• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pegawai negeri sipil banyak yang tidak mau menjadi pejabat pengadaan

Dalam dokumen KATA PENGANTAR (Halaman 87-104)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

4. Pegawai negeri sipil banyak yang tidak mau menjadi pejabat pengadaan

Adanya konsekuensi hukum dan besarnya resiko sebagai pejabat pengadaan barang dan jasa membuat banyak pegawai yang tidak ingin menduduki posisi tersebut, secara umum para pegawai menginginkan posisi yang nyaman, jauh dari resiko, sehingga pejabat pengadan barang dan jasa di anggap memiliki resiko yang besar artinya sedikit keliru dalam bertindak, maka implikasinya berurusan dengan hukum,

Dibalik seluruh tugas dan tanggung jawab yang cukup berat tersebut, menjadi pejabat pembuat komitmen ( PPK) adalah jabatan yang baik dan terhormat.

Berikut ini keuntungan atau manfaat yang bisa Anda dapatkan selama menjadi PPK adalah:

1. Bisa berkontribusi secara aktif dalam pembangunan negara

Ketika menjadi PPK akan mempunyai ruang yang lebih leluasa untuk ikut terlibat secara aktif dalam proses pengadaan barang/jasa. Dengan mengambil langkah ini, tentu Anda selangkah lebih maju dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki posisi tersebut, Di tangan PPK lah, sebuah proses pembangunan berjalan dan terus diawasi sebagaimana mestinya.

2. Menambah/Memberikan ilmu pengetahuan atau sudut pandang baru dalam dunia birokrasi

Tentunya, banyak ilmu dan pengalaman baru yang akan di dapatkan dengan menjadi pejabat PPK. Akan di dapatkan pemahaman lebih jauh

proses birokrasi negeri ini. Selain itu, akan mengetahui bagaimana membangun pekerjaan konstruksi yang baik, mengadakan peralatan, mengatur penggunaan uang negara yang efisien, dan lain sebagainya.

3. Mendapatkan honorium tambahan

Dengan tugas baru sudah barang tentu menjadi PPK berhak untuk menerima honarium tambahan sebagai bentuk apresiasi.

4. Bekontribusi secara nyata untuk masyarakat

Berbeda dengan jabatan ASN/PNS yang lain, menjadi PPK bisa menjadi kebanggan tersendiri. Ada rasa kepuasan yang tak ternilai dengan uang bila berhasil mengadakan barang/jasa yang berkualitas dan bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat.

Menurut hasil wawancara dengan seorang pejabat lingkup pemerintahan mengatakan sebagai berikut PNS lebih banyak tidak mau menjadi pejabat pengadaan barang dan jasa di kepulauan selayar karena sering sekali terjadi penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa, yang melibatkan pejabat publik, parlemen serta pengusaha. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyimpangan ini tidak hanya berasal dari pemerintah sebagai pengguna anggaran, tapi juga dari berbagai unsur, termasuk perusahaan sebagai pemenang tender atau yang mengerjakan proyek sehingga PNS yang menjadi pejabat pengadaan juga ikut terkait yang resikonya jauh lebih besar dari pada honor yang diterima. ( Wawancara ibu Andriani Surya Ningsih, S.Pd.

Jabatan : Kasubag. Program pada Dinas perindustrian, perdagangan, dan usaha kecil menengah Kab Kep Selayar.)

Risiko Menjadi PPK

Dalam konteks makro ( secara luas ) Banyak ASN/PNS yang dengan tanpa beban menerima jabatan ini tanpa memahami konsekuensi apa saja yang harus ia terima saat menjabat. Memang betul jika menjadi PPK bukanlah sebuah kesalahan besar. PPK adalah jabatan mulia yang mengawal uang negara agar digunakan sebagaimana mestinya. Tapi yang perlu diingat adalah dengan jabatan yang besar, maka risikonya pun juga besar.

