PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DENGAN STRUKTUR PERANG TOPAT
4.3.3. Pemahaman agama
Bapak Nursaman Pekasih Gontoran dan Bapak Suladri kadus Lingsar Keling menerangkan bahwa makin tinggi tingkat pemahaman agama Islam maka makin kurang kepercayaan terhadap kesakralan Kemalik yang tentunya kegiatan acara ritual ke Kemalik juga menjadi turun.
Kearifan Lokal Untuk Konservasi Mata Air Page-80 4.3.4. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Penemuan-penemuan di bidang ilmu penegtahuan dan teknologi juga dapat memberikan pengaruh terhadap kearifan lokal. Sebagai contoh : sebelum ditemukannya varietas padi IR, para petani menanam padi varietas lokal yaitu padi bulu (beak ganggas) umurnya dipersemaian saja sekitar dua (2) bulan dan umur di sawah lima (5) bulan jadi total umur padi sejak persemaian sampai panen adalah tujuh (7) bulan.
Para petani maksimal dapat menanam padi dua kali setahun sedangkan sekarang sejak ditemukannya varieatas padi unggulan (padi IR), para petani dapat panen padi tiga kali setahun. Selanjutnya sarana untuk mengolah tanah sawah, dahulu para petani hanya menggunakan bajak dengan tenaga sapi dan kerbau yang tentunya membutuhkan waktu yang relatif lama. Sedangkan sekarang petani mengolah sawah dengan traktor yang membutuhkan
waktu lebih singkat. Untuk pengolahan padi pasca panen, tempo dulu dengan ditumbuk (tenaga manusia) membutuhkan tenaga dan waktu ektra sedangkan sekarang mengolah padi dengan mesin penggiling padi ( heler). Pengaruhnya terhadap pelaksanaan Perang Topat yaitu warga terkadang mengabaikan bahkan acuh (hanya datang pada hari H) karena warga masyarakat sibuk dengan kegiatan usaha masing-masing dan merasa lebih mampu secara ekonomi.
Bentuk kearifan lokal yang ada dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, kepercayaan, sanksi dan aturan-aturan khusus, sehingga mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi bermacam-macam pula. Demikian juga halnya yang terjadi di Lingsar, di sini ada beberapa anjuran jika masuk ke Kemalik antara lain: a) meminta ijin kepada pemangku atau petugas jaga, b) berpakaian sopan dan rapi, c) menghormati dan tidak ribut/membunyikan musik yang dapat mengganggu orang yang sedang melakukan upacara ritual di Kemalik, d) memakai sabuk tradisional adat (dodot).
Selanjutnya untuk tetap menjaga keutuhan dan kesucian mata air Kemalik yang disucikan dan disakralkan, beberapa larangan di sekitar Kemalik antara lain sekitar satu kilometer ke arah timur, barat, utara dan selatan dari Kemalik
Kearifan Lokal Untuk Konservasi Mata Air Page-81 dilarang: a) merusak alam sembarangan termasuk menebang pohon, b) memelihara babi, memakan babi, membawa daging babi dan peralatan untuk memasaknya, memotong babi untuk keperluan upacara, c) Wanita yang haid, junub dan nifas dilarang masuk ke Kemalik.
Di dalam komplek Kemalik sering diadakan ritual baik umat Islam maupun umat Hindu, bentuk ritualnya bermacam-macam tergantung pada niat atau hajatnya. Ritual ini dipimpin oleh Pemangku atau wakil pemangku, tujuan inti dari ritual adalah berdoa/memohon, bermunajat kepada Allah pencipta alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa agar tetap diberikan kesehatan, keselamatan, terhindar dari semua macam bencana.
