BAB III METODE PENELITIAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
3. Pelaksanaan penyidikan tindak pidana korupsi di bidang pengadaan
Proses Penyidikan Tindak Pidana Korupsi oleh Penyidik Kepolisian Negara Republik IndonesiaTindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus, sehingga penyidikan tindak pidana korupsi di Indonesia memiliki kekhususan atau karakteristik tersendiri dibandingkan dengan tindak pidana pada umumnya, di mana penyidikan tindak pidana korupsi dapat dilaksanakan oleh tiga lembaga yang berwenang untuk itu yakni :1) Kepolisian; 2) Kejaksaan;
dan 3) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). penyidik kepolisian, maka prosedur penanganan perkaranya sama dengan prosedur penanganan tindak pidana pada umumnya, yaitu berkas hasil penyidikan diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan sesuai dengan daerah hukumnya.
Apabila Jaksa Penuntut Umum berpendapat bahwa berkas perkara telah
memenuhi syarat formil dan material, maka berkas perkara akan dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi dalam hal penyidikan tindak pidana korupsi dilakukan oleh penyidik KPK, maka penyidik KPK akan menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan kepada Jaksa Penuntut Umum yang ada di KPK dan selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi.
Penyidikan yang menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) diartikan sebagai serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Berarti sesungguhnya dalam penyidikan tindak pidana korupsi itu lebih pada upaya untuk mengumpulkan bukti tentang terjadinya tindak pidana korupsi, dan cara mengumpulkan bukti itu sudah diatur dalam undang-undang (KUHAP).
Dengan bukti yang sudah terkumpul itu maka akan terang tindak pidana korupsi yang terjadi sekaligus menemukan siapa tersangkanya.2 Penyidikan tindak pidana korupsi oleh penyidik Polri berdasarkan KUHAP dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Persiapan penyidikan.
2. Pemberitahuan dimulainya penyidikan.
3. Administrasi penyidikan.
4. Menyusun rencana penyidikan (Ren-dik).
5. Pelaksanaan kegiatan penyidikan.
6. Pemberkasan.
7. Penyerahan berkas perkara Tahap I.
8. Menyikapi petunjuk jaksa.
9. Penyerahan berkas perkara Tahap II.
Dalam hal penyidikan perkara tindak pidana korupsi dilakukan oleh penyidik kejaksaan, maka berkas perkara hasil penyidikan akan diteruskan ke Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan untuk selanjutnya dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
Dalam penyidikan Tindak Pidana Korupsi, SPDP tidak hanya diberitahukan kepada Jaksa Penuntut Umum, tetapi juga diberikan kepada Komisi.Korupsi, hal ini terkait dengan kewenangan koordinasi dan supervise yang dimiliki oleh KPK dalam penanganan perkara korupsi. Namun demikian dalam perkembangannya ada putusan Mahkamah Konstitusi yaitu Nomor 130/PUU- XIII/2015 yang mewajibkan penyidik untuk memberitahukan penyidikan kepada Jaksa Penuntut Umum, terlapor dan korban/pelapor dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan. Adapun bunyi lengkap dari putusan MK tersebut adalah sebagai berikut : 9Pasal 109 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209) bertentangan denganUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara bersyarat dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang frasa "penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum" dimaknai "penyidik wajib memberitahukan dan menyerahkan surat perintah dimulainya penyidikan kepada penuntut umum,
terlapor, dan korban/pelapor dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan". Dengan memperhatikan putusan MK tersebut, maka juga berlaku terhadap penyidikan tindak pidana korupsi baik yang dilakukan oleh penyidikan kepolisian, kejaksaan maupun KPK.
Administrasi Penyidikan Kegiatan penyidikan membawa konsekuensi hukum, oleh sebab itu setiap tindakan yang dilakukan oleh penyidik harus berdasarkan hukum, dan oleh karenanya harus didukung administrasi penyidikan yang baik.
Guna mendukung keberhasilan penyidikan, maka pelaksanaan penyidikan harus diserahkan kepada Petugas Administrasi penyidikan. Petugas administrasi penyidikan ini bisa dilakukan oleh Penyidik yang menjadi anggota tim penyidik untuk ditugasi melaksanakan tugas administrasi penyidikan, maupun membentuk tim tersendiri (di luar tim penyidik) misalnya tenaga administrasi atau tata usaha untuk mengadministrasikan seluruh proses atau kegiatan penyidikan.
