• Tidak ada hasil yang ditemukan

PATOLOGI BRONKUS DAN BRONKIOLUS

Dalam dokumen PDF Sistema Pernafasan - UNUD (Halaman 43-48)

yang tertimbun secara lokal di bawah pleural paru-paru dan membentuk benjol-benjol berisi udara. Emfisema alveolar menahun terjadi dari bentuk dan dari batuk-batuk menahun umpamanya dari bronkitis menahun dan spamus bronki yang berulang-ulang. Pada keadaan ini serabut-serabut kenyal alveoli menjadi lemah dan alveoli membesar, akibatnya terjadi pembendungan darah didalam jantung kanan yang menyebabkan dilatasi, kemudian hipertrofi eksentrik atau insuffisiensi trikuspidalis, hidroperikard dan pembendungan darah yang disertai edema. Secara makroskopik paru-paru terlihat pucat dan membesar dan secara mikroskopik terlihat pembesaran alveoli yang dindingnya sebagian kisut. Emfisema jenis ini bisa terjadi pada semua jenis hewan.

Emfisema interstitialis. Emfisema bentuk ini terjadi sebagai akibat robeknya septa alveoli pada emfisema alveolar.

Emfisema jenis ini dapat terjadi bila didalam bronki ada banyak cacing yang menimbulkan dyspnoe berat, pada TBC dan pada keadaan trauma (fraktur tulang rusuk). Akibatnya adalah kematian hewan karena jantungnya tidak mampu menyelenggarakan peredaran darah. Emfisema jenis ini umum ditemukan pada sapi.

BAB V

PATOLOGI BRONKUS

terbatas pada bronkus besar tetapi meluas hingga bronkus kccil serta parenkim paru-paru, akibatnya terjadi bronkopneumonia.

Tergantung kepada tipe eksudatnya, bronkitis dapat bersifat fibrinosa, kataral, purulenta, fibrinonekrotik (difteritik) dan granulomatosa. Bronkitis akut eksudatnya bisa kataral, mukopurulen, fibrinopurulen atau purulen.

Bronkitis purulen atau supurativa biasanya terjadi akibat adanya infeksi baktcri. Pada keadaan ini, ditemukan nekrosis epitel, karena epitel bersilia pada bagian ini sangat sensitif terhadap rangsangan agcn.

Bronkitis ulserativa terjadi pada infeksi bakteri dan virus yang hebat, dan selama itu banyak bagian epitel yang rusak. Bronkitis yang hebat dapat sembuh jika agen pcnyebab dihilangkan. Proses persembuhan dicirikan oleh regenerasi epitel bronki yang kadang-kadang disertai dengan fibrosis ringan. Ditemukannya sel limfosit, makrofag dan sel plasma pada lamina propria umumnya terjadi pada bronkitis akut yang perlahan-lahan mcnjadi kronis.

Bronkitis kronis biasanya disebabkan oleh bakteri parasit atau alergen. Pada pemeriksaan patologi anatomi (PA) ditemukan mukus yang berlebihan atau eksudat mukopurulen pada daerah trakeobronki. Secara mikroskopik perubahan mukosa disebabkan oleh peningkanan jumlah dan ukuran

1. Berasal dari dalam paru-paru itu sendiri, umpamanya tumor-tumor, kista ataupun pneumonia menahun.

2. Tekanan bisa juga berasal dari dalam rongga dada akan tetapi di luar paru-paru umpamanya hidrothoraks dan hidroperikardium.

3. Dari dalam rongga perut, misalnya pada sapi yang menderita timpani menahun.

Emfisema

Emfisema adalah penambahan volume paru-paru karena terakumulasinya udara secara berlebihan. Berdasarkan tempat tertimbunnya udara maka dikenal dua jenis emfisema yakni emfisema alveolar dan emfisema interstitial.

Emfisema alveolar (akut dan menahun). Pada emfisema alveolar akut, bagian alveolar paru-paru yang normal bertambah volumenya untuk menampung udara dari bagian yang tidak berfungsi (tidak berisi udara), yang disebabkan oleh pnumonia, atelectasis dan sebab-sebab lain. Emfisema alveolar ini diakibatkan oleh gangguan penarikan nafas misalnya karena sebagian lumen bronki tersumbat oleh eksudat, parasit, juga akibat dari spasmus bronki. Secara mikroskopik alveoli kelihatan sangat rcnggang, rneluas dan sebagian besar retak.