Jadi ritual juga dapat memberi semangat dan motivasi, agar orang yang melakukan ritual doa dan permohonannya terkabul maka yang bersangkutan harus mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangannya. Termasuk dalam hal ini adalah jika mau selamat dan terhindar dari malapetaka, maka siapa saja yang melakukan ritual harus juga menjaga sumberdaya alamnya termasuk hutan, tanah dan air agar tetap lestari. Dengan istilah yang lebih populer bahwa hablumminallah dan habluminannas serta hablumminal alam juga harus seimbang.
Kearifan lokal yang ada di Lingsar (Kemalik, Pujawali dan Perang Topat) sangat erat kaitannya dengan kegiatan riual-ritual yang merupakan simbol dari pengelolaan sumberdaya alam. Dalam pelaksanaanya terjadi mobilisasi massa sebagai wujud dari partisipasi dan merupakan komitmen dari sistem sosial yang ada. Selanjutnya sebagai konsekwensi dari pelaksanaan kearifan lokal ini, warga masyarakat harus rela berkorban. Mereka harus menggunakan air dengan irit dan bijaksana walaupun airnya melimpah, tidak boleh menebang pohon sembarangan walaupun di pekarangan sendiri tetapi mereka mau dan rela untuk bergotong royong melakukan reboisasi.
Disamping rela berkorban, pelaksaan kearifan lokal tersebut juga mengandung hal-hal yang tabu (tidak boleh dilaksanakan) di tengah masyarakat antara lain tidak boleh melanggar awig-awig yang berlaku di tengah masyarakat.
Kearifan Lokal Untuk Konservasi Mata Air Page-82 Pelaksanaan kearifan lokal di Lingsar dalam menjaga dan melestarikan atau mengkonservasi sumber daya air ini mirip dengan adat orang Ndau di Zimbabwe dan masyarakat desa Okorobi di Ethiope Delta State Nigeria yaitu melarang wanita yang menstruasi memasuki badan air (Obi lake) dan melarang menebang kayu dan mengumpulkan kayu bakar pada radius 30 meter dari Obi lake.
DAFTAR PUSTAKA
Adil A. 2008., Makna Budaya Pujawali dan Perang Topat Bagi Masyarakat Sasak di Lingsar, Tesis, Program Pascasarjana Magister Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang
Anonimous. 2004. The Global Water Crisis. //www.savewater.com.au/ default.asp?
Balai Informasi Sumber Daya Air. 2013. Neraca Air Pulau Lombok, Dinas PU, NTB, 2013.
Chacon R. 2012. Conservation or Resource Maximization? Analysing Subsistence Hunting Among the Achuar (Shiwiar) of Ecuador. In: The Ethics of Anthropology and Amerindian Research: Reporting on Environmental Degradation and Warfare. Eds., R. Chacon and R.Mandoza. New York: Springer. pp.311-360.
Cox PA. (2000). Will Tribal Knowledge Survive the Millennium? Science.287:44-45
Cox, G.W. 1997. Conservation Biology. Second ed. Mc. Graw-Hill Companies inc New York.
Cox, GW. 2000. General Ecology: A Laboratory Manual. Mc Graw Hill Book. New York Tiwari BK, Barik SK, Tripathi RS (1998). Biodiversity Value, Status, and Strategies for
Conservation of Sacred Groves of Meghalaya, India.Ecosyst. Health 4:20-32
Ramanujam MP, Kadamban D (2001). Plant biodiversity of two tropical dry evergreen forests in the Pondicherry region of South India and the role of belief systems in their conservation.
Biodiver. Conserv. 10:1203-1217.
Wadley RL, Colfer CJP. 2004. Sacred Forest, Hunting, and Conservation in West Kalimantan, Indonesia. Hum. Ecol. 32:313–338.
Wadlley RC, Colfer C, Hood I .1997. Hunting Primates and Managing Forests: The Case of Iban Farmers in Indonesioan Borneo. Hum.Ecol. 25(2):243-271.
Washington, DC.
Ntiamoa-Baidu Y. 1991. Conservation of Coastal Lagoons in Ghana: The Traditional approach’.