Petugas yang melakukan tugas administrasi penyidikan ini akan sangat membantu proses penyidikan, mulai dari pengurusan administrasi pemanggilan, persuratan, penyitaan, penahanan, pembuatan berita acara dan lain-lain, yang kesemuanya itu akan membantu kelancaran penyidikan, keabsahan penyidikan dan pemberkasan hasil penyidikan.Adapun tata laksana administrasi penyidikan tiap-tiap lembaga penegak hukum mempunyai format dan ketentuan tersendiri, artinya masing-masing mengatur dalam bentuk peraturan tersendiri yang sifatnya internal. Misalnya di Kejaksaan dalam bentuk Peraturan Jaksa Agung (Perja), dan di Kepolisian dalam bentuk
Peraturan Kapolri (Perkap), serta di KPK dalam bentuk Peraturan Komisi (Perkom). Menyusun Rencana Penyidikan (Ren-dik) Salah satu tahapan penting yang harus dilakukan oleh penyidik sebelum melakukan penyidikan adalah membuat rencana penyidikan atau biasa disebut dengan Ren-dik. Ren- dik ini dimaksudkan sebagai panduan (guidance) dalam pelaksanaan penyidikan.
Salah satu poin penting yang harus digaris bawahi mengenai tujuan Kepolisian Negara Republik Indonesia yakni tertib dan tegaknya hukum.
Hukum yang dimaksud dalam hal ini adalah segala bentuk peraturan hukum yang telah dicatat dalam lembaran negara, termasuk peraturan perundang- undangan diantaranya ialah UU tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Dalam hal penegakan hukum tentang tindak pidana korupsi polisi memiliki tugas sebagai penyidik, sebagaimana yang telah ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 1 angka 1 bahwa yang dimaksud dengan penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan, kemudian dipertegas dalam UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 14 ayat (1) huruf g bahwa dalam melaksanakan tugas pokok, Kepolisian negara Republik Indonesia bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.Selain KUHAP dan UU tersebut dasar hukum lainnya yaitu Instruksi Presiden No. 5 tahun 2004, yang mana pada poin ke
delapan dalam inpres tersebut disebutkan bahwa “memberikan dukungan maksimal terhadap upaya-upaya penindakan korupsi yang dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan cara mempercepat pemberian informasi yang berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi dan mempercepat pemberian izin pemeriksaan terhadap saksi/tersangka.”Dengan demikian polisi memiliki hak dan wewenang untuk menangani berbagai kasus korupsi. Tindak Pidana Korupsi mendapat perhatian lebih dari kepolisian sehingga dibentuk sebuah unit khusus untuk menangani kasus korupsi di setiap daerah yakni Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Unit tipikor sendiri berada di bawah kordinasi Satuan Resort Kriminal yang merupakan unsur pelaksana tugas pokok dalam setiap kepolisian resort.Unit tipikor dibentuk khusus untuk menangani berbagai kasus korupsi yang terjadi dalam wilayah hukum kepolisian resort yang bersangkutan. Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa korupsi merupakan ekstra ordinary crime sehingga dalam proses penyidikannya dibutuhkan penyidik dan pembantu penyidik dari pejabat polisi yang memiliki kapasitas serta memenuhi syarat sebagaimana telah ditetapkan dalam KUHAP.Menurut KUHAP yang berhak menjadi penyidik adalah pejabat kepolisian yang memenuhi syarat kepangkatan. Penjelasan tentang syarat kepangkatan ini dijelaskan lebih rinci melalui Peraturan Pemerintah (PP). Adapun PP yang dimaksud yaitu PP No.27 tahun 1983 yang telah diperbaharui dengan PP No. 58 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana.
Sama halnya dengan kasus pidana lain, dalam penyidikan kasus korupsi polisi harus mengedepankan Standar Operasional Prosedural (SOP) hal ini sesuai dengan peraturan kapolri No. 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana. Peraturan tersebut muncul dengan berbagai pertimbangan di antaranya ialah sesuai dengan yang disebutkan dalam poin b bagian menimbang peraturan tersebut bahwa dalam melaksanakan tugas penegakan hukum, penyidik kepolisian Negara Republik Indonesia mempunyai tugas, fungsi dan wewenang di bidang penyidikan tindak pidana, yang dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel terhadap setiap perkara pidana demi terwujudnya supremasi hukum yang mencerminkan rasa keadilan.
