• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengadilan Agama pada Periode Awal Indonesia

C. Pengadilan Agama di Zaman Penjajahan Jepang

1. Pengadilan Agama pada Periode Awal Indonesia

Terdapat beberapa persoalan terkait pengadilan agama di Indonesia selama Jangka waktu 17 tahun Indonesia Merdeka yaitu sejak tahun 1945-1974. Adapun persoalan tersebut terkait dengan:13

 Pelimpahan kementrian agama melalui ketetapan pemerintah Nomor 5 sampai dengan tanggal 25 Maret 1946

 Terbitnya Undang Undang Nomor 22 tahun 1946

 Terbitnya Undang Undang Nomor 19 tahun 1948

 Era Republik Indonesia Serikat tanggal 27 Desember 1946-17 Agustus 1950

 Terbitnya Undang Undang darurat Nomor 1 tahun 1951

 Terbitnya Undang Undang Nomor 32

 Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 tahun 1957 dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1957

 Terbitnya Undang Undang Nomor 19 tahun 1970

 Bertambanya gedung pengadilan agama dan cabang-cabangnya.

Ketika masa-masa Indonesia merdeka, pedoman peradilan agama masih belum ada, sehingga masih

merujuk pada aturan Undang Undang zaman penjajahan Belanda. Hal ini sesuai dengan pasal 2 aturan peralihan undang undang dasar Negara Republik Inonesia. Dalam pasal ini dikatakan bahwa pada semua hal terkait badan dan lembaga nergara masih berlaku peraturan sebelumnya selama masih belum ada peraturan baru yang tercipta.

Departemen agama kemudian dibentuk sekitar awal tahun 1946 yaitu pada tanggal 3 Januari 1946.

Tugasnya adalah mengatur dan menyusun administrasi badan-badan dan institusi agama islam dalam skala nasional. Secara tertulis, pengelolaan pengadilan agama diawasi oleh Departemen agama dan berada di bawah naungannya. Kemudian pada tahun 1946, berlaku Undang Undang baru yaitu Undang Undang Nomor 22 tahun 1946 terkait pendataan pernikahan, perceraian, talak dan pernikahan kembali/rujuk. Adanya undang undang ini menggambarkan bahwa sudah ada tujuan untuk menyatukan administrasi pernikahan, perceraian, talak dan rujuk secara nasional dengan diawasi oleh Departemen Agama.

Keputusan Pemerintah No.1 tertanggal 3 Januari 1946 merupakan dasar terbentuknya departemen agama. Namun, 3 bulan kemudian dikeluarkan ketetapan baru berupa Keputusan Pemerintah No.5 tertanggal 25 Maret 1946. Isi dari ketetapan ini adalah pemindahan segala persoalan dan perkara pada Mahkamah Islam Tinggi yang sebelumnya berada dibawah naungan Departemen Kehakiman dipindah ke Departemen

Agama. Semenjak itu pengadilan agama merupakan bagian fundamental dari Departemen agama.

Kemudian, Undang undang No.19 tahun 1948 diterbitkan pada tahun 1948 untuk mengatur pengadilan Agama di Indonesia. Undang undang ini mengatur bentuk formasi dan wewenang lembaga lembaga kejaksaan dan hakim. Menurut peraturan ini otoritas dan wewenang hakim di Indonesia dijalankan oleh 3 badan peradilan, diantaranya :

1) Peradilan Umum

2) Peradilan Tata Usaha Pemerintah 3) Peradilan Ketentaraan.13

Atas dasar Undang undang ini, dihapuskan tugas peeradilan agama selaku pengemban wewenang kehakiman secara independen. Kemudian Peradilan agama juga digolongkan menjadi bagian peradilan umum. Sehingga dalam mengerjakan persoalan persoalan yang sebelumnya menjadi otoritas peradilan agama dialihkan pada peradilan umum yang secara khusus ditangani oleh hakim Islam sebagai ketuanya dan ditemani oleh hakim ahli dalam agama islam berjumlah dua orang.14

Beberapa waktu kemudian, pemerintah Indonesia menerbitkan peraturan baru yaitu Peraturan Pemerinttah Nomor 45 tahun 1957 terkait pendirian Pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) selain di wilayah Pulau Jawa dan Madura. Hal ini sesuai dengan isi pasal 98 undang undang dasar sementara (UUDS) dan pasal 1 ayat 4 undang

13 M. Idris Ramulyo, Beberapa Masalah tentang Hukum Acara Perdata Peradilan Agama, (Jakarta: Ind-Hill.Co, 1991)., hal. 84

undang darurat nomor 1 tahun 1951. Pada pasal 1 disebuttkan “pada setiap tempat yang memiliki pengadilan negeri terdapat pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) yang berada di wilayah hukum sama dengan wilayah hukum pengadilan negeri”. Selain itu, pasal 11 juga berisi “ Jika tidak ada keputusan lainnya, pada Ibu kota Provinsi dapat didirikan pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) provinsi yang wilayahnya mencakup satu, lebih, daerah, provinsi yang disahkan oleh menteri agama”.

