membantu Freud mencapai sejumlah pengakuan lokal di lingkaran ilmiah dan medis.19 2. Teori Psikoanalisis

a. Tingkat-tingkat Kehidupan Mental

Kehidupan mental manusia itu dibagi menjadi dua yaitu alam bawah sadar dan alam sadar. Alam bawah sadar sendiri ternyata memiliki dua lagi tingkatan yang berbeda, alam bawah sadar sesungguhnya dan ambang-ambang kesadaran (preconscious). Adapun penjelasan mengenai tingkat-tingkat kehidupan mental tersebut, sebagai berikut:

1) Alam Bawah Sadar (Unconscious Mind)

Alam bawah sadar mengandung semua dorongan, desakan atau insting yang melampaui alam sadar kita dan memotivasi sebagian besar kata-kata, perasaan, dan tindakan kita. Meskipun kita bisa sadar dengan perilaku-perilaku kita yang tampak namun, sering kali kita tidak menyadari proses- proses kejiwaan yang terjadi dibaliknya. Karena alam bawah sadar tidak dapat dijangkau namun, bagi Freud alam bawah sadar itu adalah penjelasan bagi makna di balik berbagai mimpi, selip-selip, dan jenis kelupaan tertentu, yang disebutnya sebagai efek dari sebuah represi. Mimpi berfungsi sebagai sumber material alam bawah sadar yang sangat kaya.

19 Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 21.

(35)

Proses-proses alam bawah sadar sering kali memasuki alam sadar namun hanya setelah disamarkan atau didistorsikan secara cukup untuk meluluskan diri dari sensor.

Freud menggunakan analogi penjaga atau sensor yang memblokir jalan antara alam bawah sadar dan ambang kesadaran dan mencegah memori-memori penghasil- kecemasan yang tidak diinginkan memasuki alam sadar.

Pada waktu memori-memori ini memasuki alam sadar, memori tersebut tidak dapat dikenali dalam bentuk sesungguhnya akan tetapi memori tersebut terlihat sebagai pengalaman yang relatif menyenangkan dan tidak mengancam. Di banyak kasus, imaji-imaji ini memiliki motif- motif seksual atau agresi yang kuat, karena perilaku seksual dan agresif kanak-kanak sering kali dihukum atau disupresi.

Hukuman dan supresi sering kali menciptakan rasa cemas, dan kecemasan pada gilirannya menstimulasi represi, yaitu memaksa pengalaman-pengalaman kecemasan yang tidak diinginkan tenggelam ke alam bawah sadar sebagai bentuk pertahanan diri terhadap rasa sakit akibat kecemasan tersebut.

Namun begitu, tidak semua proses alam bawah sadar muncul dari perepresian peristiwa-peristiwa pada masa kanak-kanak. Freud percaya bahwa satu porsi alam bawah

(36)

sadar berakar dari pengalaman-pengalaman pendahulu sebelumnya yang sudah diturunkan lewat ratusan generasi pengulangan. Dia menyebut imaji-imaji alam bawah sadar yang diwariskan ini sebagai warisan filogenetik (Philogenetic Endowment). Freud menggunakan konsep ini hanya sebagai alternatif terakhir.

Alam bawah sadar tidak pernah menjadi tidak aktif atau tertidur. Daya-daya dalam alam bawah sadar secara konstan berjuang untuk menjadi sadar dan kebanyakan berhasil, meskipun daya-daya ini tidak lagi tampak dalam bentuknya yang orisinal. Ide-ide dan imaji-imaji alam bawah sadar dapat dan kebanyakan sudah memotivasi tindakan manusia.

2) Ambang Kesadaran (Preconscious Mind)

Terkait erat dengan alam sadar adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra-sadar atau ambang kesadaran, yaitu apa yang kita sebut saat ini dengan

“kenangan yang sudah tersedia” (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dapat dipanggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walaupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah dipanggil lagi.20

20 Boeree, Personality Theories, 36.

(37)

Isi ambang kesadaran berasal dari dua sumber, yang pertama berasal dari persepsi-persepsi alam sadar, sebuah persepsi bersifat sadar hanya selama persepsi itu berada di periode transitoris namun, dia akan cepat berlalu ke ambang kesadaran ketika fokus perhatian kita bergeser ke ide-ide lain.