Landscape and Urban Planning, (20):41-46.
Tonukari O.2007. Sacred Groves and Tree Worship Among the Urhobos, Sapele, Eke Publishers, pp.45 – 47
Towards Integrated Natural Resource Management in Forest Margins of The Humid Rim-Rukeh A, G. Irerhievwie, I. E. Agbozu. 2013. Traditional beliefs and conservation of natural
resources: Evidences from selected communities in Delta State, Nigeria, International Journal of Biodiversityand Conservation, Vol. 5(7), pp. 426-432.
Deb. D. Malhotra.KC. 2001. Conservation Ethos In Local Traditions: The West Bengal Heritage.
Soc. Nat. Res. 14:711-724.
Eneji CVO, Gubo Qi, Jian Xiaoying, Oden SN, Okpiliya FI. 2009. A Review of the Dynamics of Forest Resources Valuation and Community Livelihood: Issues, Arguments and concerns, J. Agric. Biotechnol. Ecol. 2(2):210-231.
McLeod MD.1981. The Ashanti. British Museum Publication Ltd
Kementerian PU NTB, 2014
WWF Indonesia-Program Nusa Tenggara, 2008,
Markum, E Arie Soesiloningsih , 2013, Agroforestry systems under rules of community-based forest management support local liveholds in the Jangkok watershed, Lombok Island,Agrivita journal ac.id.
Balai Informasi Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTB 2012
Akhmar, A.M. dan Syarifuddin. 2007. Mengungkap Kearifan Lingkungan Sulawesi Selatan, PPLH Regional Sulawesi, Maluku dan Papua, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. Makasar: Masagena Press.
Keraf, S. 2006. Etika Lingkungan. Jakarta: Gramedia.
Ernawi, I. S. 2010. Harmonisasi Kearifan Lokal Dalam Regulasi Penataan Ruang. Makalah pada Seminar Nasional “Urban Culture, Urban Future: Harmonisasi Penataan Ruang dan Budaya Untuk Mengoptimalkan Potensi Kota”. Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.
Estimating Natural Recharge.
Shastri CM, Bhat DM, Nagaraja BC, Murali KS, Ravindranath NH. (2002). Tree Species Diversity in a Village Eecosystem in Uttara Kannada District in Western Ghats, Karnataka. Curr. Sci. 82:1080-1084.
Suryadi, K., E. Malihah, R. Sartika, W. Damayanti, dan D. Turgarini. 2012. Penggalian Nilai Kearifan Lokal di Kampung Naga Tasikmalaya. http://fpips.upi.edu/berita-574-
penggalian-nilai-kearifan-lokal-di-kampung-naga-tasikmalaya-di-ekspose--fpips-di- negara-jiran-.html (Diakses 20 Mei 2012).
Wibowo, K. T. 2011. Peranan Kearifan Lokal Dalam Membangun Perekonomian Masyarakat Adat Di Indonesia. https://plus.google.com/1135860236610
67347087/posts/f6vXvmQXKFr. (Diakses 2 April 2012).
Al Buqhory, A. 2012. Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan.
http://asroalbuquere.blogspot.com/2012/01/kearifan-lokal-dalam-pelestarian.html.
Hidayat, K. dan Soemarno. 2007. Ekologi Manusia. Malang: PPS UB.
Syahrin, A. 2011. Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Kerangka Hukum Nasional. http://alvisyahrin.blog.usu.ac.id/ 2011/05/09/ kearifan-lokal-dalam- pengelolaan-lingkungan-hidup-pada-kerangka-hukum-nasional/. (Diakses 7 Desember 2011).
Wibowo, K. T. 2011. Peranan Kearifan Lokal Dalam Membangun Perekonomian Masyarakat Adat Di Indonesia. https://plus.google.com/1135860236610
67347087/posts/f6vXvmQXKFr. (Diakses 2 April 2012).
Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta.
