• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Ritel Tradisional dan Modern

DINAMIKA BISNIS RITEL

A. Bisnis Ritel

4. Paradigma Ritel Tradisional dan Modern

konsumen dapat melihat, memilih dan menentukan produk yang akan dibeli oleh konsumen. Ritel juga mampu memenuhi kebutuhan konsumen dengan model pembayaran kredit sehingga dapat memilih dan memanfaatkan produknya sekarang dan melunasinya di kemudian hari.

e. Meningkatkan nilai produk dan jasa

Dengan kebutuhan konsumen yang variatif untuk memenuhi aktifitasnya, keberadaan ritel dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan produk-produk yang menunjang aktifitas konsumen secara menyeluruh sebab tidak semua produk dijual secara lengkap dan memenuhi kriteria kebutuhan konsumen. Peritel dapat mengambil posisi sebagai penyedia kebutuhan secara lengkap dan meningkatkan nilai produk dan jasa yang mereka tawarkan pada konsumen.

Saat peritel menjalankan fungsi-fungsi di atas maka ia telah benar-benar berinteraksi dengan konsumen akhir dan menambah nilai bagi produk dagangan dan memberikan pelayanan.

paradigma pengelolaan ritel tradisional disampaikan oleh Utami sebagai berikut:20

a. Kurang memilih lokasi

Faktor penting yang harus diperhatikan peritel adalah lokasi, saat lokasi sudah dipertimbangkan dengan seksama maka akan diikuti oleh investasi dan strategi yang komplek demi kesuksesan bisnis ritel yang ada. namun Paradigma pengelolaan ritel tradisional sering kali tidak mengindahkan lokasi strategis yang mendukung kesuksesan bisnis sebab terkendala modal. Peritel tradisional cenderung memilih dan memaksimalkan lokasi yang sudah ia miliki atau kebetulan telah tersedia, misalnya menjadikan lahan depan rumah menjadi kios atau outlet usaha ritelnya.

b. Tidak memperhitungkan potensi pembeli

Prediksi dan perhitungan potensi pembeli adalah faktor yang tidak boleh diabaikan dan bahkan saling berkaitan dengan faktor pemilihan lokasi. Banyaknya pembeli potensial yang memiliki daya beli di area kios itu didirikan tidak diperhatikan dengan seksama oleh peritel tradisional. Mereka abai akan banyaknya cara untuk mendeteksi potensi pembeli di sebuah wilayah untuk kebaikan bisnisnya.

c. Jenis produk dagangan yang tidak terarah

Daya tarik bisnis ritel bagi konsumen salah satunya adalah keanekaragaman produk dagangan, baik dari

20 Ibid., 9-10.

banyaknya varian merek untuk setiap kategori produk maupun jenis klasifikasi produk dagangan. Posisi tawar (bargaining position) dalam membangun relasi dengan pemasok (distributor) tidak dimiliki oleh peritel tradisional, akibatnya mereka tidak dapat berbuat banyak dalam pengelolaan produk dagangan mereka (merchandising) yang sesuai dengan segmen pasar, sehingga peritel tradisional hanya mampu mendisplay produk dagangan yang sesuai dengan modal dan perkiraan kebutuhan pasar semata, hal ini tentu berakibat pada terbatasnya varian produk dagangan.

d. Tidak ada seleksi merek

Banyak pelanggan ritel terpapar dengan iklan dan promosi dari produsen produk dagangan dengan merek- merek tertentu. Hal ini menjadikan pelanggan akan mencari produk tersebut pada ritel yang dianggap akan menyediakan merek-merek tersebut. Dalam hal ini, peritel tradisional terkendala dalam melakukan seleksi merek produk dagangan untuk menyediakan merek-merek favorit pelanggan sebab mereka (peritel tradisional) tidak mempunyai penawaran kuat dalam seleksi merek dagangan yang akan ditawarkan pada pelanggan.

e. Kurang memerhatikan pemasok

Pemasok yang baik adalah yang memerhatikan kualitas produk dagangan, kesinambungan pengiriman untuk menjaga ketersediaan produk dagangan di toko dan mekanisme pembayaran produk dagangan. Dalam konteks

ritel tradisional, ketiga hal ini kurang diperhatikan, khususnya dalam konteks jaminan kualitas dan kesinambungan pengiriman untuk ketersediaan barang.