Peraturan kapolri tersebut juga memuat berbagai prinsip yang mesti dikedepankan oleh para penyidik dalam menangani kasus pidana termasuk korupsi, sesuai dengan pasal 3 dalam peraturan tersebut yang menyebutkan bahwa prinsip-prinsip dalam peraturan ini:
a. Legalitas, yaitu proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Profesional, yaitu penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang penyidikan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki;
c. Proporsional, setiap penyidik/penyidik pembantu dalam melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi, peran dan tanggung jawabnya;
d. Prosedural, yaitu proses penyelidikan dan penyidikan sesuai mekanisme dan tata cara yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. Transparan, yaitu proses penyelidikan dan penyidikan dilakukan secara terbuka yang dapat diketahui perkembangan penanganannya oleh masyarakat;
f. Akuntabel, yaitu proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan dapat dipertanggung jawabkan; dang.Efektif dan efisien, yaitu penyidikan dilakukan secara cepat, tepat, murah, dan tuntasSelain hal tersebut diatas masih terdapat banyak hal lagi yang diatur dalam peraturan tersebut mengenai berbagai manajemen penyidikan tindak pidana oleh kepolisian.
Pemberantasan korupsi telah menjadi salah satu agenda utama pembangunan Indonesia khususnya di Kabupaten Selayar, dan upaya pemberantasan korupsi merupakan kewajiban setiap unsur pembangunan di Indonesia termasuk di Kepulauan Selayar . Tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, maka berhasil tidaknya pemberantasan korupsi akan menentukan juga berhasil tidaknya upaya pengentasan kemiskinan, pembangunan berkelanjutan, penguatan sendi-sendi demokrasi, dan upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.menurut salah seorang akademisi mengatakan bahwa : perilaku korupsi sangat merugikan sehingga keberadaannya perlu mendapat pengawasan sehingga peluang melakukan korupsi dapat di perkecil atau di hilangkan, selain itu memang moral dan prilaku individu perlu mendapat sentuhan agama agar ada ketakutan untuk melakuka tindakan korupsi ( wawancara Desember 2020 )
Berdasarkan data kasus tindak pidana korupsi yang ditangani KPK sejak tahun 2004 sampai dengan 30 September 2017, jumlah pelaku tindak pidana korupsi dari lingkungan swasta juga semakin meningkat (55%). Hal ini menunjukkan bahwa korupsi tidak hanya melibatkan pelaku dari pegawai negeri sipil/
penyelenggara negara ataupun penegak hukum, namun juga pelaku dari dunia usaha/bisnis. Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi telah merumuskan bahwa korporasi merupakan salah satu subjek hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Dengan berlakunya Peraturan Mahkamah Agung No.13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi diharapkan dapat memberikan pedoman yang lebih jelas bagi aparat penegak hukum dalam menangani perkara korupsi yang melibatkan korporasi. Lebih lanjut, pedoman teknis penanganan perkara tindak pidana korupsi oleh korporasi diperlukan untuk memudahkan aparat penegak hukum dalam melakukan langkah- langkah pembuktian, khususnya dalam tahap penyelidikan dan penyidikan.
Proses pengumpulan dan analisa data Terlepas dari apapun definisi yang diberikan dalam aturan perundang - undangan kita mengenai pengertian penyidik dan penyelidik, dan tugas yang diembannya, ada hal yang bisa digeneralisir bahwa fungsi dari seorang penyidik dan penyelidik adalah nyaris serupa dengan seorang peneliti, yaitu mencari fakta dan kebenaran. Untuk itu seorang penyidik dan penyelidik harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengumpulan dan analisa data. Secara teori, pengumpulan dan analisa data dalam proses penyelidikan dan penyidikan tindak pidana adalah sebagai berikut
Mendapatkan data awal Data awal didapat kan dari Data refinery Data clasification Data mining Penyusunan hipotesa Penyusunan rencana kegiatan Penyelidikan Ditemukan Mensrea dan actusreus Penyidikan
Penting bagi seorang penyidik untuk memperoleh data awal untuk kemudian ditelaah serta digunakan untuk mengambil hipotesa awal. Seorang penyelidik dan penyidik, sebelum memulai kegiatan penyidikan maupun penyidikan, harus dapat menggali data sebanyak - banyaknya dari data yang sudah dimiliki ( data mining ) untuk kemudian dilakukan penyaringan ( data refinery ) guna mengetahui data yang layak digunakan maupun tidak, serta melakukan pengelompokan dan analisa dari data yang sudah mengalami proses penyaringan tersebut.