Setiawan, B. 2006. Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lingkungan. Dari Ide Ke Gerakan, PPLH Regional Jawa, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI, Yogyakarta.
Salman, D. 2012. Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas, Edisi I.
Makassar:
Wurianto, A.B. 2010. Transformasi Nilai-nilai Luhur Sastra Jawa Klasik Sebagai Pengembang
"Content" Pendidikan Karakter Berkearifan Lokal Di Sekolah. UMM, Malang.
http://www.adjisaka.com/kbj5/index.php/02-makalah-komisi-a/631-02-transformasi- nilai-nilai-luhur-sastra-jawa-klasik.
Ridwan, N. A., 2007. Landasan Keilmuan Kearifan Lokal. P3M STAIN Purwokerto. Ibda’.
5(1).27-38.
Rustanto, B. 2007. Peningkatan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil Berbasis Kearifan Lokal. Informasi, Vol. 12, No. 02.
Yuliati,Y. dan M. Poernomo. 2003. Sosiologi Pedesaan. Edisi I. Malang: Risalah Kerto Pustaka Utama.
Solihin, A. dan A. Satria. 2007. Hak Ulayat Laut di Era Otonomi DaerahSebagai Soluasi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Kasus awig-awig di Lombok Barat. Sodality:
Transdisiplin Sosiologi, Kmonunikasi, dan Ekologi Manusia. April (01), Vol. 01, 67-68
Susilo, E. 2006. Meningkatkan Daya Adaptasi Nelayan Tradisional. Dalam Syafa’at et al., 2008.
(Editor). Negara, Masyarakat Adat dan Kearifan Lokal. Malang: In-Trans Publishing.
Saharuddin. 2009. Pemberdayaan Masyarakat Miskin Berbasis Kearifan Lokal. Soladity: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. Vol. 3. No. 1
Salman, D. 2012. Sosiologi Desa: Revolusi Senyap dan Tarian Kompleksitas, Edisi I. Makassar:
Utari, A.D. 2012. Penerapan Strategi Hutan Rakyat Opsi Penyelamatan Kehancuran Hutan Negara. Yogyakarta: Cakrawala.
Sardjono, M.A. 2011. Promoting Research on Indonesian Community Forestry Practices Towards Global Issues. Makalah disampaikan pada seminar INAFOR 5 – 7 Desember 2011 di Bogor.
Bisjoe. A.R.H., Alhamid, H. 2005. Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan di Irian Jaya.
Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manokwari.
Bogor.
CIFOR. 2001. People Managing Forests. The Link between Human Well-being and Sustainability. Editor: C.J.P. Colfer dan Yvonne Byron. Bogor. Indonesia.
Coast Annals of the Association of American Geographers, 78: 453-472.
computing. John Willey & Sons. New york.
Contentious Rural and use. Journal of Environmental Psychology, 34 (June):121-136 Conversion Plan in the Pacific Northwest . The Nature Conservancy . New Zealand.
Suprayitno, 2008, Pelibatan Masyarakat Local :Upaya Pemberdayaan Masyarakat Menuju Hutan Lestari,Jurnal Penyuluhan IPB. ISSN : 1858-2664
Ife, J. and F.Tesoriero. 2008. Community Develpoment: Community-Based Alternatives in Age of Globalisation. Third Edition. Pearson Education Australia. Manullang, S., et al., (penterjemah). 2008. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi. Yogyakarta.
Rahmawaty,2004. Hutan, Fungsi dan Peranannya Bagi
Masyarakat.Http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1/hutan-rahmawaty6.pd (diakses 3 Februari 2012)
Abubakar, Iskandar. (2001). Antisipasi penggunaan bahan bakar untuk transportasi di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
Horton P.B.,Chester L Hunt. 1987. Sosiologi, Jilid I, terj. Aminudin Ram & Tita Sobari.
