• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelatihan Publik

Dalam dokumen hubungan industrial (Halaman 73-78)

HARAPAN TAHUN 2013

2.4. Pelatihan Publik

Kegiatan pelatihan atau seminar publik yang diselenggarakan oleh DPN APINDO merupakan hasil kerjasama dengan partner kerja DPN APINDO, diantaranya:

NARASUMBER Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN RI Bapak Ir. Suswono, Menteri Pertanian RI NO

1.

2.

TEMA Arah dan kebijakan Menteri BUMN Mengembangkan sinergitas pemerintah dan swasta dalam membangun ketahanan pangan Indonesia

Pelaksanaan CEO / Owners Gathering yang telah dilaksanakan di Tahun 2012:

CEO / Owner Gathering dengan Menteri Pertanian, Ir Suswono

Bidang Informasi &

Layanan Anggota

52 Laporan Tahunan 2012

Apindo bekerjasama dengan Hukum Online menyelenggarakan Seminar tentang Praktik Outsourcing Pasca Penerbitan Surat Edaran Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. B.31/PHIJSKS/i/2012 yang dilaksanakan pada 28 Februari 2012 bertempat di Auditorium Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perum Bulog Jl.Kuningan Timur Blok M.2 No.5 Jakarta Selatan.

Bekerjasama dengan ILO dilaksanakan Lokakarya Labour Laws Reform pada 29 Maret 2012 di Hotel Crowne Plaza. Lokakarya dibuka oleh Direktur ILO, Bp PeterVan Rooij.

Lokakarya tersebut menghadirkan nara- sumber diantaranya :

1. Bapak DR. H. Hasanuddin Rachman, MIM (Ketua Bidang Hubungan Industrial dan Advokasi DPN APINDO)

Tahun 2012 telah berada dipenghujung waktu menuju pergantian tahun 2013, bera- gam kegiatan peristiwa telah terlewati ditahun 2012. Memasuki tahun 2013 optimisme se- lalu menjadi semangat terdepan bagi APINDO dalam mewujudkan visi dan misinya.

Tahun 2013 merupakan tahun penting berkaitan dengan pelaksanaan Musyawarah nasional (MUNAS) APINDO untuk menentukan Kepengurusan APINDO selama 5 (lima) tahun

harapan di tahun 2013

kedepan. Kepengurusan Baru tentunya men- ciptakan banyak harapan tidak terkecuali bagi departemen informasi dan layanan anggota.

Peningkatan jumlah perusahaan anggota AP- INDO sudah tentu menjadi harapan terbesar di tahun 2013 tentunya dibarengi pemberian kualitas layanan dan manfaat secara nyata ke- pada perusahaan. Tantangan hubungan indus- trial kedepan semakin memerlukan penanga- nan yang jauh lebih baik dan terintegrasi.

2. Bapak M. Aditya Warman (IR Dept Head PT.

ASTRA INTERNASIONAL)

3. Bapak Doddy Irawan (Manager Industrial Policy PT. Chevron Pacific Indonesia).

Penandatangan MOU dengan PT Microsoft Indonesia diwujudkan dengan pelaksanaan kegiatan Seminar Dinamika Perdagangan Internasional: Peluang Dan Hambatan Bagi Eksportir Nasional, 16 Mei 2012.

Bidang ukM, PereMPuan

PengusaHa, PereMPuan PekerJa,

Jender & urusan sosial

Bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Perempuan Pekerja, Jender &

Urusan Sosial

55

Asosiasi Pengusaha Indonesia

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki luas daratan 1.922.570 km2, 17.504 pulau dengan total 33 propinsi serta jumlah penduduk sebanyak 237.556.363 jiwa. Indonesia memiliki potensi dalam mengelola sumber daya yang ada sehingga memiliki nilai tambah sebagai modal tumbuhnya industri (khususnya UKM/IKM).

Strategi pembangunan Indonesia perlu memberdayakan sektor riil terutama Usaha Kecil dan Menengah (UKM/IKM). Sektor inilah yang banyak menyerap tenaga kerja, mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan serta disparitas regional. Persoalan urbanisasi akan dapat diredam apabila UKM/

IKM dapat berkembang di daerah sehingga mengurangi masyarakat untuk datang ke kota besar mencari pekerjaan.