Dari semua data yang sudah melalui proses diatas, kemudian seorang penyelidik atau penyidik harus mampu menyimpulkan hipotesis (menduga - duga) peristiwa apa yang terjadi, dengan cara menyimpulkan hubungan - hubungan atau interkoneksi antara data tersebut. Penyusunan hipotesis ini sangat berguna untuk mempersempit ruang lingkup penyelidikan dan menghemat waktu serta sumber daya dalam proses lidik. Tahap berikutnya adalah memperdalam data yang ada untuk mencari perbuatan pidana ( actus reus ) maupun motif dari perbuatan pidana tersebut (mens rea). Sampai di titik ini seorang penyidik harus tetap obyektif.
Seorang penyelidik harus berusaha sekuat tenaga untuk dapat menemukan motif kejahatan dan perbuatan yang terjadi untuk memutuskan apakah sebuah kejadian atau insiden layak dinaikkan statusnya ke tingkat penyidikan.
Terkait penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan barang dan jasa di Selayar menurut tim penyidik polres selayar secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:
Untuk proses penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan barang dan jasa pemerintah di kabupaten kepulauan selayar oleh polres kepulauan selayar terlebih dahulu dilakukan Penyelidikan yang berdasar dari Laporan Informasi yang diberikan oleh Masyarakat, LSM ataupun anggota kepolisian sendiri kemudian dibuatkan surat perintah Tugas dan Surat perintah Penyelidikan, meminta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang sedang di Selidiki, melakukan pengecekan terhadap objek Penyelidikan baik berupa pekerjaan/pengadaan Fisik ataupun non Fisik dengan membandingkan dokumen yang ada selanjutnya melakukan wawancara kepada Kelompok kerja yang melakukan Pelelangan pada Paket pengadaan barang dan jasa pemerintah tersebut, melakukan wawancara kepada PPK (pejabat pembuat komitmen), Kepada PPTK (pejabat pelaksana teknis kegiatan), Kepada Bendahara, kepada Konsultan Pengawas, Kepada Rekanan/Penyedia dan pihak- pihak lainnya yang dianggap ada kaitannya dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah tersebut. Apabila pada prosesnya ditemukan hal-hal yang dianggap oleh penyidik/penyidik pembantu terjadi kecurangan yang berindikasi korupsi maka dilakukan permintaan Ahli untuk melakukan pemeriksaan fisik apabila pengadaan tersebut berupa pekerjaan fisik. Setelah Ahli melakukan pemeriksaan dengan mengeluarkan laporan hasil pemeriksaan maka penyelidik melakukan Ekspose ke Kantor BPK (Badan pemeriksa keuangan) Provinsi Sulawesi Selatan
atau ke kantor BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) Provinsi Sulawesi Selatan untuk menentukan jumlah Indikasi Kerugian keuangan Negara.
Selanjutnya Penyelidik Polres Kepulauan Selayar melakukan gelar perkara Guna menentukan apakah kasus tersebut dapat di Tingkatkan ke Tahap Penyidikan ataupun dilakukan Penghentian Penyelidikan.