Risiko yang pertama ketika sedang mempertimbangkan apakah menerima atau menolak menjadi PPK adalah tidak lain karena PPK sangat rentan dengan masalah hukum, terkait dengan pelaksanaan kontrak. Sudah menjadi hal umum kasus korupsi terbesar di Indonesia adalah kasus tindak pidana korupsi terkait PBJ, dan pastinya akan menyeret PPK dan penyedia barang/jasa.

Di forum-forum diskusi pengadaan, sering ditemukan banyak sekali orang yang merasa resah dengan jabatan ini. Hal ini tentu saja mengingat konsekuensi hukum yang harus siap mereka hadapi saat proses audit nantinya. Karena hal tersebut merupakan konsekuensi yuridis dari dokumen kontrak yang dibuat oleh PPK dan penyedia. Tidak semua penyelenggaraan pengadaan barang/jasa pemerintah berada dalam karakteristik high risk dan high expenditure. Baik organisasi yang besar ataupun kecil, karakteristik low risk dan low expenditure pun akan selalu ditemukan. Sehingga tetap diperlukan perangkat kerja yang lebih akurat dalam mengelola proses-proses pengadaan yang masuk kelompok dengan karakteristik umum tersebut, seperti nilai pembeliannya relatif kecil, risiko akibat ketidaktersediaan yang tidak besar, jumlah item yang tidak banyak, supplier yang

banyak, dan/atau terkadang menghabiskan waktu dalam proses pembeliannya.

Salah satu personil yang dihantarkan dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah dengan karakteristik tersebut adalah Pejabat Pengadaan. Pejabat Pengadaan di dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah merupakan salah satu pihak atau personil yang diatur sebagai Pelaku Pengadaan (Pasal 8 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018). Di dalam peraturan tersebut, Pejabat Pengadaan merupakan pejabat administrasi/pejabat fungsional/personel yang bertugas melaksanakan Pengadaan Langsung, Penunjukan Langsung, dan/atau E-purchasing (Pasal 1 angka 13 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018).

Fenomena di selayar mengenai banyaknya PNS (pegawa negei sipil) yang tidak mau menjabat sebagai pejabat mengadaan barang dan jasa pemerintah yang pada intinya takut ditersangkakan. Dan beberapa Faktor lainnya diantaranya Resiko yang harus ditanggung oleh pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah tidak sebanding dengan honor yang didapatkan saat menjadi pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah contoh pada saat menjabat sebagai pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah hanya menerima honor sebesar Rp. 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) sementara apabila terdapat korupsi yang menyebabkan dirinya ditersangkakan maka resiko yang mesti ditanggung adalah dipecat menjadi seorang PNS (pegawa negei sipil) belum lagi tanggung jawab moral apabila ditersangkakan pada kasus korupsi yang mesti diterima secara pribadi ataupun diterima oleh keluarganya sendiri. Belum lagi apabila pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dikerjakan adalah pekerjaan fisik yang lokasi pengerjaannya

berada di daerah kepulauan yang honor Rp. 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) saja tidak cukup untuk biaya transfortasi dan diaerah kepulauan dari selayar tidak terdapat penginapan bahkan jaringan telepon saja susah belum lagi apabila pada saat posisi yang sedang berada di daerah kepulauan atau di tempat objek pembangunan fisik pengadaan barang dan jasa yang tiba-tiba cuaca laut (ombak tinggi) sedang tidak bersahabat yang menyebabkan tidak adanya transfortasi laut yang jalan sehingga harus tinggal beberpa hari di kepulauan sampai dengan cuaca kembali membaik.