Berdasarkan ketentuan pasal 4 Peraturan Pemerintah, beberapa wewenang dan otoritas dari pengadilan agama (Mahmakamah Syar’iyah) antara lain :

1) Tugas dan fungsi dari pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) adalah meninjau, menetapkan dan mengesahkan persoalan pertikaian diantara sepasang suami istri yang memiliki agama islam.

Serta seluruh persoalan yang secara hukum harus diputuskan berdasarkan hukum agama islam.

Perkara tersebut terkait dengan persoalan pernikahan, perceraian (talaq), nikah kembali (rujuk), pembataalan penikahan (fasakh), nafkah (nafaqah), seserahan/maskawin (mahar), nikah kontrak (mut’ah) dsb.

2) Persoalan-persoalan yang berada pada penjelasan ayat 1 tidak dapat ditangani oleh pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) apabila persoalan tersebut terdapat hukum lain selain hukum agama islam yang mengikatnya.14

14 Cik Hasan Bisri, MS., Peradilan hal. 115

Dapat disimpulkan bahwa pada periode awal Indonesia merdeka terdapat sejumlah peratuan yang menangani peradilan agama, yaitu :

1) Statsblaad tahun 1882 nomor 152, statsblaad tahun 1937 nomor 116 dan 610 yang mengatur peradilan agama di wilyah pulau jawa dan Madura

2) Statsblaad tahun 1937 nomor 638 dan 639 yang mengatur Kerapatan Qadli dan Kerapatan Qadli zbesar di wilayah karesidenan Kalimantan selatan dan Timur

3) Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 1957 yang mengatur pendirian pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah) selain di wilayah pulau Jawa dan Madura.

Berlakunya sejumlah peraturan tersebut ternyata tidak cukup efektif memberikan solusi terhadap peradilaran-peradilan agama di wilayah lain. Oleh sebab itu peraturan-peraturan tersebut kemudian dicabut oleh pemerintah dan diterbitkan aturan baru yaitu Peraturan pemerintah nomor 45 tahun 1957 yang menangani pembentukan Mahkamah Syar’iyah selain di wilayah Pulau Jawa dan Madura. Pada aturan ini dijelaskan mengenai kekauasaan dan otoritas peradilan agama yang bersifat mutlak. Beberapa kewenangan Mahkamah Syar’iyah tersebut diantaranya terkait :

1) Pernikahan 2) Perceraian

3) Nikah Kembali atau Rujuk

4) Pembatalan Pernikahan atau Fasakh 5) Nafkah atau Nafaqah

6) Maskawin/seserahan atau disebut juga dengan Mahar

7) Tempat tinggal atau tempat kediaman 8) Nikah kontrak atau Mut’ah

9) Perlindungan terhadap anak kecil yang masih dibawah umur atau Hadlanah

10) Persoalan hukum waris 11) Wakaf

12) Hibah 13) Shadaqah

14) Baitul mal atau tempat penyimpanan harta kekayaan Negara.

Sekitar tahun 1964 kemudian diterbitkan dan dilaksanakan peraturan baru berupa undang undang nomor 19 tahun 1964 yang mengatur aturan aturan khusus terkait wewenang kehakiman. Aturan ini terbit pada tanggal 31 oktober 1964. Pada peraturan ini disebutkan bahwa peradilan di Indonesia berfungsi mengayomi serta memiliki tugas melakukan dan mengerjakan beberapa hukum yang diterapkan di wilayah peradilan umum, peradilan tata usaha Negara, peradilan militer serta peradilan agama. Karena sudah tidak seusai dengan kondisi pada saat itu, beberapa waktu kemudian terjadi pergantian undang undang.

Aturan baru tersebut berupa undang undang nomor 14 tahun 1970 yang mengatur aturan-aturan khusu terkait wewenang kehakiman. Pada peraturan ini menegaskan wewenang dan otoritas kehakiman sudah independen.

Dikarenakan sebelumnya, pada rentang waktu tahun 1945 sampai dengan tahun 1966, semua wilayah

peradilan tersebut belum memiliki kebebasan terkait wewenangnya, karena masih ada keterlibatan dan campur tangan dari otoritas lainnya.

Dasar terbitnya Undang undang nomor 14 tahun 1970 karena diatur oleh UUD atau peraturan-peraturan lainnya. Oleh sebab itu memerllukan aturan aturan lainnya yang mengatur implementasi dari Undang Undang keempat peradilan tersebut.

2. Peradilan Agama Masa Rentang waktu 1974 – 1991