C. Pengadilan Agama di Zaman Penjajahan Jepang
3. Peradilan Agama Setelah Lahirnya Undang-Undang
Wewenang pengadilan agama bertambah setalah disahkannya UU No.3/2006 mengenai pergantian Undang undang Nomor 7/1989. Wewenang tersebut diantaranya terkait persoalan :
1) Penghapusan ketetapan-ketetapan terkait hukum waris Undang Undang Nomor 7 tahun 1989 pada penjelasan umum angka 2 alinea 5 yang mengakibatkan pengadilan agama bisa mengurus semua persoalan waris umat Islam.
Pada peraturan ini, wewenang pengadilan di wilayah peradilan agama semakin bertambah, karena disesuaikan dengan pertumbuhan dan kepentingan hukum di masyarakat, utamanya bagi umat islam. Penambahan itu diantaranya pada bidang ekonomi syariah. Terkait pergantian aturan ini, kemudian terjadi penghapusan pada kalimat UU No.7/1989 yang berbunyi "Para Pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan”.
2) Pada pasal 2 Undang Undang Nomor 7 tahun 1989 yang berbunyi “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang ini." Terdapat kata perkara perdata tertentu dan kata perdata tidak ada. Hal ini dapat diartikan bahwa kemungkinan kedepannya Pengadilan Agama
bisa memiliki tanggung jawab dalam mengurus persoalan persoalan pidana, paling tidak terkait pelanggaran hukum pada wewenang yang dimilikinya. Sebetulnya, persoalan ini sudah dibuktikan dengan terbentuknya peradilan agama atau Mahkamah Syar’iyah yang memiliki wewenang untuk mengontrol, melaksanakan dan memutuskan persoalan tindak pidana ringan sesuai dengan undang undang yang berlaku.
Tidak adanya kata perdata pada pasal 2 Undang Undang Nomor 7 tahun 1989 memiliki arti bahwa adanya dasar hukum terhadap pengadilan agama dalam memutuskan persoalan-persoalan selain persoalan perdata. Contohnya pada pelanggaran undang undang pernikahan dan peraturan pelaksananya. Selain itu juga menguatkan dasar hukum pengadilan agama dalam melakukan wewenangnya terkait bidang kejahatan atau jinayah sesuai dengan peraturan peraturan yang berlaku diwilayahnya atau qanun. Perihal ini sesuai dengan penjelasan umum alinea 1 Undang undang Nomor 3 tahun 2006, yang berbunyi “….termasuk pelanggaran atas Undang-Undang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya dan memperkuat landasan hukum Mahkamah Syar’iyah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan qanun”.
3) Tidak adanya syarat dan ketentuan yang mengatur batas usia minimal 25 tahun untuk menjadi calon hakim pengadilan agama pada ayat 1 pasal 13. Hal ini
menunjukkan bahwa selain calon hakim pengadilan lain, pada pengadilan agama boleh terjadi perekrutan calon hakim dibawah usia 25 tahun.
Adapun isi dari pasal 13 tersebut berbunyi “Untuk dapat diangkat menjadi hakim harus pegawai negeri yang berasal dari calon hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berumur paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun”.
4) Bertambahnya bidang persoalan yang merupakan kekuasaan dan otoritas pengadilan agama
Wewenang pengadilan pada wilayah peradilan agama bertambah, hal ini dinyatakan pada Penjelasan Umum alinea 2 Undang Undang Nomor 3 tahun 2006. Perluasan tersebut yaitu terkait bidang Ekonomi Syariah. Selain itu, dijelaskan pula pada pasal 49 undang undang nomor 3/2006. Adapun bunyi dari pasal 49 tersebut adalah “Pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:
a. perkawinan;
b. waris;
c. wasiat;
d. hibah;
e. wakaf;
f. zakat;
g. infaq;
h. shadaqah; dan i. ekonomi syari'ah.
Sesuai dengan isi dari Pasal 49 tersebut, beberapa tambahan jenis persoalan yang merupakan kekuasaan dan otoritas mutlak dari pengadilan agama diantaranya adalah :
1. Pada persoalan pernikahan, yaitu ditambahkannya persoalan pengangkatan anak atau adopsi sesuai dengan hukum islam.
Penambahan ini tidak termasuk dua puluh dua macam perkara yang termuat pada pada pasal 49 diatas.