Jakarta: Erlangga, 208
Horton P.B.,Chester L Hunt. 1987. Sosiologi, Jilid I, terj. Aminudin Ram & Tita Sobari.
Jakarta: Erlangga, 208
Turner ll, B.L., G.Hyden and R.W.Kates. 1993. Population Growth and Agricultural Change in Africa. University of Florida Press, Gainesville, Florida.
Turner ll, B.L.B.Brush (Eds.). 1987. Comparative Fam1ing Systems. Guilford, New York.
Turner II, B.L. dan A.M.S.Ali. 1996. lnduced intensilication: agricultural change in Turner II, B.L., R.Q.Hanham. A.V.Porlararo. 1977. Population Pressure and Agricultural Turner ll, B.L.., R.Q.l-lanham dan A.V.Portararo. 1977. Population Pressure dan Agricultural Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi
University. Yogyakarta.
Ali, A.M.S. 1987. lntensive Paddy Agriculture in Shyampur, Bangladesh. Dalam: B.L. Turner Ali, A.M.S. 2006. October 2005 Famine in Northern Bangladesh: a Rapid assessment of its Ali, A.M.S. 2007. Population Pressure, Agricultural Intensification and Changes in Rural
and Proportional Diversity.Am Nat 158:86-299.
Soekanto. 2006. Sosiologi. Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya
Selo Soemarjan. 2009. Perubahan Sosial di Yogyakarta, Komunitas Bambu (cetakan kedua) Seminar Pengelolaan Hutan dan Produksi Air Untuk Kelangsungan Pembangunan, Thomas WH (2003). One Last Chance: Tapping Indigenous Knowledge to Produce Sustainable
Conservation Policies. Futures 35:989-998.
Smith EA, Wishnie M.2000. Conservation and Subsistence in Small Scale Societies. Ann. Rev.
Anthropol. 29:493–524.
1. Tenson Muyambo* and Richard S. Maposa.2014. Linking culture and water technology in Zimbabwe: Reflections on Ndau experiences and implications for climate change.Faculty of Arts, Zimbabwe Ezekiel Guti University, Zimbabwe. Journal of African Studies and Development. Vol. 6(2), pp. 22-28.
2. Tia Oktaviani Sumarna Aulia, Arya Hadi Dharmawan. 2010. Kearifan Lokal dalam Tiwari BK, Barik SK, Tripathi RS (1998). Biodiversity Value, Status, and Strategies for Conservation of Sacred Groves of Meghalaya, India.Ecosyst. Health 4:20-32.
3. Siswadi, Tukimin Taruna, Hartuti Purnaweni. 2011. Kearifan Lokal Dalam Melestarikan Mata Air
4. Basanti Rai,2014,Conservation and management of water resources: A case study of Duga, Sikkim Himalaya.
5. JD Williams. 2014 , The third dialog state tracking challenge. M Henderson, B Thomson, IEEE Spoken Language Technology Workshop (SLT), 324-329,
6. AL Daigh, MJ Helmers, E Kladivko, X Zhou, R Goeken, J Cavdini, B D.,2014 ... Journal of Soil and Water Conservation 69 (6), 564-573, 2014. 51, 2014. Yields and ...
7. Lal, Chaman,Verma, L R, 2008, Indigenous Technological Knowledge on Soil and Water Management From Himachal Himalaya, Indian Journal of Traditional Knowledge (IJTK), New Delhi, India.
8. Sulastriyono, 2005. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber daya Air di Telaga Oman dan Ngloro Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul Yogyakarta, Laporan Hasil Penelitian Fakultas Hukum UGM Yogyakarta.
9. Koentjaraningrat. 1987. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
10. The Fifth national Report to The Republic of The Phillipines, 2014, biological Diversity) 11. Lal, Chaman,Verma, L R, 2008, Indigenous Technological Knowledge on Soil and
Water Management From Himachal Himalaya, Indian Journal of Traditional Knowledge (IJTK), New Delhi, India.