Pada kasus yang ditingkatkan ke Tahapan Penyidikan dengan berdasar dari 2 (dua) alat bukti yang cukup maka Penyidik/Penyidik pembantu membuat Laporan Polisi, Surat Perintah Penyidikan dan Surat Perintah Tugas kemudian membuat surat Panggilan kepada semua pihak yang dianggap mengetahui atau yang ada kaitannya dengan kasus pengadaan barang dan jasa pemerintah yang sedang dilakukan Proses Penyidikan tersebut. Melakukan Pemeriksaan dengan membuat Berita Acara Pemeriksaan kepada semua pihak yang dianggap mengetahui atau yang ada kaitannya dengan kasus pengadaan barang dan jasa pemerintah yang sedang dilakukan Proses Penyidikan, melakukan Pemeriksaan Ahli Bangunan Apabila pengadaan barang dan jasa pemerintah berupa pekerjaan fisik. Melakukan penyitaan terhadap benda bergerak ataupun tidak bergerak yang menjadi Bukti tentang terjadinya korupsi (atas surat penetapan pengadilan). Selanjutnya meminta Ahli Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari BPK (Badan pemeriksa keuangan) Provinsi Sulawesi Selatan atau dari BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) Provinsi Sulawesi Selatan untuk menentukan jumlah kerugian keuangan Negara yang diakibatkan. Kemudian penyidik/penyidik pembantu melakukan gelar perkara ke polda Sulawesi selatan untuk menetapkan tersangka dari orang yang dianggap paling bertanggung jawab sehingga terjadinya korupsi
atau orang-orang yang menikmati hasil dari korupsi tersebut. Melakukan panggilan terhadap tersangka yang sebelumnya telah ditetapkan pada saat gelar perkara penetapan tersangka, melakukan pemeriksaan tersangka yang didampingi penasehat hukum baik penasehat hukum pribadi ataupun penasehat hukum yang sediakan/ditunjuk oleh Penyidik. Selanjutnya Penyidik/Penyidik Pembantu melakukan Gelar Perkara untuk menentukan apakah tersangka dilakukan Penahanan atau tidak dilakukan Penahanan. Apabila pada gelar perkara ditetapkan bahwa terhadap tersangka harus dilakukan penahanan berdasar syarat subjektif pada pasal 21 ayat (1) Kuhap. Maka Penyidik/Penyidik Pembantu melakukan melakukan Penangkapan (yang dilengkapi dengan surat perintah penangkapan) dan membuat surat perintah penahanan yang ditembuskan kepada tersangka, keluarga dan penasehat hukumnya Kemudian Selanjutnya Penyidik/Penyidik Pembantu melakukan Merampungkan berkas perkara dengan melakukan Pemberkasan dan melakukan pengiriman berkas perkara ke JPU (jaksa penuntut umum) apabila JPU (jaksa penuntut umum) mengirim surat kepada Penyidik/Penyidik Pembantu untuk meminta agar Penyidik/Penyidik Pembantu melengkapi berkas berdasar petunjuk dari JPU (jaksa penuntut umum) maka Penyidik/Penyidik Pembantu melengkapi berkas berdasar dari petunjuk tersebut dan apabila JPU (jaksa penuntut umum) menyatakan bahwa berkas perkara yang dikirim oleh Penyidik/Penyidik Pembantu sudah lengkap maka Penyidik Pembantu melakukan pengiriman tersangka dan barang Bukti kepada Kejaksaan Negeri Selayar. Sehingga pada proses dikepolisian (dipolres kepulauan selayar) sudah selesai setelah dilakukan serah terima tersangka dan barang bukti.
Terkait sejumlah kendala dalam proses penyidikan, banyak kendala yang dialami tim penyidik di antaranya adalah sebagai berikut:
Penyidikan di polres kabupaten Selayar terkait tindak pidana korupsi pengadaan barng dan jasa adalah belum dapat berjalan secara maksimal dikarena kondisi dari kabupaten selayar ini terdiri dari beberapa pulau sehingga beberapa faktor antara lain pertama masalah anggaran penyelidikan suatu kasus bila itu berada di daerah kepulauan maka anggaran yang digunakan akan menjadi dua kali lipat sementara anggaran yang disiapkan juga terbatas dan terkait jumlah personil di unit tipidkor yaitu hanya 4 orang sedangkan idealx adalah 9 orang. Kemudian pada penempatan pejabat pengadaan barang dan jasa pemerintah yang orangnya tidak sesuai dengan keahliannya atau latar belakang pendidikannya sehingga dalam mengambil kebijakan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada dan memberikan peluang terjadinya korupsi pada kegiatan pengadaan barang dan jasa baik kegiatan fisik maupun non fisik. (Wawancara SUHARDIMAN, SH., M.Si. Penyidik pada Unit Tipikor (Kanit Tipikor) Sat Reskrim Polres Kepulauan Selayar)
Senada dengan dengan hal tersebut juga dikemukakan oleh penyidik Ahmad Rizal yang bertugas di Polres Selayar (wawancara tanggal 12 Januari 2021) bahwa:
Saya selaku salah satu anggota tipikor mengenai korupsi pada pengadaan barang dan jasa pemerintah di kabupaten kepulauan selayar belum dapat dilakukan penyidikan terhadap semua kasus yang berpotensi terjadi korupsi dikarenakan beberapa Faktor antara lain pada proses Penyelidikan (sebelum
dilakukannya penyidikan) terhambat pada transfortasi ke wilayah kepulauan dan anggaran yang ada juga terbatas sementara kabupaten selayar terdiri dari beberapa pulau kemudian pada kewenangan yang diberikan juga terbatas berbeda dengan Komisi pemberantasan korupsi yang diberikan kewenangan untuk melakukan penyadapan sementara kepolisian tidak diperbolehkan sehingga untuk melakukan penyidikan pada kasus pengadaan barang dan jasa pemerintah terlebih dahulu mesti di lakukan proses penyelidikan.
