Tabel 2. Matriks tahapan kegiatan pemantauan status kondisi mangrove No Tahapan Kegiatan
Survey
awal Survey berikutnya
t0 t1 t2 tn…
1 Persiapan tim + + + +
2 Persiapan administrasi dan perijinan + + + +
3 Persiapan Peralatan + + + +
4 Penentuan Stasiun & Pembuatan
Peta Tematik Temporer + - - -
5 Pelacakan stasiun permanen - + + +
6 Pengukuran data lapangan + + + +
7 Penghitungan persentase tutupan + + + +
8 Analisa data + + + +
9 Intepretasi hasil + + + +
10 Pembuatan laporan + + + +
Keterangan : (+) : diperlukan; (-) : tidak diperlukan
3
PENENTUAN PLOT PERMANEN (Khusus Baseline Survey) a. Input koordinat geografis titik potensial ke dalam GPS
1. Diperhatikan dengan seksama peta tematik temporer, khususnya tabel yang memuat informasi koordinat stasiun potensial.
2. Siapkan GPS dalam kondisi hidup
3. Tekan [mark] atau [enter] untuk menambahkan sebuah titik yang disebut ”waypoint”
pada GPS
4. Masukkan nama titik potensial dan koordinat geografisnya pada GPS 5. Tekan [OK] untuk menyimpan titik koordinat potensial.
6. Langkah yang sama dilakukan, sampai seluruh titik potensial dimasukkan.
b. Pelacakan titik stasiun potensial
1. Tekan tombol [Find] pada GPS receiver yang berguna untuk mencari waypoints yang merupakan titik potensial yang telah tersimpan sebelumnya.
2. Pilih [waypoint] dengan tombol [ENTER]
3. Pilih nama waypoint dengan tombol [ENTER]
4. Tahap selanjutnya, pilih [Go to] dengan tombol [ENTER], kemudian GPS receiver akan menunjukkan posisi dan arah stasiun/plot tersebut secara otomatis dari posisi GPS receiver saat ini.
5. Perahu diarahkan ke posisi tegak lurus dengan telah ditunjukkan dalam GPS receiver untuk kemudian dilakukan pengambilan data.
Gambar 17. Tampilan pada layar GPS komponen utama yang disesuaikan dengan koordinat titik potensial.
c. Pembuatan Plot Permanen
1. Perhatikan beberapa persyaratan berikut ini:
- Kondisi lapangan harus aman dari berbagai bahaya, seperti binatang buas, arus dan gelombang
- Akses masuk yang tidak sulit dan berbahaya
- Informasi dari masyarakat lokal tentang deskripsi wilayah sekitar
- Tidak diperbolehkan berada dipinggir/batas laut dan mangrove, minimal harus masuk ke dalam 10-20 meter. Namun, apabila ekosistem mangrove dalam kawasan tersebut tipis, maka diambil titik tengahnya sebagai titik plot.
2. Jika seluruh persyaratan sudah terpenuhi, pembuatan plot diawali dengan penandaan posisi geografis plot permanen tersebut pada GPS. Titik ini akan menjadi titik posisi stasiun pemantauan selanjutnya
3. Dibuat plot kuadrat berukuran 10m x10m dengan menggunakan tali transek dan dipastikan bentuk plot berbentuk bujur sangkar.
4. Disepanjang tali transek, diikuti oleh tali plastik yang diikat pada pohon atau akar terdekat dengan kuat untuk menghubungkan setiap pojok plot. Setiap plot digunakan warna tali plastik yang berbeda-beda.
5. Setiap plot yang berada di dalam dan paling pojok plot dilakukan pengecatan dengan menggunakan cat semprot fluorescence lebih tebal (dibandingkan dengan pohon- pohon lainnya). Lebar pengecatan lebih dari 5 cm.
6. Dilakukan cara yang sama untuk membuat plot-plot lainnya, namun dengan warna tali plastik dan cat semprot yang berbeda pada plot yang bersinggungan.