Peritel tradisional cenderung mementingkan konteks mekanisme pembayaran produk dagangan yang lunak saat menyeleksi pemasok.

f. Pencatatan penjualan sederhana

Kendali dan evaluasi penjualan didapat dari pencatatan. Peritel tradisional biasanya hanya melakukan pencatatan sederhana dan bahkan ada yang tidak melakukan pencatatan.hal ini sebab para peritel tradisional kurang memahami pentingnya aspek pencatatan ini atau tidak mengetahui teknik pencatatan yang baik dan berkesinambungan.

g. Tidak melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk

Akibat dari ketiadaan pencatatan yang tidak terarah, maka peritel tradisonal dihadapkan pada kendala untuk melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk.

Evaluasi terhadap keuntungan per produk yang ditawarkan kepada pelanggan ini penting dilakukan untuk dapat menetapkan strategi pengelolaan ritel dengan lebih komprehensif.

h. Arus kas tidak terencana

Dalam hal kas keuangan, peritel tradisional biasanya mentolerir pelanggannya untuk tidak bayar secara tunai,

juga tercampurnya antara pembukuan kas toko dan keluarga, sehingga modal toko sering kali tersedot untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini tentu berdampak akan penjaminan ketersediaan dan keberagaman produk dagangan bagi pelanggan sebab ketidaksediaan dana tunai yang dimiliki.

i. Pengembangan bisnis tidak terencana

Rerata peritel tradisional tidak mempunyai rencana matang dalam mengembangkan bisnisnya, hal ini disebabkan oleh rendahnya kontrol dan mekanisme evaluasi usaha yang mereka melakukan.

Perubahan akan pola perilaku pelanggan perlu direspon oleh peritel secara aktif untuk mempertahankan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. Pelanggan akan memerhatikan nilai tambah dalam kenyamanan mereka melakukan aktifitas belanja. Hal ini sebab belanja saat ini merupakan aktifitas pemenuhan keberagaman kebutuhan dalam satu lokasi (one stop shopping) dan sarana rekreasi.

Paradigma ritel modern adalah pandangan yang menekankan pada pengelolaan ritel dengan pendekatan modern, di mana model bisnis ritel yang disiapkan oleh peritel berfokus pada bagaimana kebutuhan dan keinginan konsumen dipahami atau dipenuhi. Beberapa ciri paradigma

pengelolaan ritel modern disampaikan oleh Utami sebagai berikut:21

a. Lokasi strategis

Area lokasi untuk suatu perdagangan seperti mal akan memerhatikan beberapa aspek, di antaranya adalah kemudahan akses, keamanan lingkungan, dan fasilitas memadai yang memungkinkan pelanggan berbelanja one stop shopping. Peritel modern menyadari betul bahwa penetapan lokasi akan berimplikasi pada biaya investasi, hal ini merupakan penetapan atau keputusan yang berorientasi jangka panjang sehingga pemilihan lokasi strategis yang diprediksi dapat membuat pelanggan tertarik mampir merupakan rencana utama yang harus direalisasikan.

b. Prediksi cermat terhadap potensi pembeli

Prediksi dan pengukuran potensi pembeli adalah aspek penting dalam pengelolaan bisnis ritel modern. Dalam keputusan pemilihan lokasi, peritel harus mempertimbangkan dengan seksama potensi pembeli di area tersebut. Potensi pembeli dapat dilihat dan dievaluasi dari dua sisi, yaitu kuantitas (jumlah pembeli potensial) atau kualitas (kemampuan atau daya beli pembeli potensial).

c. Pengelolaan jenis produk dagangan terarah Hal strategis dan penting yang harus diperhatikan oleh peritel modern adalah pengelolaan jenis produk dagangan yang terarah. Hal ini akan berimplikasi terhadap

21 Ibid., 10-12.

strategi bauran ritel yang akan ditetapkan nantinya, di mana pengelolaan produk dagangan yang terarah tersebut disesuaikan dengan segmen pasar yang dilayani.

d. Seleksi merek yang sangat ketat

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan dalam hal penyediaan merek-merek favorit pelanggan, peritel modern sering kali menyiapkan merek-merek produk dagangan yang mempunyai pangsa pasar cukup besar, umumnya adalah lima merek teratas yang terdeteksi dalam data pengelolaan jenis produk dagangan terarah sebelumnya dan evaluasi per produk.