Bagian paru-paru yang menderita emfisema membesar dan pucat (Gambar 6.2). Emfisema bulloosum terjadi bila udara

hipervitaminosis D atau akibat keracunan sejenis tanaman Solanum malacoxylon (Manchester wasting disease}. Tanaman ini mengandung sejenis vitamin-D.

Gangguan Pertukaran Udara

Atelektasis. Artinya sebagian atau seluruh paru-paru tidak mengembang dengan baik. Hal ini disebabkan oleh alveoli di daerah paru-paru itu tidak berisi udara. Pada atelektasis umumnya garis batas antara paru-paru yang berubah dan yang mengandung udara terlihat jelas. Atelektasis total terlihat pada anak hewan yang lahir mati (fetal atelektasis).

Pada fetal atelektasis, paru-paru tampak seperti paru-paru fetus tetapi warnanya merah gelap kebiruan, karena dilatasi dari kapiler alveolar. Konsistensinya seperti daging dan tidak mengapung. Kalau atelektasis berlangsung sebentar, dapat pulih kembali tetapi jika berlangsung kronis akan terjadi gangguan sirkulasi darah yang mengakibatkan edema atau pneumonia yang kronis dan penambahan jaringan ikat pada interstitial sehingga aspek paru-paru menyerupai limpa yang disebut dengan splenisasi paru-paru. Atelektasis disebabkan oleh tekanan pada paru-paru, tekanan ini mengeluarkan isi paru-paru (udara). Tekanan yang mengakibatkan atelektasis ini bisa berasal dari 3 tempat, yaitu:

kelenjar mukosa dan infiltrasi limfosit pada lamina propria serta peningkatan jumlah sel plasma, makrofag dan kadang-kadang sel netrofil. Metaplasia squamosa yakni perubahan tipe sel dari epitel khas saluran pernafasan menjadi epitel squamosa. Epitel squamosa ini lebih tahan terhadap iritan dibandingkan dengan epitel pernafasan namun fungsinya dalam mekanisme mucociliaris clearence sangat buruk atau menurun Metaplasia squamosa umum ditemukan pada penyakit paru-paru obstruktif (chronic obstructive pulmonary disease/COPD) CPOD akibat paparan asap rokok secara terus menerus (Gambar 5.1).

Gambar 5.1 Bronkus paru-paru tikus normal dan yang mengalami metaplasia. A) Epitel mukosa yang tidak mengalami perubahan. B) Metaplasia squamosa akibat perlakuan paparan asap rokok secara terus menerus selama tujuh minggu. Sumber: Bolton et al., 2009

Bronkiektasi

Bronkiektasi adalah dilatasi bronkus yang permanen.

Keadaan ini merupakan sequele yang paling merugikan dari bronkitis menahun dan peribronkitis menahun.

Gambar 5.2 A. Gambaran makroskopik dari bronkiektasi (tanda panah). B.

Gambaran mikroskopik dari bronkiektasi; mukosa dan dinding bronkus tidak jelas akibat adanya peradangan nekrotik(tanda bintang).

Sumber : http://quizlet. com/7808283/

respiratory-system-session-7-lung-pathology-flash-cards/

Mekaniseme terjadinya bronkiektasi dari bronkitis dan peri bronkitis menahun adalah sebagai berikut:

1. Bronkitis menahun menyebabkan penebalan mukosa bronkus dan menghilangnya serabut-serabut kenyal serta serabut otot dan diganti oleh jaringan ikat. Karena kehilangan kekenyalan dinding maka eksudat mudah

proses penyembuhan, sel ini akan berproliferasi dan menggantikan sel pneumosit tipe I yang nekrosis.

Kerusakan pada sel pneumosit tipe I umumnya diikuti pada perubahan dari air blood barrier. Sehingga terjadi perembesan cairan plasma, protein dan fibrin, ke dalam lumen alveoli. Dalam situasi normal, cairan ini mudah dibersihkan oleh makrofag alveolar dan leukosit yang tertarik ke lokasi oleh sitokin dan mediator peradangan lainnya. Pada kondisi tertentu plasma protein yang bocor ke dalam alveoli bercampur dengan pulmonary surfactant membentuk membran hyaline.

Membran ini ditemukan pada pneumonia spesifik terutama pada pneumonia interstitialis akut pada sapi.