7. Penentuan jumlah plot mengikuti persyaratan berikut:
- Jumlah plot ditentukan berdasarkan waktu, tenaga dan anggaran yang tersedia.
- Kawasan mangrove yang memiliki zonasi yang jelas dilakukan peletakan 3 plot berseri di setiap zona (Gambar 19a)
- Pada lokasi yang memiliki komunitas mangrove yang cukup tebal dan homogen (setelah masuk lagi 100 m ke dalam struktur komunitas masih sama) maka minimal dilakukan pembuatan plot sebanyak 3 plot secara berseri (Gambar 19b)
Gambar18. Tampilan layar GPS yang memuat langkah-langkah pelacakan titik potensial untuk pemantauan komunitas mangrove.
- Hutan mangrove yang tipis (10-30 m) yang tidak memiliki batas stratifikasi yang jelas maka penentuan plot bisa dilakukan secara acak dengan minimal 3 plot ulangan dimana disarankan penempatan plot berada di tengah dan ujung ekosistem mangrove (Gambar 19c).
d. Penamaan Stasiun dan Plot Permanen
Mengingat anggota/tim/orang yang terlibat dalam pemantauan mangrove yang berbeda-beda, maka diperlukan penyeragaman nama stasiun dan plot permanen untuk menyamakan persepsi antar pemantau yang berbeda. Untuk itu, dapat disepakati bahwa penamaan stasiun terdiri dari nama kabupaten, nomor urut stasiun dan nomor plot. Sebagai contoh, pemantauan mangrove di lokasi Kabupaten Natuna, maka format penamaan yaitu: NTNM01.01. “NTNM” terdiri dari kode “NTN” = Natuna dan “M” = Mangrove; “01” pertama merupakan urutan stasiun; dan
“01” berikutnya sebagai interpretasi penomoran plot pada stasiun. Berikut ini adalah beberapa contoh penamaan stasiun dan plot yang diambil berdasarkan lokasi pemantauan oleh CRITC COREMAP LIPI pada fase 2 dalam Tabel 3.
PENCARIAN LOKASI STASIUN PERMANEN (SURVEY TN)
Gambar 19. Ilustrasi penentuan plot permanen (kotak putih dan abu) untuk pemantauan komunitas mangrove. Keterangan: a) mangrove dengan tiga stratifikasi/
zona yang berbeda; b) vegetasi mangrove dengan stratifikasi dan atau tanpa stratifikasi yang jelas; dan c) vegetasi mangrove dengan ketebalan < 30 meter.
Plot yang berwarna putih merupakan minimal jumlah plot yang harus dibuat.
Plot yang berwarna abu sebagai plot tambahan, apabila masih tersedia waktu dan tenaga.
Tabel 3. Contoh kode penamaan stasiun pemantauan mangrove mengacu pada lokasi CRITC COREMAP LIPI pada fase 2.
WILAYAH BARAT WILAYAH TIMUR
NO Kode Kabupaten/Lokasi No Kode Kabupaten/Lokasi
1 NTNM Natuna 1 PKPM Pangkep
2 BTNM Bintan 2 SLYM Selayar
3 BTMM Batam 3 BUTM Buton
4 LGGM Lingga 4 WKTM Wakatobi
5 NISM Nias Selatan 5 SKKM Sikka
6 MTWM Mentawai 6 BIKM Biak-Numfor
7 RJAM Raja Ampat
a. Input koordinat geografis stasiun permanen ke dalam GPS
- Siapkan peta pemantauan yang sudah dibuat sebelumnya. Biasanya peta tersebut dibuat ketika pembuatan laporan kegiatan tahun sebelumnya.
- Perhatikan peta pemantauan dan titik koordinatnya.
- Titik koordinat geografisnya dimasukkan pada GPS, dengan langkah-langkah yang sama dengan proses input stasiun potensial diatas.
b. Pelacakan stasiun permanen
Proses pelacakan dilakukan dengan GPS mengikuti langkah-langkah yang sama dengan pelacakan titik potensial pada langkah kegiatan sebelumnya diatas.
c. Penentuan batasan plot permanen.