Menurut salah seorang akademisi mengatakan sebagai berikut : setiap pekerjaan pasti memiliki resiko, namun tentunya bagi yang diberikan amanah menjadi pejabat pengadaan barang dan jasa wajib bekerja secara professional, tidak gampang terpengaruh dan dalam bekerja harus konsisten sesuai aturan yang berlaku,menjauhi hal hal yang dapat menjerusmuskan diri dalam rana hukum ( Wawancara Bapak P, Akademisi )

Terdapat beberapa PNS (pegawa negei sipil) yang tidak mempersoalkan masalah takutnya ditersangkakan pada kasus korupsi apabila mejadi pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah dengan alasan bahwa apabila terjadi korupsi pada pengadaan barang dan jasa pemerintah maka pejabat pengadaan juga salah akan kebijakan yang dikeluarkan sebab apabila pejabat pengadaan memberikan kebijakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan maka korupsi akan sulit untuk terjadi namun yang menjadi penghambat adalah Interpensi dari pimpinan yang terkadang meminta untuk dibijaki kepada rekanan/penyedia sementara kebijakan yang diminta oleh pimpinan tersebut tidak

sesuai dengan ketentuan perundang-undangan sehingga memberikan kesempatan atau peluang terjadinya korupsi. Kemudian pada saat dilakukannya pemeriksaan oleh penyelidik kebijakan yang diminta oleh pimpinan tidak dapat dibuktikan karenak hanya diminta secara lisan saja sehingga kembali yang bertanggung jawab adalah PNS (pegawa negei sipil) itu sendiri.

Untuk mengembalikan kepercayaan diri PNS (pegawa negei sipil) agar kembali ingin menjadi pejabat pengadaan barang dan jasa sesuai dengan kemampuan/keahliannya atau berdasar latar belakang pendidikannya maka yang mesti dilakukan oleh bupati ataupun wakil bupati adalah memberikan kebebasan kepada pejabat pengadaan untuk mengelurkan keputusan sendiri berdasar dari ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut hasil wawancara dengan salah seorang pegawai negeri sipil kabupaten selayar mengatakan sebagai berikut :

Saya tidak bersedia menjabat sebagai pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah di kab kep selayar dikarenakan alasan terkait aturan yang mesti memiliki Sertifikat pengadaan barang dan jasa untuk menjabat pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah sementara saya tidak memiliki sertifikat tersebut dan disimpilin ilmu yang saya miliki juga tidak ada di bagian pengadaan barang dan jasa pemerintah karena kebanyakan yang terjadi diselayar ini yang PNS (pegawai negeri sipil) yang telah ditersangkakan dan dipecat dikarenakan tidak memiliki disiplin ilmu mengenai pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah namun tetap menjabat sebagai pejabat pengadaan sehingga selalu salah dalam mengambil keputusan/kebijakan yang

menyebabkan terjadinya korupsi.

(Mursalim, PNS) dan sekarang ini juga sudah ada struktur jabatan tentang kepala bagian pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Pejabat Pengadaan merupakan pihak yang melaksanakan tugas yang diberikan oleh PA/KPA. Dengan memperhatikan uraian tugas sebagaimana yang telah dibahas tersebut di atas, maka dapat dipetakan beban kerja yang harus dilaksanakan oleh Pejabat Pengadaan. Tugas Pejabat Pengadaan menuntut pemenuhan syarat kualifikasi, norma dan kompetensi yang harus dimiliki.

Sehingga PA/KPA dalam mengangkat Pejabat Pengadaan tidak dapat sembarangan menetapkan personil untuk menjalankan tugas tersebut.

PA/KPA menetapkan Pejabat Pengadaan pada Kementerian/Lembaga/

Perangkat Daerah, dengan Persyaratan sebagai berikut (Pasal 8 Peraturan LKPP Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pelaku Pengadaan Barang/Jasa) :

1. Memiliki integritas dan disiplin;

Persyaratan ini merupakan kualifikasi yang bersifat kecukupan kompetensi norma yang memang sulit diukur. Kecenderungannya lebih kepada penilaian kualitatif yang dilakukan oleh PA/KPA dalam pengangkatan berdasarkan rekam jejak.