Sedangkan yang kedua berasal dari imaji-imaji alam bawah sadar. Freud percaya dapat menyelinap dari sensor seketat apa pun dan masuk ke ambang-kesadaran dalam bentuk samaran. Beberapa imaji ini tidak pernah menjadi alam sadar karena jika sampai imaji tersebut terkenali sebagai derivatif alam bawah sadar, maka diri pribadi akan mengalami naiknya tingkat kecemasan yang pada gilirannya akan mengaktifkan sensor final untuk merepresi imaji-imaji tersebut untuk kembali ke alam bawah sadar. Imaji-imaji lain dari alam bawah sadar memang berhasil mencapai alam sadar namun, hanya karena hakikat mereka yang berhasil disamarkan melalui proses mimpi, selip kata atau sebagai tindakan- tindakan pertahanan yang kompleks.21

3) Alam sadar (Conscious Mind)

Alam sadar adalah apa yang anda sadari pada saat-saat tertentu, pengindraan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, perasaan yang anda miliki. Alam sadar memainkan peran

21 Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 23.

(38)

relatif kecil dalam teori psikoanalisis. Hanya tingkat kehidupan mental inilah yang secara langsung bisa kita akses.

Ide-ide dapat mencapai alam sadar melalui dua jalan yang berbeda. Jalan pertama berasal dari sistem kesadaran mempersepsi (perceptual conscious), yang menatap ke dunia luar dan bertindak sebagai medium untuk mempersepsi stimulus-stimulus eksternal. Sumber kedua elemen-elemen alam sadar berasal dari dalam struktur mental dan meliputi ide-ide dari ambang kesadaran yang tidak mengancam, dan imaji-imaji alam bawah sadar yang berbahaya namun, sudah disamarkan.22

b. Struktur Kepribadian

Kepribadian tersusun dari 3 sistem pokok yang disebut dengan model struktural diantaranya it, I, dan above-I. Akan tetapi untuk selanjutnya, ketiga aspek kepribadian ini disebut id (it), ego (I), dan superego (above-I). Ketiga istilah ini memang tidak dipakai oleh Freud, melainkan ditambahkan oleh mereka yang menerjemahkan karya-karya Freud agar teorinya tampil lebih ilmiah.23

22 Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 24.

23 Matt Jarvis, Teori-teori Psikologi: Pendekatan Modern untuk Memahami Perilaku, Perasaan &

Pikiran Manusia, terj. SPA-Teamwork, (Bandung: Nusa Media, 2012), 48.

(39)

1) Id (aspek biologis)

Id merupakan sistem kepribadian yang asli; id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id merupakan reservoir energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjalankan kedua sistem yang lain. Id berhubungan erat dengan proses-proses jasmaniah dari mana id mendapatkan energinya. Freud juga menyebut id

“kenyataan psikis yang sebenarnya”, karena id merepresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif.

Id tidak bisa menanggulangi peningkatan energi yang dialaminya sebagai keadaan-keadaan tegangan yang tidak menyenangkan. Karena itu, apabila tingkat tegangan organisme meningkat, baik sebagai akibat stimulasi dari luar atau rangsangan-rangsangan yang timbul dari dalam, maka id akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan dan mengembalikan organisme pada tingkat energi rendah dan konstan serta menyenangkan. Prinsip reduksi tegangan yang merupakan ciri kerja id ini disebut prinsip kenikmatan (pleasure principle).

(40)

Untuk melaksanakan tugas menghindari rasa sakit dan mendapatkan kenikmatan, id memiliki dua proses. Kedua proses tersebut adalah tindakan refleks dan proses primer.

Pertama, Tindakan-tindakan refleks adalah reaksi-reaksi otomatik dan bawaan seperti bersin dan berkedip; tindakan- tindakan refleks itu biasanya segera mereduksikan tegangan.

Organisme dilengkapi dengan sejumlah refleks semacam itu untuk menghadapi bentuk-bentuk rangsangan yang relatif sederhana. Kedua, Proses primer menyangkut suatu reaksi psikologis yang sedikit lebih rumit. Ia berusaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tentang objek yang dapat menghilangkan tegangan tersebut. Misalnya, proses primer menyediakan khayalan tentang makanan kepada orang yang lapar. Pengalaman halusinatorik di mana objek-objek yang diinginkan ini hadir dalam bentuk gambaran ingatan disebut pemenuhan hasrat (wish-fulfillment). Contoh proses primer yang paling baik pada orang normal ialah mimpi di malam hari, yang diyakini oleh Freud selalu mengungkapkan pemenuhan atau usaha pemenuhan suatu hasrat. Halusinasi dan penglihatan pasien-pasien psikotik juga merupakan contoh proses primer.

Jelas, proses primer sendiri tidak akan mampu mereduksikan tegangan. Orang yang lapar tidak dapat

(41)

memakan khayalan tentang makanan. Karena itu, suatu proses psikologis baru atau sekunder berkembang, dan apabila hal ini terjadi maka struktur sistem kedua kepribadian, yaitu ego, mulai terbentuk.

2) Ego (aspek psikologis)

Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Seperti halnya, orang mencocokkan gambaran ingatan tentang makanan dengan penglihatan atau penciuman terhadap makanan yang dialaminya melalui pancaindera. Perbedaan pokok antara id dan ego ialah bahwa id hanya mengenal kenyataan subjektif-jiwa, sedangkan ego membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.