Keluhan yang sama dikemukakan oleh Ahmad Rizal penyidik pada Polres Selayar (wawancara tanggal 12 Januari 2021), bahwa :
Tanggapan saya selaku salah satu anggota tipidkor mengenai korupsi pada pengadaan barang dan jasa pemerintah di kabupaten kepulauan selayar dapat dilakukan secara keseluruhan apabila beberapa factor yang menjadi penghambat yang ditemukan oleh penyidik/penyidik pembantu pada saat melakukan penyidikan ataupun penyelidikan antara lain masalah akomodasi yang sangat minim di selayar ini sementara apabila dibandingkan dengan polres-polres lainnya yang berada di Sulawesi selatan ini maka medan yang sangat sulit menurut saya ada di kabupaten kepulauan selayar sebab selayar yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil sementara untuk menuju lokasi diperlukan Transfortasi seperti Kapal dan factor penghambat lainnya adalah cuaca laut yang akhir-akhir ini sulit untuk diprediksi namun yang paling utama yang sering terjadi pada proses Penyelidikan adalah Interpensi Baik Interpensi Internal sendiri ataupun Interpensi dari pihak lainnya yang menyebabkan kita sebagai anggota/bawahan tidak dapat berbuat banyak atau
tergantung dari pada penentu kebijakan itu sendiri sebab anggota seperti kami hanya pelaksanakan kebijakan dan hal ini bukan hanya terjadi di kabuoaten kepulauan selayar saja melaingkan di manapun karena sudah menjadi rahasia umum dan bahkan terjadi pada intansi mana saja yang dapat melakukan Proses penyidikan. Dan hal-hal yang seperti ini yang sangat sulit untuk ditiadakan dikarenakan sudah menjadi adat kebiasaan sebab apabila setingkat kapolres yang sangat mendukung pemberantasan korupsi maka saya sebagai anggota juga sangat semangat kerjanya namun yang menjadi problema dikarenakan kapolresnya juga tidak akan bertahan lama menjabatnya dan begitulah yang terjadi sampai ke jenjang yang lebih tinggi.
Mekanisme penyidikan yang dilakukan oleh anggota polres kepulauan selayar khusus untuk penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan Proses penyidikan pada kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan barang dan jasa pemerinta Sudah sesuai dengan ketentuan yang ada walaupun dalam proses penyidikan yang dimulai sejak proses penyelidikan sampai dengan proses tahap II atau serah terima tersangka dan barang bukti tehitung lambat atau menggunakan waktu yang terlalu lama dikarenakan banyak factor yang kesemua factor tersebut bukan dikarenakan oleh Penyidik/Penyidik Pembantu langsung melainkan factor yang daerah dari Kabupaten kepulauan Selayar berada dikepulauan atau terpisah dari Daratan Sulawesi Selatan sementara pada proses Penyelidikan atau Penyidikan dugaan Tindak Pidana Korupsi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang terjadi dikabupaten Kepulauan Selayar sering kali harus ke Makassar untuk beberapa kegiatan seperti melakukan permohonan permintaan Ahli yang sesuai dengan