2. Menanda tangani Pakta Integritas;

Integritas merupakan mutu, sifat atau keadaan yang menunjukan kesetiaan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan atau kejujuran. Sedangkan pakta merupakan bentuk perjanjian. Sehingga dapat kita sebut bahwa pakta integritas merupakan

pernyataan janji bersama atau komitmen sebagai bentuk kesanggupan untuk patuh terhadap ketentuan yang berlaku. Dokumen tertulis ini biasanya digunakan dalam rangka mencegah terjadinya tidakan korupsi.

Penerapan penandatanganan perjanjian ini dalam penyelenggaraan pemerintah merupakan langkah untuk memastikan bahwa aparatur sanggup untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta peran dan wewenangnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selain itu dokumen tersebut merupakan wujud penyelenggaraan pemerintah yang akuntabel, transparan dan bertanggungjawab dalam rangka menciptakan pemerintahan yang baik.

Pemenuhan syarat menandatangani Pakta Integritas ini dapat dilakukan sebelum diterbitkannya Surat Penugasan atau segera setelah diterbitkannya Surat Penugasan sebagai Pejabat Pengadaan.

3. Memiliki Sertifikat Kompetensi okupasi Pejabat Pengadaan.

Skema Sertifikasi Kompetensi Okupasi Pejabat Pengadaan digunakan untuk pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa mengacu pada Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik lndonesia Nomor 70 Tahun 2016 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional lndonesia Kategori Jasa Profesional, llmiah dan Teknis Golongan Pokok Jasa Profesional, llmiah dan Teknis Lainnya Bidang Pengadaan Barang/Jasa. Pejabat Pengadaan wajib dijabat oleh Pengelola Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) huruf a dan Pasal 88 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 paling lambat 31 Desember 2020. Pengelola

Pengadaan Barang/Jasa adalah Pejabat Fungsional yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. Pejabat Pengadaan wajib memiliki sertifikat kompetensi di bidang Pengadaan Barang/Jasa paling lambat 31 Desember 2023. Pejabat Pengadaan wajib memiliki Sertifikat Keahlian Tingkat Dasar di bidang Pengadaan Barang/Jasa sepanjang belum memiliki sertifikat kompetensi di bidang Pengadaan Barang/Jasa sampai dengan 31 Desember 2023.

Teknis Pengangkatan dan pemberhentian Pejabat Pengadaan tentunya memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam pengangkatan personil sesuai tata laksana organisasi, serta pengangkatan dan pemberhentian Pejabat Pengadaan tidak terikat tahun anggaran. Adapun pihak yang dapat diangkat sebagai Pejabat Pengadaan adalah (Pasal 8 Peraturan LKPP Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pelaku Pengadaan Barang/Jasa) :

1. Pengelola Pengadaan Barang/Jasa atau Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kementerian/Lembaga /Perangkat Daerah;

2. Aparatur Sipil Negara/Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Republik Indonesia di lingkungan Kementerian Pertahanan dan Kepolisian Republik Indonesia; atau

3. personel selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b di atas

Terdapat pihak-pihak yang tidak dapat diangkat rangkap dengan jabatan lain, yaitu (Pasal 6 dan Pasal 8 Peraturan LKPP Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pelaku Pengadaan Barang/Jasa):

1. Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) atau Bendahara;

2. Pejabat Pembuat Komitmen untuk paket Pengadaan Barang/Jasa yang sama; atau

3. PjPHP/PPHP untuk paket Pengadaan Barang/Jasa yang sama.

Dinamis dan tuntutan kebutuhan organisasi ada kalanya terjadi pergantian Pejabat Pengadaan. Dalam hal terjadi pergantian Pejabat Pengadaan dalam setiap tahapan, maka harus secara tertib administrasi dilakukan serah terima jabatan kepada pejabat yang baru, dengan dukungan kejelasan batas penugasan yang telah dilaksanakan dan yang akan diserahkan. Sehingga dapat diketahui batasan tanggungjawab yang telah dan akan dilaksanakan oleh Pejabat Pengadaan lama dan yang baru.