UKM/IKM merupakan representasi dari 51,257 juta unit usaha di Indonesia, menyerap 90,9 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi 55,6 persen untuk PDB. Bahkan UKM/IKM dapat menyumbangkan devisa sebesar Rp 183,8 triliun. Jumlah yang besar ini memberikan gambaran kepada kita seberapa pentingnya peran UKM/IKM bagi pembangunan perekonomian Indonesia.

Sedikitnya ada 4 hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing UKM/IKM.

Pertama adalah dengan menyediakan layanan publik yang reliabel dan transparan terkait dengan UKM/IKM. Kedua dengan membangun dan menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan. Ketiga meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia, unit usaha UKM/IKM serta akses kepada pendanaan. Dan yang keempat adalah menjamin akses pasar dan

pendahuluan

juga membangun legitimasi institusi yang mengatur pasar.

Permasalahan dasar di Industri Indonesia antara lain; Pertama, masih sangat tingginya kandungan impor bahan baku, bahan antara, dan komponen untuk seluruh industri. Kedua, lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi karena industri kita masih banyak yang bertipe "tukang jahit" dan "tukang rakit".

Ketiga, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana tecermin dari tingkat pendidikan tenaga kerja industri.

Keempat, belum terintegrasinya UKM/IKM di Indonesia dalam satu mata rantai pertambahan nilai dengan industri skala besar. Kelima, kurang sehatnya iklim persaingan karena banyak subsektor industri yang beroperasi dalam kondisi mendekati "monopoli", setidaknya oligopoli. Oleh karena itu, apabila kita ingin berbicara banyak dalam pasar global, mau tidak mau distorsi yang menghalangi fair competition harus dihilangkan.

APINDO sebagai suatu organisasi pengusaha menaruh perhatian besar pada pengembangan dan penguatan UKM/IKM sebagai penopang perekonomian Indonesia.

Kontribusi APINDO terhadap UKM/IKM melalui Bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Perempuan Pekerja, Jender dan Urusan Sosial, telah melakukan serangkaian kegiatan antara lain: Pemberdayaan dan Pengembangan UKM/

IKM, Penguatan Pengarusutamaan Jender, Program Pemberdayaan Angkatan Muda (Youth Employment), Program Pekerja Anak, Kerjasama Program Penanganan Penderita Disabilitas, HIV/AIDS, CSR dan Program terkait lainnya.

Bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Perempuan Pekerja, Jender &

Urusan Sosial

56 Laporan Tahunan 2012

laporan kegiatan

1. kerJasaMa konFederasi Bisnis dan industri norWegia (nho) dengan asosiasi pengusaha indonesia (apindo)

UKM/IKM berperan dalam pendistribusian hasil−hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnansi bahkan berhenti beraktifitas, sektor UKM/IKM terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut.

Pengembangan UKM kedepan, perlu menggabungkan keunggulan lokal (lingkungan internal) dan peluang pasar global, yang disinergikan dengan otonomi daerah dan pasar bebas; berfikir dalam skala global dan bertindak lokal (think globally and act locally) dalam mengambil kebijakan yang terkait dengan pengembangan UKM/IKM.

Pengembangan kewirausahaan UKM/

IKM terutama perempuan pengusaha [Asian Development Bank (ABD) menyebutkan bahwa 30 % UKM/IKM dimiliki oleh perempuan dan dari 70 % tersebut sebanyak 30 % dikelola oleh perempuan] telah menjadi perhatian APINDO beberapa tahun terakhir ini karena UKM/IKM terutama perempuan masih banyak mengalami kendala dalam hal kebijakan, keahlian, pengetahuan manajemen, infrastruktur, modal, pengemasan, pemasaran dan lain−lain.

Sebagai kontribusi APINDO terhadap UKM/

IKM, APINDO telah melakukan serangkaian kegiatan pemberdayaan UKM/IKM diantaranya Pelatihan Manajemen dan Disain bagi UKM/

IKM.DPN APINDO bekerjasama dengan Konfe- derasi Bisnis dan Industri Norwegia (NHO) menyelenggarakan :

Dalam dokumen hubungan industrial (Halaman 73-78)