- Sebelum melakukan pengambilan data, harus diperhatikan kecenderungan bentuk, arah dan batasan plot yang telah dibuat tahun sebelumnya.
- Ditandai kembali pada posisi yang sama, dengan menggunakan tali plastik dan cat semprot.
- Jika penandaan sebelumnya kurang jelas, lakukan pembuatan plot kembali dari titik awal dengan mengikuti tanda-tanda minimal yang teramati.
- Pastikan telah mendapatkan beberapa bukti penandaan sebelum membuat plot baru.
PENGAMBILAN DATA PERSENTASE TUTUPAN KANOPI KOMUNITAS Persentase tutupan mangrove dihitung dengan menggunakan metode hemisperichal photography (Gambar 20) yang membutuhkan kamera pada satu titik pengambilan foto (Jenning et al., 1999;
Korhonen et al., 2008). Teknik ini cenderung cukup baru digunakan pada hutan mangrove di Indonesia, penerapannya mudah dan menghasilkan data yang lebih akurat.
Gambar 20. (a) Ilustrasi metode hemisperichal photography untuk mengukur tutupan mangrove (Korhonen et al., 2008; Jenning et al., 1999) (b) hasil pemotretan dengan lensa fisheye secara vertikal.
Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan data dilakukan dengan kamera untuk mengambil foto yang diarahkan tegak lurus ke arah langit.
2. Setiap plot 10x10 m2 dibagi menjadi beberapa subplot/kuadran posisi pengambilan foto tergantung dari kondisi hutan mangrovenya, antara lain:
- Mangrove dengan kanopi yang rapat, menutupi seluruh plot, kondisi masih sangat alami dan tegakan pohon yang tinggi, dilakukan pengambilan foto sebanyak 4 empat foto pada setiap plot.
- Mangrove dengan kanopi yang tinggi, kondisinya ada beberapa penebangan atau kondisi tutupan yang tidak sempurna menutup seluruh plot, maka dilakukan pengambilan foto sebanyak 5 foto pada setiap plot.
- Jika pohon rendah, atau tutupan kanopi tidak beraturan, atau banyak penebangan, maka pengambilan foto dilakukan sebanyak 9 kali dalam setiap plot.
3. Titik pengambilan foto, ditempatkan di sekitar pusat plot kecil; harus berada diantara satu pohon dengan pohon lainnya; serta hindarkan pemotretan tepat disamping batang satu pohon.
4. Posisi kamera disejajarkan dengan tinggi dada peneliti/
tim pengambil foto serta tegak lurus/menghadap lurus ke langit.
5. Pada pohon yang berukuran rendah, pengambilan gambar dilakukan dibawah kanopi atau sejajar dengan batang utama.
Gambar 21. Posisi pengambilan foto yang sesuai pada beragam kondisi kanopi mangrove.
Gambar 22. Letak pengambilan foto dalam setiap plot yang baik dan benar dengan mempertimbangan posisi pohon disekitarnya.
6. Untuk membatasi tiap plot, dilakukan pengambilan gambar lingkungan atau data sheet, swafoto atau bisa dengan teknik lainnya yang hanya bertujuan untuk memisahkan foto-foto dari plot yang berbeda.
7. Dihindarkan pengambilan foto ganda pada setiap kuadran untuk mencegah kebingungan dalam analisis data.
8. Diminimalisir sorotan langsung sinar matahari mengenai lensa kamera untuk mendapatkan kualitas foto yang terbaik.
9. Lensa kamera yang digunakan harus kering sehingga harus dihindari dari lembab atau basah air laut, air minum ataupun keringat. Jika sudah lembab, keringkan lensa dengan lap kering sebelum menggunakannya.