Memperhatikan kondisi permasalahan yang sering muncul dan beberapa temuan yang sering tayang,menurut hasil wawancara salah seorang akademisi mengatakan sebagai berikut : menjadi pejabat pengadaan barang dan jasa adalah jabatan yang mulia, memang dari sisi lain peluang berurusan dengan hukum besar, mengingat tugas tersebut sebagai pejabat pembuat komitment penuh dengan godaaan jadi memang perlu berhati hati ( wawancara Bapak P akademisi )

Dalam proses penentuan dan penetapan eseorang di angkat menjadi pejabat pembuat komitmen maka banyak hal yang harus dipersiapkan diantaranya adalah kualitas sumber daya yang dimiliki orang tersebut serta track rekor perjalanan karier bagi calon pejabat yang akan di tunjuk, beberapa

catatan dalam pengangkatan dan pelaksanaan tugas Pejabat Pengadaan, antara lain

1. Pertimbangan Beban Kerja

Pastikan pengangkatan dilakukan setelah melakukan pemetaan kekuatan sumber daya yang ada terhadap beban kerja yang akan dilaksanakan.

Tentunya akan amat bagus jika sampai mampu melakukan analisis beban kerja. Pihak yang mengangkat tidak boleh dengan minimalis berpikir dalam mempersiapkan daftar yang tepat atas personil yang akan ditugaskan, namun harus pastikan semua unsur jelas, kapasitas terpenuhi, dan semua paket-paket pengadaan, jelas siapa tuannya sesuai ranah kewenangan.

2. Personil Dengan Cukup dan Cakap Kualifikasi

Setiap pihak yang akan diangkat telah diatur spesifikasi kualifikasi yang harus minimal dimiliki sebagaimana penjelasan di atas. Di organisasi tertentu terkadang cukup mudah untuk mendapatkannya, namun di organisasi lain tak jarang sulit sekali memperoleh personil yang layak syarat tersebut. Semisal ketika ada kegiatan pekerjaan konstruksi di satuan kerja berkarakteristik Pekerjaan Umum, rasanya cukup mudah mendapatkan personil yang menguasai dunia sipil dan arsitektural. Tapi ketika pekerjaan konstruksi tersebut berada di satuan kerja kesehatan atau pendidikan, ini menjadi beban tersendiri. Sehingga pihak yang mengangkat perlu ekstra mengatur strategi pengangkatan.

Terdapat syarat kualifikasi yang bersifat kecukupan kompetensi norma

(walau sulit diukur), seperti disiplin, tanggung jawab, dan integritas.

Namun juga terdapat syarat yang bersifat teknis, seperti memiliki kualifikasi untuk kompetensi tertentu atau pemahaman kontrak, dan lain- lain. Idealnya ketika pihak yang memiliki kewenangan mengangkat akan mengangkat, maka pastikan yang diangkat telah memenuhi semua unsur- unsur tersebut. Jika mengangkat personil yang tak lengkap syarat, maka pihak yang mengangkat harus bertanggungjawab untuk melengkapi kebutuhan yang diperlukan oleh pihak yang diangkat. Misal untuk pekerjaan konstruksi yang membutuhkan kompetensi teknis, ketika diangkat personil yang tidak memiliki kompetensi teknis atas pekerjaan tersebut, maka idealnya perlu didampingi pihak lain seperti ahli/tim teknis.

Jangan diangkat tapi dilepas kebutuhan atas pendampingan teknis.

3. Pengangkatan Di Waktu yang Tepat.

Salah satu permasalahan yang kerap terjadi adalah tidak diangkatnya pelaku pengadaan di waktu yang tepat. Masih terdapat pola pengangkatan dilakukan setiap tahun anggaran setelah diterimanya dokumen anggaran atau setelah ditetapkannya Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran. Kondisi ini berdampak lain seperti keterlambatan waktu pelaksanaan atau yang paling tidak menyenangkan adalah dengan diangkatnya organisasi pengadaan yang tidak terlibat dalam perencanaan.