2. Pada bidang sedekah terbagi lagi jenisnya menjadi zakat, infaq dan sedekah.
3. Yang tergolong ekonomi syariah adalah segenap aktivitas yang dilakukan berdasarkan asas-asas syariah, diantaranya antara lain :
a. bank syari’ah;
b. asuransi syari’ah;
c. reasuransi syari’ah;
d. reksadana syari’ah;
e. obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah;
f. sekuritas syari’ah;
g. pembiayaan syari’ah;
h. pegadaian syari’ah;
i. dana pensiun lembaga keuangan syari’ah;
j. bisnis syari’ah; dan
k. lembaga keuangan mikro syari’ah.
Penanganan perselisihan atau sengketa tidak terbatas pada perbankan syariah, tetapi juga pada jenis-jenis ekonomi syariah yang lainnya. Pada
kalimat “antara orang-orang yang beragama Islam"
memiliki arti yaitu orang-orang yang secara tidak ada paksaan tunduk pada aturan hukum islam dan menjadi bagian wewenang peradilan agama.
Sebenarnya penghapusan pilihan hukum pada pembagian warisan sudah ada pada Penjelaasan Umum alinea 2 Undang Undang Nomor 3/2006, namun pada perjalanannya terakhir kali, terjadi pilihan hukum kembali yang tercipta melalui UU No.21/2008 mengenai Perbankan Syariah yang termuat pada pasal 55 ayat 2, yang bunyinya sebagai berikut :
Pasal 55
(1) Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama.
(2) Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad.
(3) Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Syariah.
Pada keterangan yang termuat dalam ayat 2 menyebutkan “penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad”, maksudnya ialah mengenai berbagai cara yang dapat dilakukan diantaranya dengan :
a) perundingan dan pembahasan bersama berupa musyawaroh
b) pemutusan dan penanganan persoalan diantara para nasabah dan pihak Bank dalam wujud mediasi perbankan
c) menggunakan perantara suatu lembaga yaitu Basyarnas dan badan Arbitase lainnya
d) menggunakan perantara pengadilan pada wilayah peradilan umum.
5) Berubahnya isi dari pasal 50 tentang sengketa hak milik yang menjelaskan jika subyek dalam persengketaan tersebut merupakan orang orang yang beragama Islam maka semua perkaranya menjadi wewennang peradilan agama. Adapun isi dari pasal 50 tersebut adalah :
Pasal 50
(1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.
(2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subjek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam, objek sengketa tersebut diputus oleh pengadilan agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49."
Penjelasan Ayat (2)
Pada peraturan undang undang ini dijelaskan mengenai otoritas pengadilan agama dalam menyelesaikan sengkata hak milik dan beberapa persoalan perdata lainnya yang berhubungan dengan obyek persengketaan merupakan golongan umat islam.
Peraturan ini memiliki tujuan untuk mencegah usaha yang menunda dan melambatkan waktu pemutusan persoalan sebab adanya alasan persoalan sengketa hak milik dan persoalan perdata lain yang seringkali dilakukan oleh golongan orang yang dirugikan atas tuntutan pada pengadilan agama.
Sedangkan jika subyek yang membuat gugatan sengketa hak milik dan persoalan perdata lainnya bukan merupakan subyek yang bertikai di pengadilan agama, maka persoalan perselisihan tersebut ditangguhkan selama menanti keputusan pengajuan tuntutan di pengadilan pada wilayah peradilan umum.
Penundaan sengketa hanya dapat dilaksanakan apabila orang orang atau kelompok yang merasa keberatan sudah mengungkapkan fakta dan keterangan pada pengadilan agama dan sudah mendaftarkan tuntutan pada pengadilan negeri terkait obyek persoalan yang memiliki kesamaan dengan persoalan pada pengadilan agama. Apabila obyek yang bersengketa jumlahnya di atas 1 obyek dan tidak ada hubungan nya dengan obyek sengketa yang melakukan keberatan, maka pengadilan agama tidak dapat menunda keputusannya yang berhubungan dengan obyek sengketa tersebut.16
16 Asep Ridwan H, http://www.pa-kalianda.go.id/gallery/artikel/194- kompetensi-peradilan-agama-pasca-undang-undang-nomor-3-tahun-2006- tentang-perubahan-atas-undang-undang-nomor-7-tahun-1989-tentang- peradilan-agama.html