Ego dikatakan mengikuti prinsip kenyataan, dan beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Untuk sementara waktu, prinsip kenyataan menunda prinsip kenikmatan, meskipun prinsip kenikmatan akhirnya terpenuhi ketika objek yang dibutuhkan ditemukan dan dengan demikian tegangan direduksikan. Prinsip kenyataan sesungguhnya menanyakan apakah pengalaman benar atau

(42)

salah yakni, apakah pengalaman itu ada dalam kenyataan dunia luar atau tidak. Sedangkan prinsip kenikmatan hanya tertarik pada apakah pengalaman itu menyakitkan atau menyenangkan.

Proses sekunder adalah berpikir realistik. Dengan proses sekunder, ego menyusun rencana untuk memuaskan kebutuhan dan kemudian menguji rencana ini, biasanya melalui suatu tindakan, untuk melihat apakah rencana itu berhasil atau tidak. Untuk melakukan peranannya secara efisien, ego mengontrol semua fungsi kognitif dan intelektual;

proses-proses jiwa ini dipakai untuk melayani proses sekunder. 24

Ego disebut satu-satunya wilayah jiwa yang berhubungan dengan dunia eksternal dan menjadi pembuat- keputusan atau cabang eksekutif kepribadian, disebabkan ego sebagian sadar, sebagian ambang sadar, dan sebagian bawah sadar. Ego dapat membuat keputusan bagi masing-masing dari ketiga tingkatan mental ini. Ego sebagai eksekutif kepribadian, juga mengalami kesulitan dan menimbulkan tegangan berat atau kecemasan sehingga ego membutuhkan represi dan mekanisme-mekanisme pertahanan lainnya untuk membela diri dari tegangan berat ataupun kecemasan.

24 Hall dan Lindzey, Psikologi Kepribadian 1, 64-66.

(43)

3) Superego (aspek sosiologis)

Ketika anak-anak mendapatkan hadiah dan hukuman dari orang tua berarti mereka mulai belajar apa yang harus dilakukan untuk memperoleh kesenangan dan menghindari rasa sakit. Ini merupakan fungsi-fungsi ego yang utama karena anak-anak masih belum mengembangkan suara hati nurani (conscience) dan ideal ego (ego-ideal), itulah superego.

Ketika anak-anak memasuki usia 5 atau 6 tahun, mereka mulai mengidentifikasi diri dengan orang tua mereka dan belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Inilah asal usul superego. Dalam psikologi Freudian, superego, atau

“above-I” (sang aku tertinggi), merepresentasikan aspek moral dan ideal kepribadian dan dituntun oleh prinsip moralistik dan idealistik sebagai lawan bagi prinsip-prinsip kesenangan id dan prinsip-prinsip realitas ego.

Superego memiliki dua subsistem, suara hati nurani (conscience) dan ideal-ego (ego-ideal). Freud tidak membedakan dengan jelas dua fungsi ini, tetapi umumnya dia menulis kalau suara hati nurani dihasilkan dari pengalaman- pengalaman tentang hukuman karena perilaku yang tidak tepat dan menyatakan kepada kita apa yang tidak boleh dilakukan, sementara ideal-ego berkembang dari pengalaman-

(44)

pengalaman tentang penghargaan atas perilaku yang tepat dan

menyatakan pada kita apa yang mestinya dilakukan. 25 Fungsi-fungsi pokok superego adalah (1) merintangi

impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif, karena inilah impuls-impuls yang pernyataannya sangat dikutuk oleh masyarakat; (2) mendoromg ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan moralistis; (3) mengajar kesempurnaan. Jadi, superego cenderung untuk menentang baik id maupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri. Akan tetapi superego sama seperti id bersifat tidak rasional dan sama seperti ego, superego melaksanakan kontrol atas insting- insting. Tidak seperti ego, superego tidak hanya menunda pemuasan insting; akan tetapi superego tetap berusaha untuk merintanginya.26

Mereka berinteraksi dengan tiga tingkatan kehidupan mental sehingga ego memotong beragam tingkatan topografis dan memiliki komponen alam sadar, ambang kesadaran dan alam bawah sadar sekaligus, sementara superego hanya memiliki ambang kesadaran dan alam bawah sadar, dan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar.27

25 Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 27-28.

26 Hall dan lindzey, Psikologi Kepribadian 1, 67.

27 Feist dan J. Feist, Theories of Personality, 26.

(45)

Gambar kehidupan mental dan struktur kepribadian

c. Teori Seksual

Adapun teori seksual Freud menurutnya adalah insting hidup yang paling ditekankan. Selama tahun-tahun awal psikoanalisis, hampir segala sesuatu yang dilakukan orang dipandang bersumber pada maha dorongan ini (seks)28. Sebenarnya insting seks bukan tunggal melainkan banyak.