PENGAMBILAN DATA STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE
1. Dalam setiap plot, 10m x10m dilakukan pengukuran diameter batang pohon mangrove (diameter > 4 cm atau keliling batang ≥ 16 cm) (Ashton & McIntosh, 2002) dengan menggunakan meteran kain pada variasi letak pengukuran berdasarkan English et al. (1997) dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove yang ditampilkan pada Gambar 23.
Gambar 23. Posisi pengukuran lingkar batang pohon mangrove pada beberapa tipe batang, yang dipengaruhi oleh sistem perakaran dan percabangan (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove).
2. Pengukuran dilakukan pada seluruh pohon yang berada di setiap plot.
3. Pada tempat pengukuran, setiap batang ditandai dengan cat semprot dengan lebar < 5 cm dan mengelilingi pohon.
4. Identifikasi jenis dilakukan berdasarkan acuan Tomlinson (1986), Noor et al. (1999), Giesen et al. (2006), dan Kitamura et al. (1999).
5. Apabila terjadi keraguan dalam identifikasi, dilakukan pemotretan bagian tanaman tersebut, yaitu tegakan, akar, batang, daun, pembungaan dan buah serta dilakukan pengambilan sampel untuk diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium dengan bantuan literatur atau dengan bantuan pakar identifikasi mangrove.
6. Setiap data yang diperoleh dicatat dalam data sheet yang telah disiapkan pada kertas tahan air. Pencatatan data hasil pengukuran dilakukan berdasarkan data sheet yang dibuat pada Gambar 24 dan Lampiran 1.
NO KODE
JENIS KLL
1 Ra 17
2 Ra 18
3 Ra 19
4 Ra 18
5 Ra 19
6 Ra 19
7 Ra 19
8 Ra 19
9 Rm 31
10 Rm 32
11 Rm 23
12 Rm 33
13 Rm 34
14 Bg 42
15 Bg 42
NO KODE
JENIS KLL
16 Sa 17
17 Sa 17
18 Sa 17
19 Sa 18
20 Bg 43
21 Bg 45
22 Bg 17
23 Bg 17
24 Am 17
25 Am 18
26 Am 19
27 Am 18
28 Am 19
29 Am 19
30
NO KODE
JENIS KLL
31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45
TANGGAL : 23/8/2014
LOKASI : Pulau Sedanau, NTNM
STASIUN : 1
PLOT : 1
GPS POINT : 001 POSISI X : U 3o 38.353 POSISI Y : T 108o 03.491
NO. PHOTO : 01-12
SUHU : 300
SALINITAS : 28o/oo
pH : 7
SUBSTRAT : Lumpur/Pasir
Keterangan :
1. TANGGAL : Tanggal pelaksanaan kegiatan 2. LOKASI : Nama Desa/Pulau dan Kabupaten
3. STASIUN : Nomor Urutan stasiun pemantauan dalam satu kabupaten
4. PLOT : Nomor urutan plot permanen dalam satu stasiun pemantauan, penomoran dimulai dari angka “1”, apabila akan mengerjakan stasiun lainnya pemantauan penomoran diulangin dari awal.
5. GPS POINT : Nama waypoint plot permanen tersebut yang tersimpan dalam GPS receiver 6. POSISI X : Posisi koordinat lintang plot pemantauan
7. POSISI Y : Posisi koordinat bujur plot pemantauan
8. NO. PHOTO : Penomoran foto dalam satu plot yang tersimpan di dalam memori kamera 9. NO : Nomor urutan jenis mangrove yang dicatat
10. KODE JENIS : Dua huruf yang digunakan sebagai singkatan suatu jenis mangrove
dan bertujuan untuk mempercepat proses pencatatan data. Huruf awal merupakan genus, sedangkan huruf kedua adalah identitas spesies. Misalnya “Rm” berasal dari “R”(Rhizophora) dan “m”(mucronata)
11. KLL : Ukuran lingkar batang pohon mangrove
Gambar 24. Contoh pengisian data sheet pemantauan mangrove di Kabupaten Natuna