• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian Waris Melalui Hibah Waris

Yang menjadi catatan dalam pembagian waris secara damai adalah: Semua hli waris harus mengertahui dan menyadari terlebih dahulu berapa bagiannya yang telah diterimanya dari pembagian dengan menggunakan furudhul muqaddarat. Setelah semua ahli waris tersebut mengetahui semua baniannya, kemudian diasdakan musyawarah untuk membagi kembaki bagian-bagian yang telah mereka terima , pastinya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai kesepakatan keluarga.

Berbuat adillah kamu dalam pemberian di antara anak- anakmu.” (HR. al-Bukhari).86

اَُْبا ُويِعٍَ ْشِإاَلاَكاًلَْ ُنْا ِبَِ أا ِنَِّيَ ْ

نَْ أا َلاَ

كاٍيِشَبا َِْةاِناٍَْعُّلجاا ََْخاِ ِبِْعَشلاا ََْخ اَثَذاَوَرا ُجِِْةاُةَرٍَْخا ِمُِّ

أاُلَا ْجَ َىاَلَذا َلاَكاُلَااًٌَلَُغا ًثَ َيْ ِنْا ِمَْٔلْ

ىاا ِ ْيَبا ٌَِْا ًٍِلاَش اَشَواِّْيَيَعاُللهاا َلَّ َصاِللهاا َلُٔشَرا ِجْئا اِّْيَ

يَعاُللهاا َلَّ َصا َ ِبَِلجااتََ َ لَ

فاُهْدِْٓشَلَفاًََي

اَنَِِواًلَْ ُنْا َناٍَْعُّلجاا ِنِّْةاا ُجْيَ َنْا ِنِِّإاُ َلَا َلاَلَذاُ َلَا َمِلَذاَرَنَذَفاُهَدَْٓشَلَفاًََيَشَو اُهأَِشاٌلََوا َمَ َلَ

أا َلاَلَذا َلاَ

كا َمِلَذا َ َعَلا َكَدِْٓشُأاْنَأا ِنِّْ َلتَ لَشاَةَرٍَْخ اًَْعَجا ُجْيُكا َلاكَ

اِءَلُؤَْا ُ ْعَبا َلاَلَذا َلاَكاَلا َلاَكاَناٍَْعُّلجاا َجْي َطْخَ

أااٌَا َوْثٌِا َجْي َطْخَأآًَُْ ُكَُفاَلاَك ا َلاَ

كايِ ْيَدااَذَْا َ َعَلاْدِْٓشَلَفاٌثَئِخْيَحااَذَْآًُُْاْعَبا َلاَكَواٌرَْٔحااَذَْاَيِثِدَرٍُْلا اْيَىَ

أاِِّثيِدَذا ِفِاُةَيِغٌُ

ا َلاَ

كاٌءأََشا ُِ ْطُّ

يلاَوا ِ ِرْ

ىاا ِفِا َمَلاأُُُٔسَيا ْنَ

أا َكُّ ُسَُيا َس ا ٌَِْا َمْيَيَعا ًَُْٓ

لا َنِإاِِّثيِدَذا ِفِاٌ ِلَاَ ُمُاَرَنَذَوايِ ْيَدااَذَْا َ َعَلاْدِْٓشَلَفا َلاَكاًَْعَج اْنَ

أا ِقَْ

لْاا ٌَِْا ًِْْٓيَيَعا َمَلاَنَأااٍََنآًَُِْْيَةا َلِدْعَتاْنَأا ِقَْلْا ا

ا.َكوُّ َرَح أةأاهاور )

دحمأوادواد ا (

“Diriwayatkan dari al-Sha‘bi dari Nu‘man Ibnu Basyir, ia berkata: Ayahku memberiku suatu pemberian. Berkata Isma‘il Ibnu Salim dari salah seorang saudara-saudaranya. Ia (ayahnya) telah memberikan kepadanya seorang budak laki- laki. Ia berkata: Ibuku ‘Amrah Binti Rawahah berkata kepadanya: Datanglah kamu kepada Rasulullah SAW dan persaksikanlah kepadanya. Kemudian ia mendatangi Rasulullah SAW dan mempersaksikan serta menyampaikan hal itu seraya berkata: Saya telah memberi kepada anakku (al-Nu'man) suatu pemberian, kemudian ‘Amrah meminta saya agar mempersaksikan ini kepadamu (kepada Rasulullah SAW). Rasulullah kemudian bertanya: Apakah kamu punya anak laki-laki yang lain? Ia mengatakan; Saya menjawab: Ya.

Kemudian beliau bertanya lagi: Apakah mereka telah kau beri sebagaimana yang kau berikan kepada an-Nu‘man? Ia

86 Bukhari, Sahih Bukhari, Maktabah al Shamilah

menjawab, tidak. Maka sebagian anak-anak akan mengatakan: Ini merupakan perbuatan curang, sedang yang lain akan mengatakan: Ini adalah perbuatan pilih kasih. Maka persaksikanlah pemberian ini kepada selain diriku. Berkata Mughirah dalam pembicaraan dengannya: Bukankah kamu menjadi senang, mereka berbuat baik dan bersikap sopan yang sama kepadamu? la menjawab: Ya. Ia berkata;

Persaksikanlah hal itu kepada selain diriku. Dan disampaikan oleh Mujalid dalam pembicaraan dengannya: Mereka punya hak terhadapmu untuk berlaku adil di antara mereka, sebagaimana kamu mempunyai hak agar mereka berbuat baik kepadamu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)87