Dapat dengan sederhana dibayangkan, jika ada pihak lain yang bagian nge- draft Dokumen rencana anggaran atau pengadaan, hanya berpikir sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, dan tidak melibatkan pihak yang akan melaksanakan,

padahal kegiatan tersebut perlu untuk didiskusikan dengan Pihak yang akan melaksanakan, maka cukup dikhawatirkan yang akan bekerja tidak memiliki kecukupan sumberdaya yang dimiliki.

Seperti seorang Pejabat Pengadaan mungkin memerlukan anggaran untuk melaksanakan uji survey pasar dan lain sebagainya, namun karena tak dilibatkan dalam perencanaan, makan urgensi kebutuhan Pejabat Pengadaan tersebut luput akomodir.

Sangat banyak khasiat dan manfaat sebenarnya pengangkatan organisasi pengadaan yang tidak terikat tahun anggaran ini. Salah satunya adalah orang yang diangkat sudah dapat diajak diskusi terhadap rencana kerjanya dalam bertugas.

Sehingga akan sangat jauh lebih baik jika pengangkatan organisasi pengadaan diangkat lebih awal, agar terlibat dalam perencanaan program, kegiatan, keuangan, dan pengadaan. Jika di tahun perencanaan tidak ada perubahan formasi organisasi, maka tak perlu membuang energi dengan membuat surat penugasan baru, tapi manfaat organisasi pengadaan yang tidak terikat tahun anggaran.

Akan dzalim rasanya jika organisasi yang dibentuk dengan orang yang diangkat hanya sebatas alat untuk meraih ambisi semata tanpa mempertimbangkan aspek hukum yang sebenarnya. Banyaknya pemberitaan perkara pidana di dunia pengadaan yang sekarang seringkali muncul, terlihat bagaimana prilaku segelintir oknum pimpinan yang menggunakan orang-orang yang diangkat untuk memenuhi keinginan melalui kewenangan orang yg diangkat.

Misalkan diangkatnya Pejabat Pengadaan, namun kewenangan mereka di kebiri dengan tetap adanya intervensi harus memenangkan penyedia tertentu yang tak

layak pilih atau bahkan terindikasi pidana. Bahasan ini tentu banyak variabel penyebab di lingkup luas, misal dari upaya pengembalian mahar politik, upaya balas budi, keserakahan kekayaan, dan lain-lain. Peduli lacur untuk alibi itu semua, yang perlu diperhatikan di sini adalah pastikan ketika mengangkat orang dalam organisasi pengadaan, wajib yang diangkat dapat melaksanakan tugas dan kewenangannya secara optimal. Jangan berikan intimidasi dan intervensi kewenangan untuk melakukan kesalahan atau kejahatan. Yang diintervensi pun harus mampu untuk menolak dengan santun. Karena jika dilakukan proses audit atau pemeriksaan, peraturan telah menyiapkan tool evaluasi yang jelas untuk melihat siapa dan berbuat apa untuk dimintakan pertanggungjawaban. Skema yang ada ini kadang membuat pihak pengintervensi bisa luput pemeriksaan, kecuali terdapat alat bukti.

Hasil wawancara dengan salah seorang pejabat pemda kabupaten selayar mengatakan sebagai berikut :

Tidak, karena banyaknya teman-teman ASN yang tersangkut masalah hukum, membuat sebgaian ASN menjadi pesimis, menjadi bagian dari pengadaan barang jasa meskipun kebanyakn teman-teman ASN tidak terlibat langsung dalam tindakan melanggar hokum tersebut, kebanyakan mereka hanya terlibat dalam proses administrasinya. ( RISKA JAYA SYAMSUL, Jabatan : Kasie Rumah Swadaya Dinas Perkim Kab Kep Selayar.)