Kelainan Kongenital

Kelainan kongenital umumnya jarang pada semua spesies hewan, kecuali pada sapi, umum terjadi hipoplasia pulmonum.

Kelainan ini biasanya disertai dengan hernia diafragma kongenital. Pada keadaan ini, jumlah alveoli menurun dan banyak ditemukan jaringan interstitial yang mengandung kapiler yang berdilatasi.

Gangguan Metabolisme

Calcinosis (Kalsifikasi paru-paru). Keadaan ini terjadi pada keadaan hiperkalsemia yang berhubungan dengan

disebut juga dengan brokus tertier secara mikroskopik mudah dikenali karena memiliki air vesicle (AV) yang nampak seperti scalloped (kulit kerang). AV ini lah yang berfungsi pada proses pertukaran gas.

Gambar 6.1 Perbandingan struktur histologi paru-paru mamalia dan unggas. A. Struktur histologi paru-paru mamalia. Keterangan;

bronkiolus (1), alveolus (2). B Struktur histologi paru-paru unggas: Keterangan. Mesobronkus sama dengan bronkus pada mamalia, merupakan jalan udara sedangkan parabronhus atau bronkus tertier tempat pertukaran gas. Sumber:

Caceci.2006.

Air blood barrier. Alveoli memiliki 3 lapis dinding yang

tipis yakni endotel pembuluh kapiler, interstitium alevolar dan epitel alveolar (Bab II. Gambar 2.1). Ketiga lapis inilah yang disebut air blood barrier. Pneumosit tipe I sangat rentan dengan noxius /benda asing yang mencapai alveoli, sel ini mudah mengalami nekrosis. Pneumosit tipe II lebih tahan terhadap iritan serta memiliki sifat mitosis yang tinggi, selama

tertimbun di dalam lumen dan menyebabkan bronkus mcluas.

2. Pada peribronkitis menahun jaringan ikat di sekitar bronkus, bertambah dan dinding bronkus tertarik keluar karena retraksi dari jaringan ikat.

Akibat yang ditimbulkan oleh bronkiektasi adalah : penimbunan eksudat yang berbau serta perluasan infeksi menjadi bronkopneumonia, abses paru-paru, trombosis pembuluh darah dan gangren.

Ada dua bentuk bronkiektasi, yaitu bentuk saccular (bentuk saku/kantung) dan bentuk cylindrical (silinder).

Bronkiektasi saccular sering ditemukan pada domba yang menderita strongilosis paru-paru. Di dalam (saccus) ini ditemukan banyak cacing dan lendir bernanah. Bronkiektasi silinder sering ditemukan pada sapi, biasanya isinya adalah eksudat padat menyerupai keju dan diselaputi oleh lendir.

Bronkostenosis

Bronkostenosis adalah penyempitan lumen bronkus yang dapat discbabkan oleh peruhahain-perubahan pada dinding bronki dan bronkiolus. Mukosa bronkus menebal membentuk lipatan-lipatm tebal sehingga terjadi penyempitan lumen.

Penimbunan eksudat, cacing dan benda asing juga dapat

tekanan dari luar, misalnya limfoglandula yang membcngkak karena TBC atau tumor. Penyumbatan yang total menyebabkan atelektasis disertai dengan penambahan jaringan ikat.

Pcnyumbatan yang tidak menyeluruh menyebabkan dilatasi paru-paru (emfisema) atau bronkiektasi.

Bronkiolitis

Peradangan bronkiolus umumnya terjadi scbagai akibat pcrluasan dari bronkitis, atau merupakan bagian dari pneumonia. Bronkiolitis biasanya menyertai pneumonia yang diakibatkan oleh virus dan keracunan.

Bronkiolus dilapisi oleh epitel yang sangat mudah cedera terutama akibat infeksi beberapa virus yang predileksinya saluran pernafasan seperti: BRSV (Bovine respiratory syncytial virus), adenovirus, oxidant gases seperti NO2,SO2 dan O3.

Proses persembuhan pada bronkiolus tidak semudah pada rongga hidung dan trakea. Sequelae dari bronkiolitis kronis adalah emfisema dan atelektasis, seperti yang dijumpai pada penyakit heaves pada kuda.

BAB VI

Dalam dokumen PDF Sistema Pernafasan - UNUD (Halaman 43-48)

Dokumen terkait