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni menjelaskan bahwa pemberian orang tua kepada anak boleh untuk dilebihkan dari yang lain apabila dalam keadaan khusus, seperti kepada anak yang cacat, misalnya buta atau yang lain, atau karena anak yang disibukkan dengan mendalami dan mengembangkan ilmu; dan juga anak boleh dijauhkan dari pemberian, apabila pemberian itu justru untuk berbuat maksiat. Dalam hal melebihkan pemberian tersebut hendaknya dilakukan orang tua dengan penuh hikmah / kebijaksanaan dan sedapat mungkin atas sepengetahuan atau sepersetujuan anak-anaknya yang lain agar tidak terjadi salah paham diantara ahli waris yang menyebabkan dapat terusiknya jeutuhan keluarga.

Demikian pula Islam mengajarkan,sesesorang tidak boleh memberikan kepada orang lain secara berlebihan yang mengakibatkan kerugian atau kesengsaraan bagi anak atau ahli waris yang lain. Dalam kaidah Hukum Islam disebutkan:

87 Ibid.

اَ ل اَ ََا اَرا اَو اَ اَ َِال اَرا ا

“Tidak boleh menimbulakan kerugian (pada diri sendiri) dan juga jangan menimbulkan kerugian ( bagi orang lain)”. 88 Dalam hadis Rasululullah SAW bersabda:

ا َساَلجااَنُْٔفَفهَخَحاًثَ َى َعَاًَُْْرَذَحاْنَ

أا ٌَِْاٌ ْيَخاَءاَيِِغْ َ

أا َمَخَثَرَواَرَذَحاْنَ أا َمَُِإ

ّييعاقفخٌ) ا (

“Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang-orang.”

(Muttafaq Alaih)89

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa seseorang yang akan memberikan hartanya kepada orang lain hendaklah mempertimbangkan kemaslahatan ahli waris agar terjaga keutuhan dan kerukunan keluarga. Dan hal ini bukan disebut peristiwa kewarisan. Akan tetapi disebut hibah.

Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah pihak orang tua (selaku calon pewaris) adalah orang tua sebagai calon pewaris tadi membagi harta kekayaannya kepada semua ahli waris sebelum ia meniggal dunia. Hal ini dilakukan karena menginginkan agar sepeninggalnya anak- anaknya dan ahli waris lainnya tetap hidup dalam persaudaraan yang rukun dan damai. Orang tua telah membagi harta-hartanya kepada anak-anaknya dan

88 Al-Tufi, Kitab al-Ta’yin, 234. Al-Hadits tersebut terdapat dalam al- Muwatta` nomor 1234, Sunan Ibn Majah nomor 2331 dan 2332. Periksa, Malik bin Anas, al-Muwatta`, Vol. 5, (Bairut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.th.), 37. Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Vol. 7, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th.), 143.

89 Ibid, 243

meninggalkan sedikit harta untuk keperluan dirinya. Bahkan rumah yang ditempati orang tua sudah diberikan kepada anaknya yang nantinya bersediamerawat sampai orang tua tersebut meninggal dunia.

Kompilasi Hukum Islam mengakomodasi dan memberi pedoman kebiasaan-kebiasaan yang telah dipraktekkan masyarakat Indonesia melalui pasal-pasal berikut :

a. Pasal 211:

Hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.

b. Pasal 187:

1) Bilamana pewaris meninggalkan warisan harta peninggalan, maka oleh pewaris semasa hidupnya atau oleh para ahli waris dapat ditunjuk beberapa orang sebagai pelaksana pembagian harta warisan dengan tugas:

a) mencatat dalam suatu daftar harta peninggalan, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak yang kemudian disahkan oleh para ahli waris yang bersangkutan, bila perlu dinilai harganya dengan uang;

b) menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentingan pewaris sesuai dengan Pasal 175 ayat (1) sub a, b, dan c.

2) Sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalah merupakan harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli waris yang berhak.

c. Pasal 188:

Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Bila ada diantara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian warisan.

Yang perlu diperhatikan dalam pembagian harta sebelum pewaris meninggal dunia adalah tetap menjalankan kewajiban-kewajiban ahli waris terhadap pewaris, sebagaimana tercantum dalam pasal 175 Kompilasi Hukum Islam.

d. Pasal 175:

1) Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:

a) Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;

b) Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun penagih piutang;

c) Menyelesaikan wasiat pewaris;

d) Membagi harta warisan di antara wahli waris yang berhak.

2) Tanggung jawab ahli waris terhadap hutang atau kewajiban pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya.

Dari uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pembagian harta warisan dengan sistem hibah, yaitu pembagian “calon harta warisan” dapat dilaksanakan jika semua calon ahli waris dan pewaris mempunyai kesepakatan dan harus memperhitungkan kewajiban-keawjiban yang melekat terhadap ahli waris, misalnya: biaya perawatan, pelunasan hutang dan melaksanakan wasiat. Dengan demikian, walaupun ahli waris ini telah menerima hak-haknya, mereka harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya.Dan pelaksanakan hibah ini harus mempertimbangkan nilai keadilan, agar tidak terjadi keretakan dalam keutuhan rumah tangga.

F. Penggantian Kedudukan Ahli Waris /Ahli Waris Pengganti