Artinya, ada sejumlah kebutuhan jasmaniah berlainan yang membangkitkan hasrat-hasrat erotik. Masing-masing hasrat ini bersumber pada bagian tubuh tertentu yang secara kolektif

28 Kritik paling keras terhadap Freud paling banyak ditujukan pada konsep seksualitasnya. Dalam teori Freud, segala sesuatunya, entah itu baik atau buruk, dikembalikan pada soal ekspresi atau represi nafsu seks. Namun teori Freud yang terlalu menitikberatkan pada seksualitas bukan tidak didasarkan pada fenomena seksualitas yang kasat mata dalam masyarakatnya.

Teorinya didasarkan pada intensnya usaha mengingkari seksualitas itu sendiri, khususnya di kalangan wanita kelas atas dan menengah. Yang sering kita lupa adalah perubahan dunia yang terjadi semenjak dua abad ini. Di masa itu para dokter dan pendeta merekomendasikan hukuman bagi pelaku masturbasi; bahwa kata “betis” atau “dada” dianggap cabul; bahwa wanita yang mengakui terangsang seksual dianggap telah melacurkan diri; dan banyak juga pasangan pengantin yang tidak tahu akan melakukan hal apa ketika malam pertamanya. Freud berjasa karena mampu melampaui sikap budaya seksual zamannya. Sehingga sebagian besar perubahan budaya, terutama budaya seksual, bertitik tolak dari karya-karya Freud sendiri.

Boeree, Personality theories, 66.

(46)

disebut daerah-daerah erogen. Suatu daerah erogen adalah bagian kulit atau selaput mukus yang sangat peka terhadap perangsangan dan yang bisa dimanipulasikan dengan cara tertentu akan menghilangkan perangsangan serta menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Daerah-daerah erogen yang dimaksud adalah bibir dan rongga mulut, dubur, dan organ-organ seks. Mengisap menghasilkan kenikmatan pada mulut (oral pleasure), eliminasi menghasilkan kenikmatan pada dubur (anal pleasure), dan memijit atau menggosok menghasilkan kenikmatan genital (genital pleasure). Pada masa kanak-kanak, insting-insting seksual itu relatif berdiri sendiri namun manakala orang mencapai pubertas, mereka cenderung menyatu dan bersama-sama menjalankan fungsi untuk tujuan reproduksi.29 d. Teori Mimpi

Freud terkenal menyebut mimpi sebagai perjalanan mewah untuk mendapatkan pengetahuan tentang aktivitas pikiran bawah sadar. Selain menjalankan fungsi-fungsi yang penting bagi pikiran bawah sadar, mimpi juga bertindak sebagai petunjuk berharga untuk memahami cara kerja pikiran bawah sadar. Dengan mengamati pengalamannya sendiri ketika mengalami mimpi, freud menyatakan bahwa mimpi sebagai

29 Hall dan Lindzey, Psikologi Kepribadian 1, 73.

(47)

pemenuhan keinginan (wish-fulfillment).30 Pemikiran ini dijabarkan oleh Freud, dengan membedakan isi yang jelas dalam suatu mimpi (apa yang diingat orang yang bermimpi) dengan isi yang tersembunyi (keinginan yang mendasar) konsepsi unsur mimpi menyatakan bahwa inti terpenting dan “pemikiran yang tepat” bukan berada pada unsur itu sendiri, tapi terletak pada sebuah pengganti dari apa yang diketahui orang yang bermimpi namun tidak bisa dimasukinya (isi yang tersembunyi atau laten dream-content). Isi yang jelas seringkali berdasarkan kejadian sehari-hari. Proses yang menerjemahkan keinginan yang mendasar menjadi isi yang jelas disebut pekerjaan mimpi (Dream-work). Sedangkan proses dari isi yang jelas menjadi isi yang tersembunyi disebut interpretasi mimpi (Dream- Interpretation).31

Selain Freud menyatakan bahwa mimpi sebagai pemenuhan kebutuhan. Freud juga mengungkapkan gejala yang umum setelah mengalami kejadian traumatis adalah mengalami kembali kejadian itu dalam bentuk mimpi yang jelas atau menakutkan. Menurut Freud memang tidak semua mimpi dapat ditafsirkan sebagai pemenuhan keinginan.32

30 Jarvis, Teori-teori Psikologi, 61.

31 Sigmund Freud, Psikoanalisis Sigmund Freud, terj. Ira Puspitorini, (Yogyakarta: Ikon Teralita, 2002), 178.

Gambar

Gambar kehidupan mental dan struktur kepribadian

Referensi

Dokumen terkait