e. Seleksi ketat terhadap pemasok

Pemasok yang baik memerhatikan tiga hal yaitu;

kualitas produk, kesinambungan pengiriman untuk ketersediaan produk dagangan peritel di outletnya dan mekanisme pembayaran. Berbeda dengan peritel tradisional yang cenderung menitikberatkan pada mekanisme pembayaran lunak yang dianggap memudahkan dan menguntungkan, peritel modern lebih memusatkan pada kualitas dan kesinambungan pengiriman dalam menyeleksi pemasok. Posisi tawar yang dimiliki oleh peritel modern terhadap para pemasok cukup tinggi sebab pemasok bisa mendapat referensi untuk pengembangan produknya.

f. Pencatatan penjualan dengan cermat

Bisnis ritel adalah bisnis yang sangat detail dan hanya memiliki margin keuntungan sangat kecil merupakan

pemikiran dalam paradigma bisnis ritel modern. Oleh sebab itu, pencatatan penjualan secara cermat mutlak harus dilaksanakan. Penggunaan alat bantu semacam software yang memungkinkan untuk mengakumulasi ribuan catatan transaksi setiap hari sangat diutamakan. Kondisi ini mutlak dilakukan mengingat kuantitas produk dagangan yang mencapai ratusan tidak memungkinkan ditangani secara manual, terlebih pelanggan lebih nyaman saat kasir melayani dengan komputerisasi dari pada tulisan tangan sebab lebih cepat dan transparan.

g. Evaluasi terhadap keuntungan per produk

Evaluasi keuntungan per produk harus dilakukan oleh peritel modern untuk mengklasifikasi produk dagangan yang cepat terbeli dan yang lambat. Hal ini bermanfaat untuk menetapkan pengelolaan ritel secara komprehensif.

h. Arus kas terencana

Hal yang sangat penting dalam bisnis ritel adalah pengelolaan aliran dana tunai, sebab kesuksesan bisnis ritel tergantung pada ketersediaan produk dagangan dan keberagamannya yang mana ini harus didukung dengan ketersediaan dana tunai yang memadai. Apabila aliran dana tunai tidak terencana dengan baik maka arus ketersediaan produk dagangan juga akan mengalami kendala, maka peritel modern biasanya memisahkan antara uang untuk bisnis dan keluarga dengan arus kas bisnisnya terencana dengan baik.

i. Pengembangan bisnis terencana

Dalam jangka panjang, arah pengembangan bisnis peritel modern telah direncakan dengan baik. Hal ini berkaitan dengan investasi besar yang disiapkan dalam bisnis ritel modern maupun dukungan sistem informasi dan manajemen andal yang memungkinkan untuk pengembangan bisnis.

Secara singkat, berikut adalah tabel perbedaan paradigma pengelolaan bisnis ritel tradisional dan modern:

Tabel 2.1

Perbedaan Paradigma Pengelolaan Ritel Treadisional dan Modern Sumber : Utami (2018)

Ritel Tradisional Ritel Modern Kurang memilih lokasi Pemilihan lokasi sangat

diperhatikan Tidak memperhitungkan

potensi pembeli

Potensi pembeli terus diprediksi dan dievaluasi Jenis produk dagangan

tidak terarah

Jenis produk dagangan terfokus dan disesuaikan dengan target pasar Tidak ada seleksi merek Seleksi merek barang

dagangan ketat Kurang memerhatikan

supplier

Ketat melakukan seleksi terhadap suplier

Pencatatan penjualan sangat sederhana

Penjualan dicatat dan dipelajari

Keuntungan per produk tidak dievaluasi

Keuntungan per produk dievaluasi untuk

menetapkan stategi bauran ritel

Melayani hutang Penjualan dapat secara tunai atau dengan kartu kredit

Kurang memerhatikan efinsiensi

Sangat memerhatikan efisiensi

Arus kas tidak terencana Arus kas sangat terencana Keuangan tercampur

dengan keuangan keluarga

Keuangan jelas terpisah dengan keuangan keluarga

Pengembangan bisnis tidak terencana

Pengembangan bisnis terencana