Satu hal yang kadang luput dilakukan adalah mengukur atau mengevaluasi pelaku pengadaan secara secara ilmiah. Tak jarang tidak dapat diketahui secara

pasti kinerja yang telah dilakukan oleh pelaku pengadaan tersebut. Kalau dinilai bagus, tak dapat nilai kualitatif atau kuantitatif ukuran bagusnya. Kalaupun dinilai buruk, tanpa ada perbandingan nilai maka aja riskan subyektivitas tak bernalar.

Untuk itu ketika diangkat pelaku pengadaan dalam tahapan perencanaan Pengadaan, pastikan pula standar kinerja dan cara pengukuran capaian kinerjanya.

Hal ini akan memberikan manfaat selama proses kerja organisasi, dan dapat menjadi bahan pertimbangan di pengangkatan selanjutnya.

Beberapa alat ukur kinerja standar yang secara obyektif dapat dipergunakan seperti : ukuran efisiensi sumber daya, ketepatan waktu, kepuasan internal/eksternal (stakeholder), penanganan risiko, deviasi pelaksanaan dengan peraturan, dan lain-lain.

Kata “Sanksi” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pola arti yang setara dari beberapa definisi yang diangkat, seperti dengan definisi sanksi sebagai tanggungan (tindakan, hukuman) untuk memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan; imbalan negatif berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan di dalam hukum. Dari pemilahan kata tersebut, sanksi dapat dipahami sebagai ketentuan berupa tindakan atau hukuman untuk memaksa orang menepati perjanjian, ketentuan atau peraturan, sehingga apabila terjadi pelanggaraan maka dikenakan tindakan atau hukuman bagi yang melanggar perjanjian, ketentuan atau peraturan dimaksud.

Proses pengadaan Barang/Jasa pemerintah pada dasarnya merupakan penyelenggaraan hukum administrasi negara, yang memungkinkan pelaku administrasi negara untuk menjalankan fungsinya dan melindungi warga terhadap

sikap tindak administrasi negara, serta juga melindungi administrasi negara itu sendiri. Peran pemerintah yang dilakukan oleh perlengkapan negara atau administrasi negara harus diberi landasan hukum yang mengatur dan melandasi administrasi negara dalam melaksanakan fungsinya.

Pemahaman dari ulasan di atas tentunya pemberlakuan sanksi yang ada merupakan sanksi yang bersifat administrasi. Hal ini juga sejalan dengan ketentuan Sanksi untuk Pejabat Pengadaan dan beberapa Pelaku Pengadaan lainnya yang diatur di dalam Pasal 82 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018, bahwa Saksi administratif dikenakan kepada Pejabat Pengadaan yang lalai melakukan suatu perbuatan yang menjadi kewajibannya. Pemberian sanksi administratif tersebut dilaksanakan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian/pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sanksi hukuman disiplin ringan, sedang, atau berat dikenakan kepada Pejabat Pengadaan yang terbukti melanggar pakta integritas berdasarkan putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Peradilan Umum, atau Peradilan Tata Usaha Negara.

Ada kalanya Pejabat Pengadaan akan berhadapan dengan situasi harus membuat keputusan yang aturan tegas mengatur atau kadang tidak tegas diatur.

Untuk itu Pejabat Pengadaan dituntut untuk dapat menguasai peraturan yang berlaku sesuai dengan lingkup kewenangan dan penugasan yang dimiliki.

Untuk keputusan yang tidak secara spesifik aturan mengatur, maka Pejabat Pengadaan perlu mengambil keputusan dengan kembali memperhatikan Prinsip dan Etika Pengadaan, serta selalu menganalisis tindakan guna menghindari terjadinya kerugian keuangan negara.

Dalam dokumen KATA PENGANTAR (Halaman 87-104)

Dokumen terkait